Mag-log inLinggar tidak menjawab.Ilalang menatapnya beberapa saat. Kemudian lelaki itu kembali mencium bibir Linggar. Kali ini lebih lama, lebih dalam.Linggar hanya memejamkan mata, merasa lelah.“Jangan membandingkan dirimu dengan siapa pun.”Linggar masih diam.“Apalagi dengan Cindy.”“Tapi Mas sendiri…”“Aku memang memiliki masa lalu dengan dia.” Ilalang menghela napas.“Tapi itu bukan berarti aku ingin kembali kepadanya.”Linggar menatapnya, bimbang.“Lalu kenapa Mas kelihatan begitu senang bersamanya?”“Karena aku sedang berkumpul dengan teman lama. Tidak lebih."Ilalang mengusap kepala Linggar.“Sesederhana itu, Linggar.”Linggar terdiam. Namun hatinya belum sepenuhnya percaya.Ilalang menangkup wajah Linggar dan menciumnya kembali.“Kamu istriku.” Ilalang tersenyum tipis. “Jadi jangan buat aku merasa kamu justru ingin menyerahkan aku kepada orang lain.”Linggar belum sempat berkata ketika suara Lintang terdengar dari luar.“Bunda!”Ilalang menoleh.Linggar pun keluar.Lintang berdiri s
"Sudahlah, jangan banyak alasan. Ayo."Sean menarik tangan Linggar.“Sekalian lihat tempat lama kami.”Kiki langsung muncul dari belakang Sean.“Aku ikut!”Rania tertawa.“Baru dengar air terjun langsung semangat.”Kiki menjulurkan lidah.“Daripada mereka jalan berdua tanpa aku.”Linggar melihat jalan setapak yang tadi dilewati Ilalang dan Cindy. Ia menarik napas.“Baiklah, aku ikut.”Sean tersenyum.“Nah, begitu.”Linggar menyerahkan urusan bekal kepada Rania.“Aku pergi sebentar.”Rania mengangguk walau seperti jengkel.“Bawa Kiki juga. Sean kalau jalan suka nyasar.”“Hei!” Sean protes.Linggar tersenyum kecil, lalu berjalan mengikuti Sean. Namun baru beberapa langkah, Linggar kembali menatap pemandangan di depannya.Dari kejauhan, ia masih bisa melihat Ilalang. Lelaki itu berdiri di dekat air terjun bersama Cindy.Lintang sudah turun dari gendongannya.Cindy sedang membisikkan sesuatu, lalu Ilalang tertawa.Linggar segera membuang wajah.Langkahnya kembali bergerak. Ia tidak ingin
Besuknya saat siang mereka sudah menuju bumi perkemahan. “Mas, kita sudah sampai?” Linggar menoleh keluar jendela ketika mobil mulai memperlambat laju. Lintang yang sejak tadi duduk sambil memeluk bantal kecilnya langsung bangkit. “Sudah sampai?” Ilalang yang mengemudi hanya melirik kaca spion. “Iya. Lawong tempatnya juga nggak jauh dari rumah.” Linggar terkekeh. "Kayak.nggak kemah saja." Mereka melihat sekeliling. Sabtu siang membuat kawasan perkemahan itu tampak ramai. Beberapa mobil sudah terparkir berjajar, sementara tenda-tenda berdiri mengelilingi area yang dipenuhi pepohonan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Hanya perlu beberapa puluh menit untuk sampai, tetapi suasananya terasa jauh berbeda. Linggar menghembuskan napas pelan. Entah kenapa sejak berangkat tadi ada perasaan tidak nyaman yang terus mengikutinya. Bagaimanapun juga ia baru gabung di komunitas suaminya, terlebih di sana ada Rania. Pertanyaan semalam masih teringat
"Sepertinya cinta kalian begitu dalam." Ilalang mengerutkan kening. "Apa?" "Mas seolah tersiksa karena tidak bisa melanjutkan cinta setelah putus dengan Cindy." Ilalang menatapnya beberapa saat. "Siapa bilang?" "Tadi kedengarannya begitu." "Aku cuma ingin jadi jomblo." Linggar mendengus. "Alasan." "Memang benar. Walau nyesel juga." Ilalang tersenyum. "Karena ternyata lebih enak punya istri daripada jomblo." Linggar memalingkan wajah. "Terutama saat hujan begini." Tangan Ilalang sydah merayap. "Mas!" Ilalang tertawa. "Kenapa?" "Jangan bicara sembarangan. Apalagi tangan kamu." "Aku serius." Linggar mengibaskan tangan Ilalang yang makin berani. Saat tangannya bergerak itu, petir tiba-tiba menyambar. Suara menggelegar memenuhi malam. Linggar menjerit. Tubuhnya langsung tersentak. Ilalang yang semula tersenyum mendadak terdiam. "Linggar?" Perempuan itu memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya mencengkeram selimut. Ilalang segera mendekap L
Pertanyaan Laras membuat suasana ruang keluarga seketika sunyi.Linggar yang sejak tadi duduk, perlahan mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju kepada Ilalang.Lelaki itu masih memegang ponsel Bu Ratih. Wajahnya terlihat tegang, sementara jemarinya sesekali bergerak seperti sedang mencari sesuatu untuk dikatakan.Linggar menahan napas.Ia tidak tahu mengapa pertanyaan itu terasa begitu berat.Bukankah jawabannya sederhana?Mereka suami istri.Namun, mendengar nada Laras yang terdengar penuh curiga membuat Linggar merasa seolah hubungan mereka sedang dipertanyakan.Ilalang akhirnya menjawab.“Linggar sebenarnya sekretaris aku, Mi.”Linggar menoleh cepat.Sekretaris? Hati Linggar teriris perih. Bu Ratih mm enatap wajahnya prihatin.Ternyata Ilalang masih belum mengataka kalau aku istrinya pada ibunya itu, batin Linggar sedih. Ia tidak menyangka Ilalang akan menjelaskan seperti itu.Ilalang melanjutkan sebelum Laras kembali bertanya.“Dia banyak membantu pekerjaan perkebunan. B
Bu Ratih menekan Loos speaker. “Ya, Bu.” “Ilalang makannya masih baik?” Pertanyaan itu membuat Linggar mengerjapkan mata. Ia menoleh kepada Ilalang yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan darinya. “Masih, Bu.” “Syukurlah. Saya sempat khawatir. Ilalang itu kalau sudah suka sambal, susah mengerem. Perutnya sering bermasalah kalau terlalu banyak makan pedas.” Linggar tersenyum kecil. “Sekarang saya sudah tahu, Bu. Jadi sambalnya saya atur biar nggak terlalu pedas.” “Pantas saja kapan hari saat ke Tokyo dia terlihat makin berisi badannya. Kayaknya ada yang memperhatikan pola makannya.” Nada Laras terdengar ringan. “Kalau begitu, selama saya belum pulang, tolong terus perhatikan makanannya.” Linggar terdiam sesaat. Cara bicara Laras membuatnya merasa seperti seseorang yang sudah lama membantu mengurus kebutuhan Ilalang. Linggar mengusap ujung hijabnya. “Iya, Bu.” “Sebentar lagi tahun baru, kan?” “Iya.” "Mungkin kamu belum tahu kalau tahun baru kami sekeluarga kumpul s







