LOGINLinggar menahan napas.Pertanyaan itu membuat seluruh kejadian beberapa hari terakhir kembali berputar dalam pikirannya.Tatapan Rania, ucapannya tentang Cindy, memang membuat Linggar memiliki perasaan tidak sepadan. Terlebih saat Linggar merasa nyaman dengan Ilalang seperti tadi siang, perasaan itu begitu menyiksanya.Linggar membuka mulut. Namun tak ada satu kata pun keluar.Ilalang masih menunggu.“Linggar?”Perempuan itu menatap wajah suaminya. Pria dingin itu seolah memberi rasa nyaman yang beda dengan yang ia alami bersama Rangga.Selama ini Rangga lebih banyak menjadi teman daripada menjadi suami. Perasaan itu berbeda dengan yang Linggar rasakan saat bersama Ilalang. Ada perasaan lain yang tidak bisa ia pahami."Linggar... kamu dengar aku?"Linggar masih diam dan hanya bisa menatap."Ngomong sama aku, apa ada sesuatu?" tanya Ilalang kembali.Kembali rasa nyaman itu datang, membuat Linggar tak ingin menyimpan semuanya sendiri.Malam ini, satu nama hampir saja keluar dari bibirny
Tatapan lelaki itu membuat Linggar seketika menunduk. Ia tahu ia salah, memakai uangnya untuk membeli motor.Linggar menatap Lintang sebentar."Lintang, kamu masuk dulu, Bunda mau ngomong sama Om."Lintang menatap Ilalang sebentar, memgangguk lalu masuk.Setelah melihat anaknya sudah tak terlihat, Linggar menatap Ilalang dengan masih menggenggam kunci motor."Maaf. Aku hanya pinjam uangmu. Jika nanti aku bisa kerja lagi, akupasti akan mengembalikannya. "Ilalang mengernyit."Bukan itu yang aku tanyakan.""Lalu?""Kenapa kamu mau beli motor? Apa aku kurang perhatian ngantar kamu ke mana-mana?"Linggar mendongak, menatap lelaki itu untuk mencerna maksudnya."Kalau kamu mau ke mana, bilang. aku pasti mengantar.""Justru karena itu. Aku ingin punya kendaraan sendiri. Aku tidak ingin terus bergantung kepada Mas."Tatapan Ilalang berubah."Bergantung?"Linggar mengangguk."Dengan motor itu aku bisa mengantar Lintang sendiri. Bisa pergi ke pasar sendiri. Kalau ingin bekerja atau mencari tam
“Mas?”Ilalang tidak menjawab. Lelaki itu justru berdiri begitu saja. Kursinya bergeser, menimbulkan suara pendek yang membuat semua orang ikut menoleh.Linggar mengerutkan kening.“Kenapa?”Ilalang mengambil gelas, meneguk air sampai habis, lalu meletakkannya kembali.“Ayo, Lintang. Segera siap-siap. Sebentar lagi ke sekolah."Lintang yang masih memegang sendok segera turun dari kursi.“Tapi aku belum selesai makan.”“Cepat habiskan. Makan yang banyak," ucap Ilalang sambil duduk lalu memisahkan ikan dengan durinya. "Nih. Awas durinya.""Mas, kamu kenapa?"Ilalang tetap diamBu Ratih menatap cucunya.“Kamu kenapa, Lang? Habis kesambet demit?”Ilalang tidak menjawab.Ia hanya mengambil kunci mobil lalu mengeluarkan mobil dari garasi.Linggar merasakan sesuatu mengganjal dadanya. Lelaki itu tampak berbeda sejak mendengar dirinya membeli ikan dari pasar pagi.“Apa maksudnya dengan diam begini?” guman Linggar sambil berdiri.Linggar segera ganti baju.Perjalanan menuju sekolah berlangsun
Ilalang tidak bergerak. Lama."Kamu mengigau apa tidur, Mas?" Merasa posisi Ilalang seperti itu, Linggar bicara.Sunyi. Beberapa saat lamanya.Linggar yang penasaran, bangun dan bergeser, hendak mengintip Ilalang yang membelakanginya. Namun ia tersentak saat Ilalang berbalik dan segera menangkap tangannya. Bahkan kini mengungkungnya.Tatapan mereka bertemu. Linggar dapat merasakan Ilalang menatap dengan cara tak biasa. Ketakutan segera menghinggapinya. Bahkan matanya sudah mengaca.Ilalang segera membalikkan badan rebah di sisinya. Lalu terkekeh."Takut sekali wajahmu. Padahal siang tadi kamu masih nyaman menempel di dadaku."Linggar masih terdiam. "Jangan mikir macam-macam." Ilalang kembali terkekeh. "Aku hanya bercanda. Aku nggak lupa kok janjiku padamu."Linggar masih diam ketakutan. Mungkin karena itu hingga Ilalang mendekat dengan hati-hati."Aku hanya bercanda. Kamu kenapa?Linggar menatap Ilalang. Air mata masih menggenang."Lain kali kalau bercanda jangan asal bercanda, Mas."
Sebuah kartu ATM diangsurkan Linggar.Ilalang melihat kartu itu dengan heran."Kenapa kamu kasihkan aku lagi? Itu kartu bulananmu.""Semua?"Ilalang mengangguk."Kalau begitu, yang Mas kasih itu terlalu banyak."Ilalang tidak langsung mengambilnya."Terlalu banyak?" Ilalang terkekeh pelan. "Itu karena kamu tahunya gaji petik teh, jadi segitu kamu bilang banyak.""Tahu, Mas. Aku hanya buruh petik teh. Nggak usah berkali-kali kamu ingatkan."Ilalang menyimpan senyum. "Makanya aku nggak pantas menerima sebanyak itu."Ilalang tertawa kecil. "Emang kamu tahu berapa semuanya?"Linggar mengangguk."Bukannya aku hanya ngajari kamu ambil saja? Aku nggak nyuruh kamu lihat isinya."Linggar bingung. Dia menatap lelaki yang sedang menggulir handphone itu. "Katanya punyaku, ya nggak salah kan aku lihat?""Ok. Terus?""Aku sudah mengambil jatah bulanan.""Terus?""Terus aku nggak mau mengambil lagi. Yang kuambil sudah cukup."Ilalang menatap kartu tersebut."Ambil saja.""Mas...""Itu cuma uang re
Perempuan itu menatapnya, lalu berjalan mendekat. Tatapannya turun menuju telepon yang masih Linggar genggam.Lalu naik kembali menuju wajah Linggar. Senyumnya tipis."Jadi benar..."Linggar membeku. Menatap Rania yang berhenti tepat di depan dirinya."Hubungan kalian memang hubungan spesial?"Jantung Linggar seketika berdetak lebih keras.Rania melirik sekali lagi ke handphone Linggar. "Kalau cuma hubungan biasa, kenapa kamu menangis di pelukannya?"Linggar terkejut, tak mampu menjawab.Rania tersenyum kecil."Berarti tadi aku salah menilai kalian."Ia mendekat setengah langkah."Atau justru...." Tatapan Rania berubah tajam. "kamu yang belum tahu siapa sebenarnya Ilalang?""Apa maksudmu?"Rania tidak langsung menjawab. Senyum tipis masih menggantung di bibirnya. Ia melipat kedua tangan di depan dada, lalu mengamati Linggar dari ujung kepala sampai kaki."Menurutku, kamu terlalu cepat merasa punya tempat dalam hidup Ilalang."Linggar mengernyit."Aku nggak merasa punya apa-apa.""Bena







