Share

39. Motor

Author: HaniHadi_LTF
last update publish date: 2026-08-24 21:49:51

“Mas?”

Ilalang tidak menjawab. Lelaki itu justru berdiri begitu saja. Kursinya bergeser, menimbulkan suara pendek yang membuat semua orang ikut menoleh.

Linggar mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Ilalang mengambil gelas, meneguk air sampai habis, lalu meletakkannya kembali.

“Ayo, Lintang. Segera siap-siap. Sebentar lagi ke sekolah."

Lintang yang masih memegang sendok segera turun dari kursi.

“Tapi aku belum selesai makan.”

“Cepat habiskan. Makan yang banyak," ucap Ilalang sambil duduk lalu memisahka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   42. Tawaran

    Seketika sunyi. Linggar dengan marah masih menatap Ilalang yang hanya diam tanpa bisa menjawab pertanyaannya.Linggar bisa merasakan wajah lelaki itu berubah. Dia hanya memandang Linggar cukup lama dengan tatapan yang sulit dibaca. Sebelum akhirnya ia tersenyum tipis. “Kalau itu bisa membuatmu tetap di sampingku, apa salahnya?”Giigi Linggar gemertak. Ia menahan amarah di dadanya. “Aku hanya mewujudkan pertanyaan kamu, kenapa mukamu begitu?"Lagi lagi Ilalang mengucapkannya dengan begitu tenang. “Aku bisa menggajimu.”Linggar masih diam. “Sebanyak uang yang ada dalam ATM-mu itu setiap bulan. Asal kamu bisa tahan melayaniku dan istriku nanti."Mata Linggar membesar.“Mas beneran makin kelewatan ya?”“Tidak.”“Lalu kenapa bicara seperti itu?”“Karena kamu yang bilang ingin begitu kan?”Linggar merasa dadanya panas. Ia tidak ingin mendengar penjelasan lain.“Sudahlah. Aku pusing lihat kamu."Linggar segera bangkit dari ranjang.Ia mengambil bantal lalu berjalan menuju sofa bed yang

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   41. Terbiasa

    Linggar menahan napas.Pertanyaan itu membuat seluruh kejadian beberapa hari terakhir kembali berputar dalam pikirannya.Tatapan Rania, ucapannya tentang Cindy, memang membuat Linggar memiliki perasaan tidak sepadan. Terlebih saat Linggar merasa nyaman dengan Ilalang seperti tadi siang, perasaan itu begitu menyiksanya.Linggar membuka mulut. Namun tak ada satu kata pun keluar.Ilalang masih menunggu.“Linggar?”Perempuan itu menatap wajah suaminya. Pria dingin itu seolah memberi rasa nyaman yang beda dengan yang ia alami bersama Rangga.Selama ini Rangga lebih banyak menjadi teman daripada menjadi suami. Perasaan itu berbeda dengan yang Linggar rasakan saat bersama Ilalang. Ada perasaan lain yang tidak bisa ia pahami."Linggar... kamu dengar aku?"Linggar masih diam dan hanya bisa menatap."Ngomong sama aku, apa ada sesuatu?" tanya Ilalang kembali.Kembali rasa nyaman itu datang, membuat Linggar tak ingin menyimpan semuanya sendiri.Malam ini, satu nama hampir saja keluar dari bibirny

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   40. Keinginan

    Tatapan lelaki itu membuat Linggar seketika menunduk. Ia tahu ia salah, memakai uangnya untuk membeli motor.Linggar menatap Lintang sebentar."Lintang, kamu masuk dulu, Bunda mau ngomong sama Om."Lintang menatap Ilalang sebentar, memgangguk lalu masuk.Setelah melihat anaknya sudah tak terlihat, Linggar menatap Ilalang dengan masih menggenggam kunci motor."Maaf. Aku hanya pinjam uangmu. Jika nanti aku bisa kerja lagi, akupasti akan mengembalikannya. "Ilalang mengernyit."Bukan itu yang aku tanyakan.""Lalu?""Kenapa kamu mau beli motor? Apa aku kurang perhatian ngantar kamu ke mana-mana?"Linggar mendongak, menatap lelaki itu untuk mencerna maksudnya."Kalau kamu mau ke mana, bilang. aku pasti mengantar.""Justru karena itu. Aku ingin punya kendaraan sendiri. Aku tidak ingin terus bergantung kepada Mas."Tatapan Ilalang berubah."Bergantung?"Linggar mengangguk."Dengan motor itu aku bisa mengantar Lintang sendiri. Bisa pergi ke pasar sendiri. Kalau ingin bekerja atau mencari tam

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   39. Motor

    “Mas?”Ilalang tidak menjawab. Lelaki itu justru berdiri begitu saja. Kursinya bergeser, menimbulkan suara pendek yang membuat semua orang ikut menoleh.Linggar mengerutkan kening.“Kenapa?”Ilalang mengambil gelas, meneguk air sampai habis, lalu meletakkannya kembali.“Ayo, Lintang. Segera siap-siap. Sebentar lagi ke sekolah."Lintang yang masih memegang sendok segera turun dari kursi.“Tapi aku belum selesai makan.”“Cepat habiskan. Makan yang banyak," ucap Ilalang sambil duduk lalu memisahkan ikan dengan durinya. "Nih. Awas durinya.""Mas, kamu kenapa?"Ilalang tetap diamBu Ratih menatap cucunya.“Kamu kenapa, Lang? Habis kesambet demit?”Ilalang tidak menjawab.Ia hanya mengambil kunci mobil lalu mengeluarkan mobil dari garasi.Linggar merasakan sesuatu mengganjal dadanya. Lelaki itu tampak berbeda sejak mendengar dirinya membeli ikan dari pasar pagi.“Apa maksudnya dengan diam begini?” guman Linggar sambil berdiri.Linggar segera ganti baju.Perjalanan menuju sekolah berlangsun

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   38. Ikan

    Ilalang tidak bergerak. Lama."Kamu mengigau apa tidur, Mas?" Merasa posisi Ilalang seperti itu, Linggar bicara.Sunyi. Beberapa saat lamanya.Linggar yang penasaran, bangun dan bergeser, hendak mengintip Ilalang yang membelakanginya. Namun ia tersentak saat Ilalang berbalik dan segera menangkap tangannya. Bahkan kini mengungkungnya.Tatapan mereka bertemu. Linggar dapat merasakan Ilalang menatap dengan cara tak biasa. Ketakutan segera menghinggapinya. Bahkan matanya sudah mengaca.Ilalang segera membalikkan badan rebah di sisinya. Lalu terkekeh."Takut sekali wajahmu. Padahal siang tadi kamu masih nyaman menempel di dadaku."Linggar masih terdiam. "Jangan mikir macam-macam." Ilalang kembali terkekeh. "Aku hanya bercanda. Aku nggak lupa kok janjiku padamu."Linggar masih diam ketakutan. Mungkin karena itu hingga Ilalang mendekat dengan hati-hati."Aku hanya bercanda. Kamu kenapa?Linggar menatap Ilalang. Air mata masih menggenang."Lain kali kalau bercanda jangan asal bercanda, Mas."

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   37. Kenapa...

    Sebuah kartu ATM diangsurkan Linggar.Ilalang melihat kartu itu dengan heran."Kenapa kamu kasihkan aku lagi? Itu kartu bulananmu.""Semua?"Ilalang mengangguk."Kalau begitu, yang Mas kasih itu terlalu banyak."Ilalang tidak langsung mengambilnya."Terlalu banyak?" Ilalang terkekeh pelan. "Itu karena kamu tahunya gaji petik teh, jadi segitu kamu bilang banyak.""Tahu, Mas. Aku hanya buruh petik teh. Nggak usah berkali-kali kamu ingatkan."Ilalang menyimpan senyum. "Makanya aku nggak pantas menerima sebanyak itu."Ilalang tertawa kecil. "Emang kamu tahu berapa semuanya?"Linggar mengangguk."Bukannya aku hanya ngajari kamu ambil saja? Aku nggak nyuruh kamu lihat isinya."Linggar bingung. Dia menatap lelaki yang sedang menggulir handphone itu. "Katanya punyaku, ya nggak salah kan aku lihat?""Ok. Terus?""Aku sudah mengambil jatah bulanan.""Terus?""Terus aku nggak mau mengambil lagi. Yang kuambil sudah cukup."Ilalang menatap kartu tersebut."Ambil saja.""Mas...""Itu cuma uang re

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status