LOGIN“Maaf.”Linggar spontan mendorong dada Ilalang.Ciuman mereka terputus. Walau Ilalang masih merengkuhnya. Wajah Linggar langsung memerah ketika menyadari Cindy masih berdiri di dekat pintu.“Maaf, Mbak Cindy. Aku... aku tidak tahu kamu sudah masuk.”Cindy tersenyum tipis.“Tidak apa-apa.”Linggar menundukkan wajah. Tatapan Cindy tadi masih melekat dalam pikirannya. Ada kesedihan yang jelas terlihat dari mata perempuan itu.Entah kenapa, Linggar merasa tidak enak.Ia tahu Cindy pernah menjadi bagian penting dalam hidup Ilalang. Karena itu, meski hatinya sendiri sering terasa tidak nyaman setiap kali melihat kedekatan mereka, ia tidak ingin sengaja melukai perempuan tersebut.Ilalang justru menatap Cindy dengan kening berkerut.“Tunggu.”Cindy berhenti.“Bagaimana kamu tahu Linggar masuk rumah sakit?”Cindy menoleh.“Aku tadi datang ke kantor kamu.”“Untuk apa?”"Akuau membahas pengiriman teh berikutnya.”Cindy mengangkat sebuah map yang sejak tadi berada dalam tangannya.Ilalang masih
“Lintang, jangan lari!”Suara Linggar terdengar panik ketika melihat putrinya berlari menuju area keluar perkebunan.Lintang tidak berhenti. Air matanya masih membasahi pipi, sementara gelang kecil yang baru dibelikan Ilalang bergoyang setiap kali tangannya bergerak.“Bunda tidak ingin Lintang terlihat cantik. Lintang benci Bunda!”“Lintang!”Linggar mempercepat langkah.Dari arah berlawanan, sebuah kendaraan pengangkut teh mulai bergerak meninggalkan area gudang. Suara mesinnya terdengar semakin jelas.Jantung Linggar seakan berhenti.“Lintang, berhenti!”Lintang baru menoleh.Dalam hitungan detik, Linggar berhasil meraih tangan kecil itu lalu menariknya kuat-kuat.Tubuh Lintang tersentak mundur.“Bunda!”Kaki Linggar kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dan tubuhnya jatuh sambil tetap memeluk Lintang erat.“Ah!”Lintang menangis semakin keras.Namun sebelum tubuh mereka benar-benar menghantam tanah, Ilalang yang berlari menyusul segera merengkuh keduanya.“Linggar!”Lelaki itu men
Cindy mendekat. Tangannya terulur menarik Ilalang.“Jangan sentuh aku, Cindy.”Ilalang menepis tangan perempuan itu yang kembali menyentuh dadanya.Cindy justru tersenyum.“Kamu kenapa jadi seperti ini, Lang? Sudah lima tahun berlalu. Dan kamu masih sama, menjaga jarak denganku."Mata Ilalang melebar. “Cindy, hentikan. Aku tidak mengerti kamu sekarang.”“Kita sudah sama-sama dewasa.” Cindy melangkah mendekat lagi. “Untuk apa aku malu menunjukkan sikapku sekarang?”Ilalang mundur selangkah.“Aku sudah menikah.”“Aku tahu. Tapi banyak. Lelaki menikah di luaran sana, yang tidak menolak hubungan dengan yang lain."“Jangan samakan aku, Cindy. Aku juga sudah mengatakan bahwa hubungan kita telah berakhir. Kita sekarang hanya rekam bisnis. Tak lebih.”Cindy mengangkat wajah.“Tapi aku bisa melihat kamu begitu menginginkan dekapan seorang wanita.”Ilalang menggeleng.“Jangan mengarang, Cindy. Walaupun memang benar aku selalu menginginkannya. Tapi itu bukan dekapanmu. Itu dekapan istriku."Mat
“Lintang dijemput siapa?” Ilalang menahan napas dengan mengulang pertanyaannya karena tak percaya. “Bu Cindy, Pak.”“Cindy?”Guru itu mengangguk.“Iya. Katanya sudah mendapat izin dari keluarga.”"Baik kalau gitu, Bu. Terimakasih banyak."Ilalang segera menyingkir, lalu mengeluarkan ponselnya.Ia berjalan menjauh dari gerbang sekolah sambil menekan nama Cindy. Panggilan pertama tidak terjawab.Ilalang mencoba lagi.Tetap tidak ada jawaban.Panggilan ketiga kembali berakhir tanpa respons.Rahangnya mengeras.Ia tahu Cindy mengenal Lintang. Ia juga tahu anak itu dekat dengan perempuan tersebut. Namun Cindy tidak pernah meminta izin kepadanya untuk membawa Lintang pulang ke rumahnya. Apa maksud Cindy, batin Ilalang geram. Dia menekan kembali handphone.Panggilan keempat tetap tidak mendapat jawaban.Ilalang akhirnya memasukkan ponsel ke saku.Ia masuk mobil dan langsung menuju rumah Cindy yang tak jauh di komplek pemukiman elit itu. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai
Kayra masih menatap layar.Linggar ikut menahan napas.“Kenapa, Dok?”Kayra akhirnya mengangkat wajah.“Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan.”Genggaman Ilalang menguat.“Apa?”Kayra kembali menatap layar.“Sepertinya usia kehamilan Mbak Linggar bukan seperti yang kita perkirakan.”Linggar membeku.Ilalang menatap layar, lalu wajah Kayra.“Maksud Dokter?”Kayra menarik napas.“Karena dari hasil pemeriksaan ini... usia kehamilan Mbak Linggar sudah memasuki dua bulan.”Linggar terpaku.“Dua bulan?”“Iya.”Linggar refleks menyentuh perutnya.Selama ini ia tidak merasa ada sesuatu yang berubah. Tidak ada perut membesar. Tidak ada tanda yang membuatnya menyadari bahwa ada kehidupan kecil yang sudah tumbuh cukup lama.“Dok, apa benar?” tanya Linggar ragu. Kayra mengangguk.“Hasil pemeriksaannya mengarah ke sana. Kalau ingin lebih memastikan, nanti kita bisa lakukan pemeriksaan lanjutan.”Ilalang justru tersenyum lebar.“Dua bulan?”Kayra tertawa kecil.“Sepertinya kalian benar-benar harus
“Lintang.”Anak itu spontan mengangkat wajah.“Tante Cindy!”Lintang hendak berlari menghampirinya. Namun langkahnya terhenti ketika Ilalang mendadak meraih tangannya.Linggar menatap tangan Ilalang. Melihat bagaimana wajah suaminya berubah.Tatapan Ilalang tertuju kepada Cindy yang berdiri menunggu mereka.Linggar ikut memandang perempuan itu. Ada sesuatu dalam sorot mata Cindy yang membuat Linggar bertanya-tanya.Mengapa ia sudah menunggu sejak pagi?Ilalang menggenggam tangan Linggar sedikit lebih erat saat Cindy melangkah mendekat.“Aku memang sengaja menunggu kalian.”Ilalang menatapnya.“Untuk apa?”Cindy tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil.“Aku ingin menunggu Lintang sekolah. Sekalian mau ngobrol sebentar sama Rania.”Linggar menatap perempuan itu tanpa suara. Tangannya masih berada dalam genggaman Ilalang. Jemari lelaki itu terasa hangat, tetapi hati Linggar justru kembali tidak tenang.Lintang sudah berdiri sambil menatap Cindy.“Tante mau lihat Lintang sekolah







