INICIAR SESIÓNSetelah aroma bacang Qiaoyun Zhai yang melegenda memudar dari indra penciuman, para pelayan mulai menghidangkan menu utama satu demi satu. Meja bundar besar itu kini dipenuhi hidangan mewah yang mengepulkan uap panas. "Sudahlah, mari kita nikmati hidangannya. Semua pesanan sudah tiba," ujar Li Xiaoyan mencoba mencairkan kebekuan. Ia menyadari gurat kegusaran di wajah keluarga Jiang Shouchang dan bermaksud mengalihkan pembicaraan agar suasana kembali hangat. "Kita tidak perlu terburu-buru untuk makan," sela Jiang Tao tiba-tiba. Ingatannya seolah tersulut oleh sesuatu. Ia menatap Lin Quanyou dengan tatapan yang kembali penuh percaya diri. "Hampir saja aku lupa. Kedatanganku ke Haiyang kali ini bukan tanpa persiapan. Aku telah menyiapkan sebuah bingkisan khusus untuk Paman." Wajah Jiang Tao tampak berseri-seri saat ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak brokat panjang yang terlihat sangat eksklusif. Ia melangkah maju dan menyodorkannya tepat d
"Sejak kapan kau melakukan ini?" Li Xiaoyan tertegun sejenak, lalu berbisik dengan nada penuh tanda tanya kepada Lin Xuan. "Kapan kita memesan zongzi dari Qiaoyun Zhai? Mengapa Ibu dan Ayah sama sekali tidak tahu?" Lin Quanyou pun tak tinggal diam. Di bawah kolong meja, ia menarik-narik ujung kemeja Lin Xuan, memberikan isyarat kuat bahwa membual untuk menjaga harga diri itu boleh saja, namun jangan sampai melampaui batas kewajaran. Lin Quanyou merasa sangat tidak berdaya. Niatnya melontarkan sindiran tadi hanyalah untuk memojokkan Jiang Shouchang agar pria itu mengakui bahwa ia hanya mampu membeli merek Wu Wei Yuan dan tak akan sanggup menjangkau Qiaoyun Zhai. Bahkan keluarga Jiang yang tinggal di ibu kota provinsi saja tidak memiliki kualifikasi untuk mencicipi kudapan legendaris itu, lalu bagaimana mungkin Lin Xuan bisa mendapatkannya? "Lin Xuan, kau rupanya semakin mahir dalam bersilat lidah dan membual," geram Jiang Shouchang yang merasa t
"Lin Xuan!" Lin Quanyou segera menyela, suaranya merendah namun penuh kecemasan yang tertahan. Ia menyambar lengan putranya dan berbisik tepat di telinganya, "Apa kau sudah gila? Berapa biaya yang harus kita keluarkan untuk semua ini?" Lin Quanyou, sang ayah yang bersahaja, tentu tidak mengetahui percakapan rahasia antara Lin Xuan dan Wang Caizhong di lobi tadi. Di matanya, hari ini adalah perjamuan pembuktian harga diri yang harus dibayar mahal dengan peluh keringatnya sendiri. Ia tidak rela jika kerja kerasnya selama sebulan lenyap hanya dalam satu sesi santap siang akibat kesombongan iparnya. "Ayah, tenanglah. Ini hal yang lumrah," sahut Lin Xuan dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah ia hanya sedang memesan kudapan di kedai pinggir jalan. "Jarang sekali Paman dan Bibi berkunjung ke Haiyang. Sebagai tuan rumah, adalah kewajiban kita untuk menjamu mereka dengan layak." Jiang Tao menatap Lin Xuan dengan sorot mata yang sulit diartika
"Aku...?" Deng Jun tertegun. Kata-kata pamannya seolah menjadi gada yang menghantam kesadarannya. Ia menatap sang paman dengan tatapan nanar, tak memahami letak kesalahan fatalnya. Bukankah ia hanya sedang memberi pelajaran pada Lin Xuan? Apa istimewanya pemuda itu? Namun, melihat garis wajah Wang Caizhong yang mengeras tanpa celah lelucon—bahkan memancarkan aura membunuh yang dingin—nyali Deng Jun menciut seketika.Pria di hadapannya bukan sekadar kakak dari ibunya, melainkan penguasa tunggal imperium perhotelan di Haiyang. Kemegahan Gedung Dongyue di distrik kota tua ini hanyalah sekerikil dari istana yang dibangun sang paman. Tanpa restu Wang Caizhong, keluarga Deng hanyalah butiran debu."Tuan Lin... saya memohon maaf," ucap Deng Jun lirih sembari menundukkan kepala sedalam-dalamnya."Aku tidak merasa pantas menerima permohonan maaf dari Tuan Muda Deng. Lagipula, ibuku telah menghancurkan beberapa porselen berharga di sini. Sesuai titah kalian tadi, satu mangkuk seharga lima p
"Xu Kun, beraninya kau memukulku?" Deng Jun mendekap pipinya, matanya membelalak tak percaya. Sebagai pemilik Gedung Dongyue, bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya dipermalukan oleh tamparan Kun Ye di hadapan khalayak ramai?"Jangan merasa besar kepala hanya karena kau mengelola tempat ini. Jika kau menyinggung Tuan Lin, inilah akibatnya!" Wajah Xu Kun tidak menunjukkan tanda-tanda melunak; ia justru tampak sangat murka.Siapa sebenarnya yang sedang diprovokasi oleh Deng Jun? Lin Xuan? Bahkan Zhang Shihao pun tak akan lancang menyentuhnya. Lin Xuan adalah sosok yang selalu disambut dengan hormat oleh Qin San Ye sendiri. Sementara Deng Jun, layaknya anak sapi yang baru lahir dan tak tahu takut pada harimau, telah memancing kemarahan Lin Xuan dan bahkan menyeret Xu Kun ke dalam pusaran masalah ini.Jika Lin Xuan sampai menimpakan kesalahan padanya, tamatlah riwayat Xu Kun di jagat hitam Haiyang. Bagaimana mungkin ia tidak berang?"Tuan Muda Deng!" Manajer dan para pelayan segera
"Jika kau tidak melunasi sepuluh ribu hari ini, jangan harap bisa melangkah keluar dari Gedung Dongyue," ancam barisan petugas keamanan yang telah mengepung mereka. Pelayan yang sebelumnya melayani pun kini tampak seolah baru saja menemukan tulang punggung untuk bersikap congkak.Lin Xuan mencibir, "Sepuluh ribu hanya untuk beberapa mangkuk porselen? Apakah Gedung Dongyue semiskin itu?""Apa katamu?" Salah satu petugas yang sudah tersulut emosi bersiap menerjang Lin Xuan dengan tongkat di tangannya.Tanpa sengaja, pria itu menginjak sebutir *zongzi* hingga lumat di bawah sepatunya. Ia tak peduli, bahkan berniat menginjaknya sekali lagi.Brak!!!Satu tendangan keras dari Lin Xuan melesat, menghantamnya hingga terpental beberapa meter jauhnya."Siapa bajingan ini? Beraninya membuat onar di Gedung Dongyue!" Para penjaga itu naik pitam. Gedung ini memiliki pengaruh besar di kawasan kota tua Haiyang. Jika Li Xiaoyan memecahkan porselen adalah satu hal, maka tindakan Lin Xuan yang me







