Share

Cantik Banget

Author: Khanna
last update Last Updated: 2025-11-07 06:25:56

6

“Arfan, Agni akan tinggal di rumah kakaknya, kota yang sama denganmu, Ar. Ibu nggak bisa menolak permintaannya yang pengen mencoba pengalaman baru. Padahal Ibu sudah kasih jatah uang sebagai bentuk nafkah darimu, tapi Agni punya keputusan lain. Mungkin itu lebih baik daripada dia meminta cerai darimu.”

Setelah tiga hari dari kejadian waktu itu, Ibu melaporkannya padaku lewat pesan. Bodoh amat sebenarnya. Lagian aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur, tapi begitulah maunya Ibu. Pun soal nafkah.

“Ini alamatnya, Jalan Merdeka No 10 .... Kamu harus datang menemuinya, Ar. Ingat sama wasiat almarhum ayahmu! Ibu nggak mau pernikahanmu hancur. Itu permintaan terakhir ayahmu. Lakukanlah dengan benar, Ar. Coba buka hatimu untuk Agni, Arfan!”

Bahkan, aku diomeli lewat rangkaian kata dan mencekokiku agar mau menelan segala takdir yang dirancang oleh mereka. Di mana jati diriku, coba? Mereka terus yang mengatur hidupku.

Aku menghela napas kasar. Begitu malas rasanya selalu dikaitkan dengan Agni. Aku juga menyesali pernikahanku yang sudah terjadi. Andai aku sejak awal sudah kabur. Tapi ... nanti aku jadi gelandangan, dong? Bagaimanapun, hidup di dunia ini tetap harus memegang uang.

Terkadang aku ingin meneriakkan segala kegundahan di dalam dada agar mereka yang membelengguku ikut lepas dan enyah menjauh dariku. Namun, itu hanya keinginan yang semu yang mustahil terjadi.

Aku memijit keningku perlahan. Harus dibalas seperti apa pesan dari ibuku ini?

“Apa aku iyakan saja? Biar Ibu nggak berisik terus. Sudah jelas aku nggak cinta, tetap saja memaksa buat membuka hati. Mana bisa?”

Hidupku akhir-akhir ini selalu ditemani oleh gerutuan-gerutuan yang membuat beban di pundak semakin berat. Tidak menggerutu, hatiku terasa sesak. Memang serba salah hidupku ini.

“Arfan! Jangan Cuma dibaca! Ibu mau kamu menuruti perintah dari Ibu, Ar! Simpan alamatnya baik-baik! Datangi Agni sambil bawakan makanan untuknya atau hadiah yang lain. Kamu juga harus selalu kasih kabar lewat HP-mu, Ar! Buat apa HP mahal-mahal kalau nggak pernah kasih kabar sama istri sendiri. Istrimu perempuan seperti Ibu, Ar. Dulu saja Ibu pengen selalu dicintai, minimal Almarhum ayahmu kasih kabar sama Ibu kalau lagi jauh. Lakukanlah hal yang sama, Arfan!”

Pesan yang ditulis Ibu semakin oanjang seperti orang yang sedang berpidato kenegaraan.

“Ya ampun, Ibu! Jangan bandingkan aku dengan kalian. Pernikahanku nggak ada bumbu cintanya. Hah!” gerutuku lagi.

Jempolku bersiap menari di layar ponsel untuk membalas pesan yang dikirim Ibu hampir berdekatan waktunya.

“Lagian, kalau dia minta cerai, malahan lebih baik. Tapi, mana mungkin. Dia pasti ada sedikit rasa sama aku. Makanya nggak berani melakukannya. Sok cantik padahal kayak kudanil. Hih!”

Lagi-lagi mulutku sulit untuk mengatup diam saja. Kejengkelan itu seolah harus diluapkan lewat kata-kata.

“Aku simpan alamatnya, Bu. Nanti kalau aku ada waktu, aku akan ke sana.”

Begitulah jawabanku pada akhirnya. Padahal semua itu hanya bualan belaka. Mana mungkin aku membuang waktuku yang berharga untuk datang ke rumah itu dan menemui Agni. Dari awal, aku ogah melihatnya.

“Nah, gitu dong! Ibu bahagia kalau kamu menurut begini. Jangan bohongi Ibu, ya! Datanglah secepatnya. Ibu akan pantau kamu dan bertanya langsung sama Agni. Awas kalau sampai membohongi Ibu!”

Aku mengitarkan bola mata merasa kesal pada ancaman itu. Bagiku, tak kuanggap penting. Kalau nanti diomelin, aku akan memberikan banyak alasan dan semua akan beres.

*

“Arfan! Kapan kamu menemui Agni! Ya ampun, Arfan! Astagfirullah! Anak ini susah banget dibilangi!”

Dalam sambungan telepon, ibuku mengimel lagi entah kesekian kali.

Dari sejak pertama memberikan alamat tempat tinggal Agni hingga 10 bulanan ini, aku tidak ada niatan untuk mengunjungi.

Wajar memang, Ibu marah begitu. Tapi, bagiku tidak wajar karena sejak awal aku menolak pernikahanku dengan Agni. Masa iya, aku tiba-tiba datang berkunjung sambil membawa hadiah untuk Agni? Kesambet setan mana, coba? Lucu bin aneh.

Ibu juga kenapa tidak bisa berpikir dengan benar? Tahu kalau anak lelakinya ini ogah menemui Agni, tapi marah-marah mulu bisanya.

“Aku sibuk banget, Bu. Pulang kerja ya tidurlah. Kalau libur buat istirahat juga. Aku nggak sempat pergi ke mana-mana, Bu. Bukan Cuma belum pergi menemui Agni,” ucapku selalu bisa memberikan alasan.

Untung ibuku juga punya kesibukan sendiri. Makanya, beliau tidak sempat juga datang jauh-jauh menemuiku hanya untuk mengomeliku. Ada untungnya juga aku berada di sini.

“Mau setahun kalian menikah, Arfan! Sejak Agni pindah ke rumah kakanya yang kotanya sama denganmu saja, masa nggak dikunjungi. Kamu ini jangan bikin masalah makin rumit, Arfan! Kita yang meminta Agni jadi istrimu lewat wasiat ayahmu. Tapi, kamu juga yang mengabaikannya? Berpikirlah secara dewasa, Arfan!”

Aku menghela napas pelan agar tidak diketahui oleh Ibu.

Gampang banget Ibu melimpahkan kesalahan kepadaku, padahal mereka yang egois menjodohkan tanpa bertanya perasaan anaknya. Aku lagi yang disalahkan? Kocak amat hidup ini.

Tentu aku menggerutu di dalam hati saja. Kalau terucap, aku taku ibuku jadi punya riwayat jantung gara-gara ucapanku. Aku muak, tapi aku masih berusaha menjaga perasaan ibuku.

Pintu ruanganku diketuk dari luar.

“Bu, aku ada urusan. Teleponnya besok lagi, ya. Assalamualaikum.”

Aku mematikan telepon walau dari ujung sana terdengar belum ingin menyudahi. Tapi, alasanku bukanlah sebuah kebohongan.

“Pak Arfan, kita akan melakukan rapat di restoran dekat sini untuk sekalian merayakan keberhasilan proyek kita yang kemarin.”

“Oh, baiklah. Sudah diatur semuanya, kan?”

“Sudah, Pak. Semua staff yang ikut sudah di broadcast. Mungkin sebagian sudah ada di tempat rapat.”

“Baiklah. Ayo, kita berangkat.”

*

Aku bersama asistenku mengendarai mobil menuju restoran itu. Memang dekat, tapi kalau jalan kaki tidak dianjurkan kecuali sangat terpaksa.

Mobil yang membawaku menepi ke tempat parkir restoran yang menjadi tempat rapat kali ini.

Dari dalam mobil, tiba-tiba fokusku tertuju pada salah satu perempuan yang mengenakan seragam. Mungkin salah satu karyawan di restoran itu. Ia terlihat sedang fokus pada ponselnya yang ditempelkan ke telinga.

Cantik banget dia.

Hatiku mengatakannya begitu saja. Pada kenyataannya memang demikian. Walau gadis itu memakai hijab, pesonanya tidak diragukan. Badannya ideal, kulitnya putih dan wajahnya cantik dengan polesan make up yang tidak berlebihan. Wajar bukan kalau aku memujinya dalam diam.

Mataku seolah tak mau berkedip memperhatikan gadis itu. Mungkin beginilah rasanya dihipnotis. Aku hanya fokus padanya, padahal baru pertama melihatnya.

“Sudah sampai, Pak. Silakan turun.”

“O-oh, iya,” jawabku agak kaget. “Ayo, turun.”

Kebetulan juga, aku nantinya akan melewati gadis itu. Tentu saja, aku bergegas turun dari mobil. Aku ingin melihatnya dari jarak yang lebih dekat. Kalau bisa, aku akan meminta berkenalan dengannya. Karena dari lubuk hatiku, ada sesuatu yang menyuruhku begitu.

Gadis itu masih fokus ketika aku semakin mendekatinya. Ia menelepon sambil menunduk melihat ke arah bawah.

Wangi banget.

Kakiku tiba-tiba berhenti ketika penciumanku mengendus aroma manis di dekat gadis itu. Entahlah, aku seperti kehilangan akal sehat.

“Oh, Pak. Ada apa?” ujar gadis itu menyadari kehadiranku yang berdiri di dekatnya.

Namun, saat melihatku, gadis cantik yang menggetarkan hatiku itu tampak terkejut.

“Permisi,” ucapnya lagi, seolah terburu-buru pergi menjauhiku.

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Keputusan

    36POV AgniTatapanku bertemu dengan seseorang yang mengalami kecelakaan, bukan sekadar membuat terkejut, tetapi seolah disengat oleh petir. Aku seketika gelisah dan cemas hendak keluar. Di luar mobil sudah riuh pula dengan suara orang yang terkejut atas kecelakaan yang terjadi.“Ni … mau turun?” tanya Mas Ghani.“Iya … dia Mas Arfan,” jawabku tanpa menoleh.“Apa? Arfan?”Pintu mobil terbuka. Aku cepat-cepat menurunkan kaki di jalan.Setiap tarikan napasku, seolah menggaungkan pikiran buruk, merayap di sisi hatiku. Kakiku melangkah, tetapi terasa berat. Waktu terasa melambat dengan udara yang menyesakkan dada.“Agni … Agni … Agni ….”Nama itu—namaku sendiri—yang baru diucapkan oleh Mas Arfan. Bagaimana mungkin di antara rasa sakit, antara hidup dan mati, namaku yang terucap dari lisannya? Ada rasa haru, tetapi juga menyakitkan serta ketakutan yang mencekam.Suara bising di sekitar—teriakan orang-orang, hingga deru mesin yang menyala—mendadak senyap, tertutup oleh detak jantungku sendi

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Mengejar

    35POV AgniSudah empat hari, Mas Arfan memberikan kiriman makanan, juga bunga. Dia mengirimkan kata-kata perhatian lewat WA. Aku sudah tak memblokirnya lagi gara-gara waktu itu. Pesan yang dikirimkan akhir-akhir ini tidak membuatku terganggu. Mungkin dia sudah belajar dari masa lalu.Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu istirahat sudah hampir habis, tetapi perutku belum diisi apa pun. Hanya air putih kemasan gelas.“Harusnya, aku nggak menunggu kiriman makanan itu.”Untuk hari kelima ini, sepertinya tidak ada kiriman hadiah dari Mas Arfan. Konyolnya, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan, aku jadi mengharapkannya.“Dahlah … mending cari makan,” ketusku.Perasaan kecewa seakan menyusup masuk sampai ke hati terdalam. Betapa tidak, aku mengharapkan, tetapi malah tak ada tanda-tanda kehadirannya seperti biasanya.“Nggak usah kecewa, nggak usah kesal. Kenapa aku harus mengharapkannya, sih!” gerutuku sambil melangkah keluar.Mas Ghani tidak datang ke sini. Sepertiny

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Jika Jodohku, Mudahkanlah

    34Layar ponsel, aku pandangi. Di sana tertulis berbagai macam sesuatu yang disuka dan tak sukai Agni. Aku mendapatkannya dari Mbak Olif.“Kalau sudah sampai begini, aku tambah percaya sama kamu, Ar. Perjuangkan pernikahan kalian. Kejar Agni sampai dapat.”Begitulah yang dikatakan oleh Mbak Olif. Kalimat yang semakin membuat jiwaku semakin membara. Jiwa untuk merengkuh seutuhnya seorang Agni.“Nggak nyangka, seminggu lagi, Agni akan ulang tahun. Pas di saat keputusan itu akan diberikan.”Seketika itu, otakku berpikir keras. Aku akan melakukan yang terbaik agar selama seminggu waktu yang diberikan, akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Pernikahan kami akan baik-baik saja, itulah yang aku harapkan.Aku beralih pada aplikasi warna hijau. Mumpung blokiranku sudah dibuka, aku akan mengirimkan pesan untuknya. Tentu sekarang lebih berhati-hati.Tentang motor, Rehan mengatar saat aku hendak pulang. Ia kelihatan bingung. Karena motor itu milik manager yang kerja di restoran.“Manager itu istr

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Izinkan Aku Mengantarkanmu

    33“Aku mohon … beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pintaku lagi masih dengan posisi yang sama.“Berdiri!” bisik Agni, bicaranya sangat ditekan.“Aku akan berdiri, tapi tolong … ikut aku ke mobil. Kita bicara di sana.”Aku mendengar decak kesal dari mulutnya lagi.“Iya! Iya! Cepat berdiri!”Kali ini, aku mematuhinya.“Di mana mobilmu?” tanyanya, mungkin sudah terlalu tak nyaman menjadi perhatian orang.“Di sana.” Aku menujuk ke arah mobilku.“Cepat!”Agni berjalan lebih dulu. Wajahnya ditekuk.“Terima kasih dan maaf sekali lagi,” ucapku sambil mengekor mengimbangi langkahnya.Agni tak menjawabku. Dia tetap berjalan pada tujuannya.Aku bergegas mempercepat langkah untuk membukakan pintu untuk Agni.Agni berdecak lagi sambil melihatku sinis, tetapi ia masuk ke dalam mobil.Senyumanku tersimpul tipis sambil melangkah ke sisi yang lain. Buket bunga tetap dibawa. Sebelum masuk mobil, aku mengatur napas. Tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.“Dalam seminggu ini, berkas unt

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Beri Aku Kesempatan

    32“Aku udah gila! Kerjaanku nggak fokus. Aku malah nyari hadiah buat Agni dan sekarang, aku menunggunya pulang kerja begini. Hebat … cinta bikin buta segalanya. Bikin kacau jadwalku. Tapi, aku nggak bisa mencegahnya. Kacau bener. Kalau udah begini, aku harus dapetin Agni biar kegilaanku diobati.”Saat ini, aku di dalam mobil. Sorot mataku fokus pada pintu restoran, berharap seseorang yang menganggu pikiran dan hatiku muncul dari sana. Aku ingin sekali melihatnya, bahkan ingin berkomunikasi secara langsung. Kalau lewat ponsel, aku diblokir olehnya. Sungguh terlalu.Agni memblokir nomorku sebab aku sering mengirim pesan, bahkan meneleponnya akhir-akhir ini. Setelah itu, aku tak bisa menghubunginya lagi. Aku kecewa dan lumayan menyesal karena begitu sering menghubunginya. Mungkin ia merasa diteror, tetapi aku sedang berusaha merebut hatinya kembali. Aku sedang berusaha mengejar maafnya.Ponselku berbunyi. Ada pesan masuk. Aku langsung membukanya.“Ar, kamu sama Agni pergi ke pesta ulang

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Paketan

    31“Jangan mengharapkan apa pun lagi darinya? Itu juga mauku kalau bisa, tapi sejauh ini, hatiku nggak bisa melupakannya begitu saja. Aku begini juga gara-gara melihatnya sebagai manager waktu itu. Apa perasaanku ini salah? Kenyataannya dia, kan, memang masih istriku. Manager yang bikin aku terpana adalah istriku sendiri. Boleh kan, aku mempertahankannya?”Di dalam mobil, aku berbicara sendiri. Agak kesal pada ucapan Agni tadi, ditambah dia langsung pergi tanpa mau mendengarkan perkataanku lebih dulu. Kesal, tetapi aku terlanjur ingin memilikinya.*POV Agni“Ni, bagaimana caraku untuk menebus kesalahanku padamu?”Jam istirahat, Mas Ghani meneleponku. Ia tak bisa datang ke restoran hari ini.“Apa, sih, Mas. Nggak perlu menebus apa pun. Aku memaklumi semua yang terjadi, kok. Mama udah baikan, kan?”“Alhamdulillah, Ni. Tapi, aku masih disuruh tunggu di sini. Belum boleh urus kerjaan.”“Iyalah, Mas. Rawat Mama dulu. Maaf, kalau aku nggak bisa jenguk. Rumah sakitnya jauh, Mas.”“Udah dido

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status