分享

Bab 6. Wanita murahan

作者: Nanitamam
last update publish date: 2026-09-04 06:50:33

“Berani sekali kamu merayu calon tunanganku di sini! Dasar wanita murahan! Simpanan busuk! Wanita tak tahu diri!”

Daun pintu ruang ganti terbanting keras menghantam dinding, tetapi bukan amukan Agatha yang menghentikan nafas seisi ruangan. Melainkan seringai santai Celina sambil merapikan belahan gaun merah anggur yang melekat sempurna di tubuhnya di depan cermin besar.

Beberapa staf butik yang sedang berdiri tidak jauh dari sana langsung saling pandang. Sementara Celina hanya mengangkat dagu sedikit melalui pantulan cermin tanpa menunjukkan sedikit pun rasa takut terhadap perempuan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Kalau kedatanganmu hanya untuk berteriak, sebaiknya kamu keluar sebelum mengganggu pelanggan lain, Agatha,” jawab Celina tenang, bahkan tanpa menoleh sedikitpun kepada Agatha.

Kalimat sederhana tersebut justru membuat wajah Agatha semakin merah karena selama beberapa hari terakhir, harga dirinya seperti diinjak berkali-kali oleh perempuan yang selama ini dianggapnya tidak lebih dari pengganggu dalam kehidupan Samudera.

“Siapa kamu? Kamu tidak pantas bicara seperti itu padaku.” Agatha melangkah cepat mendekati Celina dengan mata yang dipenuhi kemarahan. 

Celina akhirnya berbalik dan menatap perempuan tersebut dengan senyum tipis yang justru membuat amarah Agatha semakin tidak terkendali. 

“Agatha jangan salah paham. Aku tidak pernah mencoba merebut siapapun. Apalagi  sesuatu yang masih jadi milik orang lain.”

Ucapan itu terdengar seperti percikan bensin yang dilemparkan ke kobaran api. Refleks tangan Agatha langsung terangkat tinggi dan melayang menuju wajah Celina dengan niat mempermalukannya di hadapan seluruh staf butik. 

“Dasar wanita murahan!” bentak Agatha sembari melayangkan telapak tangan. 

Namun, sebelum telapak tangan itu menyentuh kulit Celina, tampak tangan laki-laki mencengkram pergelangan Agatha dengan keras.

“Cukup!” Suara Samudera terdengar rendah, tetapi tekanan di balik dua suku kata tersebut membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Agatha menoleh dengan mata membelalak. Samudera sudah berada tepat di belakangnya. Laki-laki tersebut masih mencengkram pergelangan tangannya tanpa sedikit pun menunjukkan belas kasihan.

“Mas Samudera, lepaskan tanganku!”

“Aku akan melepaskan tanganmu setelah kamu berhenti mencoba menyakiti orang lain.”

“Tapi dia yang sudah menghancurkan hidupku, mencoba menghancurkan pertunangan kita! Dia yang memulainya lebih dulu.”

Samudera menatap Agatha beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan pergelangan tangan perempuan tersebut dengan gerakan dingin. 

“Apapun masalah yang terjadi di antara kalian tidak memberikan hak kepadamu untuk melakukan kekerasan, terlebih di tempat umum seperti ini.”

Agatha terdiam sesaat, kemudian ekspresi marahnya berubah menjadi wajah terluka yang sangat meyakinkan. Air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Bahkan bahunya dibuat bergetar seolah cengkeraman Samudera barusan telah menghancurkan seluruh harga dirinya.

“Aku hanya ingin membela diriku sendiri, Mas, tapi kamu malah membela dia. Mas, aku ini calon tunanganmu. Kenapa kamu melakukannya padaku?”

Beberapa staf butik mulai terlihat ragu, karena perubahan sikap Agatha berlangsung terlalu cepat untuk tidak membuat mereka merasa iba. Celina hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan sandiwara tersebut melalui sudut matanya.

“Kamu lihat sendiri, kan?” Agatha melanjutkan dengan suara bergetar. “Aku bahkan tidak menyentuhnya, tetapi kamu memperlakukanku seperti penjahat di depan semua orang.”

Samudera tidak menjawab. Celina justru berjalan mendekati Agatha dengan langkah perlahan. Agatha langsung mundur satu langkah ketika Celina berhenti tepat di hadapannya, tetapi Celina tidak menyentuhnya sedikitpun.

Perempuan itu hanya mencondongkan wajah dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Agatha.

 “Sampaikan pada ibumu. Karina Mahesa menitipkan salam.”

Tubuh Agatha mendadak membeku. Senyum kemenangan Celina semakin terlihat ketika melihat wajah Agatha yang perlahan kehilangan seluruh warna.

“Apa yang kamu katakan?”

“Karina Mahesa,” ulang Celina dengan suara sangat pelan, tetapi cukup untuk membuat napas Agatha tersengal.

“Jangan sebut nama itu!” Jeritan Agatha membuat seluruh staf butik kembali terkejut, sementara Samudera langsung menatapnya dengan ekspresi penuh kebingungan.

“Apa hubungan Karina dengan semua ini?” Agatha menggeleng keras sambil menutup kedua telinganya, kemudian mundur beberapa langkah sampai punggungnya hampir menabrak rak pakaian. “Aku tidak tahu siapa wanita yang kamu maksud?”

Celina terkekeh pelan. “Kalau memang tidak tahu, kenapa wajahmu langsung pucat ketika aku menyebut namanya?”

Agatha menatap Celina dengan ketakutan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi. 

“Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

“Oh, aku justru tahu lebih banyak daripada yang kamu kira.”

Samudera mengerutkan kening dan mulai melangkah mendekati mereka. “Celina, siapa Karina Mahesa?”

Celina menatap Samudera beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangan kepada Agatha yang sekarang terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha melarikan diri dari masa lalu. 

“Sepertinya bukan aku yang seharusnya menjelaskan semuanya kepadamu.”

Agatha langsung menyela dengan suara nyaris histeris.

 “Jangan dengarkan dia, Mas Samudera!”

Namun, Samudera sudah mengambil gaun merah anggur yang sejak tadi menjadi rebutan Celina dan Agatha, lalu membawanya keluar dari ruang ganti. Samudera mengikuti langkah Celina tanpa ragu. Sementara Agatha hanya bisa berdiri terpaku dengan kedua tangan mengepal kuat.

Sebelum meninggalkan ruangan, Samudera berhenti dan menyerahkan gaun tersebut langsung ke tangan Celina.

 “Ambil saja gaun.”

Celina menatap gaun itu, kemudian tersenyum puas. “Terima kasih.”

Agatha mengepalkan tangan semakin kuat ketika melihat senyum Celina, tetapi yang lebih menyakitkan bukanlah gaun itu, melainkan tatapan Samudera yang sekarang tidak lagi berpihak kepadanya.

Celina berjalan melewati Agatha, kemudian berhenti tepat di sampingnya. “Tenang saja, Agatha, permainan kita belum selesai. Aku bahkan baru memulainya.”

Agatha menatap Celina dengan napas memburu. “Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?”

Celina tersenyum tanpa menoleh. “Aku hanya ingin kamu mengingat satu hal, karena setelah malam ini .…”

Celina berhenti sejenak, membuat Agatha menahan napas. “… semua orang akan tahu siapa sebenarnya Karina Mahesa dan apa hubungan perempuan itu denganmu.”

Wajah Agatha kembali pucat. “Celina, jangan berani-berani kamu .…”

“Kalau aku jadi kamu, aku justru akan takut pada apa yang akan Samudera temukan.” 

Celina kemudian pergi meninggalkan ruang ganti bersama Dinda. Meninggalkan Agatha berdiri sendirian dengan air mata yang masih mengalir. Tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.

“Brengsek, siapa Celina sebenarnya?”

Samudera menyeringai licik seraya terus menatap punggung Celina hingga menghilang di balik pintu. 

“Sebaiknya kamu tidak mengecewakan ku.”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 25. Perangkap kamar

    “Kalian tidak percaya? Gadis bergaun merah simpanan Samudera itu baru saja kulihat menyelinap ke lantai empat bersama seorang pria!”Tawa renyah Agatha berpadu dengan desis berbisa Anjelina di balik kipas sutra mewahnya. Ibu dan anak itu berdiri tepat di tengah kerumunan aula, sengaja mengeraskan suara mereka untuk memicu pusaran skandal baru yang lebih kotor.Mereka berdua sengaja memainkan peran sebagai pihak yang terkejut namun sangat prihatin. Dengan narasi licik yang telah disusun rapi, Anjelina mulai memprovokasi para tamu penting dan sosialita yang mengerumuni mereka.“Saya sudah menduga dari awal. Wanita rendahan yang dibawa Samudera itu jelas tidak tahan godaan,” ujar Anjelina dengan nada dramatis yang meyakinkan. “Begitu sang CEO pergi untuk rapat penting, dia langsung mencari mangsa lain yang bisa membayarnya malam ini. Sungguh memalukan. SINS Group bisa hancur jika Tuan Samudera terus dibutakan oleh wanita pemanjat sosial semacam itu.”Tujuan provokasi itu sangat jelas, y

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 24. Racun manis

    “Apa maksudmu, Samudera? Jangan mencoba menggertakku dengan angka kosong di atas kertas!”Suara Bisma Sanjaya terdengar bergetar hebat, memecah ketegangan yang merantai ruang rapat VIP tersebut. Topeng diplomatis pria paruh baya itu seketika retak, digantikan oleh pias kepanikan yang tak lagi sanggup disembunyikan. Matanya menatap sang CEO muda dengan kewaspadaan penuh.Samudera terkekeh rendah, sebuah tawa kelam yang menggetarkan udara di sekitarnya. Dia perlahan bangkit dari kursi kebesarannya, menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja mahoni, lalu menatap Bisma dengan tatapan predator yang bersiap menerkam mangsa.“Menggertak?” Samudera mengulang kata itu dengan senyum mengejek yang membuat bulu kuduk berdiri. “Asal Anda tahu, Tuan Bisma. Konsorsium bayangan yang selama ini menguasai empat puluh persen saham pelabuhan yang sangat Anda agungkan itu … adalah milikku sepenuhnya. Jadi, silakan tarik dana Anda besok pagi. Karena detik ketika Anda mundur, aku akan menelan sisa saha

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 23. Rencana licik

    “saya lihat Anda ditinggal sendirian setelah kekacauan tadi. Malam yang sangat berat untuk wanita secantik Anda, bukan?”"Terima kasih atas kepedulian Anda."Uap dingin dari irisan lemon di bibir gelas mengaburkan kilat waspada di mata Celina saat seorang pria bersetelan abu-abu rapi tiba-tiba menyapanya. Pria itu, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Dion, mendorong gelas berembun itu lebih dekat ke jemari Celina dengan senyum yang tampak begitu tulus. Namun menyembunyikan manipulasi yang pekat.“Saya sangat menyayangkan tindakan Nyonya Anjelina tadi. Sungguh tidak pantas kekasaran seperti itu terjadi di acara berkelas ini,” lanjut Dion dengan suara bariton yang sengaja dilembutkan. Pria itu duduk di sofa seberang Celina, menampilkan raut wajah prihatin bak seorang pahlawan penyelamat. “Minumlah ini, Nona … untuk menenangkan diri.”Celina menatap gelas tersebut dalam diam. Di kejauhan, dari balik pilar besar di luar area lounge VIP yang temaram, sepasang mata mengawasi deng

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 22. Putri Sanjaya

    Suasana di sudut VIP itu seketika membeku. Tatapan ratusan pasang mata tertuju lurus pada Bisma yang mendadak kehilangan kendali atas ekspresinya. Udara terasa tipis dan mencekik, sementara gumaman lirih para petinggi bisnis mulai berdesir tajam di udara bagai belati tak kasat mata.Bisma menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik-turun kaku. Tenggorokannya terasa kering seolah baru saja menenggak pasir panas. Sebagai rubah tua yang puluhan tahun bermain di ranah bisnis kotor dan intrik elite, pria itu memaksa otot-otot wajahnya kembali mengeras, menolak menyerah pada keterkejutan yang baru saja meremukkan harga dirinya."Cukup omong kosongmu, Nona!” potong Bisma dengan suara bergetar yang dipaksakan terdengar tegas dan menggelegar. Urat pelipisnya menonjol saat dia menegakkan bahu, mencoba memancarkan sisa-sisa wibawa seorang kepala keluarga. “Saya hanya punya satu putri! Dia Agatha! Hanya dia satu-satunya darah daging dan pewaris sah keluarga Sanjaya!”Penegasan itu meluncur ce

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 21. Topeng ketenangan

    “Hah?! Apa-apaan ini?”“Tuan Samudera tidak salah bicara? Malah membawa wanita lain ....”Ucapan Samudera tadi mengklaim Celina secara terang-terangan bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di tengah aula mewah itu. Pernyataan mutlak itu menggelegar, meruntuhkan seluruh ekspektasi dan skenario perjodohan yang telah dirancang dengan susah payah oleh dua klan besar.Di sudut VIP, gelas kristal berisi sampanye di tangan Nyonya Shiena nyaris remuk dalam kepalan gemetarnya. Napas wanita paruh baya itu memburu cepat, sementara wajahnya memerah padam menahan murka yang tak lagi sanggup dibendung.Tanpa membuang waktu, Nyonya Shiena dan Galen, salah satu petinggi senior sekaligus paman dari pihak ayah Samudera, langsung melangkah maju membelah kerumunan. “Dasar anak tak tahu diri! Malah berulah disaat penting seperti ini,” gera. Nyonya Shiena. Langkah mereka cepat dan mengentak, memancarkan amarah yang menyala-nyala bak api neraka. Para tamu undangan secara otomatis mundur, mem

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 20. Tamparan di perjamuan

    “Silakan masuk, Tuan dan Nona ....”Dua pelayan berseragam serentak mendorong daun pintu ganda berlapis emas yang menjulang tinggi, membelah alunan denting lembut piano klasik dan obrolan elegan para elite yang memenuhi balairung utama. Cahaya dari lampu kristal raksasa memancarkan pendar keemasan dan keperakan yang menyilaukan, menciptakan latar belakang yang begitu terang dan megah bak adegan puncak sebuah drama. Namun, semua kemegahan itu seolah meredup ketika sepasang langkah kaki melangkah masuk dengan penuh dominasi. Ruangan jamuan konsorsium mendadak hening seketika. Ratusan tamu undangan mulai dari para menteri, investor asing, hingga konglomerat papan atas seolah lupa cara bernapas. Mereka menghentikan percakapan, gelas-gelas sampanye tertahan di udara, terpaku pada pemandangan tak terduga di ambang pintu.“Siapa itu?”“Itu Tuan Samudera.”“Hah? Siapa wanita itu?”“Bukan Nona Agatha, kan?”“Bukan. Saya juga tak tahu siapa dia.”Samudera berdiri menjulang penuh wibawa dalam

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status