Share

Bab 5. Balas dendam

Author: Nanitamam
last update publish date: 2026-08-28 15:43:18

Pagi itu, Celina sudah duduk manis di kursi belakang mobil bersama Dinda dengan sebuah black card berkilau di antara jemarinya, sementara senyum keduanya perlahan berubah semakin lebar ketika mobil mewah tersebut berhenti tepat di depan butik desainer paling eksklusif di pusat kota.

“Celina, aku masih tidak percaya kamu benar-benar membawa kartu milik Samudera untuk belanja hari ini,” ujar Dinda sambil menatap kartu hitam tersebut dengan mata berbinar, seolah benda kecil itu merupakan tiket menuju surga bagi dua perempuan yang sudah terlalu lama hidup dengan perhitungan anggaran.

Celina tertawa kecil sambil membuka pintu mobil. “Bukan membawa kartu milik Samudera untuk belanja, Din, tetapi memanfaatkan fasilitas kontrak baru yang memang sudah dia setujui.”

“Kalau begitu, berapa batas nominalnya?” tanya Dinda dengan antusias.

“Tidak ada,” jawab Celina.

Dinda langsung tersenyum lebar muncul di wajahnya. “Aku suka kontrak baru kalian.”

Celina tertawa renyah sebelum melangkah memasuki butik tersebut dengan langkah anggun. Begitu pintu kaca otomatis terbuka, aroma parfum mahal langsung menyambut mereka. Deretan gaun haute couture terpajang di balik kaca, masing-masing memiliki harga yang bahkan mampu membuat seseorang membeli sebuah rumah mewah di pinggiran kota.

Seorang pramuniaga segera menghampiri mereka dengan senyum profesional. “Selamat pagi, Nona. Apakah ada yang bisa saya bantu?”

Celina menjawab, “Saya ingin melihat seluruh koleksi terbaru yang tersedia untuk acara malam ini.”

Pramuniaga itu sempat terdiam melihat kartu tersebut di tangan Celina. “Tentu, Nona.”

Mereka akhirnya dibawa menuju ruang VIP yang luas dan privat, tetapi baru beberapa menit Celina melihat koleksi gaun yang tersedia. Tatapannya langsung tertuju pada sebuah gaun merah anggur yang dipajang sendirian di balik kaca.

Potongannya elegan dengan detail kristal halus di bagian pinggang dan bahu. Sementara kain panjangnya menjuntai hingga lantai dengan desain yang tampak sederhana tetapi memancarkan kemewahan luar biasa.

“Yang itu,” kata Celina sambil menunjuk gaun tersebut.

Pramuniaga tersenyum kaku. “Mohon maaf, Nona. Gaun tersebut sebenarnya sudah dipesan oleh pelanggan lain untuk acara pertunangan malam ini.”

“Siapa?”

Sebelum pramuniaga menjawab, terdengar suara perempuan dari belakang.

“Gaun itu milikku.”

Celina menoleh. Senyumnya perlahan memudar.

Agatha berdiri di ambang pintu ruang VIP dengan dua orang asistennya, mengenakan pakaian kasual mahal yang dipadukan dengan aksesori berlian di telinganya. Di belakang Agatha terdapat seorang penata busana yang membawa beberapa pilihan gaun pertunangan.

Agatha menatap Celina dari ujung kepala hingga kaki dengan ekspresi meremehkan. “Kamu?”

Celina tersenyum tipis. “Sepertinya kita bertemu lagi.”

Agatha mengernyit. “Aku tidak menyangka perempuan seperti kamu berani masuk ke butik ini.”

Dinda langsung hendak maju, tetapi Celina mengangkat tangannya, menghentikan sahabatnya. “Aku juga tidak menyangka kamu masih suka memilih pakaian yang sudah dipilih orang lain.”

Wajah Agatha berubah. “Maksudmu apa?”

Celina menunjuk gaun merah anggur tersebut. “Aku suka gaun itu.”

Agatha tertawa sinis. “Jangan bercanda, Celina. Harga gaun itu mungkin lebih mahal daripada seluruh isi apartemenmu.”

Celina mengangkat black card milik Samudera. “Untungnya hari ini aku tidak menggunakan uang dari apartemenku.”

Agatha menatap kartu tersebut, lalu ekspresinya berubah ketika menyadari lambang eksklusif yang terukir di permukaannya. “Itu .…”

“Kenapa?” Celina tersenyum manis. “Kamu mengenal kartu ini?”

Celina kemudian menoleh kepada pramuniaga. “Saya beli.”

“Tetapi, Nona, gaun ini sudah ....”

“Batalkan pesanan sebelumnya,” pungkas Celina dengan tegas.

Agatha langsung melangkah maju. “Jangan macam-macam!”

Celina tetap tenang. “Kenapa?”

“Karena gaun itu sudah dipersiapkan untuk pertunanganku malam ini.” Agatha tidak mau kalah saing.

Celina mengangguk pelan. “Kalau begitu, kamu harus memilih gaun lain.”

“Kamu sengaja melakukan ini!” tuduh Agatha kesal.

“Benar.” Celina tersenyum semakin lebar. “Aku memang sengaja.”

Dinda menutup mulutnya untuk menahan tawa.

Agatha menatap Celina dengan mata penuh amarah. “Kamu pikir karena mendapatkan sedikit uang dari Samudera, kamu bisa membeli apa pun yang kamu inginkan?”

Celina mengangkat bahu. “Bukan sedikit uang.” Dia mengangkat black card tersebut. “Dan bukan uangku.”

Agatha semakin murka. “Kamu benar-benar tidak tahu malu!”

“Setidaknya aku tidak mencuri identitas orang lain untuk menikmati kehidupan yang bukan milikku,” hardik Celina.

Wajah Agatha seketika pucat. “Kamu bicara apa?”

Celina hanya tersenyum. “Kita bicarakan nanti malam.”

Belum sempat Agatha membalas, terdengar suara berat dari arah pintu. “Apa yang terjadi?”

Semua orang menoleh. Samudera berdiri di sana dengan setelan jas hitam sempurna, ditemani Hadi yang membawa beberapa dokumen.

Tatapan Agatha langsung berubah cerah. “Samudera!” Dia bergegas mendekat.

Namun, Samudera bahkan tidak melihatnya. Tatapannya justru berhenti pada Celina.

Pria itu berjalan perlahan mendekati wanita tersebut. Kemudian menatap gaun yang sedang dikenakan Celina setelah dia mencoba salah satu koleksi butik.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Celina santai.

Samudera terdiam beberapa detik. Gaun hitam yang dikenakan Celina membingkai tubuhnya dengan elegan, sementara rambut hitamnya dibiarkan tergerai di atas bahu.

“Bagus.” Hanya satu kata. Namun, tatapan pria itu mengatakan jauh lebih banyak.

Agatha mendekat dengan wajah penuh ketidakpercayaan. “Samudera, kenapa kamu ada di sini?”

“Aku menemui seseorang.”

Agatha tersenyum. “Aku juga sedang fitting untuk pertunangan kita.”

Samudera akhirnya menoleh. “Bagus.” Kemudian dia kembali menatap Celina.

Samudera berjalan mendekat, lalu mengambil sebuah kotak kecil dari tangan asistennya. “Aku membelikan sesuatu untukmu.”

Celina mengangkat alis. “Untukku?”

“Buka.”

Celina membuka kotak tersebut. Sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk tetesan air berkilau di dalamnya.

Dinda langsung bergumam, “Wah, ini baru namanya fasilitas VVIP.”

Samudera menatap Celina. “Pakai.”

Celina mengangkat kalung itu. “Aku bisa memasangnya sendiri.”

“Aku tahu.” Samudera mengambil kalung tersebut dari tangannya. “Tetapi aku ingin memasangkannya.”

Agatha mengepalkan tangan. “Samudera, bukankah kamu seharusnya mempersiapkan pertunangan kita?”

Samudera menoleh dingin. “Pertunangan itu malam nanti.”

“Tapi aku calon tunanganmu,” protes Agatha.

“Dan?” Satu kata tersebut membuat wajah Agatha semakin pucat.

Samudera kembali menghadap Celina. “Ikut aku.” Dia membawa Celina menuju ruang ganti privat.

Pintu tertutup perlahan di belakang mereka. Celina bersandar pada dinding dengan senyum tipis. “Kamu sengaja melakukan semua ini untuk membuat Agatha marah?”

Samudera berdiri di belakangnya sambil mengangkat kalung berlian. “Aku hanya memenuhi kontrak.”

“Kontrakmu tidak mengharuskan kamu membuat calon tunanganmu cemburu.”

“Memang.” Samudera mendekat. “Ini keinginanku sendiri.”

Celina terdiam. Samudera menyibakkan rambut panjang Celina ke satu sisi, memperlihatkan leher jenjangnya. Kemudian dia memasangkan kalung tersebut perlahan. Jemarinya menyentuh tengkuk Celina beberapa kali ketika mengunci pengait kalung.

Celina dapat merasakan napas hangat pria itu menyentuh kulitnya. “Kamu terlalu dekat.”

“Aku sedang memasangkan kalung.”

“Kalungnya sudah terpasang.”

Samudera tidak langsung mundur. Kedua tangannya justru bertumpu pada dinding di kedua sisi tubuh Celina, mengurung wanita itu dalam ruang sempit di antara lengannya. “Sekarang aku sedang memeriksa apakah kalungnya terlihat bagus.”

Celina menatap pantulan mereka melalui cermin besar di depan. “Dan hasil pemeriksaannya?”

Samudera menatap pantulan Celina. “Luar biasa.”

Celina tersenyum kecil. “Jangan lupa aturan kontrak.”

“Aku ingat.”

“Dilarang baper.”

“Aku juga ingat.”

“Dilarang jatuh cinta.”

Samudera mendekatkan wajahnya. “Aku tidak jatuh cinta.”

“Bagus.”

Tiba-tiba ketukan terdengar dari pintu ruang ganti.  “Samudera?” Suara Agatha terdengar dari luar.

Celina menatap Samudera melalui pantulan cermin. Kemudian sebuah ide nakal muncul di kepalanya. Senyumnya perlahan berubah menjadi senyum penuh kemenangan.

Dia mendekatkan wajah ke telinga Samudera, lalu dengan sengaja mengeluarkan erangan manja yang cukup jelas terdengar dari balik pintu. “Ahh ... Samudera ....”

Tubuh Samudera seketika menegang. Napas pria itu tertahan. Tidak menyangka Celina akan senekat ini.

Agatha yang mendengar suara desahan itu langsung naik pitam. Dia membuka pintu dengan kasar dan berseru, “Apa-apaan ini?! Dasar wanita murahan!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 5. Balas dendam

    Pagi itu, Celina sudah duduk manis di kursi belakang mobil bersama Dinda dengan sebuah black card berkilau di antara jemarinya, sementara senyum keduanya perlahan berubah semakin lebar ketika mobil mewah tersebut berhenti tepat di depan butik desainer paling eksklusif di pusat kota.“Celina, aku masih tidak percaya kamu benar-benar membawa kartu milik Samudera untuk belanja hari ini,” ujar Dinda sambil menatap kartu hitam tersebut dengan mata berbinar, seolah benda kecil itu merupakan tiket menuju surga bagi dua perempuan yang sudah terlalu lama hidup dengan perhitungan anggaran.Celina tertawa kecil sambil membuka pintu mobil. “Bukan membawa kartu milik Samudera untuk belanja, Din, tetapi memanfaatkan fasilitas kontrak baru yang memang sudah dia setujui.”“Kalau begitu, berapa batas nominalnya?” tanya Dinda dengan antusias.“Tidak ada,” jawab Celina.Dinda langsung tersenyum lebar muncul di wajahnya. “Aku suka kontrak baru kalian.”Celina tertawa renyah sebelum melangkah memasuki but

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 4. Tawaran baru

    “Kenapa tertawa?!” bentak Samudera dengan suara rendah yang terdengar jauh lebih kasar daripada biasanya. Sementara napasnya masih memburu akibat perjalanan tergesa-gesa menuju apartemen wanita itu. Tangan Samudera masih mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan kuat ketika wanita itu justru tertawa renyah. Celina tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Dia malah mengangkat tangan satunya, merapikan kerah kemeja putih Samudera yang berantakan akibat pria itu keluar dari mobil tanpa memperhatikan penampilannya sendiri. Kemudian menepuk-nepuk bagian dada kemeja tersebut dengan gerakan santai seolah sedang merapikan pakaian seorang pria yang baru saja selesai melakukan perjalanan bisnis. “Lucu sekali melihat Tuan Samudera seperti ini,” ujar Celina dengan senyum penuh kemenangan yang perlahan menghiasi bibirnya. “Selama tiga tahun, aku selalu melihatmu sebagai pria paling tenang, paling terkendali, dan paling sulit ditebak di dunia ini, tetapi malam ini kamu bahkan

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 3. Pion Celina

    “Ya ampun, Tuan Samudera... bukankah kita baru berpisah beberapa waktu lalu? Jangan bilang Anda sudah merindukanku lagi?” kekeh Celina santai. Tidak ada raut tegang ataupun cemas yang membayang di wajah cantiknya saat menatap ekspresi murka Samudera. Sudut bibirnya justru melengkung manis, memamerkan senyuman menggoda yang selama tiga tahun terakhir selalu berhasil melucuti akal sehat pria di hadapannya. Napas Samudera memburu kasar. Sorot matanya yang gelap dan menusuk seolah ingin menelanjangi seluruh rahasia yang disembunyikan wanita itu di balik topeng kepolosannya. “Jangan banyak bicara! Ikut denganku sekarang!” tegas Samudera dingin. Tanpa menunggu persetujuan, jemari kokoh pria itu mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan dominasi mutlak. Tarikannya begitu bertenaga hingga tubuh ramping Celina terhuyung menabrak dada bidang Samudera yang berbalut kemeja putih kusut. “Celina!” panggil Dinda cemas dari balik ambang pintu, bola matanya membulat ngeri melihat sahabatnya

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 2. Nona Pewaris

    "Jadi kalian benar-benar selesai?” tanya Dinda, menatap sahabatnya dengan sorot mata tak percaya. “Minggu depan dia akan bertunangan. Lihat ini, aku mendapat black card sebagai kompensasinya.” Celina menunjukkan kartu hitam berkilau di jemarinya dengan senyum tipis yang getir. Ia menjatuhkan tubuhnya yang ramping dan padat berisi ke atas sofa beludru apartemennya yang temaram. Kepalanya bersandar lelah pada bantal sofa yang empuk, memejamkan mata sejenak untuk menahan denyut perih yang tiba-tiba menusuk dadanya. Dinda menyambar kartu hitam tanpa batas itu dengan bola mata berbinar takjub, namun segera menatap Celina dengan raut cemas. “Apa kamu tidak akan menyesal, Celina? Melepaskan tambang emas begitu saja?” Celina membuka matanya perlahan, menghela napas panjang yang terasa begitu berat membebani rongga dadanya. Ia menatap Dinda lekat-lekat. “Lalu kamu ingin aku bagaimana? Menangis meraung-raung, menjerit histeris, atau bersujud di bawah kakinya dan memohon agar dia tidak

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 1. Kontrak berakhir

    “Setelah malam ini kontrak kita berakhir?” Celina yang masih berada di atas ranjang sutra itu mengerutkan kening dengan senyum tipis yang sarat misteri. Rambut hitam bergelombangnya tergerai berantakan di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang masih memancarkan sisa-sisa peluh kenikmatan. “Kenapa?” bisik Celina dengan nada malas, seolah tidak ada beban sedikitpun dalam nada suaranya. Pria di hadapannya tidak langsung menjawab. Ia sibuk merapikan penampilannya, mengancingkan kemeja putihnya satu per satu dengan gerakan presisi dan tenang. Tubuh kekar dan atletis itu terbungkus sempurna di balik bahan katun mahal, menyembunyikan tato samar di balik punggung yang baru saja dicakar Celina beberapa puluh menit lalu. “Minggu depan aku akan bertunangan,” jawab Samudera dengan nada datar, dingin seperti es di kutub utara. Tidak ada jeritan histeris. Tidak ada air mata dramatis. Celina justru menyibak selimut satin yang membungkus tubuhnya, membiarkan udara dingin penthouse menyentu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status