ANMELDENMalam masih bertahta, bersemayam angkuh di singgasana kegelapan.Di pojok-pojok pekatnya selimut malam, sebelas prajurit nekat sisa-sisa pasukan cari mati bentukan Mayor Marlon terus bergerak secara berpencar. Mengandalkan keberuntungan dan harapan yang sebenarnya sudah tinggal ampas, mereka mulai membalikkan keadaan dan mengubah para pemburu menjadi target buruan. Berpegang pada prinsip ‘SATU TUKAR DUA’, mereka mulai memburu dan menghabisi serdadu pemuja kenaikan pangkat anak buah Jenderal Christoper. Dari sebelas pria nekat anak buah Mayor Marlon yang tersisa, sepuluh orang telah mencapai target satu tukar dua. Tujuh orang di antaranya, masing-masing berhasil menumbangkan dua prajurit Jenderal Christoper. Sementara tiga yang lainnya, ada yang berhasil menghabisi tiga orang dan ada yang berhasil membantai empat orang.Dari kesebelas prajurit nekat itu, hanya satu yang sama sekali belum membunuh seorang pun.Dia adalah Adrian Mahendra!Berbeda dengan Ethan Wiratama yang bertubuh dan
Luka dan lelah adalah dua kata yang dapat mengubah segalanya di medan perang.Di satu sisi, keduanya dapat langsung berubah menjadi pasrah dan putus asa. Sedangkan di sisi lain, keduanya adalah bahan bakar terbaik untuk menciptakan keberanian dan kekuatan yang melampaui batas nalar dan akal sehat.Keberanian dan kekuatan di luar nalar itu biasa disebut – nekat!Malam itu, 11 orang prajurit nekat diburu secara brutal.Mereka adalah sisa-sisa personel pasukan cari mati bentukan Mayor Marlon dan Letnan Jason. Wajah dan tubuh mereka penuh luka, sementara pakaiannya basah oleh keringat campur darah – entah darahnya sendiri atau darah musuh-musuhnya.Napas sebelas orang prajurit nekat itu pelan dan berat seperti sengaja ditahan. Bukan karena takut atau lelah, melainkan karena tak ingin suaranya terdengar oleh 10 kompi serdadu pemuja kenaikan pangkat yang sedang memburu mereka. Bagaimanapun, mereka tidak rela jika kepalanya hanya dihargai satu tingkat kenaikan pangkat. Setidaknya, harus ada
Dor!Pistol di tangan Mayor Marlon menyalak.Satu sosok tubuh lelaki roboh terjengkang dengan dada bersimbah darah.Sosok lelaki yang tumbang itu adalah Mayor Marlon, bukan Jenderal Christoper!Mayor Marlon tumbang terkena hentakan balik dari letusan pistolnya sendiri. Lebih dari itu, getaran senjata yang merambat dari tangan telah membuat serpihan-serpihan logam yang masih bersarang di dadanya berhasil merobek paru-parunya secara brutal. Sementara, tubuhnya yang memang sudah terluka parah sejak awal ternyata benar-benar telah kehabisan tenaga dan tak sanggup lagi menahan sakit yang mendadak menggila.Dia tumbang tepat pada saat senjata di tangannya meletus, membuat peluru terakhirnya melesat entah ke mana!Di sebelah sosok Mayor Marlon yang tergeletak tak sadarkan diri, Letnan Jason duduk terpekur dengan kedua tangan masih menggenggam roda kemudi. Samar-samar, terdengar desah putus asa yang berembus panjang dari celah bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Dorongan adrenalin yang sela
Mayor Marlon dan Letnan Jason bergerak lagi.Kali ini, mereka menuju sebuah tenda besar dengan bendera hitam bergambar satu bintang warna kuning yang berkibar angkuh di depannya. Walaupun belum roboh, tenda besar itu terlihat sudah doyong akibat hantaman gelombang ledakan gudang amunisi beberapa menit yang lalu.Tenda besar yang sudah doyong itu adalah pusat komando tertinggi pasukan Ibu Kota.Dua regu yang masing-masing beranggotakan 12 personel bersenjata lengkap tampak berjaga di sekeliling tenda itu.Di dalam tenda doyong yang dijaga dengan amat ketat itu, Jenderal Christoper Mulyana terlihat berjalan mondar-mandir dengan langkah gusar. Raut wajahnya yang membesi dan sorot matanya yang berapi-api sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa Jenderal muda itu sedang murka. Sementara di hadapannya, tiga orang komandan batalyon tampak duduk terpekur – menunggu perintah yang tak kunjung terucap.Jenderal Christoper memang kurang pengalaman.Namun, ketiga komandan batalyon bawahannya
Mayor Marlon Baruna menekan pelatuk senjata peluncur roket di bahunya.Detik berikutnya, sebuah roket melesat rendah sambil meninggalkan jejak api yang membelah gelap. Sasarannya bukan manusia, akan tetapi sebuah truk yang parkir di sisi timur benteng darurat pasukan Jenderal Christoper.Duaaarrr!Suara dentuman menghantam tanah seperti palu godam. Bola api setinggi pohon cemara menjilat langit, melelehkan karet ban dan memelintir besi lalu begitu saja mengubah sebuah truk menjadi api unggun raksasa.Api unggun yang menjadi tanda dimulainya perang!Sesuai rencana, sepuluh truk senjata yang dikemudikan anak buah Letnan Jason pun meraung keluar dari bayangan kegelapan malam. Suara mesin diesel menderu gila-gilaan, berpadu dengan suara roda yang menggilas tanah keras. Sementara, senapan mesin di atas kabinnya pun sudah sejak awal memuntahkan peluru nyaris tanpa jeda – menyapu apa saja atau siapa saja.Mereka menembak sambil bergerak maju, bahkan nyaris tanpa membidik sama sekali!Tentu s
Malam telah lama berakhir.Tak seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu matahari tampak enggan mendaki langit.Sebaliknya, 10 pleton pasukan cari mati pimpinan Mayor Marlon Baruna justru terlihat amat bersemangat menjemput kematian. Mereka berbaris rapi di depan sepuluh unit truk militer yang dipenuhi berbagai macam senjata dan perlengkapan perang. Sebuah senapan mesin kaliber .50 terlihat bertengger angker di atas atap kabin setiap truk tersebut.Selain 10 pleton pasukan cari mati pimpinan Mayor Marlon, satu pleton berkekuatan 30 personel tentara penjaga perbatasan pimpinan Letnan Jason juga bergabung di sana.Pasukan dari benteng perbatasan tersebut bertugas mengoperasikan truk-truk senjata. Setiap truk dioperasikan oleh tiga orang tentara. Satu orang bertindak sebagai pengemudi, satu orang berperan sebagai operator senapan otomatis di atas truk, dan satu orang lagi bertugas menjaga muatan di bak belakang truk. Pada pertempuran nanti, setiap satu pleton pasukan cari mati Mayor Marlon
Sebuah truk militer tampak bergerak perlahan mendekati Hotel Preatorium. Aroma khas minuman keras kelas atas merebak makin harum ketika truk itu akhirnya berhenti di depan palang portal baja, tak jauh dari pos penjagaan.Benar!Truk tersebut adalah salah satu dari empat truk yang membawa 70 orang t
Hotel Preatorium awalnya adalah salah satu properti milik Rudolf Subrata.Saat Gubernur Morgan Hanjaya mengambil alih hotel tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu asrama tentara aliansi, hotel kecil berlantai empat itu ditempati oleh sekitar 200 orang anggota pasukan milisi yang direkrut dar
Wisma Adulterium sudah habis terbakar.Leon dan Adelia yang datang beberapa saat setelah segalanya terlambat hanya mendapati sekelompok petugas pemadam kebakaran Granda Peko yang sedang mencari dan mengumpulkan jenazah para korban. Pasangan suami istri terkaya seantero Morenmor itu hanya dapat mena
Wisma Adulterium memiliki empat kamar istimewa yang amat berbeda daripada kamar-kamar yang lain, dua kamar ada di bangunan sayap barat dan dua lagi terdapat di bangunan sayap timur. Setiap kamar berukuran sangat luas dan perabotan di dalamnya juga amat mewah.Keempat kamar istimewa itu sudah ada se







