Share

Bab 102

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-04-25 19:01:04

Pagi itu, udara di Jakarta terasa sangat menyesakkan bagi seorang Veni. Wanita yang biasanya tampil dengan riasan tebal dan pakaian bermerek itu kini tampak sangat kacau. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Dia duduk di ruang tamu apartemen mewahnya, menatap tumpukan tas bermerek dan kotak perhiasan di atas meja kaca.

Veni baru saja melihat berita pagi. Nama Hendri disebut sebagai tersangka utama dalam kasus pencucian uang dan korupsi. Semua rekening Hendri sudah dibekuka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 102

    Pagi itu, udara di Jakarta terasa sangat menyesakkan bagi seorang Veni. Wanita yang biasanya tampil dengan riasan tebal dan pakaian bermerek itu kini tampak sangat kacau. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Dia duduk di ruang tamu apartemen mewahnya, menatap tumpukan tas bermerek dan kotak perhiasan di atas meja kaca.Veni baru saja melihat berita pagi. Nama Hendri disebut sebagai tersangka utama dalam kasus pencucian uang dan korupsi. Semua rekening Hendri sudah dibekukan. Veni tahu betul, sebentar lagi pihak berwenang pasti akan melacak aset-aset yang dialirkan Hendri kepada orang-orang terdekatnya, termasuk dirinya."Aku tidak boleh ikut jatuh. Aku harus pergi dari sini sebelum polisi datang," gumam Veni dengan suara gemetar.Dia meraih sebuah tas tangan berwarna merah marun, salah satu koleksi terbatas yang harganya mencapai ratusan juta rupiah. Tas itu adalah hadiah ulang tahun dari Hendri tahun lalu. Dulu, dia memakainya dengan bangga di depan teman-teman

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 101

    Pagi itu, suasana di dalam penthouse Arga masih terasa sangat tegang. Arga duduk di sampingnya, membawa secangkir teh hangat. Dia menatap Siska dengan penuh kelembutan, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatannya kepada wanita itu. "Minum ini dulu, Siska. Kamu butuh energi untuk menghadapi hari ini," ucap Arga dengan suara yang sangat tenang. Arga meletakkan cangkir itu di meja kecil, lalu dia memutar tubuh Siska agar menghadapnya. Dia memegang kedua pipi Siska, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. "Dengarkan aku, sayang," bisik Arga. "Kita tidak boleh mundur. Semakin kita menunjukkan kelemahan, semakin Hendri merasa berkuasa. Kita harus memutus sumber kekuatannya, yaitu uangnya. Tanpa uang, dia tidak bisa membayar orang-orang jahat itu." Siska menatap mata Arga yang berkilauan karena keyakinan. "Kamu yakin ini akan berhasil?" Arga mencium kening Siska dengan sangat lama. "Aku berjanji dengan nyawaku. Kita harus memastikan Hendri tidak punya kekuatan lagi untuk melarik

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 100

    Malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan opini publik berubah menjadi malam yang paling sibuk dikediaman Arga. Tidak ada lagi alunan musik klasik yang lembut atau makan malam romantis di bawah cahaya lilin. Ruang makan yang luas itu telah berubah fungsi menjadi sebuah pusat komando atau ruang perang. Meja kayu jati yang biasanya bersih kini tertutup tumpukan map cokelat, dokumen legal, laptop yang menyala, dan kabel-kabel yang melintang di mana-mana. Siska berdiri di dekat jendela besar, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Pikirannya masih melayang pada kejadian-kejadian sebelumnya, namun kini matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ada api baru yang menyala di sana, api keberanian untuk mengakhiri semuanya. Arga menghampiri Siska dari belakang. Dia tidak langsung bicara. Pria itu menyampirkan jaket wol lembut ke bahu Siska, lalu melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menghirup aroma lavender dari rambut wanita yang

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 99

    Aula konferensi pers baru saja dikosongkan, namun gemanya masih terasa menggetarkan dinding gedung. Siska duduk di dalam mobil, bersandar pada bahu Arga yang kokoh. Napasnya masih terasa pendek, namun beban di dadanya seolah terangkat sebagian. Dia baru saja melakukan hal yang paling mustahil dalam hidupnya: melawan Hendri yang selama ini menginjak-injak harga dirinya di depan jutaan pasang mata. Arga tidak melepaskan genggaman tangannya. Pria itu terus mengusap punggung tangan Siska dengan jempolnya, sebuah gerakan kecil yang memberikan ketenangan luar biasa bagi Siska. "Kamu melakukannya dengan sangat luar biasa, sayang," bisik Arga. "Suaramu tidak bergetar sama sekali. Kamu terlihat seperti seorang pejuang." Siska menoleh, menatap mata Arga yang berbinar penuh rasa bangga. "Aku melakukannya karena aku tahu kamu ada di belakangku, Ga. Kalau aku sendirian, mungkin aku sudah pingsan sejak pertanyaan pertama." Arga mengecup kening Siska dengan sangat lama. "Kamu tidak akan pern

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 98

    Pagi ini, udara di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya bagi Siska. Di dalam mobil mewah yang bergerak perlahan menuju gedung pusat bisnis, Siska meremas jemarinya sendiri. Gaun putih yang kemarin dipilihkan Arga melekat sempurna di tubuhnya, memberikan kesan anggun sekaligus berwibawa. Namun, di balik kain sutra itu, jantungnya berdegup seirama dengan ketakutan yang masih mencoba merayap masuk. "Dingin sekali tanganmu, sayang," bisik Arga. Arga menarik tangan Siska, menyatukan jemari mereka dan memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan. Dia mencium telapak tangan Siska dengan lembut, matanya menatap Siska dengan penuh pemujaan. "Aku takut mereka tidak akan percaya padaku, Ga," ucap Siska lirih. "Hendri punya banyak relasi. Dia punya kekuatan untuk memutarbalikkan fakta." Arga tersenyum, tipe senyum yang selalu membuat Siska merasa bahwa dunia akan baik-baik saja. "Mereka mungkin punya uang, tapi kita punya kebenaran. Dan hari ini, kecantikan serta keberanianmu akan men

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 100

    Malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan opini publik berubah menjadi malam yang paling sibuk di penthouse mewah milik Arga. Tidak ada lagi alunan musik klasik yang lembut atau makan malam romantis di bawah cahaya lilin. Ruang makan yang luas itu telah berubah fungsi menjadi sebuah pusat komando atau ruang perang. Meja kayu jati yang biasanya bersih kini tertutup tumpukan map cokelat, dokumen legal, laptop yang menyala, dan kabel-kabel yang melintang di mana-mana.Siska berdiri di dekat jendela besar, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Pikirannya masih melayang pada kejadian-kejadian sebelumnya, namun kini matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ada api baru yang menyala di sana, api keberanian untuk mengakhiri semuanya.Arga menghampiri Siska dari belakang. Dia tidak langsung bicara. Pria itu menyampirkan jaket wol lembut ke bahu Siska, lalu melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menghirup aroma lavender dari rambut wa

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 14

    "Buka tirai jendelamu sekarang, Siska." Siska menggumamkan deretan kata dari pesan singkat di layar ponselnya itu dengan bibir yang bergetar. Jantungnya berpacu seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Dengan tangan yang berkeringat dingin, Siska merangkak ke arah jendela kamarnya. Ia menyibakka

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 13

    "Apa kamu meminum segelas air putih hangat semalam sesuai dengan pesanku, Siska?" Suara bariton Arga terdengar berat dan sangat dingin dari balik telepon genggam Siska siang itu. Wanita itu tersentak kaget. Jantungnya langsung berpacu dengan liar menghantam tulang rusuknya. Ia menundukkan wajahny

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 12

    "Ini gila, Arga! Apa apaan isi kertas ini? Kamu menyuruhku laporan menu makan tiga kali sehari dan mengatur jam tidurku? Ini kontrak latihan olahraga atau surat perbudakan manusia?!" Siska membanting sebuah map kulit berwarna hitam ke atas meja kaca di ruang VIP. Pagi itu, alih alih langsung disur

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 11

    "Halo. Saya Coach Arga, pelatih pribadi ibu kamu. Dan kamu pasti Grace, kan? Kebetulan sekali kamu mendaftar hari ini, karena mulai besok saya yang akan mengurus kalian berdua di tempat ini." Darah di sekujur tubuh Siska terasa membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status