Share

Bab 23

Auteur: Tinta Senyap
last update Dernière mise à jour: 2026-03-07 21:07:30

Pagi ini, Siska tidak hanya membawa beban sakit punggung yang mulai memudar, tetapi juga membawa luka baru yang jauh lebih perih di dalam dadanya. Mata wanita itu tampak sangat sembab, bengkak, dan memerah, menceritakan kehancuran hatinya tanpa perlu satu kata pun terucap.

Kehancuran itu bermula beberapa jam yang lalu di meja makan rumahnya yang mewah namun terasa mencekam. Grace, putri tunggalnya yang biasanya penurut, tiba-tiba meledak. Gadis remaja itu berteriak bahwa ia muak melihat Siska
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 25

    "Tentu saja boleh, Nyonya Siska. Tapi besok jangan harap kamu bisa pulang dengan tubuh yang tidak memar-memar karena hukuman atas kebohonganmu selama tiga hari ini." Kalimat ancaman dari Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia mencoba membuka matanya di pagi buta. Siska ingin segera bangun, ia ingin memenuhi janjinya untuk datang ke gym jam enam pagi demi meredam amarah Arga. Namun, saat ia mencoba menggerakkan lengannya, tubuhnya terasa seberat timah. Kepalanya berdenyut-denyut sangat hebat, seolah-olah ada ribuan jarum yang ditusukkan ke dalam otaknya secara bersamaan. Siska mengerang pelan, mencoba menyentuh dahinya sendiri. Panas. Kulitnya terasa seperti membara, namun di saat yang sama, ia merasa kedinginan yang amat sangat hingga ke tulang sumsum. Tubuhnya benar-benar sudah mencapai batasnya. Stres batin yang menumpuk, diet ketat yang dipaksakan Arga, serta tekanan dari Hendri akhirnya meledakkan pertahanan kesehatannya. Siska jatuh sakit, dan kali ini bukan bohon

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 24

    "Siska, apakah kamu sudah siap jika suatu saat nanti aku benar-benar mengambilmu dari rumah itu dan membuat Hendri berlutut memohon ampun di depan kaki kita berdua?" Pertanyaan Arga itu terus menggema di dalam kepala Siska layaknya kutukan yang tidak kunjung hilang. Sepanjang perjalanan pulang hingga ia merebahkan tubuh di ranjang, Siska merasa dunianya berputar dengan sangat cepat. Ia ketakutan. Bukan hanya karena keberanian Arga yang ingin menghancurkan Hendri, tetapi karena ia menyadari bahwa sebagian dari dirinya mulai menginginkan hal itu terjadi. Ia takut pada getaran di hatinya setiap kali Arga mengklaimnya sebagai milik pria itu. Siska menatap langit-langit kamarnya yang mewah. Ia sadar bahwa ia telah melampaui batas profesional. Perhatian Arga yang begitu detail, sentuhannya yang protektif, hingga caranya mendengarkan keluh kesah Siska telah menjadi candu yang berbahaya. Siska merasa dirinya seperti tawanan yang mulai mencintai penjaganya. "Aku tidak boleh seperti ini. Aku

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 23

    Pagi ini, Siska tidak hanya membawa beban sakit punggung yang mulai memudar, tetapi juga membawa luka baru yang jauh lebih perih di dalam dadanya. Mata wanita itu tampak sangat sembab, bengkak, dan memerah, menceritakan kehancuran hatinya tanpa perlu satu kata pun terucap. Kehancuran itu bermula beberapa jam yang lalu di meja makan rumahnya yang mewah namun terasa mencekam. Grace, putri tunggalnya yang biasanya penurut, tiba-tiba meledak. Gadis remaja itu berteriak bahwa ia muak melihat Siska yang selalu terlihat menyedihkan dan lemah di depan ayahnya. Grace bahkan menyebut Siska sebagai ibu yang tidak punya harga diri karena terus memaafkan pengkhianatan Hendri yang sudah menjadi rahasia umum di sekolahnya. "Kamu tidak becus mendidik anak, Siska! Lihat bagaimana anakmu sendiri merendahkan ibunya!" bentak Hendri tadi pagi, alih-alih membela istrinya. Hendri justru menggunakan kemarahan Grace untuk kembali menyudutkan Siska, lalu pergi begitu saja meninggalkan Siska yang tersungkur d

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 22

    "Jadi, menurutmu ke mana perginya kalung berlian senilai tiga ratus juta itu jika tidak ada di dalam tas suamimu semalam, Siska?" Pertanyaan Arga itu masih menggema di telinga Siska seperti lonceng kematian. Siska tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap lantai matras dengan pandangan kosong sementara napasnya terasa berat. Arga tidak mengejarnya lebih jauh, pria itu membiarkan Siska pulang dengan membawa kepingan fakta yang merobek jantungnya. Pagi ini, dunia Siska terasa semakin sempit. Saat ia mencoba bangun dari tempat tidur, sebuah rasa nyeri yang tajam menusuk dari pinggang hingga ke punggung bagian atas. Siska meringis, memegangi pinggangnya dengan tangan gemetar. Stres yang bertubi-tubi, rahasia kalung berlian yang hilang, dan bayangan Veni seolah bermuara pada otot-otot tubuhnya yang kini mengeras karena tekanan batin. "Mas Hendri," panggil Siska lirih saat melihat suaminya sedang mematut diri di depan cermin, merapikan dasi sutranya yang mahal. Hendri hanya melirik dari pan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 21

    "Tidurlah yang nyenyak, Siska, karena besok adalah awal dari kebenaran yang akan merobek hatimu sampai tidak bersisa."Siska membisikkan kembali isi pesan Arga itu dengan bibir yang gemetar. Ia baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar yang mewah namun terasa dingin. Hendri sudah tidak ada di sampingnya. Siska menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak beraturan sejak pertengkaran mereka semalam.Ponsel di atas nakas bergetar pendek. Siska meraihnya dengan tangan yang masih terasa lemas. Ada notifikasi pesan WhatsApp dari nomor asing yang tidak tersimpan di kontaknya. Dengan ragu, Siska membukanya.Mata Siska membelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Pesan itu hanya berisi sebuah foto. Bukan foto perselingkuhan, melainkan sebuah foto struk pembelian dari sebuah toko perhiasan berlian ternama di Jakarta. Di sana tertulis jelas jenis barangnya: sebuah kalung berlia

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 20

    Kalimat dingin dan menusuk dari Arga itu membuat suasana lobi utama Iron & Orchid Wellness Center mendadak hening. Siska menahan napasnya. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa sakit di dada. Ia menatap pria berondong di sampingnya itu dengan perasaan campur aduk. Veni membelalakkan matanya lebar lebar. Wajah wanita muda yang tadinya penuh dengan senyum kemenangan dan kesombongan itu, seketika berubah menjadi merah padam karena menahan malu. Beberapa staf resepsionis dan member gym yang sedang lewat terang terangan menatap Veni dengan pandangan merendahkan. "Apa apaan Anda ini?! Anda tidak tahu siapa saya?!" jerit Veni tidak terima. Suaranya melengking tajam memecah keheningan lobi. "Saya ini punya banyak uang! Saya bisa membeli tempat ini kalau saya mau!" "Simpan saja uang Anda untuk membeli sopan santun," jawab Arga tanpa ekspresi sedikit pun. Pria itu mengangkat tangannya, memberikan isyarat kecil ke arah dua orang petugas keamanan bertubuh besar yang berjaga di dekat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status