เข้าสู่ระบบ"Iya. Dia menunjukkan padaku apa yang tidak pernah aku lihat darimu selama ini. Kebahagiaan," lanjut Pak Arya. Dia terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang keputusan besar yang akan dia ambil. "Dengarkan aku, Arga," Pak Arya menatap mata anaknya dengan tajam. "Papa tidak akan memberikan restu sepenuhnya sekarang. Papa masih merasa bahwa dunia ini terlalu kejam untuk kalian jika kalian tidak punya dasar ekonomi yang kuat." Siska menunduk, hatinya terasa sedikit sakit mendengar kata-kata itu. Namun, kalimat berikutnya dari Pak Arya membuat jantung mereka semua berdetak lebih cepat. "Tapi, Papa juga tidak akan menghalangi jalanmu lagi. Papa akan mencabut semua instruksi pemblokiran investor itu. Kamu bebas mencari modal di mana saja. Papa tidak akan membantumu dengan uang Papa, tapi Papa juga tidak akan menjegalmu lagi." Arga menatap ayahnya dengan binar harapan yang mulai muncul. "Lalu?" "Buktikan pada Papa dalam waktu satu tahun," tegas Pak Arya. "Buktikan kamu bisa s
Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit, menyinari wajah Arga yang masih terlihat sangat pucat. Siska masih setia duduk di samping brankar, jemarinya tidak pernah lepas menggenggam tangan pria yang sangat dia cintai itu. Di sudut ruangan, Pak Arya dan Bu Ratna berdiri dalam diam, menciptakan suasana yang terasa sangat canggung sekaligus tegang. Pelukan hangat antara Bu Ratna dan Siska beberapa saat lalu memang telah meruntuhkan tembok permusuhan, namun luka di hati Arga mungkin belum sepenuhnya pulih. Arga perlahan membuka matanya. Dia meringis sedikit saat merasakan denyut di kepalanya, namun hal pertama yang dia cari adalah wajah Siska. "Siska..." suara Arga terdengar sangat serak, hampir seperti bisikan angin. Siska langsung menegakkan duduknya, matanya yang bengkak karena menangis semalaman kini berbinar haru. "Iya, Ga. Aku di sini. Jangan banyak bergerak dulu ya. Kamu masih sangat lemas." Siska dengan cekatan mengambil gelas plast
Siska duduk di sudut ruang tamu apartemen yang remang-remang, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Arga belum juga pulang. Arga selalu bekerja dua kali lebih keras. Pria itu seolah sedang berlomba dengan waktu yang terus berdetak di kepalanya. Dia ingin memastikan Siska dan Grace terpenuhi kebutuhannya, meskipun Siska sudah berkali-kali memohon agar dia beristirahat. "Ga, kenapa kamu keras kepala sekali?" bisik Siska sambil mendekap kedua lututnya. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Siska menyambarnya dengan cepat. Nama Arga yang muncul, tapi di hatinya ada firasat buruk yang sangat kuat. "Halo? Arga?" sapa Siska dengan suara serak. "Halo, apakah ini dengan Ibu Siska? Saya dari pengelola coworking space di Jakarta Selatan. Kami baru saja memanggil ambulans untuk Pak Arga. Beliau pingsan di mejanya dan sepertinya tidak sadarkan diri cukup lama." Dunia Siska seolah runtuh saat itu juga. Dia segera berlari keluar mencari taksi di tengah sunyinya mala
Grace berdiri di depan gedung pencakar langit milik keluarga Arga dengan tangan yang mengepal kuat. Gadis remaja itu memakai jaket denim kesayangannya dan celana kargo, penampilannya sangat kontras dengan orang-orang berpakaian formal yang keluar masuk gedung mewah itu. Setelah mendengar cerita ibunya tentang kunjungan Nyonya Ratna yang kejam, Grace tidak bisa diam saja. Baginya, Arga bukan sekadar pria yang mencintai ibunya, tapi sosok kakak dan pelindung yang selama ini tidak pernah dia miliki. "Maaf, Dek. Sudah punya janji dengan Pak Arya?" tanya satpam di lobi dengan nada curiga. Grace menatap satpam itu dengan berani. "Bilang saja, ada utusan dari kebahagiaan anaknya yang ingin bicara. Kalau dia tidak mau ketemu, dia akan menyesal seumur hidup." "Tapi tidak bisa begitu, Dek..." "Minggir!" Grace menerobos barisan satpam dengan kelincahan khas anak muda. Dia berlari menuju lift eksekutif yang kebetulan sedang terbuka. Sebelum para petugas bisa menangkapnya, pintu lift sudah
Siska mengambil cek itu dengan tangan yang kini sudah tidak gemetar lagi. Dia menatap mata Bu Ratna yang sedang tersenyum penuh kemenangan, mengira bahwa Siska telah tergoda oleh uangnya. "Apakah ini cukup untuk membayar rasa malu Anda karena memiliki anak yang mencintai rakyat jelata seperti saya, Ibu Ratna yang terhormat?" tanya Siska pelan. "Jangan banyak bicara. Isi saja angkanya, ambil uangnya, dan pergilah sejauh mungkin," jawab Bu Ratna dengan angkuh. Siska menatap cek itu sekali lagi, lalu dengan satu gerakan yang pasti, dia merobek cek itu menjadi dua. Tidak berhenti di situ, dia merobeknya lagi menjadi potongan-potongan kecil hingga menjadi serpihan kertas yang tidak berarti. Mata Bu Ratna terbelalak, wajahnya yang tadi tenang kini memerah karena marah. "Apa yang kamu lakukan, hah?! Kamu tahu berapa nilai yang bisa kamu dapatkan dari kertas itu?" "Maaf, Ibu Ratna. Arga bukan barang dagangan yang bisa saya jual kepada Anda," ucap Siska dengan nada yang sangat tegas.
Pagi itu, cuaca di luar sana tampak abu-abu, seolah-olah langit tahu bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar berakhir. Arga sudah berangkat sejak pukul tujuh pagi dengan motor matic bekasnya yang kembali berulah tadi pagi. Siska sempat melihat Arga harus berkeringat mencoba menyalakan mesin motor itu di depan gedung apartemen. Hatinya perih, namun dia ingat janjinya untuk tidak mengeluh dan menjadi pendukung nomor satu bagi pria itu. Siska sedang membereskan sisa sarapan mereka yang hanya berupa roti tawar dengan selai seadanya. Di tempat parkir Apartemen, suara mesin mobil yang sangat halus berhenti di depan gedung. Bukan suara mobil biasa, melainkan suara mesin mobil mewah yang harganya mungkin bisa membeli seluruh blok apartemen kumuh ini. Seorang pria berseragam sopir turun dan membukakan pintu belakang. Dari dalam mobil, keluarlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat anggun dan mahal. Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra yang mel
"Cepat sembuh, Nyonya Siska. Aku benci melihatmu lemah dan tidak berdaya seperti ini, karena hanya aku yang boleh membuatmu berlutut, bukan rasa sakitmu." Gema suara Arga semalam seolah masih bergetar di udara kamar yang kini terasa sangat luas bagi Siska. Ketika ia terbangun pagi ini, demamnya me
"Buka matamu, Siska. Jangan biarkan suamimu menang dalam keheningan ini." Suara bariton Arga merayap pelan di antara kesadaran Siska yang masih berkabut. Perlahan, kelopak mata Siska yang terasa seberat timah terbuka. Cahaya sore yang jingga menyeruak masuk melalui celah gorden kamar utama, menera
"Siska! Jawab aku atau aku akan merobohkan pintu ini sekarang juga!" Suara bariton Arga berdentum keras, memantul di dinding-dinding lobi depan rumah mewah keluarga Wijaya. Di dalam kegelapan kesadarannya, Siska mendengar suara itu seperti guntur di kejauhan. Ia ingin menggerakkan jarinya, ingin m
"Tentu saja boleh, Nyonya Siska. Tapi besok jangan harap kamu bisa pulang dengan tubuh yang tidak memar-memar karena hukuman atas kebohonganmu selama tiga hari ini." Kalimat ancaman dari Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia mencoba membuka matanya di pagi buta. Siska ingin segera b







