MasukSiska menoleh ke arah Arga. "Ga, bolehkah aku masuk sendirian?" Arga mengangguk mengerti. Dia melepaskan genggaman tangannya perlahan. "Aku akan menunggu tepat di depan pintu ini. Kalau kamu butuh aku, panggil saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana." Siska tersenyum tipis. "Aku hanya butuh lima menit." Siska memegang gagang pintu, dia menatap Arga sekali lagi. Arga memberikan isyarat anggukan yang sangat meyakinkan. Siska pun membuka pintu itu perlahan. Hendri tidak menoleh saat pintu terbuka. Dia tetap menatap keluar jendela ke arah pohon-pohon yang bergoyang tertiup angin. Siska berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti sedang menghancurkan rantai yang selama ini mengikat batinnya. "Mas Hendri," panggil Siska dengan suara yang tenang namun tegas. Pria di kursi roda itu tersentak pelan. Dengan susah payah, dia memutar kursi rodanya. Saat matanya bertemu dengan mata Siska, ada kilatan keterkejutan yang sangat besar. Mulutnya mencoba terbuka untuk bicara, namun h
Pagi itu, sinar matahari masuk dengan lembut ke dalam ruang tamu apartemen kecil yang kini terasa sangat hangat. Di atas meja kayu sederhana, tumpukan kartu undangan berwarna putih tulang dengan aksen emas muda tersusun rapi. Tidak ada ukiran mewah atau pita sutra yang mahal, namun setiap kartu itu ditulis tangan oleh Siska dan Arga dengan penuh ketulusan. Pernikahan mereka tinggal menghitung minggu, sebuah acara sederhana yang hanya akan dihadiri oleh orang-orang terdekat di sebuah masjid kecil dekat panti asuhan tempat Arga sering berbagi. Siska memandangi salah satu kartu itu. Jarinya mengusap lembut nama "Arga & Siska" yang tercetak di sana. Cincin emas putih di jari manisnya berkilauan, mengingatkannya pada malam di warung pecel lele yang mengubah segalanya. "Sudah selesai semua, Sayang?" tanya Arga sambil berjalan mendekat. Dia membawa dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di meja. Siska mendongak dan tersenyum, meski ada sedikit rona kesedihan di matanya. "Hampir seles
Malam ini, Arga mengajaknya keluar untuk merayakan kesembuhannya dan keberhasilan kecil bisnis konsultan barunya yang baru saja mendapatkan klien besar pertama. Tidak ada gaun mewah, Siska hanya mengenakan kemeja flanel favoritnya dan celana jins. Rambutnya diikat kuda dengan sederhana. Baginya, kecantikan bukan lagi soal barang bermerek, tapi soal binar kebahagiaan yang kembali terpancar dari matanya sejak Arga pulih. "Sudah siap, Sayang?" suara Arga terdengar dari ruang tamu. Siska keluar dan mendapati Arga sudah berdiri di sana. Pria itu tampak segar dari sebelumnya. Arga memakai kaos hitam polos dan jaket kain, namun aura ketampanannya justru semakin kuat karena ketulusan yang terpancar dari wajahnya. "Siap. Kita mau makan di mana, Ga?" tanya Siska sambil tersenyum. Arga menggandeng tangan Siska dengan erat. "Tempat paling mewah di Jakarta. Tempat yang punya aroma paling menggoda dan musik alami dari bisingnya jalanan." Siska tertawa kecil. Dia sudah tahu ke mana Arga ak
"Iya. Dia menunjukkan padaku apa yang tidak pernah aku lihat darimu selama ini. Kebahagiaan," lanjut Pak Arya. Dia terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang keputusan besar yang akan dia ambil. "Dengarkan aku, Arga," Pak Arya menatap mata anaknya dengan tajam. "Papa tidak akan memberikan restu sepenuhnya sekarang. Papa masih merasa bahwa dunia ini terlalu kejam untuk kalian jika kalian tidak punya dasar ekonomi yang kuat." Siska menunduk, hatinya terasa sedikit sakit mendengar kata-kata itu. Namun, kalimat berikutnya dari Pak Arya membuat jantung mereka semua berdetak lebih cepat. "Tapi, Papa juga tidak akan menghalangi jalanmu lagi. Papa akan mencabut semua instruksi pemblokiran investor itu. Kamu bebas mencari modal di mana saja. Papa tidak akan membantumu dengan uang Papa, tapi Papa juga tidak akan menjegalmu lagi." Arga menatap ayahnya dengan binar harapan yang mulai muncul. "Lalu?" "Buktikan pada Papa dalam waktu satu tahun," tegas Pak Arya. "Buktikan kamu bisa s
Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit, menyinari wajah Arga yang masih terlihat sangat pucat. Siska masih setia duduk di samping brankar, jemarinya tidak pernah lepas menggenggam tangan pria yang sangat dia cintai itu. Di sudut ruangan, Pak Arya dan Bu Ratna berdiri dalam diam, menciptakan suasana yang terasa sangat canggung sekaligus tegang. Pelukan hangat antara Bu Ratna dan Siska beberapa saat lalu memang telah meruntuhkan tembok permusuhan, namun luka di hati Arga mungkin belum sepenuhnya pulih. Arga perlahan membuka matanya. Dia meringis sedikit saat merasakan denyut di kepalanya, namun hal pertama yang dia cari adalah wajah Siska. "Siska..." suara Arga terdengar sangat serak, hampir seperti bisikan angin. Siska langsung menegakkan duduknya, matanya yang bengkak karena menangis semalaman kini berbinar haru. "Iya, Ga. Aku di sini. Jangan banyak bergerak dulu ya. Kamu masih sangat lemas." Siska dengan cekatan mengambil gelas plast
Siska duduk di sudut ruang tamu apartemen yang remang-remang, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Arga belum juga pulang. Arga selalu bekerja dua kali lebih keras. Pria itu seolah sedang berlomba dengan waktu yang terus berdetak di kepalanya. Dia ingin memastikan Siska dan Grace terpenuhi kebutuhannya, meskipun Siska sudah berkali-kali memohon agar dia beristirahat. "Ga, kenapa kamu keras kepala sekali?" bisik Siska sambil mendekap kedua lututnya. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Siska menyambarnya dengan cepat. Nama Arga yang muncul, tapi di hatinya ada firasat buruk yang sangat kuat. "Halo? Arga?" sapa Siska dengan suara serak. "Halo, apakah ini dengan Ibu Siska? Saya dari pengelola coworking space di Jakarta Selatan. Kami baru saja memanggil ambulans untuk Pak Arga. Beliau pingsan di mejanya dan sepertinya tidak sadarkan diri cukup lama." Dunia Siska seolah runtuh saat itu juga. Dia segera berlari keluar mencari taksi di tengah sunyinya mala
Cahaya lampu putih yang sangat terang membelah tirai hujan di jalan tol yang gelap itu. Siska masih meringkuk di kursi penumpang, memeluk lututnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Di belakangnya, deru mesin mobil sport yang berat terdengar mendekat, lalu berhenti dengan suara decitan halus ya
"Apakah kamu yakin sanggup melakukannya, Siska? Balas dendam membutuhkan hati yang jauh lebih dingin daripada lantai dapur tempatmu pingsan tempo hari."Suara bariton Arga seolah masih berbisik di telinga Siska saat ia menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar utama. Pertanyaan itu dilontarkan
"Aku datang tepat waktu, Arga, seperti yang kamu inginkan dalam pesanmu tadi siang." Siska melangkah masuk ke dalam ruang VIP Iron & Orchid dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada hari-hari sebelumnya. Meskipun sisa-sisa rasa lemas akibat demam masih sedikit terasa di persendiannya, namun
"Buka matamu, Siska. Jangan biarkan suamimu menang dalam keheningan ini." Suara bariton Arga merayap pelan di antara kesadaran Siska yang masih berkabut. Perlahan, kelopak mata Siska yang terasa seberat timah terbuka. Cahaya sore yang jingga menyeruak masuk melalui celah gorden kamar utama, menera







