Share

Bab 4 Menyebalkan

Author: D Lista
last update publish date: 2025-12-19 18:51:17

"Baik, langsung saja materi yang ingin saya sampaikan adalah tentang bahaya Napza. Akhir-akhir ini banyak berita kriminal yang muncul salah satunya diakibatkan penggunaan Napza."

Sasti menyimak dengan seksama. Pandangannya tak henti mengamati Agha dalam bertutur.

"Mas Agha tidak pernah berubah. Selalu terlihat cerdas. Kenapa sekarang semakin mempesona. Astaga, ingat Sasti pantang balikan sama masa lalu. Dia sudah mempermalukan dan menyakitimu."

Sejenak logika Sasti berjalan normal lagi. Gegas ia mengalihkan pandangan ke audiens. Suara Agha kembali menggema. Semakin Sasti mencoba menepis rasa kagumnya suara itu semakin menembus kalbu.

"Perlu diketahui bahwa salah satu bentuk penerapan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika), kitap berkomitmen untuk turut serta dalam proses terapan P4GN di masyarakat, karena napza ini memang sangat merusak kaum muda, korbannya sudah banyak” papar Agha.

Pecandu napza akan menyebabkan berbagai efek negatif seperti :

Dampak Fisik : dapat merusak tubuh kita secara perlahan, melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga lebih rentan terhadap penyakit.

Dampak Psikologis: pengguna sering mengalami perubahan suasana hati yang drastis, depresi, kecemasan, dan bahkan halusinasi.

Walaupun dapat dimanfaatkan dalam beberapa prosedur medis, sering kali disalahgunakan untuk tujuan rekreasional dapat memicu otak melepaskan dopamin dan menciptakan rasa gembira untuk sesaat."

Tak terasa 40 menit waktu berlalu, Sasti tersentak, begitu menikmati suara Agha yang menentramkan. Ia kembali dari alam bawah sadarnya.

"Baiklah suara Pak Agha memang menghinoptis semua audiens, sekarang saatnya sesi tanya jawab." Ucapan Sasti seolah melambungkan hati Agha hingga senyum kilat terukir di bibirnya.

"Pak Agha bagaimana anak muda dengan mudah bisa terjerumus?" tanya seorang mahasiswi yang duduk di tengah pinggir kanan.

"Baik pertanyaan bagus. Biasanya salah satu celah untuk sasaran yakni anak muda yang sedang putus asa dan terpuruk. Masalah keluarga, putus dengan pasangan atau patah hati. Memang dibutuhkan mental yang kuat supaya bisa melewati masalah hidup seperti itu. Benar begitu kan Mbak Sasti?"

Reflek Sasti menoleh lalu tersenyum paksa. Bisa-bisanya Agha melempar tanya ke dirinya.

"Mbak Sasti pernah putus cinta atau patah hati lalu terpuruk mungkin?" tanya Agha disengaja. Ia menyembunyikan senyum di balik tatapannya yang mengarah ke Sasti. Membuat wanita itu sedikit gugup.

"Oh ya, kalau saya memilih terpuruk amatlah rugi. Kayak nggak ada lelaki lain aja. Di dunia ini lelaki nggak cuma satu kan. Meski patah hati, life must go on." Ucapan Sasti begitu menggebu membuat audiens terpana. Bahkan Rizky dan Nina ikutan menyimak dengan serius. Agha justru semakin tergelitik merespon kembali pertanyaannya.

"Jadi apa yang dilakukan Mbak Sasti kalau bertemu kembali orang yang menyebabkan masalah tadi?" lanjut pertanyaan Agha mengusik Sasti.

'Eh lha ni orang sengaja banget nanya gitu. Ngomongin Napza kenapa malah ke masalah patah hati. Nyebelin banget, ishh.' Bahu tegak Sasti mendadak merosot. Semangat pun surut.

"Saya?" Tunjuk Sasti pada dirinya sambil menoleh ke samping. Agha mengangguk.

"Oh jelas saya pantang balikan sama masa lalu dong, Kapten. Hidup akan berwarna dengan bertemu orang-orang baru. Boleh menengok ke belakang tetapi cukup sesaat. Jangan sampai hilang arah. Fokus menatap masa depan." Sasti begitu pede menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja setelah lima tahun berlalu. Entah kalimat itu dari hatinya atau sekedar terbawa suasana. Yang pasti ia lega mengucapkannya di depan Agha.

"Bagus. Inilah contoh anak muda yang mentalnya baja bukan mental kerupuk yang mudah melempem," puji Agha pada Sasti. Wanita itu segera meraup oksigen agar bernapas dengan lega. Sepertinya ia terlalu membawa hati dalam menjawab. Ia kembali menoleh ke arah Agha yang juga memandangnya penuh arti.

'Nggak usah nanya-nanya lagi bisa nggak, sih. Sengaja kali dia,' gerutu Sasti dalam hati. Ia memutar bola matanya jengah.

Rizky tiba-tiba memberi tepuk tangan diikuti audiens lain. Ia memberikan dua jempolnya untuk Sasti. Tak mau kalah, Sasti justru membalas dengan kode sarangheyo. Jelas saja Agha kesal setengah mati. Ia lalu mengalihkan perhatian dengan melempar tanya ke audiens.

"Terima kasih Pak Agha atas kesediaannya mengisi acara sosialisasi ini. Semoga lain waktu ada kesempatan berjumpa kembali." Begitulah ucapan basa-basi Sasti menutup acara. Namun, Agha tak henti mengaminkan doa itu dengan antusias.

"Terima kasih Pak Agha. Lain kali kita bisa follow up lagi kegiatan bagus ini," ungkap Rizky.

"Dengan senang hati, Pak Rizky. Mumpung saya akan lama tinggal di kota ini. Kita bisa diskusikan acara lain yang mendukung kegiatan ini. Bukan begitu Mbak Sasti?"

"Iya, Mas. Eh, Pak. Maaf." Sasti menutup mulutnya yang keceplosan. Sementara Rizky hanya mentap penasaran bergantian antara Sasti dan Agha yang tersenyum singkat.

Keduanya bergegas mengantar Agha ke depan kampus. Ia telah dijemput mobil serupa yang ditabrak Sasti di jalan.

"Tuh kan, bisa-bisanya nggak mau ngaku sudah sold out di depan mahasiswi." Sasti ngedumel sendiri.

"Sas, kenapa muka kamu manyun gitu?" celetuk Rizky sambil tertawa lucu melihat tingkah mahasiswi kesayangannya itu.

"Itu Kapten Agha udah punya pasangan juga masih TP TP tadi." Seketika Rizky langsung terpingkal.

"Dia itu..."

"Playboy?" sahut Sasti makin geram.

"Ah sudahlah yang penting kamu nggak terpesona sama Kapten Agha."

Reflek Sasti tersedak ludahnya.

"Tuh kan malah kesedak. Jadi kamu juga ikutan terpesona, Sas?"

"Nggak, Nggak akan."

"Eh iya nggak mungkin kan."

"Saya paling nggak suka sama lelaki berprofesi polisi. Pokoknya anti."

"Kenapa sih, Sas?" lanjut Rizky penasaran.

"Ribet aja," celetuk Sasti asal.

"Syukurlah. Kamu sukanya sama dosen aja, Sas. Saya misalnya."

"Pak Rizky jangan bercanda," balas Sasti mengalihkan pembicaraan yang menjurus. Ia pasti ujung-ujungnya akan terpojok.

"Serius, Sas."

"Eh maaf Pak Rizky saya harus nyari Nina dulu ada janjian. Maaf banget." Sasti menangkupkan kedua tangan lalu bergegas pergi. Rizky hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Sesampainya di kos, Sasti merebahkan badannya. Lelah seharian membuat matanya tidak mau diajak kompromi.

"Hey mandi dulu, awas nanti kebablasan, Sas," tegur Nina yang lewat depan pintu kamar Sasti.

"Iya, iya. Bawel ih Nina." Nina membalas dengan tawanya lalu melangkah ke kamae mandi.

Ting, notif pesan masuk ke ponsel Sasti. Ia enggan melihat karena mata tinggal beberapa watt, tapi penasaran juga.

"Siapa sih?" Ia menggeser layar. Tampak nomer asing yang belum tersimpan.

[Temani saya makan malam ya. Agha.]

Mendadak mata yang lengket langsung membelalak.

"Astaga dia modus banget kirim CV. Jadi tahu nomerku. Sasti nggak pinter amat sih jadi orang," umpat Sasti sambil menepuk jidat berulang. Gegas ia mengetikkan balasan.

[Maaf nggak bisa, Kapten. Saya sibuk ada tugas dari Pak Rizky]

Sudut bibir Sasti tertarik ke samping. Ia menggunakan alibi tugas dari dosen padahal deadline masih minggu depan.

[Masak narsum nggak dijamu panitia. Ditemenin misalnya] Lagi balasan Agha membuat Sasti terpancing merespon.

[Kan sudah ada yang nemenin. Tadi yang antar jemput]

[OH IYA]

"Tuh kan nyebelin."

Sasti melempar ponselnya ke samping, lalu rebahan. Belum sempurna merebah sudah terdengar nyaring ponselnya.

"Pak Rizky. Halo... Assalamu'alaikum."

"Sasti temani makan malam ya. Kita akan menjamu Kapten Agha di Resto Nusantara."

"APA? Tapi Pak Rizky, saya...."

"Ini PERINTAH, Sasti, bukan tawaran." Rizky tertawa lirih dari seberang, lalu memutus sepihak panggilannya. Sasti menggebrak kasurnya sambil menghentakkan kedua kaki.

"Aarghh Pak Rizky, Kapten Agha menyebalkan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 43 Extrapart 2

    Bab 43 Extra Part 2"Halo, Mas Agha." Almira akhirnya menelpon Agha."Ada apa, Al? Sasti sudah kamu antar sampai rumah?" tanya Agha."Ckk, nih istrimu lagi ngidam atau apa sih, Mas. Aku disuruh nganter buat mbuntutin kamu. Pokoknya kamu keluar sini. Aku udah gerah mau pulang mandi." Almira sudah mengomel di telpon.Agha pun keluar dari kantornya. Ia memandang keheranan mobil sepupunya terparkir tak jauh dari kantor."Kenapa diantar kesini?""Tuh, tadi di lampu merah lihat Mas Agha naik mobil sama polwan cantik. Dia nggak mau pulang. Maunya ngikutin mobil Mas Agha. Eh tahunya sampai sini malah ketiduran. Tanggung jawab nih, Mas. Aku mau pulang.""Ya sudah. Sana pulang bawa mobilku. Nanti atau besok tak tukar. Biarkan Sasti tidur, kasian kalau dibangunin.""Ckk, hari ini aku dikerjain dua pasangan bener, nih. Nggak Mas Rizky, Mas Agha juga. Hufh."Agha tertawa lebar mendengarnya. Ia bergegas menepuk bahu sepupunya."Sabar, ya. Semoga jodohnya disegerakan."Almira hanya mendecis lalu men

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 42 Extrapart 1

    Bab 42 Extra Part 1Satu tahun kemudian..."Ayo buruan sarapannya dipercepat, Sayang. Mas harus mimpin upacara ini," ucap Agha dengan nada halus sambil melihat arloji di tangan kanannya. Sementara sang istri hanya tersenyum sambil menyelesaikan proses mengunyah makanannya dengan santai.Satu bulan sudah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Selesai rangkaian acara pernikahan, mereka sebentar lagi harus kembali ke tempat bertugas yaitu di kampung halaman Sasti. Entah kenapa akhir-akhir ini Sasti manjanya nggak ketulungan. Minta ini itu yang aneh-aneh.Terlihat berbeda sekali dengan watak asli Sasti yang mandiri dan tak pernah manja. Mereka berdua masih tinggal sementara di rumah Pak Projo. Seperti keinginan Bu Santi, Mama Agha. Ia pengin ditemani menantunya sebelum ditinggal bertugas ke kampung halaman. Agha bertugas di kepolisian dan Sasti menjalankan KKN di kampungnya."Sabar, Mas! Aku nggak bisa makan cepat, nih. Nanti kalau mual muntah gimana?""Asam lambung kamu kambuh lagi?

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 41 Ending

    Bab 41 Ending"Maaf, beliau yang akan mengisi acara. Ini spesial karena beliau khusus menangani masalah tema hari ini," ucap polwan itu dengan lembut tapi nadanya tegas.Netra Sasti terbelalak. Gugup langsung menderanya. Ia beberapa kali mengucek mata. Berharap salah melihat bayangan seseorang."Mas Agha?! Ah, mungkin hanya ilusiku saja. Aku terlalu mengharapkan bertemu dia," rutuk Sasti dalam hati. Ia menunduk sedikit lalu menengadah kembali tapi tak sanggup melihat kedatangan narsum. Ia merasa takut hanya bermimpi. Memilih memandang ke arah MC sebentar, ia menunggu kode dari panitia. Sampai tidak ia sadari, narasumber sudah duduk di sampingnya."Apa kabar?" Suara maskulin itu begitu mengganggu konsentrasi Sasti. Mendadak ia gugup setengah mati.'Ya Rabb, kenapa wajah dan suaranya menghantui aku,' batin Sasti masih belum menoleh ke samping kiri."Mbak Sasti Ayuandira, saya sudah siap. Bisa dimulai?"Deg.'Kenapa dia tahu nama lengkapku? Oh, iya tadi kan MC menyebutkan. Tapi kan cuma

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 40 Spesial Pre Ending

    Bab 40 SpesialDi luar ruangan, Sasti berdiri bersama Nina di batas antara pengantar dan penumpang. Netranya mengedar kesana kemari mencari keberadaan seseorang. Ia lalu menerima ponsel Nina yang telah terhubung dengan Adam."Halo, Pak Adam. Ini Sasti, Mas Agha bersama Pak Adam?""Maaf Sasti, saya sedang sendiri sekarang. Ada pesan untuknya?""Oh. Bilang aja saya kirim pesan ke nomernya. Terima kasih."Sasti membungkukkan badan sambil memegangi lututnya yang terasa kebas akibat berlarian mengejar waktu. Nyatanya, usahanya untuk bertemu Agha gagal. Sasti masih berusaha menetralkan napasnya yang ngos-ngosan."Gimana, Sas?" tanya Nina trenyuh. Sasti hanya menggelengkan kepala."Terlambat, mereka sudah masuk pesawat, Nin.""Sabar ya, Sas! Tapi kamu sudah pesan ke Pak Adam, kan? Kalau kamu nyari Pak Agha.""Iya. Aku tanya Pak Agha ada nggak tapi Pak Adam lagi sendiri. Trus aku bilang aja udah kirim pesan ke nomer Pak Agha.""Syukurlah. Semoga terbaca dan segera dibalas ya. Setidaknya kita

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 39 Pre Ending

    Bab 39 Pre Ending 1Panas terik tak menyurutkan niat Sasti mengejar Agha ke bandara. Menurut info dari dosennya, pesawat satu jam lagi. Ia kahirnya diantar oleh Nina naik motor. Sebab Rizky ada kelas pada jam itu."Ayo buruan, Nin! Nanti telat." Sasti membonceng Nina. Karena sahabatnya itu tak mengizinkannya mengendarai di depan. Sasti kalau sudah terburu bisa-bisa naik motornya tak beraturan dan membahayakan."Sabar, Sas. Rada macet ini jalannya. Tahu sendiri kan jam makan siang. Lagian siapa suruh nggak peduli sama Kapten. Jelas-jelas pas di mall udah tak kasih kesempatan ngobrol. Raga dimana jiwanya dimana," omel Nina pada Sasti yang hanya bisa memutar bola mata jengah.Sasti ikut kesal pada dirinya sendiri yang tidak acuh saat diajak ngobrol sama Agha."Sasti, Sasti bisa-bisanya hal penting malah ga ngerti sama sekali." Sasti makin gemas seiring motor Nina yang hampir sampai bandara Adisucipto yang ada di Yogya. Namun belum juga masuk area parkiran, Nina menghentikan mendadak moto

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 38 Berakhir

    Bab 38 Berakhir"Sasti, lusa saya ada tugas. Saya mungkin akan lama..." Agah berucap lirih. Namun, Sasti masih sibuk dengan ponselnya membalas pesan Rizky."Hmm, gimana? Mas Agha tadi bilang apa?" Wajah Sasti melongo karena begitu beralih dari fokus melihat layar HP, tatapan Agha tak berkedip mengarah padanya. Sekelebat rasa bersalah menghantui.'Tadi Mas Agha ngomong apa, sih? Duh, kacau aku malah nggak konsen.'"Sasti, kalau kamu pergi dari Rizky, kembalilah pada saya!"Bersamaan kalimat lirih itu, notif pesan di ponsel Sasti berbunyi."Gimana, Mas?" ulang Sasti sambil fokus membalas pesan dari Rizky.Agha berdecak seraya menghela napas panjang. Ia sedikit tertawa mengejek diri sendiri. Teringat lima tahun lalu, ia di posisi Sasti sekarang. Mengabaikan lawan bicara saat sedang mengutarakan perasaannya."Gimana kalau kamu balikan sama saya aja, Sas! Biarkan Rizky kembali dengan Andini." Kali ini Agha memberi tawaran dengan nada bercanda. Entah karena dia sudah jengah atau sebenarnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status