LOGIN"Baik, langsung saja materi yang ingin saya sampaikan adalah tentang bahaya Napza. Akhir-akhir ini banyak berita kriminal yang muncul salah satunya diakibatkan penggunaan Napza."
Sasti menyimak dengan seksama. Pandangannya tak henti mengamati Agha dalam bertutur. "Mas Agha tidak pernah berubah. Selalu terlihat cerdas. Kenapa sekarang semakin mempesona. Astaga, ingat Sasti pantang balikan sama masa lalu. Dia sudah mempermalukan dan menyakitimu." Sejenak logika Sasti berjalan normal lagi. Gegas ia mengalihkan pandangan ke audiens. Suara Agha kembali menggema. Semakin Sasti mencoba menepis rasa kagumnya suara itu semakin menembus kalbu. "Perlu diketahui bahwa salah satu bentuk penerapan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika), kitap berkomitmen untuk turut serta dalam proses terapan P4GN di masyarakat, karena napza ini memang sangat merusak kaum muda, korbannya sudah banyak” papar Agha. Pecandu napza akan menyebabkan berbagai efek negatif seperti : Dampak Fisik : dapat merusak tubuh kita secara perlahan, melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga lebih rentan terhadap penyakit. Dampak Psikologis: pengguna sering mengalami perubahan suasana hati yang drastis, depresi, kecemasan, dan bahkan halusinasi. Walaupun dapat dimanfaatkan dalam beberapa prosedur medis, sering kali disalahgunakan untuk tujuan rekreasional dapat memicu otak melepaskan dopamin dan menciptakan rasa gembira untuk sesaat." Tak terasa 40 menit waktu berlalu, Sasti tersentak, begitu menikmati suara Agha yang menentramkan. Ia kembali dari alam bawah sadarnya. "Baiklah suara Pak Agha memang menghinoptis semua audiens, sekarang saatnya sesi tanya jawab." Ucapan Sasti seolah melambungkan hati Agha hingga senyum kilat terukir di bibirnya. "Pak Agha bagaimana anak muda dengan mudah bisa terjerumus?" tanya seorang mahasiswi yang duduk di tengah pinggir kanan. "Baik pertanyaan bagus. Biasanya salah satu celah untuk sasaran yakni anak muda yang sedang putus asa dan terpuruk. Masalah keluarga, putus dengan pasangan atau patah hati. Memang dibutuhkan mental yang kuat supaya bisa melewati masalah hidup seperti itu. Benar begitu kan Mbak Sasti?" Reflek Sasti menoleh lalu tersenyum paksa. Bisa-bisanya Agha melempar tanya ke dirinya. "Mbak Sasti pernah putus cinta atau patah hati lalu terpuruk mungkin?" tanya Agha disengaja. Ia menyembunyikan senyum di balik tatapannya yang mengarah ke Sasti. Membuat wanita itu sedikit gugup. "Oh ya, kalau saya memilih terpuruk amatlah rugi. Kayak nggak ada lelaki lain aja. Di dunia ini lelaki nggak cuma satu kan. Meski patah hati, life must go on." Ucapan Sasti begitu menggebu membuat audiens terpana. Bahkan Rizky dan Nina ikutan menyimak dengan serius. Agha justru semakin tergelitik merespon kembali pertanyaannya. "Jadi apa yang dilakukan Mbak Sasti kalau bertemu kembali orang yang menyebabkan masalah tadi?" lanjut pertanyaan Agha mengusik Sasti. 'Eh lha ni orang sengaja banget nanya gitu. Ngomongin Napza kenapa malah ke masalah patah hati. Nyebelin banget, ishh.' Bahu tegak Sasti mendadak merosot. Semangat pun surut. "Saya?" Tunjuk Sasti pada dirinya sambil menoleh ke samping. Agha mengangguk. "Oh jelas saya pantang balikan sama masa lalu dong, Kapten. Hidup akan berwarna dengan bertemu orang-orang baru. Boleh menengok ke belakang tetapi cukup sesaat. Jangan sampai hilang arah. Fokus menatap masa depan." Sasti begitu pede menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja setelah lima tahun berlalu. Entah kalimat itu dari hatinya atau sekedar terbawa suasana. Yang pasti ia lega mengucapkannya di depan Agha. "Bagus. Inilah contoh anak muda yang mentalnya baja bukan mental kerupuk yang mudah melempem," puji Agha pada Sasti. Wanita itu segera meraup oksigen agar bernapas dengan lega. Sepertinya ia terlalu membawa hati dalam menjawab. Ia kembali menoleh ke arah Agha yang juga memandangnya penuh arti. 'Nggak usah nanya-nanya lagi bisa nggak, sih. Sengaja kali dia,' gerutu Sasti dalam hati. Ia memutar bola matanya jengah. Rizky tiba-tiba memberi tepuk tangan diikuti audiens lain. Ia memberikan dua jempolnya untuk Sasti. Tak mau kalah, Sasti justru membalas dengan kode sarangheyo. Jelas saja Agha kesal setengah mati. Ia lalu mengalihkan perhatian dengan melempar tanya ke audiens. "Terima kasih Pak Agha atas kesediaannya mengisi acara sosialisasi ini. Semoga lain waktu ada kesempatan berjumpa kembali." Begitulah ucapan basa-basi Sasti menutup acara. Namun, Agha tak henti mengaminkan doa itu dengan antusias. "Terima kasih Pak Agha. Lain kali kita bisa follow up lagi kegiatan bagus ini," ungkap Rizky. "Dengan senang hati, Pak Rizky. Mumpung saya akan lama tinggal di kota ini. Kita bisa diskusikan acara lain yang mendukung kegiatan ini. Bukan begitu Mbak Sasti?" "Iya, Mas. Eh, Pak. Maaf." Sasti menutup mulutnya yang keceplosan. Sementara Rizky hanya mentap penasaran bergantian antara Sasti dan Agha yang tersenyum singkat. Keduanya bergegas mengantar Agha ke depan kampus. Ia telah dijemput mobil serupa yang ditabrak Sasti di jalan. "Tuh kan, bisa-bisanya nggak mau ngaku sudah sold out di depan mahasiswi." Sasti ngedumel sendiri. "Sas, kenapa muka kamu manyun gitu?" celetuk Rizky sambil tertawa lucu melihat tingkah mahasiswi kesayangannya itu. "Itu Kapten Agha udah punya pasangan juga masih TP TP tadi." Seketika Rizky langsung terpingkal. "Dia itu..." "Playboy?" sahut Sasti makin geram. "Ah sudahlah yang penting kamu nggak terpesona sama Kapten Agha." Reflek Sasti tersedak ludahnya. "Tuh kan malah kesedak. Jadi kamu juga ikutan terpesona, Sas?" "Nggak, Nggak akan." "Eh iya nggak mungkin kan." "Saya paling nggak suka sama lelaki berprofesi polisi. Pokoknya anti." "Kenapa sih, Sas?" lanjut Rizky penasaran. "Ribet aja," celetuk Sasti asal. "Syukurlah. Kamu sukanya sama dosen aja, Sas. Saya misalnya." "Pak Rizky jangan bercanda," balas Sasti mengalihkan pembicaraan yang menjurus. Ia pasti ujung-ujungnya akan terpojok. "Serius, Sas." "Eh maaf Pak Rizky saya harus nyari Nina dulu ada janjian. Maaf banget." Sasti menangkupkan kedua tangan lalu bergegas pergi. Rizky hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Sesampainya di kos, Sasti merebahkan badannya. Lelah seharian membuat matanya tidak mau diajak kompromi. "Hey mandi dulu, awas nanti kebablasan, Sas," tegur Nina yang lewat depan pintu kamar Sasti. "Iya, iya. Bawel ih Nina." Nina membalas dengan tawanya lalu melangkah ke kamae mandi. Ting, notif pesan masuk ke ponsel Sasti. Ia enggan melihat karena mata tinggal beberapa watt, tapi penasaran juga. "Siapa sih?" Ia menggeser layar. Tampak nomer asing yang belum tersimpan. [Temani saya makan malam ya. Agha.] Mendadak mata yang lengket langsung membelalak. "Astaga dia modus banget kirim CV. Jadi tahu nomerku. Sasti nggak pinter amat sih jadi orang," umpat Sasti sambil menepuk jidat berulang. Gegas ia mengetikkan balasan. [Maaf nggak bisa, Kapten. Saya sibuk ada tugas dari Pak Rizky] Sudut bibir Sasti tertarik ke samping. Ia menggunakan alibi tugas dari dosen padahal deadline masih minggu depan. [Masak narsum nggak dijamu panitia. Ditemenin misalnya] Lagi balasan Agha membuat Sasti terpancing merespon. [Kan sudah ada yang nemenin. Tadi yang antar jemput] [OH IYA] "Tuh kan nyebelin." Sasti melempar ponselnya ke samping, lalu rebahan. Belum sempurna merebah sudah terdengar nyaring ponselnya. "Pak Rizky. Halo... Assalamu'alaikum." "Sasti temani makan malam ya. Kita akan menjamu Kapten Agha di Resto Nusantara." "APA? Tapi Pak Rizky, saya...." "Ini PERINTAH, Sasti, bukan tawaran." Rizky tertawa lirih dari seberang, lalu memutus sepihak panggilannya. Sasti menggebrak kasurnya sambil menghentakkan kedua kaki. "Aarghh Pak Rizky, Kapten Agha menyebalkan."Bab 32 Kabur "Ka...kalian berdua ternyata bersekongkol menghancurkan keluargaku, hah?" Tunjuk Almira bergantian pada Yuan dan Sasti. "YA. Memang kenapa?! Keluarga kalian duluan lah yang salah. Ada seseorang menghilangkan nyawa orang tuaku. Lantas kalau dibalas, salahnya dimana?" ucap Sasti dengan semangat berapi-api. Hingga membuat Almira menunjuk lagi muka Sasti. "Kamu..." Hampir saja kedua tangan Almira menarik jilbab Sasti. Namun, Yuan segera menahannya supaya tidak terjadi adu fisik. "Lepasin Yuan! Aku mau beri dia pelajaran." Almira berusaha memberontak. Namun dengan sigap dua pengawal Yuan memeganginya. "Ikat saja dia biar diam!" titah Yuan pada pengawalnya. Dengan sigap pengawal itu mengeluarkan tali lalu mendudukkan Almira pada salah satu kursi dan mengikatnya. "Apa?! Yuan...kamu!" seru Almira sambil menatap tajam ke arah Yuan. Karena masih teriak-teriak, mulut wanita itu pun diplester. Tak ayal Almira meronta-tonta dengan wajah merah padam. Kedua mata melotot tajam ke
Bab 31 Jangan Sentuh "Sudah terpasang.""Pastikan sudah diaktifkan."Iya sudah.""Segeralah keluar dari situ."Gegas Sasti hendak keluar kamar Yuan. Ponsel ia masukkan ke saku belum sempat dimatikan. Baru saja sampai ambang pintu. Sepasang tangan dingin menyentuh bahunya. Mengagetkan hingga membuat Sasti terlonjak. Yuan dengan sigap membalik tubuh Sasti hingga mereka berdua berhadapan. Yuan menapakkan kakinya maju sedikit demi sedikit memaksa Sasti mundur hingga membentur pintu."Yu...Yuan.""Apa yang kamu lakukan di kamarku Sasti?"DEG."Hmm, itu Yuan. Ma...maaf. Aku..." Sasti memberanikan diri menahan dada Yuan yang hanya memakai kaos singlet. Rambutnya masih basah membuat otaknya sempat beku.'Astaghfirullah. Kenapa momennya harus begini. Gimana caranya lepas darinya saat ini.'"Aaargh. Yuan!" Tanpa aba-aba Yuan menarik dan menjatuhkan Sasti ke ranj4ng kingsize di kamarnya."Yuan...""Kamu sudah menggodaku Sasti. Apa boleh buat. Aku akan..."Di tempat lain, Adam ngomong sendiri se
Bab 30 ApartemenDi bangsal, Sasti masih sabar menanti Nina yang tak kunjung bangun. Setiap bangun dia merasa kesakitan, dan akan menerima suntikan obat pereda nyeri kata perawat. Lalu tertidur kembali.Sudah 24 jam Sasti menunggu untuk mendapatkan informasi dari Nina tapi nihil. Hanya genggaman tangan yang erat seolah minta tolong padanya saja yang ia rasakan. Wajah ketakutan juga masih tersirat di raut muka Nina. Terlihat keningnya yang sering berkerut."Tunggulah Nina, aku pasti akan mencari kebenarannya." Sasti mematri janji dalam hatinya."Sasti." Sebuah sapaan dari Dokter Yuan mengagetkan Sasti pagi ini."Ya, Dok." Sasti berdiri membenahi pakaiannya juga jilbabnya yang berantakan. Ia sempat terlelap tadi karena rasa kantuk semalam tidak bisa tidur saat menjaga Nina."Sepertinya kamu harus ikut aku hari ini. Gimana?""Tapi saya masih nunggu Nina membaik.""Jangan kawatir. Nina sudah semakin bagus kondisinya. Nanti ada perawat yang menjaga. Aku juga akan mengkontak Dokter Arini bu
Bab 29 Pesanmu"Lepaskan Dia, brengs*k!" Agha menoleh ke arah sumber suara. Melihat sosok yang mengatainya, juga menyentak tangannya dari memegang bahu Sasti, seperti ada bara api menyesakkan dadanya, reflek Agha menarik kerah orang itu."Kamu yang brengs*k, Yuan! Kamu sudah mencuci otak, Sasti?! Kamu....""Sudah, sudah! Berhenti! Kalian kenapa sih? Seperti anak kecil!" teriak Sasti. Ia berusaha melerai dua lelaki di depannya yang hampir baku hantam. Aura permusuhan di wajah keduanya masih menggebu. Tiba-tiba terdengar suara rintihan dari dalam ruangan. Gegas Sasti meninggalkan dua orang yang masih berdiri mematung itu."Nina! Nina sadar! Bangun, Nina!""Sakit. Sakit," rintih Nina. Sasti merasa trenyuh mendengarnya. Tubuhnya terasa ikut merasakan ngilu. Melihat luka bakar yang ada di tubuh Nina, Sasti tak kuasa menahan tangis. Memang luka Nina lebih sedikit dibanding Rizky. Tetapi luka yang sedikit itupun terasa menyakitkan."Nina, bagian mana yang sakit?" Sasti kebingungan menenenang
Bab 28 Lepaskan "Yakin mau ke rumah sakit sekarang atau aku antar ke kos dulu?" Yuan menawarkan pilihan lain melihat kondisi Sasti yang murung."Ke rumah sakit saja, Yuan.""Baiklah." Kedua tangan Yuan siap memegang setir. Sasti yang menoleh ke samping mengerutkan dahinya. Menatap lekat pergelangan tangan kanan Yuan. Ada terlihat dua tanda merah di sana."Tanganmu masih sakit, Yuan?" tanya Sasti masih fokus melihat ke samping."Oh, ini cuma sedikit nyeri tidak masalah," sahut Yuan lalu melepaskan kemeja yang dilipatnya sesiku hingga menutupi lukanya."Beneran nggak apa-apa?""Aman, Sasti. Dokternya aku atau kamu?" canda Yuan. Sasti pun mulai bisa sedikit tertawa melihat Yuan yang berkelakar.Sepanjang perjalanan, Yuan sesekali mengajak bicara Sasti supaya tidak diam melamun."Jadi bagaimana? Apa perlu bantuan Papa untuk menyelidiki kasus ayah dan ibumu?" tawar Yuan dengan wajah serius. Sasti tampak berpikir, lalu menarik napas panjang."Ya Yuan, aku butuh bantuanmu kali ini. Aku berh
Bab 27 Percaya"Sasti, saat ini yang jauh darimu belum tentu tak suka padamu. Yang dekat denganmu bisa jadi bahaya mengancammu. Tolong pahami kata-kata saya.""Apaan sih? Kapten Agha yang terhormat, tenang saja, saya segera balik setelah urusan di sini selesai.""Sasti. Aku mencintaimu sejak dulu.""Halo, halo, Mas tadi mau ngomong apa?""Oh tidak, lupakan saja! Jaga diri baik-baik. Segera kembali jika urusan sudah selesai. Rizky kondisinya kurang stabil." Ucapan Agha nadanya lirih membuat irama degup jantung Sasti meningkat.'Pak Rizky, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya,' batin Sasti sambil menghela napas panjang. Ia menyudahi panggilan dengan Agha."Ada apa?""Kondisi Pak Rizky kurang stabil, aku harus segera balik ke rumah sakit, Yuan." Wajah Sasti terlihat tidak tenang. Namun, Yuan berusaha menghiburnya."Ayo ke ruang kerja Papa. Semoga Papa sudah selesai dengan kerjaannya.""Kalau belum selesai jangan diganggu Yuan, aku nggak enak," ujar Sasti."Tidak Sasti, aku sudah janji







