ログインDua hari berlalu....
"Kesel, kesel, kesel. Hwaaa nyebelin banget." Sasti mengomel-ngomel sendiri sambil duduk memeluk lutut di atas kasur kamar kosnya. Ingat malam dua hari yang lalu sungguh membuat hatinya di remas-remas. Siapa yang ajak makan malam siapa juga yang batalin. Ya, Sasti malam itu akhirnya menyetujui mandat dosennya, Rizky. "Kalau bukan Pak Rizky yang minta, ogah aku pergi makan malam. Kapten Agha tambah nyebelin. Aku nggak bakal percaya lagi sama dia," gerutu Sasti sambil mengacak selimut dan bantal gulingnya. "Hey, Sasti. Katanya mau ke Resto Nusantara. Ayo, jadi enggak? Aku dah dandan, malah kamunya santai-santai, masih pakai babydoll lagi." Nina yang datang dengan pakaian rapi menelisik heran penampilan Sasti yang masih sama seperti tadi siang. "Ihh, Nina kamu nggak ngerti, sih. Aku masih kesel tahu. Nanti kalau tiba-tiba dibatalin kayak kemarin-kemarin gimana? Makan hati tahu, nggak?" Mendengar curhatan itu, Nina justru terbahak. "Astaga, malah ketawa. Seneng ya lihat temen susah? Dasar Kapten Agha, lihat saja, nanti aku balas." Lagi, Nina makin terpingkal sambil memegangi perut. "Hehe, maaf. Maaf teman. Lagian kamu kayak ada dendam gitu sama Pak Agha. Baru juga ketemu kemarin, kamu segitunya benci sama polisi, Sas. Jangan-jangan...." "Jangan-jangan apa?" ujar Sasti sambil melotot ke arah Nina yang tampak berpikir. "Ah, pikir aja sendiri. Tapi ya, Pak Agha itu ganteng, cool, muka dewasa 11 12 sama Pak Rizky tapi nggak tahu juga lebih berkarisma aja. Tatapan dinginnya itu lho, Sas. Kalau sampai tersenyum sedikit saja, bikin klepek-klepek..." "Hush, Pak Agha sudah laku. Kayak nggak ada lelaki lain aja," tegur Sasti membuat Nina menatap curiga Sasti. "Apa lihat-lihat? Kamu nggak percaya dia dah sold out?" "Kok kamu manggilnya dia sih, Sas? Kayak udah kenal dekat aja." Tatapan Nina makin curiga. "Eh, maksudnya ya Pak Agha udah sold out. Berabe ngomongnya nih. Ingat wanita seksi yang mobilnya kita tabrak, kan? Pak Agha nggak menyangkal waktu aku bilang udah sold out." "Nggak gitu juga konsepnya, bestie. Bisa jadi beliau khawatir mahasiswi menyerbu akun medosnya atau minta nomer HP trus memborbardir pesan gitu. Kenyataan kan nggak ada yang tahu nomer HPnya, kan." "Siapa bilang? Aku ada nomernya." "Hah. Serius? Kamu dapat darimana? Oh, jangan-jangan kamu diam-diam minta ya? Trus audiens pada minta nggak kamu kasih. Pak Agha beralasan privasi, eh kamunya minta malah dikasih." tuduh Nina sambil memainkan jari di depan muka Sasti yang menatapnya horor. Plakk. "Ough, sakit, Sas." Nina mengusap lengannya yang jadi sasaran Sasti. "Enak aja, Pak Agha sendiri yang hubungi aku pas jadi narsum kemarin. Bilangnya minta CV nggak, tapi saya punyanya file. Ya mau nggak mau nomernya ada di sini," ucap Sasti sambil nunjukin ponselnya. "Oh...." "Nggak percaya?" "Percaya, Sasti. Kamu kan paling benci sama lelaki profesinya polisi. Jadi nggak mungkin tertarik kan minta-minta nomer Pak Agha." "Iyalah, ngapain juga minta dan nyimpen." "Lalu malam itu yang bikin kesel siapa? Pak Agha atau Pak Rizky, hayo?" Nina masih bertanya penasaran. "Udah ah, aku mau mandi nanti keburu ditelpon pak dosen, grubyakan aku, Nin." "Eits...nggak, kamu jawab dulu." Nina menarik lengan Sasti supaya duduk lagi ke kasur. "Pak Agha hubungi aku minta ditemenin makan malam. Aku jawab sedang sibuk ada tugas dari Pak Rizky." "Hah, jadi Pak Agha duluan yang hubungin kamu." Sasti mengangguk membuat Nina penasaran. "Kamu kok berani banget nolak permintaan narsum, Pak Agha lagi. Pasti ada yang kamu sembunyiin ya. Hayo ngaku, Sas!" "Ishhh. Gimana nggak nolak kalau nggak ada perintah Pak Rizky dosen kita. Nanti salah prosedur dong. Harusnya panitia kan yang nemenin narsum. Jadi Pak Rizky yang kasih perintah dulu." "Oh, trus...trus setelah kamu jawab, Pak Agha gimana?" "Beliau biasa aja mungkin paham. Eh beberapa menit kemudian beneran Pak Rizky telpon aku suruh nemenin makan malam sama beliau juga. Dan sampai Resto nunggu sejam, Pak Agha nggak datang karena ada panggilan darurat oleh atasannya yang baru. Dongkol banget aku tahu, nggak? Mana di resto aku cuma berdua sama Pak Rizky lagi, hufh." "Lha bukannya asyik, Sas. Kesempatan emas berduaan sama Pak Dosen cakep masih single." Nina menanggapi dengan senyum menggoda. "Apanya yang kesempatan emas. Aku kayak di prank. Hwaaa disana nggak sengaja ketemu Mamanya Pak Rizky." Sasti lanjut curhat sambil teriak dan menutupi wajahnya yang bersemu merah. "What? Trus trus gimana? Kamu dikenalin enggak sama Mamanya Pak Rizky? Mamanya baik hati kan kayak anaknya?" Nina sudah nerocos kayak kereta. "Ampun deh, satu-satu Nin. Itu hmm, bisa-bisanya Pak Rizky ngenalin aku jadi calon mantu. Mau ditaruh mana mukaku, Nin. Malu aku, beneran." "Wah, wah. Kemajuan pesat. Pak Rizky serius sama kamu, Sas. Selamat ya." Nina mengulurkan tangannya tapi tak disambut oleh Sasti. "Selamat apaan. Ngga mungkin Pak Rizky serius lah sama aku. Beliau hanya bercanda, orang calon istrinya aja di luar negeri." "Lah kenapa malah kamu yang dikenalin?" "Kayaknya belum dapat restu deh. Jadi belum dikenalin sama keluarganya." Sasti mulai beranjak ingin mengambil handuk. "Ya udah sama kamu aja, Sas. Syukur-syukur Mamanya baik juga sama kamu." "Udah ah, mikir kuliah yang bener. Aku mau mandi dulu, nih udah ada pesan Pak Rizky mau jemput 10 menit lagi," ujar Sasti sambil menunjukkan layar ponsel. "Ya Rabb, kamu buruan mandi gih. Kasian nanti Pak Rizky kalau harus nunggu." Selesai bersiap, Sasti dan Nina sudah menunggu di depan kos putri yang berjarak tak jauh dari kampus. Biasanya keduanya jalan kaki atau kadang juga naik motor milik Nina. Waktu bergulir detik termakan oleh menit tak terasa hampir setengah jam keduanya menunggu. Rasa bosan pun mulai menghampiri. "Kok Pak Rizky lama ya, Sas?" "Paling ada keperluan dulu, Nin. Biasa kan kita mahasiswa disuruh nunggu dosen." "Iya ya, tapi ini sudah setengah jam. Katanya habis Isya, takutnya kita kemalaman." Sasti merasa gundah. Ia mulai suudzon kalau acara makan malam bakal batal lagi. 'Pasti Mas Agha yang batalin lagi. Awas aja.' "Kenapa, Sas?" "Eh enggak, Nin." Tin tin. Suara klakson mobil membuat keduanya mengarahkan netra ke sumber suara. Sebuah mobil yamg familiar menyambangi kos mereka. "Nin, kayak bukan mobil Pak Rizky, ya?" "Itu kan mobil yang kita tabrak, Sas." Deg, Sasti tiba-tiba merasakan dadanya berdebar kencang. Ia berusaha meraup oksigen banyak-banyak lalu memgelus dadanya. 'Apa jantungku bermasalah ya? Kenapa beberapa hari ini nggak bisa diajak kompromi.' "Maaf saya terlambat." Sosok yang tidak dibayangkan Sasti ternyata muncul di depan kosnya. "Lho Ma...hmm Kapten Agha kenapa kesini? Kami nunggu Pak Rizky menjemput," ucap Sasti. Ia berusaha tidak gugup di depan Agha yang berpakaian kasual itu. Sasti bahkan mengalihkan pandangan ke Nina agar tidak terhipnotis pesona lelaki itu. "Tadi Pak Rizky hubungi saya untuk menjemput kalian karena ada keperluan mendadak dulu. Lagian searah juga ke resto Nusantara. Ayo silakan!" Penjelasan Agha disertai seulas senyum membuat Sasti makin canggung. Ia takut terlihat salting, lalu segera mengajak Nina masuk mobil di kursi belakang. "Kalian tidak berharap saya dikira sopir kan? Buruan duduk depan Mbak Sasti." "Tapi. Kamu aja, Nin," bujuk Sasti. Ia ngedumel sendiri dalam hati. Entah ia harus kesal sama Rizky yang tidak jadi jemput atau justru pada Agha yang sesuka hati memerintah. "Kamu gih. Yang masuk duluan kan aku." "NINA!" Nina tak bisa menahan tawa saat bibir Sasti mengerucut dan juga kakinya dihentakkan. Sahabatnya itu segera duduk di depan samping kemudi dengan terpaksa. "Sabuknya mau dipasangkan atau pasang sendiri," goda Agha. Soft spokennya justru membuat Sasti merinding. "KAPTEN AGHA!"Bab 43 Extra Part 2"Halo, Mas Agha." Almira akhirnya menelpon Agha."Ada apa, Al? Sasti sudah kamu antar sampai rumah?" tanya Agha."Ckk, nih istrimu lagi ngidam atau apa sih, Mas. Aku disuruh nganter buat mbuntutin kamu. Pokoknya kamu keluar sini. Aku udah gerah mau pulang mandi." Almira sudah mengomel di telpon.Agha pun keluar dari kantornya. Ia memandang keheranan mobil sepupunya terparkir tak jauh dari kantor."Kenapa diantar kesini?""Tuh, tadi di lampu merah lihat Mas Agha naik mobil sama polwan cantik. Dia nggak mau pulang. Maunya ngikutin mobil Mas Agha. Eh tahunya sampai sini malah ketiduran. Tanggung jawab nih, Mas. Aku mau pulang.""Ya sudah. Sana pulang bawa mobilku. Nanti atau besok tak tukar. Biarkan Sasti tidur, kasian kalau dibangunin.""Ckk, hari ini aku dikerjain dua pasangan bener, nih. Nggak Mas Rizky, Mas Agha juga. Hufh."Agha tertawa lebar mendengarnya. Ia bergegas menepuk bahu sepupunya."Sabar, ya. Semoga jodohnya disegerakan."Almira hanya mendecis lalu men
Bab 42 Extra Part 1Satu tahun kemudian..."Ayo buruan sarapannya dipercepat, Sayang. Mas harus mimpin upacara ini," ucap Agha dengan nada halus sambil melihat arloji di tangan kanannya. Sementara sang istri hanya tersenyum sambil menyelesaikan proses mengunyah makanannya dengan santai.Satu bulan sudah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Selesai rangkaian acara pernikahan, mereka sebentar lagi harus kembali ke tempat bertugas yaitu di kampung halaman Sasti. Entah kenapa akhir-akhir ini Sasti manjanya nggak ketulungan. Minta ini itu yang aneh-aneh.Terlihat berbeda sekali dengan watak asli Sasti yang mandiri dan tak pernah manja. Mereka berdua masih tinggal sementara di rumah Pak Projo. Seperti keinginan Bu Santi, Mama Agha. Ia pengin ditemani menantunya sebelum ditinggal bertugas ke kampung halaman. Agha bertugas di kepolisian dan Sasti menjalankan KKN di kampungnya."Sabar, Mas! Aku nggak bisa makan cepat, nih. Nanti kalau mual muntah gimana?""Asam lambung kamu kambuh lagi?
Bab 41 Ending"Maaf, beliau yang akan mengisi acara. Ini spesial karena beliau khusus menangani masalah tema hari ini," ucap polwan itu dengan lembut tapi nadanya tegas.Netra Sasti terbelalak. Gugup langsung menderanya. Ia beberapa kali mengucek mata. Berharap salah melihat bayangan seseorang."Mas Agha?! Ah, mungkin hanya ilusiku saja. Aku terlalu mengharapkan bertemu dia," rutuk Sasti dalam hati. Ia menunduk sedikit lalu menengadah kembali tapi tak sanggup melihat kedatangan narsum. Ia merasa takut hanya bermimpi. Memilih memandang ke arah MC sebentar, ia menunggu kode dari panitia. Sampai tidak ia sadari, narasumber sudah duduk di sampingnya."Apa kabar?" Suara maskulin itu begitu mengganggu konsentrasi Sasti. Mendadak ia gugup setengah mati.'Ya Rabb, kenapa wajah dan suaranya menghantui aku,' batin Sasti masih belum menoleh ke samping kiri."Mbak Sasti Ayuandira, saya sudah siap. Bisa dimulai?"Deg.'Kenapa dia tahu nama lengkapku? Oh, iya tadi kan MC menyebutkan. Tapi kan cuma
Bab 40 SpesialDi luar ruangan, Sasti berdiri bersama Nina di batas antara pengantar dan penumpang. Netranya mengedar kesana kemari mencari keberadaan seseorang. Ia lalu menerima ponsel Nina yang telah terhubung dengan Adam."Halo, Pak Adam. Ini Sasti, Mas Agha bersama Pak Adam?""Maaf Sasti, saya sedang sendiri sekarang. Ada pesan untuknya?""Oh. Bilang aja saya kirim pesan ke nomernya. Terima kasih."Sasti membungkukkan badan sambil memegangi lututnya yang terasa kebas akibat berlarian mengejar waktu. Nyatanya, usahanya untuk bertemu Agha gagal. Sasti masih berusaha menetralkan napasnya yang ngos-ngosan."Gimana, Sas?" tanya Nina trenyuh. Sasti hanya menggelengkan kepala."Terlambat, mereka sudah masuk pesawat, Nin.""Sabar ya, Sas! Tapi kamu sudah pesan ke Pak Adam, kan? Kalau kamu nyari Pak Agha.""Iya. Aku tanya Pak Agha ada nggak tapi Pak Adam lagi sendiri. Trus aku bilang aja udah kirim pesan ke nomer Pak Agha.""Syukurlah. Semoga terbaca dan segera dibalas ya. Setidaknya kita
Bab 39 Pre Ending 1Panas terik tak menyurutkan niat Sasti mengejar Agha ke bandara. Menurut info dari dosennya, pesawat satu jam lagi. Ia kahirnya diantar oleh Nina naik motor. Sebab Rizky ada kelas pada jam itu."Ayo buruan, Nin! Nanti telat." Sasti membonceng Nina. Karena sahabatnya itu tak mengizinkannya mengendarai di depan. Sasti kalau sudah terburu bisa-bisa naik motornya tak beraturan dan membahayakan."Sabar, Sas. Rada macet ini jalannya. Tahu sendiri kan jam makan siang. Lagian siapa suruh nggak peduli sama Kapten. Jelas-jelas pas di mall udah tak kasih kesempatan ngobrol. Raga dimana jiwanya dimana," omel Nina pada Sasti yang hanya bisa memutar bola mata jengah.Sasti ikut kesal pada dirinya sendiri yang tidak acuh saat diajak ngobrol sama Agha."Sasti, Sasti bisa-bisanya hal penting malah ga ngerti sama sekali." Sasti makin gemas seiring motor Nina yang hampir sampai bandara Adisucipto yang ada di Yogya. Namun belum juga masuk area parkiran, Nina menghentikan mendadak moto
Bab 38 Berakhir"Sasti, lusa saya ada tugas. Saya mungkin akan lama..." Agah berucap lirih. Namun, Sasti masih sibuk dengan ponselnya membalas pesan Rizky."Hmm, gimana? Mas Agha tadi bilang apa?" Wajah Sasti melongo karena begitu beralih dari fokus melihat layar HP, tatapan Agha tak berkedip mengarah padanya. Sekelebat rasa bersalah menghantui.'Tadi Mas Agha ngomong apa, sih? Duh, kacau aku malah nggak konsen.'"Sasti, kalau kamu pergi dari Rizky, kembalilah pada saya!"Bersamaan kalimat lirih itu, notif pesan di ponsel Sasti berbunyi."Gimana, Mas?" ulang Sasti sambil fokus membalas pesan dari Rizky.Agha berdecak seraya menghela napas panjang. Ia sedikit tertawa mengejek diri sendiri. Teringat lima tahun lalu, ia di posisi Sasti sekarang. Mengabaikan lawan bicara saat sedang mengutarakan perasaannya."Gimana kalau kamu balikan sama saya aja, Sas! Biarkan Rizky kembali dengan Andini." Kali ini Agha memberi tawaran dengan nada bercanda. Entah karena dia sudah jengah atau sebenarnya







