Mag-log inMalam itu, kamar kos Akira terasa lebih sunyi dari biasanya. Amplop putih tergeletak tak bergerak di sampingnya, sementara brosur S2 terbuka setengah dengan kertas yang bergetar pelan oleh angin kipas tua yang berdengung lirih. Ponselnya bergetar lagi, menampilkan nama Arka. “Udah dibuka?” Akira menatap layar dengan jari berhenti sejenak, lalu membalas. “Kamu sengaja ya bikin aku mikir semalaman?” Balasan cepat menyusul. “Iya.” Senyum tipis mengembang di wajah Akira, seolah menemukan kenyamanan dalam lelucon kecil itu. Beberapa menit kemudian, ketukan pelan mengganggu keheningan kamarnya. Alisnya mengernyit penuh tanya saat dia berdiri, mendekati pintu. Dia membuka pintu dan di sana, Arka berdiri dengan hoodie sederhana, wajahnya santai tanpa beban, tak seperti seseorang yang baru saja mengguncang masa depan orang yang ia sayangi. “Kamu kan bilang buka di kos,” katanya ringan, suaranya hangat. “Aku mau lihat ekspresinya langsung.” Akira menggenggam map S2 itu era
Seminggu setelah badai itu benar-benar mereda, hidup Akira mulai terasa seperti dulu lagi. Bukan sekadar biasa, tapi normal yang dulu sempat ia anggap mewah dan sulit diraih. Di depan cermin kamar kos yang sederhana, ia mengenakan kebaya warna soft sage hasil jahitan ulang, pas menempel di tubuhnya yang sudah tak sesak oleh beban skandal kampus. Di kasur, Naya mengunyah keripik dengan santai, matanya penuh geli saat menatap Akira. “Ya ampun, Ra. Lo tuh ya. Habis diterpa skandal nasional, masih aja glowing,” goda Naya. Lintang yang tengah menyetrika selempang wisuda ikut nimbrung dengan suara serak karena gosokan setrikaan, “Glow-nya bukan karena skincare. Ini glow calon istri orang, nih.” Akira menahan tawa sambil melempar bantal kecil ke arah mereka, “Stop. Wisuda dulu, nikah belakangan.” Naya cuma bisa menyeringai jahil, “Iya, Bu Akademik.” Tawa kecil Akira mengisi ruangan yang selama ini terlalu penuh keruwetan dan gosip. Beberapa hari terakhir, ia memilih untuk fo
Pagi itu, arus opini di media sosial bergeser cepat tak terduga. Versi audio lengkap yang sebelumnya hilang selama dua belas detik kini tersebar, menarik perhatian banyak orang. Notifikasi berhamburan di layar ponsel Aluna, masing-masing membawa komentar beragam, dari yang menuduh. “Kok dipotong sih?” hingga yang merasakan keadilan, “Kasihan Arka kalau begini.” Di ruang tengah rumah keluarga Aluna, suasana mencekam membungkus udara. Ayah Aluna berdiri tegap dengan wajah serius yang jarang tampak. “Kita harus selesaikan ini sekarang,” suaranya berat, penuh tekad. Ibu Weni menggigit bibirnya, matanya berkeliling cemas. “Ini kan cuma salah paham yang dibesar-besarkan...” “Salah paham nggak dibuat dengan editan,” potong sang ayah, nadanya tajam dan tegas. Aluna berdiri di sudut ruangan, tubuhnya kaku. Matanya tak berkaca-kaca, tapi genggaman di ponselnya erat sekali, seolah menahan badai yang ingin meledak dari dalam. Beberapa menit kemudian, suara bel rumah memecah keheningan
Malam itu, setelah suara rekaman itu terkirim, Akira menatap ponsel di tangannya. Arka menunggu di sampingnya, siap mengantar pulang seperti biasa. Namun Akira menggeleng pelan, suaranya serak saat berkata, "Aku mau sendiri dulu." Arka hanya mengangguk, tak berkata apa-apa. "Aku tunggu di sini," ujarnya singkat. Kalimat itu malah membuat dada Akira sesak. Ia menghela napas panjang, pandangannya menatap kosong ke lantai, berharap beban di hatinya lekas hilang meski tahu itu mustahil. *** Akira duduk terlentang di lantai kamar kosnya, punggung bersandar keras pada sisi ranjang. Lampu sengaja dimatikan, hanya cahaya redup dari layar ponselnya yang menerangi wajah pucat itu. Jarinya menekan tombol putar ulang, audio yang sama berkali-kali diperdengarkan. Suara Arka terdengar tegas, tanpa ragu, “Kalau memang harus nikah demi keluarga, aku nggak masalah.” Klik. Hening. Tidak ada tawa, tidak ada kelanjutan, hanya kalimat itu saja yang mengisi ruang hampa di telinganya. A
Ruang rapat fakultas terasa lebih dingin dari biasanya, seolah dinginnya udara masuk menyusup ke dalam hati Akira. Dia duduk tegak di kursi depan meja panjang, jari-jari rapinya mengepal perlahan. Di seberangnya, dua dosen dan satu staf administrasi membuka laptop dengan wajah serius namun tetap menjaga sikap profesional. “Kami tidak ingin mencampuri urusan pribadi,” suara salah satu dosen pelan, hampir seperti bisikan, “tapi isu ini sudah menyentuh nama kampus. Apalagi menjelang wisuda.” Akira mengangguk pelan, bibirnya tipis tertutup rapat. “Saya mengerti, Pak,” jawabnya dengan suara tenang, meski ada ketegangan terselip di balik kalimat itu. Layar laptop diputar menghadapnya, memancarkan cahaya dingin yang menyorot ke wajahnya. Tangkapan layar itu terpampang jelas, foto Arka dan Aluna, disertai potongan chat yang sudah tersebar luas. “Apakah ini benar?” tanya staf administrasi, suaranya pelan dan hati-hati, seolah takut mengguncang suasana. Akira menghela napas panja
Pagi baru saja menyingkap tirai saat Akira mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar tanpa henti, membuat jarinya terpaku sejenak. Grup kampus, grup angkatan, DM berdatangan bertubi-tubi. Namanya terus disebut dengan nada yang bukan cuma penasaran. Jantungnya berdegup lebih cepat, tangan gemetar saat akhirnya membuka salah satu pesan yang sudah diberi tanda puluhan kali. Di layar, tampak tangkapan layar foto Arka dan Aluna di acara keluarga. Di bawahnya, potongan chat antara Arka dan seseorang bernama "A". "Kalau memang harus nikah demi keluarga, aku nggak masalah." "Cinta bisa nyusul." Tanggalnya tertulis empat bulan lalu. Caption unggahan anonim itu tajam menyerang: “Semoga yang sekarang sadar, jangan bangga dulu jadi pilihan terakhir.” Darahnya seolah mengalir ke kaki, berat yang tak terucap memenuhi dadanya. Akira terdiam lama, matanya menempel di layar, menelan setiap kata dengan perih yang menusuk. Naya buru-buru mengangkat telepon, suaranya hampir berter







