Mag-log inPagi itu, Akira berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya. Matanya meneliti setiap detail wajahnya, seperti sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk sidang skripsi. Bulu matanya sudah rapi, terlihat natural. Dia mengoles bedak tipis-tipis, takut kalau-kalau ketahuan baru bangun tidur. Pandangannya lalu tertuju pada pilihan pakaian.
“Jangan sampai ibu-ibu di TK kira aku dandan demi suaminya,” pikirnya cemas. Suami? Siapa? Arka? Sekilas bayangan Arka hadir dan membuat bulu romanya merinding. Akhirnya, dia memilih kaos polos dan celana jeans pilihan yang aman, simpel, dan jauh dari gosip. Begitu Akira melangkah keluar kos, sebuah mobil hitam yang sangat familiar melambat di depannya. Jendela turun, dan mata Arka menatapnya dengan ekspresi datar seperti biasa. “Naik,” katanya pendek. Jantung Akira hampir melonjak, suaranya setengah berteriak, “Pak! Bukannya saya disuruh datang sendiri?” Arka malah melepas kalimat yang bikin darahnya mendidih, “Ini ‘datang sendiri’. Kamu masuk gerbang sendiri.” Akira mengusap dahinya sambil menahan kekesalan. Dengan langkah berat, dia masuk ke mobil, membawa hati yang tak sepenuhnya rela tapi sudah pasrah. *** Setibanya di TK, Azka yang masih terikat di car seat langsung melebarkan tangannya saat melihat Akira. “Mamaaaa, Kiraaa...” serunya riang, wajahnya penuh harap. Akira belum sempat bereaksi saat Azka tiba-tiba melompat ke pelukannya dengan tenaga seperti peluru karet. “AZKA! YA AMPUN!” Akira terkejut, hampir terhuyung. Tubuh mungil itu menempel erat, seolah magnet tak bisa dilepaskan. Arka buru-buru membuka pintu mobil, suaranya tegas menyuruh, “Azka, turun. Jalan, jangan lompat begitu.” Tapi Azka malah menggenggam Akira lebih erat, pipinya menempel hangat di dada Akira. “Azka mau mama Kira gendong!” pintanya tanpa kompromi. Arka melirik Akira dengan tatapan seolah berkata, ‘Urusi dulu anakmu itu, ya.’ “Ini anak saya?!” bisik Akira, suaranya penuh campuran lelah dan heran. Arka cuma mengangkat bahu santai. “Kamu yang dia pilih.” Akira menatap dosen itu dengan mata penuh keinginan melempar sandal tapi dia tahan, hanya menyimpan amarah itu dalam hati. Begitu Akira melangkah melewati gerbang, seketika sekelompok ibu-ibu di sana seperti terpicu sensor waspada. Mata mereka membesar, penuh rasa ingin tahu yang membara, mulut bergetar menahan gelombang gosip yang siap meledak. Gelang emas yang melingkar di pergelangan tangan mereka berkilauan, seolah menyalakan alarm rahasia. “Eh, itu ibunya Azka, kan?” suara kecil satu ibu terdengar penuh kekaguman. “Cantik banget! Pantes anaknya manja terus sama dia,” celetuk yang lain sambil saling bertatapan penuh arti. “Pak Arka sama dia itu cocok banget, ya,” timpal yang lain dengan nada menggoda. “Mirip nggak sih? Azka itu kayaknya kayak ibunya,” bisik seorang ibu, matanya mengerling penuh keyakinan. “Mata, hidung, rambutnya juga! Pokoknya sama,” mereka beramai-ramai saling mengiyakan, seperti sedang merangkai puzzle. Akira menundukkan kepala, bibirnya menggumam marah dalam hati, “Astaga, kapan Azka punya rambut sama kayak aku? Azka rambutnya lurus, aku kan ikal. Mirip di bagian mana, coba?” Ia menghela napas panjang, sambil menggoyang-goyang perlahan Azka yang masih digendong erat di pelukannya. “Azka, yuk turun dulu,” ujarnya lembut. “Nggak, Azka mau sama Mama Kira terus!” balas kecil yang penuh kelekatan. Seketika suara ibu-ibu langsung melembut, diikuti deretan “Awwwwww...” yang bergetar hangat memenuhi udara. Akira menatap ke bawah, berharap bisa hilang sejenak dari pandangan mereka. Azka tiba-tiba menggeliat di pelukan Akira, tangannya goyang-goyang menuntut turun. “Mama Kiraaa, Azka nggak mau turun…” Suaranya kecil tapi keras, penuh penolakan. “Iyaaaa, tapi mama Kira—eh, AKU—nggak kuat, sayaaaang…” Akira merayu sambil mengusap kepala Azka, berusaha menenangkan. Tapi Azka makin ngotot, menendang-nendang dengan sepatu kecilnya. Tiba-tiba sepatu itu melayang ke udara, lalu mendarat tepat di kaki guru piket yang lewat. BLUK. Seketika, guru piket meledak tertawa. “Wah, pagi-pagi sudah chaos ya, Bu Akira…” Suaranya ringan tapi penuh keakraban. Akira membeku, matanya membelalak. “Bu-bu Akira?!” Suaranya tercekat. Guru piket cuma tersenyum, “Iya, ibu. Azka selalu cerita tentang ibu di kelas.” Jantung Akira berdegup kencang. Bibirnya terkatup, panik menahan rasa malu. Azka? Apa yang kamu ceritakan pada gurumu? Dia cuma bisa menatap Azka, yang sekarang tersenyum nakal seperti tahu rahasia kecilnya sudah tersebar. *** Saat gurunya dengan telaten memasang ulang sepatu Azka, beberapa ibu-ibu lain mulai mendekat, suara mereka ramah tapi penuh rasa ingin tahu. “Bu Akira, biasanya ikutan arisan juga nggak?” tanya salah satu dengan senyum menggoda. “Bu Akira kerja apa? Rumahnya di mana?” ibu lain menambahkan, matanya menyipit seolah mengulik rahasia. “Sudah lama nikah sama Pak Arka, ya?” sela yang lain, menatap Akira seolah menunggu pengakuan. Akira menelan ludah, hatinya langsung berdesir. Di dalam kepala dia hanya bisa "mental cry". Suaranya gugup saat akhirnya mencoba menjawab, “Eee, saya bukan… istri Pak Arka...” Tawa pecah di antara mereka, ringan dan lepas, seperti meledek tanpa niat jahat. “Alaah, Bu, nggak usah malu-malu. Azka tadi waktu Hari Keluarga tunjukin foto ibu juga, kok!” celetuk seorang ibu sambil tertawa. “Foto?” Akira nyaris tercekik, wajahnya berubah pucat. “Iya, dia bilang itu mama!” Hah? Foto apa? Dari mana? Matanya langsung menatap Azka, mencari jawaban. “Azka... foto apa?” Azka cuma tersenyum polos, tanpa beban. “Foto mama Kira yang Azka ambil dari I*******m mama Kiraaa...” Jantung Akira seperti berhenti. Air muka-nya berubah menjadi campuran panik dan kesal. “Azkaaaa... jangan ambil fotoku! Itu PRIVASI!” serunya dengan suara hampir berteriak, tangan mengibas-ngibas seolah ingin menangkap angin yang membawa masalah. Suasana jadi lebih riuh, ibu-ibu malah tambah semangat. “Loh, sudah follow-followan? Duh, gemes banget!” celetuk seorang ibu sambil terkekeh. “Ih, Pak Arkanya pasti sayang banget sama istrinya…” komentar lain dengan nada penuh selidik. “Ya ampun, keluarga muda goals!” tambah yang lain sambil tersenyum sinis. Akira hampir kehilangan akal, suaranya tercekat ingin meledak: “GOALS DARI MANA?!” Namun yang keluar cuma napas berat, dia hanya bisa menundukkan kepala, mencoba sembunyikan wajah memerah penuh malu dan jengkel. *** Setelah drama kecil yang menguras tenaga, Azka akhirnya mau turun dari pundak Akira. Namun, matanya sudah berkaca-kaca saat dia meraih tangan Akira dengan erat. “Azka mau mama Kira gendong masuk kelas,” gumamnya sambil mengerutkan kening. Akira menahan napas, bibirnya bergetar. “Azka… nggak boleh masuk kelas sambil digendong…” ucapnya pelan, mencoba keras kepala. Tiba-tiba Azka merengek kecil, suaranya nyaris patah. “Kalau mama Kira nggak ikut, Azka nangis.” Aduh. Akira merasa dada sesak, ragu antara menolak atau menuruti keinginan bocah itu. Guru kelas A melangkah mendekat dengan senyum lembut di wajahnya. “Tidak apa-apa, Bu Akira. Masuk saja sebentar.” Akira ingin segera meluruskan, “Saya bukan ibu Azka,” tapi kata-katanya terhenti karena sikap ramah guru itu mengalahkan keberaniannya. Azka menarik tangan Akira dengan wajah polos yang tak bisa dibantah, “Mau duduk sama mama Kiraa...” Dengan lemah, Akira pun berjongkok di karpet kelas yang dikelilingi gelak tawa anak-anak TK yang berlarian kecil, merasa seperti babysitter yang harus mengurus tanpa pamrih. Dan tiba-tiba, suara itu memecah keramaian kelas. “Akira.” Suara yang dingin dan tenang, sampai bulu kuduk Azka berdiri. Di depan pintu, Arka berdiri dengan tangan terselip di saku celana. Kemejanya digulung hingga setengah lengan, wajahnya datar tapi entah kenapa justru terlihat semakin ganteng. Azka langsung melonjak berlari ke arahnya, “Papa!” Arka menggendong Azka sambil menatap Akira dengan tatapan tajam. “Bukannya saya suruh kamu tunggu di luar? Kenapa masuk kelas?” Akira terbata-bata, wajahnya memerah. “I-ini gara-gara Azkaaa…” Matanya menangkap sosok ibu-ibu yang mengintip dari luar pintu. Rasa malu dan bingung menyeruak. Arka menghela napas panjang, lalu berkata pelan, “Besok, kamu antar lagi.” “Tapi... PAK ARKA! Ibu-ibu itu... mereka pikir saya ISTRI BAPAK!” suara Akira hampir berteriak. Arka menatapnya lama, terlalu lama sampai Akira merasa jantungnya berdegup kencang. Kemudian Arka sedikit menundukkan kepala dan berkata dengan suara lembut, “Biar saja.” Keheningan sejenak memenuhi ruangan, dan Akira hanya bisa menelan ludah sambil bertanya, “A-apa maksudnya ‘biar saja’?” Arka tersenyum tipis. “Berarti mereka tidak akan tanya-tanya lagi.” “Tapi...” Arka memotong dengan suara rendah, “Dan Azka lebih tenang kalau kamu ada.” Akira terdiam sekali lagi. Lalu... “Papa… Azka mau pulang sama mama Kiraa...” Akira langsung batuk. Arka menepuk kepala anaknya pelan. “Nanti. Mama Kira harus kuliah.” Ibu-ibu di luar langsung “…AAAAAWWWWWWWWWW!!!” Akira ingin hilang di lantai. *** Saat mereka keluar kelas, ibu-ibu TK langsung berkerumun seperti wartawan infotainment. “Duh, harmonis banget ya keluarganya…” “Pak Arka sayang banget sama istrinya…” “Bu Akira cantik sih, pantes Pak Arkanya nempel…” Arka cuek. Akira panas dingin. Saat menuju mobil, Akira mendesis ke Arka, “Pak… tolong jelaskan pada mereka!” Arka membuka pintu mobil dan menjawab santai: “Nanti saja.” “KAPAN?” “Sampai gosipnya selesai.” “PAK! Itu nggak akan selesai!” Arka hanya memberi jawab yang membuat Akira kehilangan kemampuan bicara: “Bagus.” Bagus?? BAGUS?? Mobil melaju pergi. Dan Akira tahu hidupnya tidak akan tenang mulai hari ini.Pagi itu sinar matahari menyusup lembut melalui jendela, menerangi ruang tamu yang kini dipenuhi suara tawa dan langkah kaki kecil. Rumah yang dulu hening berubah menjadi pusat keramaian yang tak pernah padam sejak kabar kehamilan Akira tersebar. Dari dapur, suara Bu Sari memecah keheningan, tegas namun penuh perhatian, “Akira! Jangan banyak gerak!” Akira, yang baru saja melangkah menuju dapur dengan tangan menggenggam gelas kosong, seketika berhenti. Wajahnya memerah, sedikit cemas namun berusaha tenang. “Bu… aku cuma ambil minum…” suaranya lembut, namun terdengar ragu. Tanpa menoleh, Bu Sari memerintah, “Duduk!” Akira menuruti, menurunkan tubuhnya ke kursi kayu dengan gerakan pelan seperti anak kecil yang baru ketahuan berbuat salah. Matanya menatap ke lantai, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup cepat. Di sekelilingnya, suara kendaraan di jalan depan tersamarkan oleh suara percakapan serta langkah kaki yang menyatu, mengisi ruang yang dulu sunyi d
Pagi itu sinar matahari menembus tirai jendela dengan lembut, menciptakan garis-garis emas di lantai ruang tamu yang rapi. Udara hangat pagi menyelinap masuk, membawa aroma kopi dan kue panggang dari dapur. Azka, dengan rambut acak-acakan dan mata yang masih setengah mengantuk, berdiri di tengah ruang, suaranya menggema saat ia berteriak, "Ma! Sepatu aku mana?" Akira yang sedang sibuk mengaduk adonan di meja dapur, berhenti sejenak dan menoleh ke arah Azka. Wajahnya yang biasa tenang menampakkan sedikit kelelahan, namun suara balasannya tetap penuh kesabaran, "Di rak! Coba lihat dulu, jangan langsung teriak!" Suasana seketika hening. Azka mengernyit, lalu melangkah menuju rak sepatu di dekat pintu, matanya menyapu setiap pasang sepatu dengan teliti. Senyum kecil terbentuk di bibirnya saat akhirnya menemukan sepatu favoritnya yang berwarna biru tua. "OH IYA ADA," serunya penuh lega, suaranya kini lebih ceria. Di sudut dapur, Akira menghela napas ringan, matanya menatap putranya
Ruang sidang terasa hening, hanya suara langkah hakim yang menggema di antara deretan kursi kayu. Aluna berdiri tegak di depan meja terdakwa, wajahnya yang dulu penuh semangat kini berubah menjadi topeng kosong tanpa ekspresi. Matanya menatap lurus ke depan, seolah menolak untuk menangkap setiap kata yang keluar dari mulut hakim. "Aluna, Anda dinyatakan bersalah atas penculikan berencana, manipulasi data, dan pencemaran nama baik," suara hakim tegas namun dingin, menembus keheningan yang menyesakkan. Detik-detik itu seperti berjalan lambat, menahan nafas seluruh hadirin yang menyaksikan. Tak ada lagi senyum tipis yang dulu sering menghiasi bibir Aluna saat menghadapi masalah. Tidak ada perlawanan, hanya ketenangan yang terasa membeku, seperti seseorang yang telah menyerah pada nasibnya sendiri. Tangan Aluna menggenggam erat, namun tubuhnya tetap diam, menahan segala rasa yang mungkin berkecamuk di dalam. Di antara kerumunan, beberapa orang menahan napas, ada yang menatap iba, tapi
Perjalanan pulang kali ini berbeda. Kabin mobil terasa hampa, sunyi yang memeluk tanpa ampun. Akira duduk di samping jendela, tatapannya kosong menembus pemandangan yang bergerak perlahan, namun pikirannya malah tersesat jauh ke tempat yang tak bisa dijangkau. Bibirnya yang biasa meluncurkan candaan ringan kini terkatup rapat, wajahnya datar tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Arka duduk diam. Tak ada kata yang terucap, hanya keheningan yang menekan udara di antara mereka. Namun, tangannya tetap erat menggenggam jari Akira, seolah ingin menyampaikan sesuatu tanpa suara. Sesekali Arka menoleh ke arah Akira, matanya mencari respons, ingin memastikan keberadaan satu sama lain di tengah kesunyian itu. Setiap kali tatapan itu bertemu, Akira membalas dengan anggukan kecil lembut, penuh pengertian seolah ingin mengatakan, “Aku masih di sini. Jangan pergi.” Meski kata-kata tak terucap, kehangatan itu mengisi ruang kosong di antara mereka, menjadi jembatan sunyi yang mengikat hati tanpa perlu sua
Ruang keamanan itu sesak bukan oleh dindingnya, melainkan oleh ketegangan yang menyelimuti udara. Lampu neon yang redup memantulkan bayangan samar di wajah Akira, yang duduk kaku di kursi logam dengan mata yang sesekali menatap kosong ke depan. Tangannya gemetar halus, seolah berusaha menahan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Di sampingnya, Arka berdiri tegak, tubuhnya membentuk benteng pelindung yang tak terlihat. Jemarinya menggenggam tangan Akira dengan kuat, memberi sinyal bahwa dia tak akan melepasnya dalam keadaan apapun. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan yang berusaha menembus keheningan, "Sayang, kamu yakin nggak kenapa-kenapa?" "Iya..." Akira mengangguk, tapi napasnya yang tersengal mengkhianati kepura-puraannya. Dalam ruang itu, waktu seolah melambat, dan ketakutan yang tersembunyi di balik ketenangan membuat ruang itu terasa semakin sempit, menekan dada tanpa ampun. Arka menatap Akira dengan tatapan yang begitu dalam, seolah berusaha menyimpan seti
Pagi merayap masuk pelan lewat celah tirai kamar hotel. Cahaya hangat menerpa lantai, menciptakan suasana yang tenang, seolah semua akan berjalan biasa saja. Tapi tiba-tiba, suara kecil pecah, “Aduuhh…” Akira terbangun dan duduk di tepi ranjang, wajahnya mengerut penuh sakit. Tangannya otomatis memegang pinggang, dipijit pelan. “Pinggang gue... rasanya kayak mau copot,” keluhnya, suaranya hampir berbisik. Dia mencoba berdiri, tapi langsung berhenti, meringis lagi. Matanya melirik ke arah ranjang, di mana Arka masih terlelap, napasnya tenang seperti tak punya beban. Akira menghela napas, ada sedikit iri yang tak tersampaikan. Akira menyipitkan mata, alisnya mengerut menahan kesal. “Gara-gara pak dosen…” gumamnya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar, “badan berasa remuk semua.” Bahunya yang biasanya tegap tampak sedikit membungkuk, tanda lelah yang ia rasakan sejak semalam. Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah perlahan. Senyum kecil merekah di bibirnya, m
Hari Minggu datang tanpa pemberitahuan, seperti tamu yang mengetuk pintu di waktu yang belum semestinya, lalu duduk tanpa pamit. Azka duduk terpaku di karpet ruang keluarga, dikelilingi mainan yang biasanya bisa menghibur, tapi hari ini terasa hampa. Deretan mobil-mobil kecil tersusun rapi di l
Kehadiran Oma dan Opa membuat rumah itu terasa berbeda, tak sekadar penuh oleh tubuh, tapi oleh beban yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Azka duduk di karpet ruang tamu, memeluk erat mainan kesayangannya seolah itu satu-satunya pelindungnya dari kekosongan. Mata Oma tak lepas menatap Azka, ada
Sore menyusup perlahan, membawa pulang Azka dengan langkah ringan yang tak lagi berat seperti pagi tadi. Akira duduk bersandar pada motor listriknya di depan sekolah, helm tergantung santai di lengan. Ketika Azka muncul di gerbang, bocah itu langsung berlari kecil, tasnya berguncang tak beraturan.
Pagi menyelinap masuk tanpa menghangatkan ruang kecil itu. Akira berdiri terpaku di depan cermin kosnya, menatap bayangan yang tampak sama, tapi membawa getar asing di dalamnya. Lingkar mata yang mulai gelap dan wajahnya yang pucat membuat senyum yang dulu mudah muncul kini tersimpan rapi, enggan







