LOGIN
Di koridor hotel yang remang remang. Seorang pria yang sangat tampan dan cukup kekar dengan sedikit rambut putih dan lipatan keriput di sudut matanya berjalan sempoyongan. Matanya kabur dan ia berulang kali menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Pakaiannya berantakan, dasinya yang longgar dengan cepat terlepas dan terjatuh ke lantai.
Ia membuka kamar hotel yang memiliki nomor ganjil di sisi kiri dengan kesadarannya yang tersisa. Namun, ia baru saja membuka pintu ketika seorang gadis muda juga berjalan keluar dari kamar hotel yang ada di seberangnya. Langkah Salsa berantakan dan begitu ia keluar, ia melemparkan dirinya ke dalam pelukan Akas. Salsa mendesah dan terus bergumam tidak jelas. "Panas... Rasanya panas.... Tolong...." Bisiknya dengan suara lirih. Salsa mendongak dan bertemu dengan sepasang mata kabur milik Akas. Nafas panas keduanya bertemu. Karena tinggi badan yang kontras, pria itu harus menundukkan kepalanya untuk menyentuh bibir lembut Salsa. Dengan sedikit kesadarannya, pria bernama Akas tersebut membelalakkan matanya dan mencoba mendorong gadis kecil itu menjauh. Kesadarannya berkata bahwa ia tidak bisa melakukannya, namun nafsunya berkata lain. Alkohol hampir membuat kesadarannya menghilang dan pengendalian dirinya terputus. Akas menangkupkan tangannya di pipi Salsa, wajah muda itu benar benar terlalu muda. Akas merasa kesal dan hampir mengumpat dalam hatinya. Siapa yang begitu berani mengirim gadis kecil ini padanya. Apalagi sepertinya gadis kecil ini benar benar dibius. Salsa mengedipkan matanya yang memerah, ia tidak peduli lagi. Tangannya meraih jas Akas dan mendorongnya masuk ke dalam kamar. Akas dengan sigap meraih pinggang Salsa dan membawanya berputar untuk menyeimbangkan gaya dorong yang ada sebelum kemudian menutup pintu kamar hotelnya dengan suara yang cukup keras. Akas memandang Salsa dan sekali lagi berusaha mendorongnya menjauh, namun tubuhnya berkata lain. Meski ia ingin menjauh, tangannya masih dengan setia mencengkram pinggang Salsa dengan kuat. Keduanya menempel hingga tak memiliki jarak. Akas bisa merasakan panas yang membara dari tubuh Salsa menyalur ke tubuhnya dengan cepat. Akas mendongak dan sedikit mengerang pelan. Sedikit kesadarannya dan akal sehatnya yang tersisa benar benar dilahap oleh nafsu dan gadis kecil yang proaktif di dalam pelukannya ini. Salsa bersandar di pintu, pinggangnya tetap setia dicengkram erat oleh Akas sementara bibirnya dilumat intens oleh bibir Akas. Suara nafas bercampur aduk, kedua mata tersebut bertemu dengan penuh percikan nafsu. Akas yang telah kehilangan kendali dengan tegas memeluk Salsa dan mengangkatnya dengan mudah. Salsa melingkarkan kakinya di pinggang pria itu dan keduanya mulai melanjutkan ciuman mereka. Dari balik pintu hingga ke ranjang, Akas melepas jas nya dan melemparkannya ke tanah. Nafasnya memburu dan tangannya bergerak cepat melepas satu demi satu kancing kemejanya. Otot ototnya yang kuat dan terpahat sempurna tertata rapi di perutnya. Salsa terkekeh, dengan nafas memburu ia mengulurkan tangannya menyapu lembut permukaan perut pria itu yang penuh dengan gelombang otot. Akas terdiam, jakunnya bergerak dengan liar. Ia meraih leher gadis itu dan mulai dengan liar menciptakan satu demi satu tanda kemerahan yang jelas disana. Salsa mengalungkan lengannya di leher pria itu, menerima semuanya tanpa syarat dan membiarkan tangan pria itu bergerak bebas menyapu tubuhnya dan perlahan melepas pakaiannya. Malam itu, udara kamar hotel sangat panas, pendingin ruangan masih menyala namun tak mampu memadamkan panas di dalamnya. Gerakan ranjang begitu intens, suara desahan bertahan sangat lama. Dinding kedap suara menahan keramaian dua orang tersebut. Namun seluruh kamar dipenuhi oleh suara suara indah yang tak berhenti hingga waktu menjelang fajar. ... Sementara di kamar hotel itu terjadi pertempuran yang mengguncang ranjang. Di sebuah villa kawasan bangsawan tertentu di pinggiran kota, terjadi keributan besar lainnya. "Sudah ketemu? Dimana Nona Muda sekarang?" Seorang kepala pelayan paruh baya berdiri dengan punggung tegak menatap sekelompok pengawal kekar di sekitarnya dengan tatapan mata tajam. "Tidak ditemukan di area rumah!" Ucap salah satu pria berotot itu. Hentakan kaki yang keras terdengar, Paman Sam selaku kepala pelayan keluarga ini merasakan amarahnya membuncah. Gadis kecil yang menjadi objek pengawasan dan perlindungannya tiba tiba menghilang dari pandangannya. Ketika ia mencarinya, sosok gadis itu tidak ditemukan dimanapun di seluruh seisi rumah! Rumah itu megah dengan perabotan mewah memenuhi seluruh pandangan mata. Lampu di atas kepalanya begitu besar, tangganya menjulang tinggi bahkan ada lift pribadi di dekatnya. Kolam renang yang luas, juga terdapat lapangan basket di halamannya. Totalnya ada tiga lantai, namun keberadaan gadis kecil itu tidak ditemukan dimanapun. "Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, aku ingin nona muda segera ditemukan!" Ucap Paman Sam pada sekelompok bodyguard tersebut. Mereka hanya menundukkan kepalanya bersalah karena lalai. Nona muda di mulut mereka adalah gadis kecil yang merupakan putri tunggal pemilik rumah. Ia baru saja lulus sekolah menengah beberapa waktu yang lalu. Hari hari sebelumnya, ia cukup patuh hanya berdiam diri di rumah tanpa niat untuk kabur. Ayahnya cukup ketat dalam pengawasannya, dan gadis itu terkadang suka memberontak dan ingin keluar untuk bermain setiap hari yang membuat ayah dan anak itu tidak akur bertahun tahun lamanya. Terakhir kali mereka bertengkar adalah satu bulan yang lalu sebelum Tuan Henry pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Siapa yang tahu, ternyata kepatuhan gadis kecil itu hanya cara untuk mengecoh dan membuat mereka mengendurkan kewaspadaan. Hingga Gadis tersebut berhasil melarikan diri. Sekarang, tersisa beberapa jam sebelum pagi dan Tuan Henry bahkan sudah memberikan kabar akan pulang pagi ini yang membuat Paman Sam kesal dan panik. Henry Leonard adalah sosok orang terkaya di kota tersebut. Namun sebagai orang terkaya, hari harinya sangat sibuk. Ia hanya memiliki satu putri semata wayang yang bernama Agatha Ellina Salsabila, yang kerap dipanggil dengan sapaan Salsa. Namun hubungan keduanya bisa dikatakan cukup rumit. "Tuan Sam, kami menemukan nona muda menyelinap melalui pagar belakang dari CCTV beberapa waktu yang lalu." Ucap salah seorang bodyguard yang kini sedang memegang laptop di tangannya. "Kalau begitu minta semua orang bergerak dan cari tahu keberadaan Nona Muda sekarang!" Perintah dikeluarkan oleh Sam dan semua orang bergegas dengan kecepatan penuh.Keesokan paginya, Isla kembali ke rumahnya. Tepatnya tempat tinggal resminya dan Akas, atau bisa disebut sebagai rumah pernikahan. Jujur saja, ia baru saja kembali kemari hari ini sejak pulang dari luar negeri. Sebelumnya ia menginap di rumah lama, tempat keluarga Akas tinggal. Atau pergi ke apartemen pribadinya.Isla baru saja kembali, pintu rumah terbuka lebar untuknya. Para pelayan menyambutnya dengan hormat, tanpa mengetahui mereka telah mengeluh berkali kali dalam hati. Siapa yang suruh Isla tidak mudah dilayani, beberapa pelayan di pecat begitu saja hanya karena masalah kecil. Hampir semua pelayan di villa ini memiliki masalah dengan Isla secara pribadi."Akas, sudah pulang ke rumah?" Tanya Isla ringan. Ia mendongak menatap ke lantai dua yang sepi, namun ia tidak buru buru naik. Ia duduk di sofa dan memakan beberapa lemon yang sudah di potong di atas meja.Disisi lain, sekelompok pelayan itu yang mendengar pertanyaan Isla, tidak ada satupun dari mereka yang berani angkat bicara.
"Paman, jangan begitu. Kamu mengganggu pergerakan ku." Keluh Salsa kesal. Ia memberontak, memaksa Akas untuk melepaskan cengkraman tangannya dari perutnya. Namun siapa Akas? Dia tidak akan melepaskan Salsa dengan mudah. Lagipula tagihannya harus dibayar.Salsa hendak membawa piring piring itu ke dapur, namun sesuatu berhasil mengganggunya. Salsa bisa merasakan dengan jelas, panas tubuh Akas yang terus melonjak. Nafas Akas yang memburu, dan dadanya yang naik turun dengan intens. Nafas panas itu menerpa leher Salsa yang seketika membuat Salsa langsung tersipu malu."Paman..." Lirih Salsa, ia tahu apa yang mengganggunya. Di Bawah sana, ia bisa dengan jelas merasakan nafsu Akas yang membara untuknya. Salsa sangat gelisah di dalam pelukan Akas. Sementara Akas menggerakkan bibirnya, mengecup ringan leher Salsa. "Tagihannya..." Akas memberi isyarat dan Salsa tahu bahwa ia tamat malam ini. Akas tidak menunggu Salsa menjawab, ia meraih Salsa dan memeluknya dengan pelukan putri. Langkahnya bes
"kamu memiliki ingatan yang tajam." Salsa berkata sambil memutar matanya. Tidak disangka bahwa Rosa masih mengingatnya. Saat itu Universitas sempat kacau, dan dalam beberapa hari berikutnya, Salsa menjadi pusat perhatian. Namun seiring berjalannya waktu semuanya meredah. Tapi Akas kini muncul kembali."Aku masih ingat saat itu, berapa banyak wanita di universitas yang bertekad ingin menjadikan Ayah baptismu itu Sugar Daddy." Rosa tertawa sambil bercerita. Namun Salsa sama sekali tidak menanggapi. Dia hanya sibuk memakan makanannya, sebentar lagi kelasnya selanjutnya akan dimulai.Hari sudah sore ketika Salsa akhirnya menyelesaikan semua kelas Mata kuliahnya. Rosa sudah menguap dan mengantuk, "hari melelahkan lainnya. Aku harus segera tidur setibanya di rumah." Ucap Rosa kelelahan, setelah menukar seluruh tenaganya dengan aktivitas hari itu. Salsa hanya terkesan tidak menjawab, namun hanya Salsa yang tahu bahwa ia juga sangat lelah.Salsa berjalan menuju gerbang universitas. Tidak disa
Dimas tidak berbicara, dia sudah tahu semua yang terjadi dari grup karyawan. Apalagi daftar tamu di resepsionis langsung masuk pengumuman latar belakang perangkat nya. Dimas sangat tahu bahwa Isla datang hari ini. Melihat pertama kali yang tersebut, sepertinya Nyonya bos itu mengantarkan sarapan untuk Akas.Ia mengambil bekal tersebut Lalu melangkah keluar, tanpa basa-basi atau mengucapkan sepatah kata pun yang tidak diperlukan. Begitu sampai di tempat sampah, ia langsung ngomongnya begitu saja. Baru kemudian Dimas melanjutkan pekerjaannya. Sementara Akas, duduk di meja kantornya sambil memandang teleponnya dalam diam.Dari awal sampai saat ini belum ada satu pesan pun yang masuk dari Salsa. Apakah Gadis itu terlalu sibuk? Bukankah setidaknya Salsa harus mengirim pesan bahwa dia telah tiba di universitas dengan selamat? Akas menghela nafas, sepertinya harapan yang terlalu berlebihan. Namun Akas baru saja selesai berbicara, ketika teleponnya berdering. Ia membuka antarmuka ponselnya,
Di kantor pusat Asa Group kota, Akas melangkah turun keluar dari mobil bisnis hitamnya seperti biasa. Ia mengancingkan jas nya kemudian tangannya sedikit menyapu ujung jas nya yang berantakan. Membenarkan mansetnya yang sedikit miring sekaligus dasinya. Setelah merapikan semua itu, baru kemudian Akas masuk ke Asa Group. Semua tindakannya itu hanya berlangsung selama selusin detik, tampak lihai dan sangat tenang. Hasil dari terbiasa melakukannya setiap harinya.Di lantai teratas Asa Group, Akas duduk di kursi presiden. Di atas mejanya sudah bertumpuk dokumen dan laporan yang perlu tanda tangannya. Akas memutar bolpoinnya ringan, mengenakan kacamata dan mulai bekerja.Sementara itu, di lantai bawah Asa Group. Sebuah mobil bisnis hitam sekali lagi berhenti di depan pintu utama. Seorang supir dan bodyguard yang berasal dari timur melangkah turun dan membantu sang tuan membuka pintu mobil.Wanita itu sangat cantik, perpaduan dari gen lokal dan luar negeri. Wajahnya sangat indah dan kulitn
Di saat Ilham berpikiran positif, Salsa berada di tangan rumah hantu memeluk lengan Akas dengan mesra. Musik seram diputar, suasana genap yang membuat imajinasi berkeliaran. Ekspresi Salsa berubah, Sejak kapan rumah hantu menjadi seram seperti ini. Namun rasa aman yang dibawa Akas, membuatnya merasa jauh lebih rileks."Paman, kita jalan sekarang?" Tanya Salsa dengan gugup. Akas melirik gadis kecil yang memeluknya erat tersebut dan tersenyum tipis. Tangannya meraih bahu Salsa, membawa gadis itu lebih dekat ke dalam dekapannya. Apakah ini baik baik saja? Mereka ada di rumah hantu! Salsa mendengus kesal, namun ia tetap melangkah lebih dekat.Kemudian keduanya berjalan maju, menyusuri koridor rumah hantu tersebut. Satu demi satu properti melompat keluar. Ketika sebuah kepala meluncur turun dari atas kepala Salsa, ia hampir melompat ke dalam pelukan Akas. Wajahnya sangat pucat.Akas terdiam, jujur saja semuanya terlalu disengaja. Rumah hantu ini dipenuhi properti dimana mana. Ia sekilas da
Ketika waktu tiup lilin tiba, seluruh ruangan menjadi gelap. Tirai dijatuhkan menghalangi sinar matahari. Akas mengusap puncak kepala Salsa dan berkata, "Ayo, katakan harapanmu." Salsa mengedipkan matanya, hatinya menghangat. Ia bahkan menduga bahwa Hendry sudah melupakan hari apa hari ini, namun p
Di negeri yang asing, Crystal mengerucutkan bibirnya. Ia sudah lama tidak terhubung ke internet dan hanya bisa menyelami buku buku manajemen ini. Sangat mengesalkan, ia bahkan tidak bisa menanyakan kabar Salsa.Ia melirik jam tangannya, bel tanda berakhirnya mata kuliah perlahan terdengar. Ketika C
Salsa mendorong Akas menjauh dengan seluruh tenaganya, ia mengangkat tangannya tinggi dan mengayunkannya dengan cepat menampar pipi Akas dengan sangat keras.PLAKKKK!Suara tersebut seperti mengoyak seluruh suasana ambigu di dalam ruangan. Seluruh ruangan menjadi sunyi, hanya menyisakan musik yang
Entah mengapa dan sejak kapan, air matanya telah menetes membasahi pipinya. Matanya yang berkaca kaca membuat pandangannya menjadi kabur. Salsa menggenggam pulpen tersebut lembut dan mendekapnya di dadanya.Mengapa baru saat ini? Mengapa? Salsa ingin bertanya namun seakan akan seluruh suaranya ters







