LOGINSedikit Flashback, Beberapa waktu yang lalu. Salsa yang sebelumnya tengah sibuk di kamarnya kini sedang berjalan dengan langkah lambat dan mengendap endap. Ia memegang high heels di satu tangan dan tas mewah di tangan lainnya.
Strateginya berhasil! Ia telah menahan diri dan berpura pura patuh dalam beberapa hari belakangan ini untuk mengurangi kewaspadaan seluruh penghuni villa. Kemudian setelah kewaspadaan mereka menurun, pada hari ini ia akan menyelinap keluar dan bermain. Salsa sudah menginjak umur delapan belas tahun beberapa waktu yang lalu dan sekarang ia sangat penasaran dengan dunia luar. Kebetulan kelasnya hari ini mengadakan pesta perpisahan. Namun pesta perpisahan ini tidak diadakan di tempat yang biasa saja. Tidak butuh waktu lama hingga Salsa akhirnya tiba di bagian belakang villa tempat tinggalnya. Ia sudah memikirkan bagaimana cara terbaik agar dapat melewati tembok ini. Begitu Salsa melompat dan akhirnya meraih tembok tersebut dengan kedua tangannya. Kemudian ia juga melompat ke sisi luar tembok, akhirnya ia berhasil! Salsa tertawa menatap tembok tinggi yang berhasil ia kalahkan. Menepuk tangannya dari debu berulang kali, Salsa sudah membuat janji dengan dua sahabatnya, Marry dan Sania agar mereka datang menjemputnya. Begitu ia tiba di jalan utama, sedikit jauh dari kawasan villa bangsawan itu berada. Sebuah mobil merah dengan lampu yang menyala terang hadir di depan mata Salsa. Seketika senyumnya memgembang indah. Ia berlari kecil dan segera menghampiri dua gadis yang menunggu cemas di luar pintu mobil. "Sania, Marry." Sapa Salsa dengan penuh semangat. Kedua gadis yang awalnya cemas itu segera mengalihkan pandangannya. Begitu mereka melihat wajah familiar Salsa, keduanya akhirnya menghela nafas lega. "Sayang...." Balas Sania sambil berlari menghampiri Salsa dan memeluknya dengan erat. Marry yang melihatnya juga datang dan ikut berkerumun dan memeluk Salsa. "Kukira kamu tidak jadi datang, kami cemas mengkhawatirkanmu." Sambut Marry dengan ekspresi sedikit cemberut. Salsa terkekeh dan mengedipkan matanya centil. "Bagaimana aku bisa tidak datang? Aku sudah janji kan?" Salsa berbicara dengan nada angkuhnya. Ia menghibur dua sahabatnya yang cemas kemudian masuk mobil bersama mereka menuju tempat tujuan yang sudah ditentukan. ... Night Bar, pusat kota, suara musik memekakkan telinga dan menggema di setiap sudut tempat. Lampu warna warni berputar dan menghiasi ruangan gelap tersebut dengan disco epik. Di atas panggung, seorang DJ memainkan musik kuat yang membuat hati bergetar. Sekelompok wanita menari bersama banyak pria, menggoyangkan pinggul dan bahu mereka menggoda. Suasananya nampak kacau balau. Bau alkohol dan rokok yang menyengat memenuhi seluruh udara. Setiap sudut dipenuhi oleh suasana ambigu. Pria dan wanita muda tak segan segan melakukan hal yang tidak senonoh di sudut ruangan atau dinding. Hanya satu kata untuk menggambarkan dunia malam yang gemerlap tersebut, kekacauan! Diantara kekacauan tersebut, seorang gadis cantik jelita dengan lesung di kedua pipinya sedang duduk di himpit kedua teman wanitanya. Gadis tersebut adalah Salsa yang baru saja menyelinap kabur dari rumahnya untuk mengenal dunia malam yang selalu membuatnya penasaran. Salsa tertawa begitu gembira, mengambil satu demi satu gelas berisi wine dan meneguknya hingga habis. Ini adalah kali pertamanya ia memasuki dunia malam dan ia belum berpengalaman. Jelas ia tidak tahu bahwa kedua sahabat dan beberapa anak laki laki yang duduk tidak jauh disana sedang merencanakan sesuatu bersama sama. "Tuan Muda, saya yakin malam ini gadis itu akan ada di tempat tidurmu." Bisik seorang pemuda dengan sikap menyanjung pada anak laki laki utama yang duduk dengan sombong dan memiliki sikap berkuasa di dekatnya. "Hmmm" Gumam pihak lain dengan senyum puas di bibirnya. Tuan Muda Liam adalah sapaan semua orang untuknya. Lagipula dia adalah putra salah satu orang terkaya di kota itu. Semua orang secara otomatis menyanjungnya. Sudah tiga tahun sejak ia menyukai Salsa, namun pihak lain sama sekali tidak memberinya kesempatan. Atas rangka perayaan kelulusan, mereka mengundang semua orang termasuk Salsa. Awalnya banyak orang berpikir Salsa tidak akan datang, lagi pula keluarga Salsa adalah orang yang sangat ketat mengatur kehidupan Salsa. Namun tanpa diduga Salsa sendiri yang melarikan diri dari rumahnya yang membuat semuanya lebih mudah. Karena ini hari perayaan kelulusan, tanpa mengetahui identitas sebenarnya dari Salsa. Anak laki laki yang kerap disapa Tuan Muda Liam itu mulai merencanakan semuanya. Lagipula ini bukan kali pertamanya ia melakukan hal ini, sebagai Tuan Muda ia memiliki banyak tangan gelap yang menjangkau berbagai hal buruk. Sebagai seorang pria yang memiliki nafsu besar, sejak satu tahun yang lalu ia telah tidur dengan banyak wanita dan merusak tubuhnya. Namun siapa yang suruh bahwa wanita wanita itu tidak dapat dibandingkan dengan Salsa yang memiliki kecantikan dan body goals yang sempurna. Tidak heran Salsa dikenal sebagai primadona sekolah bahkan kecantikannya mampu menyaingi bintang bintang wanita dengan nama besar itu. "Salsa, jangan minum terlalu banyak. Ayo minum air." Ucap Marry, sahabat Salsa yang sebelumnya hadir untuk menjemput Salsa. Tanpa kewaspadaan, Salsa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Untuk sejenak ia merasa muram, ternyata dunia malam itu di seseru yang dibayangkannya selain wine yang enak di atas meja. Marry tersenyum melihat Salsa meneguk satu gelas air tersebut hingga habis. Saling bertukar pandang dengan Sania. Pihak lain segera memahami apa yang harus dilakukan. "Baiklah Salsa, kamu sudah mabuk. Jangan terlalu lama disini, ayo aku akan mengajakmu keluar. Aku akan mengantarmu ke hotel." Ucap Sania sambil menarik lengan Salsa dengan bantuan Marry. Semua mata menatap kejadian tersebut dengan tenang, tidak ada satupun dari mereka yang berani berbicara meskipun mereka tahu apa yang terjadi. Seluruh teman sekelas saling berpandangan sambil menggelengkan kepalanya merasa tidak berdaya. Tatapan mereka seakan akan mengatakan bahwa 'Salahkan dia yang memiliki nasib buruk karena kecantikannya disukai oleh iblis itu.' Salsa yang dibawa keluar segera di antar ke hotel oleh Marry dan Sania yang telah menemani Salsa selama tiga tahun masa sekolah menengahnya. Salsa mengerjapkan matanya, dan tubuhnya sempoyongan. Jika bukan karena Marry dan Sania yang menopangnya, Salsa mungkin sudah terjatuh. Salsa meneguk ludahnya dan merasakan panas membara di seluruh tubuhnya. Marry dan Sania masuk ke dalam sebuah kamar dan melemparkan Salsa ke atas tempat tidur dengan senyum lega. "Maafkan aku Salsa." "Jika kamu ingin menyalahkan seseorang, salahkan dirimu sendiri." Ucap Marry dan Sania sambil berbalik dengan kejam mengabaikan Salsa yang terus meronta di atas tempat tidur.Di dalam ruang perjamuan, begitu Salsa keluar dari ruang perjamuan. Seluruh ruangan penuh dengan tawa, namun tawa tersebut terhenti ketika Akas benar benar menampar Isla dengan keras di depan umum secara tiba tiba. Mengejutkan semua orang yang hadir. Mereka tidak bisa merasakannya, namun emosi Akas saat ini benar benar sangat bergejolak.PLAKKKK!!! Suara tamparan itu terdengar begitu nyaring. Kemudian suara dingin Akas terdengar menggema di seluruh ruangan. " jangan berfikir karena aku tidak pernah memukul perempuan, maka aku tidak bisa memukulmu. Gadis kecil kesayanganku, kamu perlakukan begitu buruk. Sepertinya aku terlalu lembut hati belakangan ini bukan? Sampai kamu lupa bagaimana aku sebelumnya?" Seketika seluruh ruangan menjadi sunyi senyap.Tak ada seorangpun yang berani berbicara, tidak ada yang mau menjadi orang bodoh itu. Karena belakangan ini sikap Akas sungguh kalem, mereka hampir lupa bahwa di dunia internasional Akas memiliki gelar sebagai Raja Neraka. Kekejamannya bukan
Salsa terdiam, ia bisa merasakan semua orang telah menonton leluconnya. Dia dipermalukan oleh pria yang dicintainya sendiri. Salsa mungkin tidak keberatan jika Akas berniat menengahi mereka, namun pria ini justru mengusirnya begitu tiba tanpa menanyakan apa yang telah terjadi, Salsa datang ke perjamuan ini atas inisiatif Akas, namun justru dia ditindas oleh pria itu sendiri.Bahkan jika Salsa ingin berpikiran jernih, dia tidak mampu melakukannya. Alasan apa yang Akas miliki untuk mengusirnya pergi dari tempat ini. Benar, dia hanya seorang simpanan sedangkan lawannya adalah istri sah Akas. Dia sebagai anak muda yang bahkan belum berumur 20 tahun datang dikeroyok oleh sekelompok orang dewasa. Apa menurutmu dia bisa berperang sendirian? Sekarang sekutu pun mengkhianati nya. Salsa tidak berbicara banyak, dia menundukkan kepalanya dan mencengkeram pakaiannya erat erat. Tangannya memutih, namun tak terdengar isak tangis sama sekali. Bukan karena Salsa berpura-pura bersikap tegar, Namun kar
Ketika Akas disibukkan dengan urusannya, Salsa juga disibukkan dengan urusannya sendiri. Gangguan yang tak pernah berakhir membuatnya merasa mual. Ia bangkit berdiri hendak mencari angin segar di balkon tidak jauh dari tempatnya berada sekarang.Suara langkah kaki sepatu hak tinggi mendekat, seorang wanita cantik yang tampil dewasa, anggun dan penuh pesona berjalan mendekat. Sekilas Salsa langsung mengenalinya, wanita yang pernah ditemui ketika ia dan Akas pergi berbelanja di mall beberapa waktu yang lalu. Karena urusan ini juga, ia dan Akas melakukan perang dingin selama tiga hari berturut turut.Alis Salsa mengerut rapat, untuk apa wanita ini datang menghampirinya? Ingin berdebat? Ketika Isla datang, seluruh kerumunan perlahan menyingkir, beberapa diantara mereka menatap Salsa dengan simpati juga beberapa menatap Salsa merasa penuh kemenangan. Terutama beberapa dari mereka yang baru saja dipermalukan Salsa secara langsung."Jadi kamu? Bocah darimana yang lancang dan berani datang ke
Pria itu kemudian pergi dengan marah. Kali ini, sudut pandang beralih pada Akas. Pria itu berdiri menonjol di tengah keramaian. Banyak orang datang mendekat menyanjung dan bersulang untuknya. Beberapa dari mereka adalah koneksi besar, pemilik perusahaan tingkat nasional bahkan raksasa global.Sementara beberapa diantaranya masih merupakan anak-anak. Dari awal sampai akhir, selain sanjungan mereka hanya membicarakan tentang kontrak kerjasama dan proyek. Yang satu membahas tentang industri berat, yang satu membahas teknologi, dan yang lain membahas investasi. Meskipun Akas mengerti semuanya, dia enggan untuk menanggapi. Akas hanya berbicara beberapa patah kata, sisanya Dia hanya berdiam diri di sana merenung dalam diam. Entah apa yang sedang dipikirkannya, memutar gelas main di tangannya berulang kali. Jantungnya berdebar kencang, firasat aneh menguasai dirinya. Entah mengapa, tapi dia memiliki firasat bahwa sesuatu yang besar akan terjadi hari ini. Yang membuat hatinya sakit dan tak n
Namun kebahagiaan dan kedamaian itu tetap saja tidak berlangsung selamanya. Dimas datang memberi isyarat pada Akas untuk berbicara dengan para tokoh penting lainnya. Meskipun dalam status Akas saat ini, dia tidak harus menghormati orang-orang itu, namun etika tetap sebuah etika. Salsa bisa melihatnya bahwa Akas benar-benar enggan untuk pergi. Salsa tidak berbicara, meskipun dia sebenarnya ingin Akas tidak pergi. Lagi pulang pria itu sudah berjanji akan tetap di sisinya. Namun semua itu tidak dapat dihindari. "Salsa sayang, Aku akan pergi sebentar." Ucap Akas dengan alis mengerut merasa bersalah. Salsa juga tidak menghentikan nya. Ia sibuk memakan dessert nya.Seperti ini tidak layak baginya untuk menghalangi. Akas memiliki urusan yang memang harus dia selesaikan. Meskipun dia sedikit kecewa, namun Salsa tidak bisa menghentikannya. Begitu Akas beranjak pergi, ekspresi semua orang langsung berubah. Awalnya mereka semuanya berniat menonton pertunjukan, sekarang mereka seperti serigala l
Akhir pekan tiba dengan cepat, Salsa berdiri di depan cermin selebar dinding di sebuah butik ternama di kota. Akas memesankan tempat secara khusus, bahkan menemani Salsa secara langsung untuk memilih gaun. Sekarang melihat gadis kecilnya berdiri di depan cermin, mengenakan gaun malam berwarna biru gradasi putih. Bertahtakan berlian, dan berhiaskan ornamen emas. Sepatu kaca yang dibuat secara khusus, dan perhiasan yang dipesan dari desainer papan atas dunia. Berdiri di sana, Salsa adalah simbol kemewahan. Mewah namun sangat anggun dan berkelas. Tidak sederhana, namun tampil paling menarik perhatian. Akas sangat tahu bahwa terlalu banyak perhiasan juga tidak terlihat bagus, jadi semuanya ditata dengan penampilan paling sederhana. Sepertinya pilihannya juga tidak salah. Dipadukan dengan kecantikan Salsa yang murni, ia terlihat seperti putri yang baru saja keluar dari buku dongeng. Berputar tiga ratus enam puluh derajat, bagian bawah daun itu mekar seperti sebuah bunga. Mata Salsa berbi
Beruntungnya, ketika Salsa melihat Crystal hendak bergegas menyerbu pintu hotel tanpa pikir panjang, Salsa akhirnya menghentikannya tepat waktu. "Crystal, tidak sekarang!" Ucap Salsa dengan alis mengerut. Hatinya menjadi hangat mendengar kata kata Crystal. Kali ini ia tidak akan salah pilih teman l
Akas sedikit terkejut ketika Salsa bahkan menolak kontaknya. Melihat Salsa yang buru buru berbalik hendak pergi, Akas mengeluarkan kartu nama miliknya dari dalam dompetnya. "Setidaknya kamu bisa menerima kartu nama ini kan? Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu." Ucap Akas dengan sedikit kelembutan. S
Akas memandang wajah pucat Salsa dan rasa bersalahnya semakin kuat. Ternyata semalam gadis kecil ini di beri obat dan hendak dibawa ke tempat tidur laki laki lain. Tapi sepertinya gadis kecil ini berhasil melarikan diri namun ia justru masuk ke dalam pelukan serigala lainnya. Awalnya Akas mengira
Akas yang baru saja keluar kamar mandi merasa suasananya menjadi canggung. Ia sudah melalui kehidupan sepanjang empat dekade lamanya, namun untuk situasi seperti ini yang juga pertama kali ia alami. Bahkan dia sendiri merasa canggung dan bingung. Namun ia tahu, bahwa hal pertama yang harus dia lakuk







