Mag-log inManusia tak bisa membaca isi hati orang lain. Mereka hanya bisa memperkirakan apa yang dipikirkan seseorang dari gerak-gerik yang bersangkutan.
Kemampuan membaca bahasa tubuh orang lain merupakan hal yang penting. Namun ada satu hal yang lebih penting yang harus ada di dalam diri setiap manusia, yakni respons yang baik. Sayangnya tak semua orang memiliki kemampuan ini.
“Paduka, Anda yakin melakukan ini?” bisik Endra.
Ajudan itu berusaha mengubah pandangan sang tuan yang ingin bermalam di tempat Selir Ratnawangi. Padahal Ningsih sudah memberi tahunya bahwa Muniratri berusaha menarik perhatian Damarteja menggunakan buku penghangat malam.
Damarteja menghentikah langkah di depan paviliun tempat tinggal Ratnawangi. “Apa aku terlihat seperti orang linglung yang tidak tahu apa yang harus dilakukan?”
Endra menggeleng. Bagaimana mungkin ia berani meragukan keputusan Damarteja setelah melihat keseriusan di wajah sang Pangeran?
Agrasari merupakan tempat paling strategis yang ada di Agratampa. Selain memiliki pasar yang menjadi pusat perdagangan rakyat, tempat ini juga menjelma menjadi pusat bisnis.Tak heran jika banyak bangunan tinggi dan megah berjejer di sekitar pasar, seperti toko, gudang, rumah makan, bahkan penginapan.“Apa yang kamu temukan?” tanya sang Pangeran pada Endra.“Setelah dilakukan penyelidikan, kami menemukan bahwa stok bahan pangan di Balai Skul Lawuh di pasok oleh Tumenggung Yajnayodha.” Endra menundukkan pandangan.Mendengar laporan ajudannya, Damarteja pun mengepalkan tangan. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Tumenggung Yajnayodha menari di atas penderitaan rakyat.“Setelah dipercaya oleh Putra Mahkota untuk memimpin Balai Pangan, bukannya mengatur distribusi agar harga kebutuhan pokok stabil, dia malah mengambil keuntungan untuk diri sendiri.” Pandangan Damarteja lurus ke depan dengan sorot mata yang tajam.
Muniratri tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Ningsih terhadapnya. Dayang itu memoles kuas di wajah sang majikan dan tak membiarkan orang itu melihat cermin, kecuali riasan sudah siap.“Nah, selesa.” Ningsih tersenyum puas.“Silakan, Kanjeng Putri.” Dayang itu menyerahkan kaca berukuran sedang kepada Muniratri.Begitu melihat wajahnya di cermin, Muniratri langsung menutup benda itu ke atas meja. Tak lama kemudian, dia mengambilnya kembali.“Ini ... beneran aku?” Muniratri menyentuh wajah dengan hati-hati, takut riasannya luntur.Ningsih mengemas riasan baru saja dia gunakan. “Paduka pasti pangling melihat Anda nanti.”Candaan Ningsih hanya ditanggapi dengan senyuman. Ia tak mau Ningsih memergokinya membayangkan bagaimana reaksi sang suami.“Saya buka pintu dahulu,” ucap Ningsih setelah terdengar ketukan beberapa kali.Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kedua wanit
Puri Kacayagra dikepung massa imbas harga pangan yang mengalami kenaikan secara masif. Masyarakat bertahan di tempat itu hingga seminggu lamanya. Mereka tidak mau pulang sebelum Pangeran Adipati memenuhi tuntutan rakyat.“Lakukan operasi pasar!”“Stabilkan harga bahan pokok!”“Turunkan harga sembako!”Mereka mengatakan keinginannya dengan lantang. Orang-orang itu sama sekali tak gentar, meskipun unjuk rasa diawasi oleh pihak militer secara ketat.“Seberapa buruk kondisi pasar sehingga mereka berunjuk rasa di kediaman Pangeran Adipati dan bukannya di Balai Adipati?” tanya Muniratri pada Ningsih saat ia berada di depan balai.“Menurut yang saya dengar, harga barang di pasar naik hingga dua bahkan tiga kali lipat, makanya mereka ....” Ningsih melirik ke arah Muniratri.Wanita itu mengangguk mendengar penjelasan dayangnya. Ia kemudian meninggalkan Ningsih setelah melihat Damartej
Muniratri seperti mengulang kejadian yang sama. Ia duduk bersama dengan para selir, menikmati sarapan hangat. Di sana, Mustika berulang kali merayapkan jemarinya di leher dan juga bawah selangka.“Ya ampun, Dek Ayu!” seru Kasmirah.“Semalam kamu tidak tidur nyenyak, ya?” gurau selir yang merupakan anak angkat Prameswari Widuri.Mereka berdua saling melempar tawa. Keduanya mengabaikan keberadaan Muniratri yang tak pernah melepaskan pandangan dari kedua selir itu.“Jangan begitu ah, Mbakyu. Saya malu.” Mustika menepuk pundak Kasmirah pelan.“Kenapa harus malu. Kita semua kan sudah dewasa, sangat wajar membicarakan hal itu.” Kasmirah menggenggam tangan Mustika erat, seolah memberi dukungan.Muniratri hanya bisa menghela napas melihat tingkah konyol mereka. Ia bahkan memutar mata beberapa kali karena tak tahan.“Andai aku tidak tahu fakta yang terjadi di atas ranjang mereka, alangkah i
‘Jangan percaya pada anggota keluarga keraton.’Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Muniratri. Kata demi kata tak bisa ia lupakan, karena ucapan tersebut merupakan amanat terakhir sang ayah, sebelum meninggal di tempat eksekusi.“Putri! Buka pintunya!” Damarteja menggedor pintu kamar Muniratri.“Putri, biarkan aku masuk!” ucap lelaki itu.Muniratri bersembunyi di balik selimut. Ia menutupi kedua telinganya rapat-rapat. Wanita itu tidak mau mendengar satu kata pun dari mulut Damarteja, apalagi bertemu dengannya.“Putri, dengarkan penjelasanku.” Damarteja mengetuk-ngetuk pintu. Kali ini lebih pelan.“Putri ....” Lelaki itu menggaruk daun pintu dengan frustrasi.“Paduka, maafkan saya lalai dalam tugas.” Ningsih berlutut di belakang Pangeran Adipati.Dayang tersebut baru sampai di Paviliun Wingking setelah bolak-balik naik-turun tangga menuju sendang. Wanita
Muniratri tak dapat menahan gejolak di dada untuk waktu yang lama. Demi menghindari kecurigaan Ningsih, Muniratri bersikap tenang. Ia bahkan tak membahas tentang Pangeran Adipati sekali pun.Di balik tindak-tanduk yang tampak tenang di permukaan itu, Muniratri menggenggam bara panas yang bisa dia lempar ke dedaunan kering kapan saja, sehingga menimbulkan keributan besar.“Ningsih, aku ingin mandi di sendang,” ucap Muniratri.Masih segar di ingatan Ningsih bagaimana kondisi majikannya saat mereka menaiki anak tangga menuju sumber air di belakang Puri Kacayagra. Kakinya bergetar hebat, bahkan untuk berdiri saja, Muniratri tak bisa tenang.“Saat itu, Kanjeng Putri berkata tidak mau lagi pergi ke sendang. Kenapa sekarang mendadak beliau ingin ke sana?” batin Ningsih.“Kenapa mukamu kecut begitu?” desis Muniratri.“Tenang saja, aku tidak selemah dulu.” Wanita itu mengusap rambutnya seraya melirik ke







