Se connecterPukul tujuh malam. SMA Cakrawala seharusnya sudah mati, gelap, dan sunyi. Namun, dari balik jendela lantai dua gedung seni yang catnya mulai mengelupas, cahaya lampu neon masih berpijar redup. Di dalamnya, Jihan Selaras sedang bertarung dengan waktu dan sepuluh jari tangannya sendiri.
Suara denting piano Grand tua itu memenuhi ruangan. Jihan sedang mencoba menaklukkan La Campanella karya Franz Liszt—salah satu komposisi tersulit yang pernah diciptakan manusia. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Setiap kali jarinya meleset satu nada saja, Jihan akan menggeram, berhenti mendadak, lalu mengulanginya lagi dari awal. "Satu jam lagi, Jihan. Lo harus bisa," bisiknya pada diri sendiri. Ingatannya kembali pada wajah angkuh Jagad di ruang OSIS. “Kalau lo kalah, gue bakal beneran cat atap ruang musik lo pake warna pink.” Kalimat itu lebih manjur daripada kopi hitam mana pun untuk membuat Jihan tetap terjaga. Bagi Jihan, ini bukan lagi soal anggaran; ini soal membuktikan bahwa seni yang ia geluti bukan sekadar "ekskul sampingan" yang bisa dikalahkan oleh lapangan futsal. Namun, di tengah kesunyian itu, pintu ruang musik yang berat itu terbuka sedikit. Kriieeet. Jihan berhenti memencet tuts. Ia menoleh dengan napas terengah. "Manda? Lo balik lagi?" Bukan Manda. Yang berdiri di ambang pintu adalah sosok jangkung dengan jaket varsity hitam-merah kebanggaan SMA Cakrawala. Jagad Rayyan berdiri di sana, membawa dua cup kopi plastik dari minimarket depan sekolah. "Lo tahu, kan, kalau satpam sekolah kita itu paling males keliling lantai dua? Lo bisa dikunciin di sini kalau gue nggak bilang ke mereka," ucap Jagad sambil melangkah masuk. Jihan menghela napas kasar, bahunya merosot. "Lo lagi? Nggak ada kerjaan lain selain jadi hantu penunggu sekolah?" "Gue baru selesai rapat koordinasi buat turnamen bulan depan. Pas mau balik, gue denger suara piano yang kedengeran... frustrasi," Jagad meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kayu dekat pintu, jauh dari instrumen piano agar tidak tumpah. "Minum dulu. Jari lo gemeteran gitu, mana bisa main bener." Jihan awalnya ingin menolak, tapi aroma hazelnut latte itu sangat menggoda pertahanannya. Ia berdiri, mendekati meja, dan mengambil kopi itu tanpa mengucap terima kasih. Jagad sendiri duduk di kursi kayu panjang di sudut ruangan, menyandarkan kepalanya ke dinding. "Kenapa Liszt?" tanya Jagad tiba-tiba. Jihan yang sedang menyesap kopinya tersedak sedikit. "Lo... lo tahu itu lagu siapa?" Jagad mengangkat bahu. "Nyokap gue dulu pemain cello. Sebelom dia... ya, sebelom dia mutusin buat berhenti total karena urusan keluarga. Gue tumbuh besar dengan dengerin klasik setiap sarapan. La Campanella itu soal teknis tinggi, tapi lo maininnya kayak lagi mau bunuh orang. Nggak ada jiwanya." Jihan meletakkan kopinya dengan sentakan kecil. "Nggak usah sok tahu soal jiwa musik gue, Jagad. Lo urusin aja bola basket lo itu." "Musik itu soal resonansi, Han. Kalau di dalam lo berantakan, suara yang keluar juga berantakan," Jagad berdiri, berjalan mendekati piano. Ia tidak duduk, tapi berdiri tepat di samping Jihan. "Lo takut kalah, ya?" "Gue nggak takut kalah!" "Bohong. Mata lo bilang gitu. Lo takut kalau lo kalah, lo bakal ngebuktiin omongan bokap gue kalau seni itu cuma buang-buang waktu." Jihan tertegun. Ia menatap Jagad dengan tajam. "Bokap lo bilang gitu?" Jagad tersenyum miring, sebuah senyum pahit yang jarang ia tunjukkan. "Bokap gue mikir semua hal yang nggak bisa diukur pake angka atau piala emas itu sampah. Makanya gue harus selalu peringkat satu. Dan makanya gue neken lo sekarang. Karena kalau lo menang, lo ngebuktiin kalau dia salah. Dan entah kenapa... gue pengen dia salah." Di saat yang sama, di sebuah warung tenda pecel lele tidak jauh dari sekolah, Galang dan Manda sedang duduk berhadapan. Mereka berdua "terjebak" dalam misi yang sama: memantau ketua mereka masing-masing. "Gila ya, si Jihan kalau udah latihan bisa lupa makan," ujar Manda sambil menusuk tempe gorengnya dengan garpu. "Gue khawatir dia pingsan sebelum hari-H lomba." Galang tertawa kecil, menyeka bibirnya dengan tisu. "Sama aja kayak Jagad. Lo kira dia beneran rapat koordinasi sampai jam segini? Tadi itu rapatnya udah bubar dari jam enam. Dia cuma pura-pura sibuk di ruang OSIS biar punya alasan buat nungguin Jihan selesai latihan." Manda menghentikan kunyahannya. "Tunggu... maksud lo Jagad sengaja nungguin?" "Nda, Jagad itu orang paling efisien yang gue kenal. Dia nggak bakal buang waktu satu jam cuma buat duduk di ruangan kosong kalau nggak ada tujuannya," Galang menggeleng-geleng. "Dia itu peduli sama Jihan dengan cara yang paling aneh di dunia. Dia jadi 'antagonis' supaya Jihan punya lawan untuk dilawan. Karena kalau Jihan nggak punya lawan, dia bakal gampang nyerah sama keadaan ruang musik yang bobrok itu." Manda terdiam, mencoba memproses informasi itu. "Jadi, Jagad itu sebenernya... baik?" "Dia nggak baik," koreksi Galang. "Dia cuma cowok kesepian yang nemu orang sejenis di diri Jihan. Dua-duanya sama-sama diteken buat jadi sempurna, cuma caranya aja yang beda." Kembali ke ruang musik. Suasana yang tadinya panas kini berubah menjadi hening yang dalam. Jihan kembali duduk di depan piano, tapi kali ini dia tidak langsung main. Ia menatap tuts-tuts putih hitam itu dengan pandangan kosong. "Mau gue kasih tips?" tanya Jagad. "Tips basket buat main piano? Enggak, makasih." "Tips fokus," Jagad maju satu langkah lagi. "Tutup mata lo. Jangan liat partitur itu sebagai musuh. Bayangin aja lo lagi lari di lapangan luas, nggak ada yang ngejar, nggak ada peringkat dua, nggak ada bokap gue, nggak ada anggaran sekolah. Cuma lo dan suara itu." Jihan ragu, tapi ia perlahan menutup matanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Menyingkirkan bayangan skor 98,0 yang menghantuinya. Menyingkirkan bayangan wajah ibunya yang selalu berharap ia jadi dokter, bukan pianis. Tangannya mulai bergerak. Kali ini, dentingannya tidak lagi menusuk, tapi mengalir. Melodi yang tadinya terasa kaku kini terdengar seperti air terjun di pegunungan—liar namun indah. Jagad berdiri diam di sana, memperhatikan profil wajah Jihan dari samping. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Jihan terlihat begitu hidup. Jauh lebih hidup daripada saat dia sedang memelototi mading nilai. Tanpa sadar, Jagad menahan napas. Ia merasa seolah-olah sedang menyaksikan sesuatu yang sangat rahasia dan berharga. Setelah nada terakhir menghilang di udara, Jihan membuka matanya. Ia menoleh ke Jagad dengan senyum kecil yang tulus—senyum pertama yang ia berikan pada cowok itu. "Ternyata lo nggak cuma pinter main basket ya, Gad." Jagad berdeham, mendadak salah tingkah. Ia membuang muka ke arah jendela. "Ya... lumayanlah buat ukuran orang yang sering dibilang nggak punya perasaan." "Makasih," ucap Jihan pelan. "Kopinya juga." "Hmm. Pulang yuk. Gerbang belakang bentar lagi dikunci Pak Bambang. Gue nggak mau besok ada berita di grup sekolah kalau Ketua OSIS dan Pianis Sekolah nginep bareng di ruang musik. Bisa turun reputasi gue." Jihan tertawa—tawa kecil yang renyah. "Reputasi lo emang udah buruk di mata gue, jadi nggak usah khawatir." Mereka berjalan keluar gedung bersama-sama. Di koridor yang gelap, Jagad sengaja berjalan sedikit di belakang Jihan, memastikan cahaya dari ponselnya menerangi langkah gadis itu. Ia tidak lagi mengejek soal peringkat dua. Ia tidak lagi memancing emosi. Namun, tepat saat mereka sampai di depan parkiran, ponsel Jagad berbunyi. Ada satu pesan singkat dari nomor yang tidak ia simpan, tapi ia hafal: “Jangan terlalu dekat dengan gadis musik itu, Jagad. Konsentrasi kamu terganggu. Ingat tes masuk fakultas hukum bulan depan. Papa sedang mengawasi.” Jagad berhenti melangkah. Wajahnya seketika mengeras. Ia meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Jihan yang menyadari Jagad tertinggal, menoleh ke belakang. "Gad? Kenapa?" Jagad memaksakan sebuah senyum tipis—senyum "Ketua OSIS" yang biasa ia pakai. "Nggak apa-apa. Ada chat dari Galang, urusan mendesak. Ayo, gue anter pulang." Malam itu, Jihan pulang dengan perasaan lebih ringan, tanpa tahu bahwa Jagad baru saja menambah satu beban lagi di pundaknya demi membiarkan Jihan tetap terbang menuju mimpinya.Kapal *The Melodic Wind* meluncur membelah kegelapan ruang angkasa menuju bola raksasa pijar yang menjadi sumber segala kehidupan di Tata Surya. Matahari. Dari kejauhan, ia tampak seperti kelereng emas yang tenang, namun semakin dekat mereka terbang, kenyataan mengerikan mulai terlihat. Permukaan Matahari yang biasanya bergejolak dalam harmoni nuklir kini tampak seperti luka terbuka. Bintik-bintang hitam—virus keheningan Malakor—menyebar seperti kanker di atas fotosfer, menyedot energi panas dan mengubahnya menjadi kekosongan yang dingin.Di dalam kabin, suhu mulai merangkak naik meski sistem pendingin Lyran bekerja maksimal. Udara terasa berat dan berbau seperti logam yang terbakar."Jihan, sistem perisai kita berada di kapasitas 85%," teriak Kael, keringat bercucuran dari balik kacamata datanya. "Begitu kita masuk ke korona, kita nggak bakal punya jalan pulang lewat cara konvensional. Kita bakal bergantung sepenuhnya pada aliran angin surya."Jihan berdi
Dermaga Aethelgard bergetar bukan karena mesin, melainkan karena frekuensi purba yang dilepaskan saat para teknisi Lyran memasangkan "Sayap Suara" pada lambung *The Melodic Wind*. Kapal layar kayu jati yang sebelumnya tampak antik itu kini bertransformasi. Di sisi kanan dan kirinya, terbentang layar transparan yang terbuat dari jalinan foton musik, berpendar dengan warna aurora yang terus berubah mengikuti suasana hati para penumpangnya.Jihan berdiri di ruang kemudi, menatap instrumen baru yang dipasang oleh *The First Harmonizer*. Alih-alih tuas besi, kini ada serangkaian dawai cahaya yang melayang di udara. "Kael, lo yakin kita bisa kendaliin benda ini?" tanya Jihan, suaranya sedikit gemetar saat melihat angka-angka spektrum frekuensi yang melonjak di layar hologram Clarissa.Kael menyeka keringat di dahinya, kacamata datanya memantulkan ribuan baris kode Lyran. "Secara teori, Jihan, kapal ini nggak lagi bergerak lewat ruang, tapi lewat 'Lipatan Nada'. Kita ngga
Pintu palka *The Melodic Wind* terbuka dengan desisan uap aromatik yang berbau seperti campuran kayu cendana dan ozon. Saat kaki Jihan menyentuh lantai dermaga Aethelgard, ia tidak merasakan dinginnya logam, melainkan kehangatan material organik yang terasa hidup di bawah sol sepatunya. Stasiun ini bukan sekadar pangkalan luar angkasa; ini adalah sebuah mahakarya arsitektur akustik yang dibangun dari kristal hidup yang tumbuh mengikuti harmoni bintang raksasa di pusatnya.Di sekeliling mereka, makhluk-makhluk dari berbagai penjuru galaksi berlalu-lalang. Ada yang berbentuk seperti ubur-ubur cahaya yang melayang, ada pula yang menyerupai raksasa batu dengan banyak tangan. Namun, mayoritas penduduk di sini adalah ras *Lyrans*—makhluk tinggi ramping dengan kulit berwarna perak kebiruan dan jari-jari panjang yang berjumlah tujuh di setiap tangan. Mereka tidak berbicara dengan kata-kata; setiap kali mereka membuka mulut, yang terdengar adalah rangkaian nada *pentatonis* yang mer
Kehampaan ruang angkasa ternyata tidak sesunyi yang digambarkan buku-buku pelajaran di SMA Cakrawala. Di atas geladak *The Melodic Wind*, kapal layar dimensi yang kini menjadi rumah baru bagi Tim Resonansi, suara adalah napas. Kapal ini tidak digerakkan oleh pembakaran kimia, melainkan oleh tekanan radiasi suara yang ditangkap oleh layar-layar sutra peraknya. Layar itu berkibar bukan karena angin, tapi karena gelombang frekuensi sisa dari ledakan bintang di kejauhan.Jihan berdiri di haluan, jemarinya meraba ukiran kayu jati kuno yang terasa hangat. Di bawah telapak kakinya, ia bisa merasakan getaran mesin inti kapal—sebuah kotak kayu berisi pasir hitam dari pusat galaksi yang terus bergeser menciptakan nada statis yang menenangkan."Masih belum percaya kita beneran ninggalin Bumi?" suara Jagad memecah lamunan Jihan.Jagad datang sambil memantulkan bola basket kristalnya. Di gravitasi buatan kapal ini, bola itu memantul dengan irama yang sedikit lebih lamb
Permukaan bulan adalah tempat di mana keheningan bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah entitas yang menindas. Di sini, tidak ada molekul udara yang bisa digetarkan untuk menciptakan melodi. Jagad berdiri di ambang pintu palka *Resonance-0*, menatap hamparan abu vulkanik abu-abu dan kawah-kawah yang tampak seperti luka di wajah rembulan. Di kejauhan, Bumi menggantung seperti kelereng biru yang rapuh, satu-satunya sumber warna di tengah monokrom kosmik ini."Ingat, di sini suara tidak merambat lewat udara," suara Kael terdengar di dalam helm taktis mereka melalui sistem *bone conduction* (konduksi tulang). "Kalian tidak akan mendengar drible bola atau dentuman drum dengan telinga. Kalian harus merasakannya lewat getaran di telapak kaki dan tanah bulan yang kalian pijak. Kita akan menggunakan tanah ini sebagai medium transmisi."Jihan melangkah keluar, diikuti oleh instrumen pianonya yang kini melayang menggunakan teknologi antigravitasi. Di belakangnya, Gala
Guyana Prancis menyambut mereka dengan kelembapan hutan tropis yang menyesakkan, sebuah kontras yang tajam dari dinginnya Himalaya yang baru saja mereka tinggalkan. Di tengah rimbunnya hutan Amazon yang tersembunyi dari radar publik, berdiri sebuah fasilitas yang lebih menyerupai katedral futuristik daripada pangkalan antariksa. Inilah proyek "Solitude", pangkalan peluncuran rahasia milik konsorsium Mr. Singh yang telah dikembangkan selama dua dekade menggunakan cetak biru terlarang milik Ardi Selaras.Di tengah hangar raksasa itu, *Resonance-0* berdiri tegak. Pesawat itu tidak berbentuk seperti roket konvensional NASA. Bentuknya lebih menyerupai tetesan air yang memanjang, dengan lambung yang terbuat dari paduan keramik dan kristal kuarsa transparan. Tidak ada tangki bahan bakar hidrogen raksasa; sebagai gantinya, di bawahnya terdapat sebuah ruang resonansi berbentuk bola yang akan mengubah getaran suara menjadi daya dorong kinetik."Ini gila," gumam Bagas sambil







