หน้าหลัก / Romansa / Jagad dan Selaras / Bab 5: Resonansi di Ruang Kedap Suara

แชร์

Bab 5: Resonansi di Ruang Kedap Suara

ผู้เขียน: Sfrauf
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-07 21:51:15

Pukul tujuh malam. SMA Cakrawala seharusnya sudah mati, gelap, dan sunyi. Namun, dari balik jendela lantai dua gedung seni yang catnya mulai mengelupas, cahaya lampu neon masih berpijar redup. Di dalamnya, Jihan Selaras sedang bertarung dengan waktu dan sepuluh jari tangannya sendiri.

Suara denting piano Grand tua itu memenuhi ruangan. Jihan sedang mencoba menaklukkan La Campanella karya Franz Liszt—salah satu komposisi tersulit yang pernah diciptakan manusia. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Setiap kali jarinya meleset satu nada saja, Jihan akan menggeram, berhenti mendadak, lalu mengulanginya lagi dari awal.

"Satu jam lagi, Jihan. Lo harus bisa," bisiknya pada diri sendiri.

Ingatannya kembali pada wajah angkuh Jagad di ruang OSIS. “Kalau lo kalah, gue bakal beneran cat atap ruang musik lo pake warna pink.” Kalimat itu lebih manjur daripada kopi hitam mana pun untuk membuat Jihan tetap terjaga. Bagi Jihan, ini bukan lagi soal anggaran; ini soal membuktikan bahwa seni yang ia geluti bukan sekadar "ekskul sampingan" yang bisa dikalahkan oleh lapangan futsal.

Namun, di tengah kesunyian itu, pintu ruang musik yang berat itu terbuka sedikit. Kriieeet.

Jihan berhenti memencet tuts. Ia menoleh dengan napas terengah. "Manda? Lo balik lagi?"

Bukan Manda. Yang berdiri di ambang pintu adalah sosok jangkung dengan jaket varsity hitam-merah kebanggaan SMA Cakrawala. Jagad Rayyan berdiri di sana, membawa dua cup kopi plastik dari minimarket depan sekolah.

"Lo tahu, kan, kalau satpam sekolah kita itu paling males keliling lantai dua? Lo bisa dikunciin di sini kalau gue nggak bilang ke mereka," ucap Jagad sambil melangkah masuk.

Jihan menghela napas kasar, bahunya merosot. "Lo lagi? Nggak ada kerjaan lain selain jadi hantu penunggu sekolah?"

"Gue baru selesai rapat koordinasi buat turnamen bulan depan. Pas mau balik, gue denger suara piano yang kedengeran... frustrasi," Jagad meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kayu dekat pintu, jauh dari instrumen piano agar tidak tumpah. "Minum dulu. Jari lo gemeteran gitu, mana bisa main bener."

Jihan awalnya ingin menolak, tapi aroma hazelnut latte itu sangat menggoda pertahanannya. Ia berdiri, mendekati meja, dan mengambil kopi itu tanpa mengucap terima kasih. Jagad sendiri duduk di kursi kayu panjang di sudut ruangan, menyandarkan kepalanya ke dinding.

"Kenapa Liszt?" tanya Jagad tiba-tiba.

Jihan yang sedang menyesap kopinya tersedak sedikit. "Lo... lo tahu itu lagu siapa?"

Jagad mengangkat bahu. "Nyokap gue dulu pemain cello. Sebelom dia... ya, sebelom dia mutusin buat berhenti total karena urusan keluarga. Gue tumbuh besar dengan dengerin klasik setiap sarapan. La Campanella itu soal teknis tinggi, tapi lo maininnya kayak lagi mau bunuh orang. Nggak ada jiwanya."

Jihan meletakkan kopinya dengan sentakan kecil. "Nggak usah sok tahu soal jiwa musik gue, Jagad. Lo urusin aja bola basket lo itu."

"Musik itu soal resonansi, Han. Kalau di dalam lo berantakan, suara yang keluar juga berantakan," Jagad berdiri, berjalan mendekati piano. Ia tidak duduk, tapi berdiri tepat di samping Jihan. "Lo takut kalah, ya?"

"Gue nggak takut kalah!"

"Bohong. Mata lo bilang gitu. Lo takut kalau lo kalah, lo bakal ngebuktiin omongan bokap gue kalau seni itu cuma buang-buang waktu."

Jihan tertegun. Ia menatap Jagad dengan tajam. "Bokap lo bilang gitu?"

Jagad tersenyum miring, sebuah senyum pahit yang jarang ia tunjukkan. "Bokap gue mikir semua hal yang nggak bisa diukur pake angka atau piala emas itu sampah. Makanya gue harus selalu peringkat satu. Dan makanya gue neken lo sekarang. Karena kalau lo menang, lo ngebuktiin kalau dia salah. Dan entah kenapa... gue pengen dia salah."

Di saat yang sama, di sebuah warung tenda pecel lele tidak jauh dari sekolah, Galang dan Manda sedang duduk berhadapan. Mereka berdua "terjebak" dalam misi yang sama: memantau ketua mereka masing-masing.

"Gila ya, si Jihan kalau udah latihan bisa lupa makan," ujar Manda sambil menusuk tempe gorengnya dengan garpu. "Gue khawatir dia pingsan sebelum hari-H lomba."

Galang tertawa kecil, menyeka bibirnya dengan tisu. "Sama aja kayak Jagad. Lo kira dia beneran rapat koordinasi sampai jam segini? Tadi itu rapatnya udah bubar dari jam enam. Dia cuma pura-pura sibuk di ruang OSIS biar punya alasan buat nungguin Jihan selesai latihan."

Manda menghentikan kunyahannya. "Tunggu... maksud lo Jagad sengaja nungguin?"

"Nda, Jagad itu orang paling efisien yang gue kenal. Dia nggak bakal buang waktu satu jam cuma buat duduk di ruangan kosong kalau nggak ada tujuannya," Galang menggeleng-geleng. "Dia itu peduli sama Jihan dengan cara yang paling aneh di dunia. Dia jadi 'antagonis' supaya Jihan punya lawan untuk dilawan. Karena kalau Jihan nggak punya lawan, dia bakal gampang nyerah sama keadaan ruang musik yang bobrok itu."

Manda terdiam, mencoba memproses informasi itu. "Jadi, Jagad itu sebenernya... baik?"

"Dia nggak baik," koreksi Galang. "Dia cuma cowok kesepian yang nemu orang sejenis di diri Jihan. Dua-duanya sama-sama diteken buat jadi sempurna, cuma caranya aja yang beda."

Kembali ke ruang musik. Suasana yang tadinya panas kini berubah menjadi hening yang dalam. Jihan kembali duduk di depan piano, tapi kali ini dia tidak langsung main. Ia menatap tuts-tuts putih hitam itu dengan pandangan kosong.

"Mau gue kasih tips?" tanya Jagad.

"Tips basket buat main piano? Enggak, makasih."

"Tips fokus," Jagad maju satu langkah lagi. "Tutup mata lo. Jangan liat partitur itu sebagai musuh. Bayangin aja lo lagi lari di lapangan luas, nggak ada yang ngejar, nggak ada peringkat dua, nggak ada bokap gue, nggak ada anggaran sekolah. Cuma lo dan suara itu."

Jihan ragu, tapi ia perlahan menutup matanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Menyingkirkan bayangan skor 98,0 yang menghantuinya. Menyingkirkan bayangan wajah ibunya yang selalu berharap ia jadi dokter, bukan pianis.

Tangannya mulai bergerak. Kali ini, dentingannya tidak lagi menusuk, tapi mengalir. Melodi yang tadinya terasa kaku kini terdengar seperti air terjun di pegunungan—liar namun indah.

Jagad berdiri diam di sana, memperhatikan profil wajah Jihan dari samping. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Jihan terlihat begitu hidup. Jauh lebih hidup daripada saat dia sedang memelototi mading nilai. Tanpa sadar, Jagad menahan napas. Ia merasa seolah-olah sedang menyaksikan sesuatu yang sangat rahasia dan berharga.

Setelah nada terakhir menghilang di udara, Jihan membuka matanya. Ia menoleh ke Jagad dengan senyum kecil yang tulus—senyum pertama yang ia berikan pada cowok itu.

"Ternyata lo nggak cuma pinter main basket ya, Gad."

Jagad berdeham, mendadak salah tingkah. Ia membuang muka ke arah jendela. "Ya... lumayanlah buat ukuran orang yang sering dibilang nggak punya perasaan."

"Makasih," ucap Jihan pelan. "Kopinya juga."

"Hmm. Pulang yuk. Gerbang belakang bentar lagi dikunci Pak Bambang. Gue nggak mau besok ada berita di grup sekolah kalau Ketua OSIS dan Pianis Sekolah nginep bareng di ruang musik. Bisa turun reputasi gue."

Jihan tertawa—tawa kecil yang renyah. "Reputasi lo emang udah buruk di mata gue, jadi nggak usah khawatir."

Mereka berjalan keluar gedung bersama-sama. Di koridor yang gelap, Jagad sengaja berjalan sedikit di belakang Jihan, memastikan cahaya dari ponselnya menerangi langkah gadis itu. Ia tidak lagi mengejek soal peringkat dua. Ia tidak lagi memancing emosi.

Namun, tepat saat mereka sampai di depan parkiran, ponsel Jagad berbunyi. Ada satu pesan singkat dari nomor yang tidak ia simpan, tapi ia hafal:

“Jangan terlalu dekat dengan gadis musik itu, Jagad. Konsentrasi kamu terganggu. Ingat tes masuk fakultas hukum bulan depan. Papa sedang mengawasi.”

Jagad berhenti melangkah. Wajahnya seketika mengeras. Ia meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Jihan yang menyadari Jagad tertinggal, menoleh ke belakang.

"Gad? Kenapa?"

Jagad memaksakan sebuah senyum tipis—senyum "Ketua OSIS" yang biasa ia pakai. "Nggak apa-apa. Ada chat dari Galang, urusan mendesak. Ayo, gue anter pulang."

Malam itu, Jihan pulang dengan perasaan lebih ringan, tanpa tahu bahwa Jagad baru saja menambah satu beban lagi di pundaknya demi membiarkan Jihan tetap terbang menuju mimpinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jagad dan Selaras   Bab 15: Saat Mesin Itu Mulai Rusak

    Selasa pagi itu, Jagad kelihatan berantakan. Nggak ada lagi kesan "Ketua OSIS Sempurna" yang biasanya berdiri tegak di depan gerbang sambil merapikan dasi. Matanya merah, wajahnya pucat pasi, dan langkah kakinya kelihatan berat banget pas ngelewatin koridor kelas dua belas."Gad, lo oke?" tanya Galang pas mereka baru aja naruh tas di kelas. "Muka lo udah kayak kertas HVS, putih bener."Jagad cuma mendehem pelan, suaranya parau banget. "Gue oke. Cuma kurang tidur dikit.""Dikit mata lo," sahut Galang sambil megang dahi Jagad. "Anjrit! Panas banget, Gad! Lo demam ini mah. Mending ke UKS deh, daripada pingsan pas pelajaran Fisika nanti.""Nggak usah. Gue ada rapat sama yayasan jam sepuluh nanti soal perizinan gudang Galang semalam," Jagad mencoba berdiri, tapi kepalanya malah kerasa muter. Dia terpaksa duduk lagi sambil megangin pelipisnya.Di pintu kelas, Jihan baru aja masuk dan langsung nangkep suasana nggak beres itu. Dia ngeliat Jagad yang biasanya sok kuat sekarang lagi nunduk lesu

  • Jagad dan Selaras   Bab 14: Sang Mentor dan Garis yang Tak Boleh Dilewati

    Ruang rapat utama SMA Cakrawala pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Padahal, ruangan itu adalah yang paling megah di sekolah, dengan meja kayu jati panjang yang permukaannya mengilat seperti cermin. Tapi bagi Jihan, oksigen di sana seolah tersedot habis oleh kehadiran satu orang yang duduk di ujung meja.Namanya Ibu Martha. Dia adalah ibu Clarissa, sekaligus kritikus musik klasik yang reputasinya bisa bikin seorang pianis profesional mendadak lupa nada sebelum naik panggung. Wanita itu duduk tegak, mengenakan blazer hitam tanpa cela, dengan kacamata bingkai tipis yang bertengger di hidungnya yang mancung. Di sampingnya, Clarissa duduk dengan senyum tipis yang tampak sangat... tenang."Jadi," Ibu Martha memecah keheningan, suaranya dingin dan jernih. "Ini yang kalian sebut sebagai 'inovasi'?"Ia meletakkan draf aransemen buatan Jihan ke atas meja dengan bunyi plak yang bikin Jihan berjengit."Benar, Bu," Jagad menjawab. Suaranya terdengar stabil, meskipun Jihan bisa melihat rah

  • Jagad dan Selaras   Bab 13: Perpustakaan, Hujan, dan Rahasia yang Luruh

    Malam itu, perpustakaan kota terasa seperti sebuah dunia yang berbeda. Di luar, Jakarta sedang tidak bersahabat; suara klakson yang bersahutan di tengah kemacetan tertutup oleh deru hujan yang mulai menghantam kaca jendela besar di lantai dua. Di dalam, hanya ada suara dengung pelan dari pendingin ruangan dan gesekan kertas yang sesekali memecah keheningan.Jihan Selaras masih berkutat dengan soal termodinamika di depannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi keningnya yang berkerut. Di hadapannya, Jagad Rayyan duduk dengan posisi yang jauh lebih santai—satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya memainkan pulpen dengan lincah."Tanda minusnya, Han. Lo ketinggalan satu baris," ucap Jagad pelan. Suaranya yang rendah terdengar sangat jelas di telinga Jihan karena suasana yang sepi.Jihan mendesah frustrasi. Ia mengucek matanya sejenak sebelum menatap kembali coretannya. "Di mana sih? Perasaan udah gue masukin semua."Jagad sedik

  • Jagad dan Selaras   Bab 12: Kertas Ujian dan Bisikan di Koridor

    Pagi itu, udara di lorong kelas dua belas terasa lebih berat dari biasanya. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kopi instan dari botol-botol minuman yang dibawa siswa. Bagi sebagian orang, ujian Fisika susulan hari ini hanyalah formalitas untuk memperbaiki nilai rapor yang hancur. Tapi bagi Jihan Selaras, ini adalah laga penentuan.Jihan duduk sendirian di bangku taman yang letaknya persis di depan laboratorium. Jemarinya sibuk membolak-balik halaman buku catatan yang penuh dengan coretan rumus termodinamika. Di kepalanya, angka-angka itu menari-nari, tapi entah kenapa, sesekali bayangan wajah Jagad saat di panggung kemarin ikut menyelinap."Formula efisiensi itu nggak bakal masuk ke otak kalau lo bacanya sambil nahan napas gitu, Han."Jihan nggak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja datang. Suara berat yang sedikit serak itu sudah terlalu sering mampir di pendengarannya akhir-akhir ini. Jagad Rayyan berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di tiang lampu

  • Jagad dan Selaras   Bab 11: Resonansi yang Berubah

    Senin pagi di SMA Cakrawala tidak pernah terasa sama lagi bagi Jagad dan Jihan. Jika biasanya koridor sekolah hanya dipenuhi oleh aroma pembersih lantai dan obrolan malas tentang tugas matematika, hari ini atmosfernya terasa bergetar. Sejak kaki Jihan menginjak gerbang, ia bisa merasakan pasang mata yang mengikutinya. Bukan lagi tatapan remeh pada "si peringkat dua yang ambisius", melainkan tatapan kekaguman yang bercampur dengan rasa penasaran yang haus akan gosip.Di mading utama, tempat yang biasanya menjadi medan perang bagi Jagad dan Jihan, kini tertempel sebuah poster besar hasil cetakan panitia yayasan. Foto Jagad yang sedang melakukan dunk dan Jihan yang menekan tuts piano dengan ekspresi intens menjadi latar belakang pengumuman ucapan terima kasih atas kesuksesan Founders Day."Han, liat deh. Kita beneran jadi ikon sekolah," Manda menyenggol bahu Jihan sambil terkekeh. Manda tampak lebih bersemangat pagi ini, rambutnya dikuncir kuda tinggi dan ia membawa kotak biola dengan ba

  • Jagad dan Selaras   Bab 10: Gema di Ruang Kosong

    Sore itu, langit Jakarta seakan ikut menahan napas. Warna jingga yang biasanya hangat kini tampak seperti kobaran api yang memudar di ufuk barat. Jagad berdiri di depan pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Perasaan yang membuncah di sekolah tadi—kemenangan, adrenalin, dan sorak-sorai—kini menguap, digantikan oleh kecemasan yang dingin dan tajam.Di sampingnya, Jihan tetap berdiri. Gadis itu menolak untuk pulang duluan setelah Galang mengantar mereka ke depan kompleks. Jihan masih mengenakan jaket denimnya yang sedikit berdebu, tangannya menggenggam tali tas pianonya dengan kuat."Lo yakin mau ikut masuk?" Jagad menoleh, menatap Jihan dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bokap gue bukan tipe orang yang bakal menyapa tamu dengan ramah setelah dipermalukan di depan umum."Jihan menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma aspal basah di sekitarnya. "Gue yang narik lo ke panggung itu, Gad. Gue nggak bakal biarin lo ngadepin 'hukuman' sendirian. Anggap aja ini bagian dari tanggu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status