Home / Romansa / Jagad dan Selaras / Bab 6: Di Antara Tepuk Tangan dan Sunyi

Share

Bab 6: Di Antara Tepuk Tangan dan Sunyi

Author: Sfrauf
last update Last Updated: 2026-01-07 21:52:09

Pagi itu, Aula Kesenian Kota Jakarta terasa seperti medan perang bagi Jihan Selaras. Bau pengharum ruangan beraroma melati yang terlalu menyengat berbaur dengan hawa dingin dari AC yang dipasang maksimal. Di lobi, puluhan peserta dengan setelan jas dan gaun mewah tampak mondar-mandir, ada yang komat-kamit menghafal partitur, ada pula yang jarinya menari-nari di udara.

Jihan duduk di salah satu kursi sudut, meremas jemarinya yang terasa sedingin es. Gaun berwarna biru dongker yang ia kenakan terasa sedikit terlalu sesak di bagian dada, atau mungkin itu hanya perasaan sesak karena beban taruhan yang ia bawa.

"Han, minum dulu. Lo pucat banget, sumpah," Manda menyodorkan botol air mineral. Sahabatnya itu sudah dandan rapi, meskipun hari ini tugasnya hanya sebagai tim hore dan pemegang tas Jihan.

"Gue nggak apa-apa, Nda. Cuma... deg-degan aja," bohong Jihan.

"Deg-degan karena lomba, atau karena si 'Tuan Nol Koma Dua' belum kelihatan batang hidungnya?" Manda menggoda sambil menyenggol bahu Jihan.

Jihan mendengus, mencoba mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk. "Dia nggak bakal dateng. Kemarin dia bilang ada simulasi ujian atau apalah. Lagian, siapa juga yang ngarepin dia?"

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Jihan merasa ada yang kosong. Setelah malam di ruang musik itu, ia terbiasa dengan kehadiran Jagad sebagai "gangguan" yang memicu adrenalinnya. Tanpa gangguan itu, suasana terasa hambar.

Di tempat lain, suasana tidak kalah tegang. Jagad Rayyan berdiri di ruang kerja ayahnya yang megah namun terasa mencekam. Di atas meja jati itu, terletak sebuah brosur bimbingan belajar khusus hukum dan formulir pendaftaran universitas ternama.

"Papa sudah siapkan sopir untuk antar kamu ke tempat simulasi pagi ini. Tidak ada alasan untuk terlambat lagi, Jagad," ucap Pak Rayyan tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. Suaranya datar, namun setiap katanya adalah perintah yang tak bisa dibantah.

"Pa, Jagad ada urusan di sekolah pagi ini. Soal anggaran OSIS yang harus segera diputuskan," Jagad mencoba mencari celah. Ia tidak berani menyebut nama Jihan, apalagi kompetisi piano.

Pak Rayyan mengangkat kepalanya. Tatapan matanya setajam elang. "Urusan OSIS itu sampingan. Tugas utama kamu adalah memastikan kursi di fakultas hukum itu milik kamu. Papa dengar kamu sering berada di gedung seni belakangan ini. Untuk apa? Menonton orang bermain musik tidak akan membantu kamu menjawab soal ujian."

Jagad mengepalkan tangan di balik saku celananya. "Musik bukan sekadar tontonan, Pa. Itu juga bentuk prestasi sekolah—"

"Prestasi yang tidak berguna untuk masa depan kamu," potong Pak Rayyan dingin. "Sekarang berangkat. Papa tidak mau dengar laporan dari sopir kalau kamu pergi ke tempat lain."

Jagad keluar dari ruangan itu dengan langkah berat. Di lobi rumahnya, ia melihat Galang yang sudah menunggu dengan motornya, berpura-pura ingin meminjam buku catatan Jagad sebagai alasan untuk bertemu.

"Gimana, Gad? Mobil bokap lo udah standby di depan," bisik Galang saat mereka berdiri di teras.

Jagad melirik sopir pribadinya yang sedang memanaskan mesin mobil. "Gue nggak punya pilihan, Lang. Dia bakal tahu kalau gue meleset."

Galang menghela napas, menepuk bahu sahabatnya. "Jihan bakal main jam sepuluh. Ini udah jam sembilan lewat lima belas. Kalau lo mau nekat, sekarang saatnya. Gue bisa distraksi sopir lo, bilang kalau lo harus ambil berkas di rumah gue dulu."

Jagad menatap jalanan di depan rumahnya, lalu beralih ke gantungan kunci piano milik Jihan yang masih ia simpan di saku. "Lang... kalau gue nggak dateng, dia bakal mikir gue cuma tukang bual yang nggak peduli sama taruhan itu."

"Bukan cuma soal taruhan, kan?" Galang tersenyum miring. "Lo peduli sama dia."

Kembali ke Aula Kesenian. Nama Jihan Selaras akhirnya dipanggil oleh pembawa acara.

"Peserta nomor urut 14, Jihan Selaras dari SMA Cakrawala."

Lampu panggung yang terang benderang menyambutnya saat ia melangkah ke tengah. Sunyi menyelimuti ruangan. Jihan membungkuk hormat kepada dewan juri, lalu duduk di depan piano Steinway & Sons yang megah. Ia menatap tuts-tuts itu. Ingatannya kembali ke malam itu.

“Tutup mata lo. Jangan liat partitur itu sebagai musuh. Cuma lo dan suara itu.”

Jihan menarik napas panjang. Ia mulai memainkan nada pertama. La Campanella. Melodi yang awalnya menyerupai denting lonceng kecil yang lincah itu mulai mengalun. Namun, ada yang berbeda. Jihan tidak bermain dengan amarah. Ia bermain dengan kerinduan. Kerinduan akan kebebasan, kerinduan untuk dipahami, dan... kerinduan akan sosok yang memberinya kopi hazelnut di tengah malam yang dingin.

Di kursi penonton, Manda menahan napas. Ia belum pernah mendengar Jihan bermain seindah ini. Bukan hanya teknis yang sempurna, tapi ada emosi yang tumpah di setiap nadanya.

Tiba-tiba, dari pintu belakang aula yang terbuka sedikit, sesosok cowok masuk dengan napas tersengal-sengal. Rambutnya berantakan, dan ia masih mengenakan kemeja yang sedikit kusut. Jagad Rayyan. Ia berdiri di kegelapan barisan paling belakang, matanya langsung tertuju pada satu titik: gadis di atas panggung itu.

Jagad terpaku. Ia merasa resonansi yang Jihan ciptakan benar-benar sampai ke ulu hatinya. Ia melihat bagaimana Jihan seolah menyatu dengan instrumennya. Di saat itu, Jagad sadar bahwa ia telah kalah. Bukan kalah dalam taruhan nilai, tapi kalah dalam usahanya untuk tetap tidak peduli.

Saat nada terakhir bergema dan menghilang, aula itu tetap sunyi selama beberapa detik sebelum akhirnya meledak dalam tepuk tangan yang meriah. Jihan berdiri, membungkuk, dan matanya secara refleks mencari ke arah barisan penonton.

Dan di sana, di antara kerumunan orang yang berdiri memberikan standing ovation, ia melihatnya. Jagad. Cowok itu tidak bertepuk tangan dengan heboh. Ia hanya berdiri diam, menatap Jihan dengan senyum tipis—senyum yang paling tulus yang pernah Jihan lihat.

Setelah acara selesai, Jihan berlari menuju lobi, mengabaikan beberapa orang yang mencoba memberikan selamat. Ia mencari sosok jaket varsity hitam-merah itu.

"Jagad!" teriak Jihan saat melihat Jagad baru saja hendak keluar menuju parkiran.

Jagad berhenti dan berbalik. "Hebat, Han. Lo beneran bikin loncengnya bunyi di telinga semua orang."

Jihan berhenti di depan Jagad, napasnya naik-turun. "Lo dateng. Gue pikir lo nggak bakal bisa."

"Gue harus liat calon pemenang taruhan gue, kan? Biar gue tahu warna pink apa yang cocok buat atap ruang musik lo kalau lo kalah," ejek Jagad, mencoba menutupi rasa harunya.

"Gue nggak bakal kalah, Gad. Juri tadi bahkan sampai berdiri pas gue selesai," Jihan tersenyum lebar, matanya berbinar. "Tapi... gimana simulasi lo? Bokap lo nggak marah?"

Wajah Jagad sedikit berubah, tapi ia segera menutupinya. "Aman. Galang bantuin gue 'menghilang' sebentar. Tapi gue harus balik sekarang sebelum sopir gue sadar kalau yang duduk di jok belakang rumah Galang itu cuma tumpukan bantal."

Jihan tertawa kecil, tapi kemudian ia terdiam. Ia melihat luka memar kecil di sudut bibir Jagad yang sepertinya baru. "Gad... itu kenapa?"

Jagad menyentuh sudut bibirnya, lalu meringis. "Biasa, kena bola pas latihan tadi pagi. Udah ya, gue cabut dulu. Inget, trofinya bawa ke sekolah hari Senin. Kalau nggak, anggaran futsal tetep jalan!"

Jagad segera memakai helmnya dan memacu motornya pergi. Jihan berdiri di sana, menatap kepergian Jagad dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Jagad sedang berbohong. Luka di bibir itu bukan karena bola basket. Dan ia tahu, kehadiran Jagad di sini hari ini pasti dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Minggu malam, Galang duduk di teras rumah Jagad, memperhatikan sahabatnya yang sedang mengompres wajahnya dengan es batu.

"Bokap lo beneran keterlaluan, Gad. Cuma karena lo telat satu jam ke tempat simulasi, dia sampai main tangan?" Galang bicara dengan nada marah yang tertahan.

Jagad menghela napas, menatap langit malam yang tanpa bintang. "Bagi dia, telat satu jam itu sama dengan kegagalan seumur hidup, Lang. Tapi nggak apa-apa. Liat Jihan main tadi... rasanya sepadan."

Galang terdiam. Ia melihat Jagad yang biasanya selalu mementingkan logika, kini mulai bertindak dengan perasaan. "Lo beneran suka sama dia, ya?"

Jagad terdiam cukup lama. "Gue nggak tahu, Lang. Yang gue tahu, pas dia main piano tadi, dunia gue yang berisik ini mendadak sunyi. Dan buat pertama kalinya, gue merasa... bebas."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jagad dan Selaras   Bab 15: Saat Mesin Itu Mulai Rusak

    Selasa pagi itu, Jagad kelihatan berantakan. Nggak ada lagi kesan "Ketua OSIS Sempurna" yang biasanya berdiri tegak di depan gerbang sambil merapikan dasi. Matanya merah, wajahnya pucat pasi, dan langkah kakinya kelihatan berat banget pas ngelewatin koridor kelas dua belas."Gad, lo oke?" tanya Galang pas mereka baru aja naruh tas di kelas. "Muka lo udah kayak kertas HVS, putih bener."Jagad cuma mendehem pelan, suaranya parau banget. "Gue oke. Cuma kurang tidur dikit.""Dikit mata lo," sahut Galang sambil megang dahi Jagad. "Anjrit! Panas banget, Gad! Lo demam ini mah. Mending ke UKS deh, daripada pingsan pas pelajaran Fisika nanti.""Nggak usah. Gue ada rapat sama yayasan jam sepuluh nanti soal perizinan gudang Galang semalam," Jagad mencoba berdiri, tapi kepalanya malah kerasa muter. Dia terpaksa duduk lagi sambil megangin pelipisnya.Di pintu kelas, Jihan baru aja masuk dan langsung nangkep suasana nggak beres itu. Dia ngeliat Jagad yang biasanya sok kuat sekarang lagi nunduk lesu

  • Jagad dan Selaras   Bab 14: Sang Mentor dan Garis yang Tak Boleh Dilewati

    Ruang rapat utama SMA Cakrawala pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Padahal, ruangan itu adalah yang paling megah di sekolah, dengan meja kayu jati panjang yang permukaannya mengilat seperti cermin. Tapi bagi Jihan, oksigen di sana seolah tersedot habis oleh kehadiran satu orang yang duduk di ujung meja.Namanya Ibu Martha. Dia adalah ibu Clarissa, sekaligus kritikus musik klasik yang reputasinya bisa bikin seorang pianis profesional mendadak lupa nada sebelum naik panggung. Wanita itu duduk tegak, mengenakan blazer hitam tanpa cela, dengan kacamata bingkai tipis yang bertengger di hidungnya yang mancung. Di sampingnya, Clarissa duduk dengan senyum tipis yang tampak sangat... tenang."Jadi," Ibu Martha memecah keheningan, suaranya dingin dan jernih. "Ini yang kalian sebut sebagai 'inovasi'?"Ia meletakkan draf aransemen buatan Jihan ke atas meja dengan bunyi plak yang bikin Jihan berjengit."Benar, Bu," Jagad menjawab. Suaranya terdengar stabil, meskipun Jihan bisa melihat rah

  • Jagad dan Selaras   Bab 13: Perpustakaan, Hujan, dan Rahasia yang Luruh

    Malam itu, perpustakaan kota terasa seperti sebuah dunia yang berbeda. Di luar, Jakarta sedang tidak bersahabat; suara klakson yang bersahutan di tengah kemacetan tertutup oleh deru hujan yang mulai menghantam kaca jendela besar di lantai dua. Di dalam, hanya ada suara dengung pelan dari pendingin ruangan dan gesekan kertas yang sesekali memecah keheningan.Jihan Selaras masih berkutat dengan soal termodinamika di depannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi keningnya yang berkerut. Di hadapannya, Jagad Rayyan duduk dengan posisi yang jauh lebih santai—satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya memainkan pulpen dengan lincah."Tanda minusnya, Han. Lo ketinggalan satu baris," ucap Jagad pelan. Suaranya yang rendah terdengar sangat jelas di telinga Jihan karena suasana yang sepi.Jihan mendesah frustrasi. Ia mengucek matanya sejenak sebelum menatap kembali coretannya. "Di mana sih? Perasaan udah gue masukin semua."Jagad sedik

  • Jagad dan Selaras   Bab 12: Kertas Ujian dan Bisikan di Koridor

    Pagi itu, udara di lorong kelas dua belas terasa lebih berat dari biasanya. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kopi instan dari botol-botol minuman yang dibawa siswa. Bagi sebagian orang, ujian Fisika susulan hari ini hanyalah formalitas untuk memperbaiki nilai rapor yang hancur. Tapi bagi Jihan Selaras, ini adalah laga penentuan.Jihan duduk sendirian di bangku taman yang letaknya persis di depan laboratorium. Jemarinya sibuk membolak-balik halaman buku catatan yang penuh dengan coretan rumus termodinamika. Di kepalanya, angka-angka itu menari-nari, tapi entah kenapa, sesekali bayangan wajah Jagad saat di panggung kemarin ikut menyelinap."Formula efisiensi itu nggak bakal masuk ke otak kalau lo bacanya sambil nahan napas gitu, Han."Jihan nggak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja datang. Suara berat yang sedikit serak itu sudah terlalu sering mampir di pendengarannya akhir-akhir ini. Jagad Rayyan berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di tiang lampu

  • Jagad dan Selaras   Bab 11: Resonansi yang Berubah

    Senin pagi di SMA Cakrawala tidak pernah terasa sama lagi bagi Jagad dan Jihan. Jika biasanya koridor sekolah hanya dipenuhi oleh aroma pembersih lantai dan obrolan malas tentang tugas matematika, hari ini atmosfernya terasa bergetar. Sejak kaki Jihan menginjak gerbang, ia bisa merasakan pasang mata yang mengikutinya. Bukan lagi tatapan remeh pada "si peringkat dua yang ambisius", melainkan tatapan kekaguman yang bercampur dengan rasa penasaran yang haus akan gosip.Di mading utama, tempat yang biasanya menjadi medan perang bagi Jagad dan Jihan, kini tertempel sebuah poster besar hasil cetakan panitia yayasan. Foto Jagad yang sedang melakukan dunk dan Jihan yang menekan tuts piano dengan ekspresi intens menjadi latar belakang pengumuman ucapan terima kasih atas kesuksesan Founders Day."Han, liat deh. Kita beneran jadi ikon sekolah," Manda menyenggol bahu Jihan sambil terkekeh. Manda tampak lebih bersemangat pagi ini, rambutnya dikuncir kuda tinggi dan ia membawa kotak biola dengan ba

  • Jagad dan Selaras   Bab 10: Gema di Ruang Kosong

    Sore itu, langit Jakarta seakan ikut menahan napas. Warna jingga yang biasanya hangat kini tampak seperti kobaran api yang memudar di ufuk barat. Jagad berdiri di depan pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Perasaan yang membuncah di sekolah tadi—kemenangan, adrenalin, dan sorak-sorai—kini menguap, digantikan oleh kecemasan yang dingin dan tajam.Di sampingnya, Jihan tetap berdiri. Gadis itu menolak untuk pulang duluan setelah Galang mengantar mereka ke depan kompleks. Jihan masih mengenakan jaket denimnya yang sedikit berdebu, tangannya menggenggam tali tas pianonya dengan kuat."Lo yakin mau ikut masuk?" Jagad menoleh, menatap Jihan dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bokap gue bukan tipe orang yang bakal menyapa tamu dengan ramah setelah dipermalukan di depan umum."Jihan menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma aspal basah di sekitarnya. "Gue yang narik lo ke panggung itu, Gad. Gue nggak bakal biarin lo ngadepin 'hukuman' sendirian. Anggap aja ini bagian dari tanggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status