Mag-log inPagi itu, Aula Kesenian Kota Jakarta terasa seperti medan perang bagi Jihan Selaras. Bau pengharum ruangan beraroma melati yang terlalu menyengat berbaur dengan hawa dingin dari AC yang dipasang maksimal. Di lobi, puluhan peserta dengan setelan jas dan gaun mewah tampak mondar-mandir, ada yang komat-kamit menghafal partitur, ada pula yang jarinya menari-nari di udara.
Jihan duduk di salah satu kursi sudut, meremas jemarinya yang terasa sedingin es. Gaun berwarna biru dongker yang ia kenakan terasa sedikit terlalu sesak di bagian dada, atau mungkin itu hanya perasaan sesak karena beban taruhan yang ia bawa. "Han, minum dulu. Lo pucat banget, sumpah," Manda menyodorkan botol air mineral. Sahabatnya itu sudah dandan rapi, meskipun hari ini tugasnya hanya sebagai tim hore dan pemegang tas Jihan. "Gue nggak apa-apa, Nda. Cuma... deg-degan aja," bohong Jihan. "Deg-degan karena lomba, atau karena si 'Tuan Nol Koma Dua' belum kelihatan batang hidungnya?" Manda menggoda sambil menyenggol bahu Jihan. Jihan mendengus, mencoba mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk. "Dia nggak bakal dateng. Kemarin dia bilang ada simulasi ujian atau apalah. Lagian, siapa juga yang ngarepin dia?" Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Jihan merasa ada yang kosong. Setelah malam di ruang musik itu, ia terbiasa dengan kehadiran Jagad sebagai "gangguan" yang memicu adrenalinnya. Tanpa gangguan itu, suasana terasa hambar. Di tempat lain, suasana tidak kalah tegang. Jagad Rayyan berdiri di ruang kerja ayahnya yang megah namun terasa mencekam. Di atas meja jati itu, terletak sebuah brosur bimbingan belajar khusus hukum dan formulir pendaftaran universitas ternama. "Papa sudah siapkan sopir untuk antar kamu ke tempat simulasi pagi ini. Tidak ada alasan untuk terlambat lagi, Jagad," ucap Pak Rayyan tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. Suaranya datar, namun setiap katanya adalah perintah yang tak bisa dibantah. "Pa, Jagad ada urusan di sekolah pagi ini. Soal anggaran OSIS yang harus segera diputuskan," Jagad mencoba mencari celah. Ia tidak berani menyebut nama Jihan, apalagi kompetisi piano. Pak Rayyan mengangkat kepalanya. Tatapan matanya setajam elang. "Urusan OSIS itu sampingan. Tugas utama kamu adalah memastikan kursi di fakultas hukum itu milik kamu. Papa dengar kamu sering berada di gedung seni belakangan ini. Untuk apa? Menonton orang bermain musik tidak akan membantu kamu menjawab soal ujian." Jagad mengepalkan tangan di balik saku celananya. "Musik bukan sekadar tontonan, Pa. Itu juga bentuk prestasi sekolah—" "Prestasi yang tidak berguna untuk masa depan kamu," potong Pak Rayyan dingin. "Sekarang berangkat. Papa tidak mau dengar laporan dari sopir kalau kamu pergi ke tempat lain." Jagad keluar dari ruangan itu dengan langkah berat. Di lobi rumahnya, ia melihat Galang yang sudah menunggu dengan motornya, berpura-pura ingin meminjam buku catatan Jagad sebagai alasan untuk bertemu. "Gimana, Gad? Mobil bokap lo udah standby di depan," bisik Galang saat mereka berdiri di teras. Jagad melirik sopir pribadinya yang sedang memanaskan mesin mobil. "Gue nggak punya pilihan, Lang. Dia bakal tahu kalau gue meleset." Galang menghela napas, menepuk bahu sahabatnya. "Jihan bakal main jam sepuluh. Ini udah jam sembilan lewat lima belas. Kalau lo mau nekat, sekarang saatnya. Gue bisa distraksi sopir lo, bilang kalau lo harus ambil berkas di rumah gue dulu." Jagad menatap jalanan di depan rumahnya, lalu beralih ke gantungan kunci piano milik Jihan yang masih ia simpan di saku. "Lang... kalau gue nggak dateng, dia bakal mikir gue cuma tukang bual yang nggak peduli sama taruhan itu." "Bukan cuma soal taruhan, kan?" Galang tersenyum miring. "Lo peduli sama dia." Kembali ke Aula Kesenian. Nama Jihan Selaras akhirnya dipanggil oleh pembawa acara. "Peserta nomor urut 14, Jihan Selaras dari SMA Cakrawala." Lampu panggung yang terang benderang menyambutnya saat ia melangkah ke tengah. Sunyi menyelimuti ruangan. Jihan membungkuk hormat kepada dewan juri, lalu duduk di depan piano Steinway & Sons yang megah. Ia menatap tuts-tuts itu. Ingatannya kembali ke malam itu. “Tutup mata lo. Jangan liat partitur itu sebagai musuh. Cuma lo dan suara itu.” Jihan menarik napas panjang. Ia mulai memainkan nada pertama. La Campanella. Melodi yang awalnya menyerupai denting lonceng kecil yang lincah itu mulai mengalun. Namun, ada yang berbeda. Jihan tidak bermain dengan amarah. Ia bermain dengan kerinduan. Kerinduan akan kebebasan, kerinduan untuk dipahami, dan... kerinduan akan sosok yang memberinya kopi hazelnut di tengah malam yang dingin. Di kursi penonton, Manda menahan napas. Ia belum pernah mendengar Jihan bermain seindah ini. Bukan hanya teknis yang sempurna, tapi ada emosi yang tumpah di setiap nadanya. Tiba-tiba, dari pintu belakang aula yang terbuka sedikit, sesosok cowok masuk dengan napas tersengal-sengal. Rambutnya berantakan, dan ia masih mengenakan kemeja yang sedikit kusut. Jagad Rayyan. Ia berdiri di kegelapan barisan paling belakang, matanya langsung tertuju pada satu titik: gadis di atas panggung itu. Jagad terpaku. Ia merasa resonansi yang Jihan ciptakan benar-benar sampai ke ulu hatinya. Ia melihat bagaimana Jihan seolah menyatu dengan instrumennya. Di saat itu, Jagad sadar bahwa ia telah kalah. Bukan kalah dalam taruhan nilai, tapi kalah dalam usahanya untuk tetap tidak peduli. Saat nada terakhir bergema dan menghilang, aula itu tetap sunyi selama beberapa detik sebelum akhirnya meledak dalam tepuk tangan yang meriah. Jihan berdiri, membungkuk, dan matanya secara refleks mencari ke arah barisan penonton. Dan di sana, di antara kerumunan orang yang berdiri memberikan standing ovation, ia melihatnya. Jagad. Cowok itu tidak bertepuk tangan dengan heboh. Ia hanya berdiri diam, menatap Jihan dengan senyum tipis—senyum yang paling tulus yang pernah Jihan lihat. Setelah acara selesai, Jihan berlari menuju lobi, mengabaikan beberapa orang yang mencoba memberikan selamat. Ia mencari sosok jaket varsity hitam-merah itu. "Jagad!" teriak Jihan saat melihat Jagad baru saja hendak keluar menuju parkiran. Jagad berhenti dan berbalik. "Hebat, Han. Lo beneran bikin loncengnya bunyi di telinga semua orang." Jihan berhenti di depan Jagad, napasnya naik-turun. "Lo dateng. Gue pikir lo nggak bakal bisa." "Gue harus liat calon pemenang taruhan gue, kan? Biar gue tahu warna pink apa yang cocok buat atap ruang musik lo kalau lo kalah," ejek Jagad, mencoba menutupi rasa harunya. "Gue nggak bakal kalah, Gad. Juri tadi bahkan sampai berdiri pas gue selesai," Jihan tersenyum lebar, matanya berbinar. "Tapi... gimana simulasi lo? Bokap lo nggak marah?" Wajah Jagad sedikit berubah, tapi ia segera menutupinya. "Aman. Galang bantuin gue 'menghilang' sebentar. Tapi gue harus balik sekarang sebelum sopir gue sadar kalau yang duduk di jok belakang rumah Galang itu cuma tumpukan bantal." Jihan tertawa kecil, tapi kemudian ia terdiam. Ia melihat luka memar kecil di sudut bibir Jagad yang sepertinya baru. "Gad... itu kenapa?" Jagad menyentuh sudut bibirnya, lalu meringis. "Biasa, kena bola pas latihan tadi pagi. Udah ya, gue cabut dulu. Inget, trofinya bawa ke sekolah hari Senin. Kalau nggak, anggaran futsal tetep jalan!" Jagad segera memakai helmnya dan memacu motornya pergi. Jihan berdiri di sana, menatap kepergian Jagad dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Jagad sedang berbohong. Luka di bibir itu bukan karena bola basket. Dan ia tahu, kehadiran Jagad di sini hari ini pasti dibayar dengan harga yang sangat mahal. Minggu malam, Galang duduk di teras rumah Jagad, memperhatikan sahabatnya yang sedang mengompres wajahnya dengan es batu. "Bokap lo beneran keterlaluan, Gad. Cuma karena lo telat satu jam ke tempat simulasi, dia sampai main tangan?" Galang bicara dengan nada marah yang tertahan. Jagad menghela napas, menatap langit malam yang tanpa bintang. "Bagi dia, telat satu jam itu sama dengan kegagalan seumur hidup, Lang. Tapi nggak apa-apa. Liat Jihan main tadi... rasanya sepadan." Galang terdiam. Ia melihat Jagad yang biasanya selalu mementingkan logika, kini mulai bertindak dengan perasaan. "Lo beneran suka sama dia, ya?" Jagad terdiam cukup lama. "Gue nggak tahu, Lang. Yang gue tahu, pas dia main piano tadi, dunia gue yang berisik ini mendadak sunyi. Dan buat pertama kalinya, gue merasa... bebas."Kapal *The Melodic Wind* meluncur membelah kegelapan ruang angkasa menuju bola raksasa pijar yang menjadi sumber segala kehidupan di Tata Surya. Matahari. Dari kejauhan, ia tampak seperti kelereng emas yang tenang, namun semakin dekat mereka terbang, kenyataan mengerikan mulai terlihat. Permukaan Matahari yang biasanya bergejolak dalam harmoni nuklir kini tampak seperti luka terbuka. Bintik-bintang hitam—virus keheningan Malakor—menyebar seperti kanker di atas fotosfer, menyedot energi panas dan mengubahnya menjadi kekosongan yang dingin.Di dalam kabin, suhu mulai merangkak naik meski sistem pendingin Lyran bekerja maksimal. Udara terasa berat dan berbau seperti logam yang terbakar."Jihan, sistem perisai kita berada di kapasitas 85%," teriak Kael, keringat bercucuran dari balik kacamata datanya. "Begitu kita masuk ke korona, kita nggak bakal punya jalan pulang lewat cara konvensional. Kita bakal bergantung sepenuhnya pada aliran angin surya."Jihan berdi
Dermaga Aethelgard bergetar bukan karena mesin, melainkan karena frekuensi purba yang dilepaskan saat para teknisi Lyran memasangkan "Sayap Suara" pada lambung *The Melodic Wind*. Kapal layar kayu jati yang sebelumnya tampak antik itu kini bertransformasi. Di sisi kanan dan kirinya, terbentang layar transparan yang terbuat dari jalinan foton musik, berpendar dengan warna aurora yang terus berubah mengikuti suasana hati para penumpangnya.Jihan berdiri di ruang kemudi, menatap instrumen baru yang dipasang oleh *The First Harmonizer*. Alih-alih tuas besi, kini ada serangkaian dawai cahaya yang melayang di udara. "Kael, lo yakin kita bisa kendaliin benda ini?" tanya Jihan, suaranya sedikit gemetar saat melihat angka-angka spektrum frekuensi yang melonjak di layar hologram Clarissa.Kael menyeka keringat di dahinya, kacamata datanya memantulkan ribuan baris kode Lyran. "Secara teori, Jihan, kapal ini nggak lagi bergerak lewat ruang, tapi lewat 'Lipatan Nada'. Kita ngga
Pintu palka *The Melodic Wind* terbuka dengan desisan uap aromatik yang berbau seperti campuran kayu cendana dan ozon. Saat kaki Jihan menyentuh lantai dermaga Aethelgard, ia tidak merasakan dinginnya logam, melainkan kehangatan material organik yang terasa hidup di bawah sol sepatunya. Stasiun ini bukan sekadar pangkalan luar angkasa; ini adalah sebuah mahakarya arsitektur akustik yang dibangun dari kristal hidup yang tumbuh mengikuti harmoni bintang raksasa di pusatnya.Di sekeliling mereka, makhluk-makhluk dari berbagai penjuru galaksi berlalu-lalang. Ada yang berbentuk seperti ubur-ubur cahaya yang melayang, ada pula yang menyerupai raksasa batu dengan banyak tangan. Namun, mayoritas penduduk di sini adalah ras *Lyrans*—makhluk tinggi ramping dengan kulit berwarna perak kebiruan dan jari-jari panjang yang berjumlah tujuh di setiap tangan. Mereka tidak berbicara dengan kata-kata; setiap kali mereka membuka mulut, yang terdengar adalah rangkaian nada *pentatonis* yang mer
Kehampaan ruang angkasa ternyata tidak sesunyi yang digambarkan buku-buku pelajaran di SMA Cakrawala. Di atas geladak *The Melodic Wind*, kapal layar dimensi yang kini menjadi rumah baru bagi Tim Resonansi, suara adalah napas. Kapal ini tidak digerakkan oleh pembakaran kimia, melainkan oleh tekanan radiasi suara yang ditangkap oleh layar-layar sutra peraknya. Layar itu berkibar bukan karena angin, tapi karena gelombang frekuensi sisa dari ledakan bintang di kejauhan.Jihan berdiri di haluan, jemarinya meraba ukiran kayu jati kuno yang terasa hangat. Di bawah telapak kakinya, ia bisa merasakan getaran mesin inti kapal—sebuah kotak kayu berisi pasir hitam dari pusat galaksi yang terus bergeser menciptakan nada statis yang menenangkan."Masih belum percaya kita beneran ninggalin Bumi?" suara Jagad memecah lamunan Jihan.Jagad datang sambil memantulkan bola basket kristalnya. Di gravitasi buatan kapal ini, bola itu memantul dengan irama yang sedikit lebih lamb
Permukaan bulan adalah tempat di mana keheningan bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah entitas yang menindas. Di sini, tidak ada molekul udara yang bisa digetarkan untuk menciptakan melodi. Jagad berdiri di ambang pintu palka *Resonance-0*, menatap hamparan abu vulkanik abu-abu dan kawah-kawah yang tampak seperti luka di wajah rembulan. Di kejauhan, Bumi menggantung seperti kelereng biru yang rapuh, satu-satunya sumber warna di tengah monokrom kosmik ini."Ingat, di sini suara tidak merambat lewat udara," suara Kael terdengar di dalam helm taktis mereka melalui sistem *bone conduction* (konduksi tulang). "Kalian tidak akan mendengar drible bola atau dentuman drum dengan telinga. Kalian harus merasakannya lewat getaran di telapak kaki dan tanah bulan yang kalian pijak. Kita akan menggunakan tanah ini sebagai medium transmisi."Jihan melangkah keluar, diikuti oleh instrumen pianonya yang kini melayang menggunakan teknologi antigravitasi. Di belakangnya, Gala
Guyana Prancis menyambut mereka dengan kelembapan hutan tropis yang menyesakkan, sebuah kontras yang tajam dari dinginnya Himalaya yang baru saja mereka tinggalkan. Di tengah rimbunnya hutan Amazon yang tersembunyi dari radar publik, berdiri sebuah fasilitas yang lebih menyerupai katedral futuristik daripada pangkalan antariksa. Inilah proyek "Solitude", pangkalan peluncuran rahasia milik konsorsium Mr. Singh yang telah dikembangkan selama dua dekade menggunakan cetak biru terlarang milik Ardi Selaras.Di tengah hangar raksasa itu, *Resonance-0* berdiri tegak. Pesawat itu tidak berbentuk seperti roket konvensional NASA. Bentuknya lebih menyerupai tetesan air yang memanjang, dengan lambung yang terbuat dari paduan keramik dan kristal kuarsa transparan. Tidak ada tangki bahan bakar hidrogen raksasa; sebagai gantinya, di bawahnya terdapat sebuah ruang resonansi berbentuk bola yang akan mengubah getaran suara menjadi daya dorong kinetik."Ini gila," gumam Bagas sambil







