LOGIN**
Ulang tahun Miss Widya hanya tinggal beberapa hari saja. Tapi bagi Gending rasanya seperti menunggu beberapa tahun.
Ia bahkan lebih tak sabar dari pada Miss Widya yang genap umurnya akan dirayakan itu. Gending menjadi begitu bersemangat ketika mengerjakan hal apa pun yang diperintah oleh Miss Widya.
Ketika Gending mengambil jatah libur dan pergi mengunjungi Iroh, ia pun menceritakan progress itu dengan sangat antusias.
“Kalau sudah lamaran, paling tidak, setelah itu akan menyusul ke pernikahan. Iya kan, Iroh?” Kata Gending pada Iroh meminta persetujuan.
“Iya, Mas. Mudah-mudahan disegerakan Tuhan.”
“Amin.”
“Kalau Miss Widya sudah menikah. Selanjutnya bagaimana?” Tanya Iroh kemudian.
“Bagaimana, kamu bilang? Ya tentu saja kita yang menikah. Setelah itu kita pergi ke Riau. Kita menempati lahan warisan ibuku. Kita berkebun, beternak, dan.., beranak pinak.
**“Jadi, sekarang ini kamu mengajak aku untuk bertemu dengan Mr. Robert itu?” Tanya Gending pada Pak Charles.“Oh, tidak, belum bisa. Mr Robert sedang tidak berada di Jakarta. Nanti kamu akan saya ajak untuk menemui tangan kanan Mr Robert itu.”“Siapa?”“Nanti juga kamu akan tahu.”“Siapa?” Ulang Gending bertanya.Pak Charles menyangka Gending kurang dengar, ia pun mengulangi jawabannya lagi.“Nanti juga kamu akan tahu.”Gending bertanya lagi dengan suara yang kian mengeras.“Aku tanya, siapa namanya??”“Nanti juga..,”“Aku tidak mau nanti! Aku mau sekarang! Siapa nama tangan kanan Mr Robert itu??”“Oh, maaf, maaf. Kamu tidak sabaran ya. namanya adalah Pak Dirga.”“Pak Dirga..??” Gending terkesiap.Nama itu., nama itu..,Gending mau menyusul dengan
**Bagi Gending, perjalanan bersama Pak Charles dan Kenzo ini terasa semakin mendebarkan saja. Pasalnya, ia tidak bisa mendapat gambaran tentang rahasia apa yang akan diungkap oleh Pak Charles nanti.Mr Robert, satu nama yang membuat dirinya amat penasaran. Gending ingat, nama ini pernah disebut oleh Mbak Vera ketika mereka berdua sedang membahas jadwal Miss Widya.Apakah Mr Robert ini, dengan yang dimaksud Pak Charles adalah orang yang sama?“Aku tentu tidak bisa mendapat jawaban kalau menolak ajakan si Charles ini,” pikir Gending.Lagi pula, dalam waktu bersamaan Gending juga teringat dengan informasi yang ia dapat dari Paman Gimun dulu, ketika mereka pertama kali bertemu.Bahwa kematian Pak Wisnu Wibisono bukanlah murni akibat kecelakaan lalu lintas. Akan tetapi, disebabkan oleh skenario busuk sekelompok mafia.Teringat pada informasi itu, tidak menutup kemungkinan Miss Widya menjadi korban berikutnya.“Ata
**“Kalian bertiga, bekerja untuk siapa?”Pak Charles tersenyum sebentar. Senyum yang begitu kentara untuk menyembunyikan kegugupannya.Ujarnya kemudian, “Bagaimana kalau pertanyaan itu nanti saja saya jawabnya.”“Saya mau jawaban sekarang. Kalian bekerja untuk siapa?” Ulang Gending bertanya, dengan nada yang dalam tapi mengancam.“Begini, Gending..,” Belum selesai Pak Charles berbicara langsung dipotong oleh Gending.“Pertanyaan terakhir, dan kalau setelah ini aku tidak mendapat jawaban maka leher kamu akan langsung aku patahkan. Kalian bekerja untuk siapa?”Pak Charles menelan ludah kecut. Akhirnya, ia menjawab.“Un.., untuk Mr. Robert.”“Mr. Robert. Siapa itu?”“Kamu mau bertemu dengan dia?” Balas Pak Charles dengan pertanyaan pula.“Kenapa tidak? Kapan? Di mana? Tapi jawab dulu, siapa itu Mr. Robert?&rd
**Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pukul sembilan pagi, Pak Charles menelepon Gending ketika ia baru saja menerima satu bundel dokumen dari Pak Bisma.“Halo, Gending?”“Ya, halo.”Gending berjalan pelan-pelan di lorong kantor, menuju ke lift.“Dokumen dari Pak Bisma sudah kamu terima?”“Sudah.”“Buang saja dokumen itu. Toh tidak berguna juga.”Nah! Benar dugaan Gending kemarin. Dokumen, bandara Sukarno Hatta, dan semua yang terkait dengan ini adalah akal-akalan Pak Charles.Sejak beberapa hari yang lalu dia pasti tetap berada di Jakarta ini, dan tidak sedang di luar kota atau luar negeri.“Oke,” sahut Gending berusaha tenang.“Sekarang, saya mesti ke mana? Ke suatu hotel di dekat bandara Sukarno Hatta? Atau..,”“Oh, tidak, tidak. Sekarang, emm.., kamu disuruh bawa mobil sendiri, bersama dengan Pak
**“Lalu yang kedua, saya sedang gugup.”“Gugup? Gugup kenapa?” Tanya Miss Widya penasaran.Gending tak segera menjawab. Jujur, perintah Miss Widya tadi untuk mengantarkan sebuah dokumen kepada Pak Charles membuat ia tiba-tiba merasa gelisah, dan ya, gugup.Ia sadar bahwa pertemuannya dengan Pak Charles nanti akan mengandung suatu bahaya. Menunggu sampai besok, menunggu sampai nanti bertemu dengan Pak Charles itu tak pelak membuat ia tidak tenang.Ini mirip dengan perumpamaannya seperti seseorang yang akan menghadapi hukuman. Semakin diulur maka semakin membuat deg-degan.Jika ia boleh memilih, ingin sekali ia menghadapi apa pun bahaya itu sekarang juga. Tidak harus menunggu sampai besok.Anehnya di sini, inisiatif yang muncul pada diri Gending adalah, bahwa satu porsi es krim bisa meredakan kegugupannya, seperti kebiasaan Misss Widya selama ini.Is it work—manjur? Entahlah, Gending belum merasa. A
**Miss Widya memanggil. Ada apakah?Ternyata tidak ada apa-apa. Ia hanya meminta untuk diantar pulang. Masih pukul lima kurang, tapi sang CEO muda itu ingin pulang cepat. Gending langsung tanggap. Ia memberesi ruangan kantor Miss Widya seperti biasa. Sembari melakukan itu ia juga menghubungi Pak Murad untuk menyiapkan mobil di lobi bawah.“Mari, Miss.” Ujar sang ajudan, membimbing dan mengawal bossnnya ini turun ke lantai dasar. Ia juga membawakan tas kerja Miss Widya yang berisi laptop dan beberapa dokumen.Sewaktu di dalam lift, Miss Widya berinisiatif membuka percakapan.“Besok, saya tidak ada agenda apa-apa kan?”“Tidak ada, Miss.”“Oke, besok saya minta tolong. Kamu pergi ke Sutta. Kamu antarkan satu dokumen yang sudah disiapkan oleh Pak Bisma.”“Sutta yang Miss maksud ini, apakah bandara Sukarno Hatta?”&l







