Mag-log in**
“Oh ya Mas, ada yang mau aku kasih tahu nih.”
“Apa?”
“Nanti, minggu depan, Mikhail akan ikut lomba melukis lho.”
“Hem-hem? Lomba melukis? Di mana tuh?” Tanyaku bersemangat.
“Di TMII.”
“Taman Mini Indonesia Indah?”
“Iya.”
Aku langsung tersenyum. Sebuah kenangan yang melankolis seketika berkelebat di dalam kepalaku. Di sebuah jalan dekat TMII itula
**“Fortuner warna hitam ya?”“Iya.”Miss Widya masih membutuhkan beberapa saat lagi untuk memastikan pandangannya sendiri.“Tidak ada.” Jawabnya kemudian, sembari kembali pada posisi duduknya semula.Gending sontak menarik nafas lega. Secara perlahan ia pun mulai mengendurkan kecepatannya, kembali ke batas normal aturan jalan raya.“Kenapa? Ada apa?” Tanya Miss Widya.Gending tidak bisa menahan jawabannya hingga mereka sampai rumah. Miss Widya terlalu tidak sabar.“Tadi ada mobil fortuner hitam di belakang kita, Miss. Saya baru sadar sewaktu kita mau berbelok di persimpangan yang menuju ke PIK tadi.”“Saya batal belok, dan langsung mengambil jalan yang lurus saja. Saya mau memastikan apakah mobil itu benar-benar membuntuti kita.”“Ternyata, benar. Dia mengekori kita. Saya ngebut dia ikut ngebut. Saya lambat dia pun ikut melambat.”
**Gending melirikkan matanya ke atas, pada kaca spion tengah untuk melihat mobil SUV berwarna hitam itu.Sembari terus mengemudi ia juga melirik bergantian pada kaca spion kanan dan kiri. Selang beberapa saat kemudian ia pun bisa mengidentifikasi mobil tersebut, yaitu sebuah fortuner.Nomor pelatnya? Sayang Gending tidak bisa melihatnya. Selain karena gelap malam, juga sulit akibat jarak yang masih cukup jauh.Juga karena ada halangan dari mobil-mobil lain yang sesekali melintas mendahului mereka. Perasaan Gending menjadi tidak enak. Nalurinya memberi tahu bahwa ada bahaya yang mengintai mereka. Akan tetapi, sekejap kemudian ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.“Bisa saja mobil fortuner itu mempunyai tujuan yang sama, ke kawasan Pantai Indah Kapuk juga.”Gending terus berpikir. Antara membujuk nalurinya supaya ia bisa tenang dengan prasangka baik, atau membiarkan
**“Misalnya kamu dijodohkan oleh seseorang. Apakah kamu bersedia?”Gending tersenyum tipis, lebih ke arah mencibir sebenarnya. Sejauh yang pernah ia alami perjodohan adalah sesuatu yang menyakitkan.Tentu saja ia berkaca dari kisahnya sendiri dengan Ceu Lena. Seandainya pun Gending tahu bahwa ia dijodohkan oleh kuntilanak tantrum di depannya ini, belum tentu juga ia bisa menerima.Karena Iroh telah mengisi seluruh ruang di dalam hatinya. Penuh, tidak ada lagi celah yang tersisa untuk wanita lain.Gending kemudian menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Miss Widya barusan. Putri Wibisono ini langsung terhenyak melihat gelengan kepala Gending itu.Duh, ia geregetan.“Kenapa? Kenapa kamu tidak bersedia?”“Karena.., karena apa ya.., hemm, tidak suka saja.”“Tidak suka kamu bilang, tentu ada alasannya.”“Iya, ada alasannya. Tapi sekarang ini cukup sulit untuk sa
**“Aku mau tanya nih.”“Tanya apa lagi?”“Emm, bukan pertanyaan penting sih. Ini pertanyaan receh, dan tidak ada hubungannya dengan cerita kamu tentang macan yang tadi.”“Iya, apa?”Miss Widya menatap ponsel Gending yang tergeletak di atas meja, bersebelahan dengan ponsel miliknya sendiri.Untuk beberapa saat Miss Widya merasa kesal sendiri. Alasannya, karena telah beberapa kali ia ingin membelikan Gending ponsel yang baru, yang lebih canggih, dan lebih bergengsi, namun selalu ditolak oleh sang ajudan ini.Gending selalu beralasan bahwa ponselnya masih bagus, dan masih cukup reliable untuk kebutuhannya sehari-hari.Sekali-kalinya Miss Widya pernah membelikan ponsel tanpa sepengetahuan Gending, malah kemudian ponsel yang baru itu Gending berikan pada Mbak Puspa.“Di hape kamu, aku tidak melihat wallpaper yang.., custom, atau, foto dan gambarnya sesuai dengan settingan
**“Miss mau mendengar kisah tentang Lena? Atau macan?”Tiba-tiba Miss Widya tergeragap. Ia sadar telah membelokkan kisah dari yang seharusnya ia dengar.“Eeee.., Lena. Lena dulu kamu ceritain. Nanti kamu ceritain lagi tentang macan itu.”Gending tersenyum tipis.“Waktu saya pulang dari rumah sakit dan dirawat di rumah, Lena juga selalu meluangkan banyak waktunya untuk merawat saya.”“Dia menyuapi saya makan. Dia meminumkan obat. Dia membalurkan obat di sekujur punggung saya yang terluka. Dia.., dia..,”“Singkat cerita, begitulah hari demi hari dan waktu demi waktu, saya lewati dengan interaksi yang intens dengan Lena.”“Jadi, kalau Miss menanyakan alasan apa yang membuat saya jatuh cinta pada Lena. No, no reason. Tidak ada alasannya.”“Cinta yang saya alami itu tumbuh secara alami. Dari sebutir benih, lalu berkecambah, berdaun, berbatang dan..
**“Siapa cinta pertama kamu, Gending?” Tanya Miss Widya tiba-tiba.Gending yang menerima pertanyaan itu tidak segera menjawab.Ia menyeruput kopinya satu kali, lalu kembali membuang pandangannya pada sebuah danau kecil yang ada di sisi coffe shop tempat mereka duduk ini.Sebenarnya itu bukanlah danau. Hanya sebuah empang, situ, atau waduk penampung air yang berdimensi lumayan lebar.Penataan yang apik oleh pengelolanya membuat waduk itu menjadi tampak indah dan sedap dipandang mata. Terlebih lagi pada malam hari begini.Gending kemudian menunduk, dan mengangguk-angguk tanpa memaksudkan untuk apa-apa.Sang ajudan ini tidak perlu lagi bersikap waspada karena ia telah memetakan situasi kafe dan membuat proyeksi seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Cinta pertama, selalu mengingatkan Gending pada sesuatu yang membuatnya merasa miris dan juga
**Hari sudah menjelang subuh ketika aku dan Miss Widya sampai di rumah Acropolis. Usai memarkirkan mobil di depan garasi aku lalu membantu Miss Widya turun dari mobil.“Tidak usah,” katanya pelan, menolak uluran tanganku yang mau membantunya berjalan.“Saya
**Menjelang pukul sembilan malam, semua tamu undangan sudah datang. Kelvin juga sudah hadir, dan segera menjadi magnet bagi para tamu itu.Miss Widya pun sibuk memperkenalkan pacarnya itu kepada seluruh tamu yang kebanyakan adalah sahabat lamanya.Mereka semua segera terliba
**Pesta di kafe Oceanus terus berlanjut. Semua orang pun larut di dalam kemeriahan dan juga kegembiraan.Di bagian sentral sana ada Miss Widya yang berdansa dengan Kelvin. Mereka berdua melebur bersama beberapa pasangan lain yang bergoyang mengikuti irama musik. Acara
**“Nanti aku kirimkan mereka berdua ke kamu sudah komplit terbungkus dengan kain kafan!”Mendengar semua ocehanku di telepon ini, dua orang misterius di depanku semakin tercekat saja. Kembali mereka saling melirik, dan berkomunikasi dengan bahasa kode.Sete







