LOGIN**
“Oh ya Mas, ada yang mau aku kasih tahu nih.”
“Apa?”
“Nanti, minggu depan, Mikhail akan ikut lomba melukis lho.”
“Hem-hem? Lomba melukis? Di mana tuh?” Tanyaku bersemangat.
“Di TMII.”
“Taman Mini Indonesia Indah?”
“Iya.”
Aku langsung tersenyum. Sebuah kenangan yang melankolis seketika berkelebat di dalam kepalaku. Di sebuah jalan dekat TMII itula
**“Apa yang mesti aku lakukan selanjutnya?” Tanyaku dalam hati.Kecemasanku tidak berkurang terhadap keselamatan Miss Widya. Aku juga merasa begitu sedih karena karena belum sempat menyambangi Venus yang masih dalam keadaan sekarat di ujung sana.Venus si anjing pintar itu, dengan kepalanya yang tergolek miring ia terus menatap aku. Kedua matanya bercahaya, memantulkan seberkas sinar dari lampu gantung di atasnya.“Guk..!” Ia menggonggong, suaranya lemah sekali.Sementara dalam waktu yang sama, Dirga Dwipa mantan ayah tiriku itu mulai menggulung lengan baju safarinya.Di samping dia ada Mr Robert, juga ada Kelvin yang sibuk membalut luka bekas gigitan Venus dengan kain ala kadarnya.Tiba-tiba, Bang Jambrong yang punggungnya menempel padaku berujar,“Maju kalian! Biar ane habisin ente semua!”Aku terkejut mendengar itu. Kampret nih sih kribo, keluhku dalam hati.Sedangkan dia sa
**Aku melompat sambil bersalto ke arah Barok dan,Doorrr..!Si Guile melepaskan satu tembakan lagi.Niat hati sebenarnya dia mau menembak aku. Akan tetapi, momen itu bersamaan dengan aku yang bersalto ke arah Barok, sehingga Barok lah yang terkena tembakan itu.“Aaaakh..!” Barok memekik sekali lagi.Dirinya yang tadi masih berlutut sekarang berada dalam keadaan duduk bersimpuh, karena yang terkena tembakan nyasar tadi adalah pangkal perutnya.Kesakitan dari tulang sikut dan lututnya yang telah aku patahkan sekarang bertambah-tambah dengan sebuah timah panas yang bersarang di pangkal perutnya itu.Darahnya segera membanjir, membasahi kaos dan celana jins yang ia pakai, lalu turun tetes demi tetes dan mulai menggenangi lantai. Aku yang tadi mau menyerang Barok untuk menghabisinya, malah sekarang diam mematung di sisi Barok, dalam posisi setengah membungkuk dan tetap siaga, sembari menatap Si Guile dengan
**Si Guile itu menembak..,Doorr..!Seketika saja, Venus yang tengah mengejar Kelvin pun jatuh tersungkur. Sebuah peluru telah menembus badannya.Ia menggonggong satu kali, mengerang menahan sakit, lalu berusaha bangkit kembali.Dan ya, ia berdiri lagi.Spiritnya sebagai makhluk setia nan pengabdi tak luntur meskipun tubuhnya sendiri telah tertembus peluru, dan darahnya bertetesan dengan begitu derasnya, membasahi lantai gudang titik demi titik seiring langkahnya yang terseok dan pincang.Brug..! Venus jatuh kembali.Kali ini ia sudah tidak mampu bangkit. Tubuhnya tergolek, dengan kepala yang terkulai di lantai.Lidahnya terjulur, nafasnya tersengal-sengal dan ekornya masih terangkat setengah dan bergerak-gerak lemah, pertanda semangat juangnya belum patah.Namun, pandangan mata Venus itu menyiratkan kesakitan yang teramat dahsyat. Lewat tatapannya itu pula, seakan-akan ia ingin memberi tahuku, bahwa ia memohon m
**Aku menunjuk Kelvin yang tampak begitu menjijikkan itu.“Venus! Habisi dia!”Tanpa diperintah dua kali Venus segera berlari menuju ruang penyekapan itu. Ia menyalak penuh amarah.“Guk.! Gukk..!”Tapi sayang, Venus tertahan oleh pintu ruangan yang tertutup. Ia lantas berlari mondar-mandir di sepanjang sisi dinding yang terbuat dari kaca, mencari celah. “Guk..! Gukk..!”Venus menabrak pintu, brak! Tak berhasil.Ia menabrak dinding, brak! Juga tak berhasil.Di dalam situ, Kelvin sempat tersenyum mencibir ke arahku dan juga Venus. Rautnya mengejek. Ia yakin bahwa Venus tidak akan bisa memasuki ruangan.Venus pasti tidak akan bisa membuka pintu, begitu pikir Kelvin. Dan, di situlah Kelvin salah menilai. Venus telah begitu cerdas dengan pelatihan yang selama ini aku beri.Setelah gagal menerobos pintu dan juga dinding kaca, ia kemudian menggigit handel pintu dan menar
**Aku memanggil bantuan dengan cara..,“Suiiitt..!” Aku bersuit dengan sangat keras.Segera setelahnya aku berjumpalitan ke belakang, menghindari sabetan golok dari seorang lawan.Satu bandit di belakangku langsung bersiap dengan balok kayu, berancang-ancang mau memukul.Tapi dia terkecoh, karena tepat satu langkah kemudian aku membungkuk sambil melesatkan satu tendangan ke samping.Bug..!“Aaakh..!” Seorang lawan dengan pisau belati pun langsung terjengkang.Aku langsung berkelebat untuk menghindari serangan yang lainnya. Sejurus dua jurus berikutnya aku masuk dalam mode bertahan yang intens.Menghadapi keroyokan para penjahat bersenjata ini aku berusaha untuk tetap mendekati salah satu lawan, supaya aku bisa menjangkaunya, supaya dia kehilangan jarak efektif dengan senjatanya.Sekaligus menimbulkan kerancuan bagi lawan lain yang mau menyasar aku, sebab dia pasti khawatir serangannya akan
**Hingga beberapa detik kemudian, semua orang yang ada di gudang kosong ini terdiam. Seakan mematung pada ruang waktu yang membeku, menatap aku dengan keheranan yang tiada habisnya.Segenting dan setegang apa pun suasananya, namun rasa penasaran kadangkala bisa menunda semua rencana. Itu pula yang terjadi pada mereka semua.“Bagaimana kamu bisa selamat?” Tanya Charles, mengalihkan perhatiannya dari Bang Jambrong dan Doni, kini kepadaku.Niko pun sampai memperhatikan aku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Barok, ia tercekat menelan ludah, dan teramat gugup hingga tak mampu berkata-kata.Pada momen ini aku mempunyai waktu lagi untuk melakukan screening ulang, menakar kekuatan lawan, dan membuat proyeksi yang baru.Aku lantas merespon pertanyaan Charles itu dengan memberi jawaban hiperbolik yang meninggikan status diriku sendiri, untuk menjatuhkan mental mereka tentu saja.“Aku ini titisan macan. Kamu t
**“Sisakan satu peluru.., satu saja. Setelah itu, gantian kamu yang aku tembak!”Tak pelak kata-kata Gending itu membuat semua orang yang ada di geladak kapal yacht ini terpana.Nalar para mafia itu menangkap logika di balik kata-kata Gending, bahwa ia keba
**Mereka adalah Niko, dan.., Barok??Keduanya bersenjata api dan..,Freeze!Sebenarnya, di sepanjang perbincangan dengan Pak Dirga tadi Gending sudah mengetahui dan bahkan yakin bahwa di balik pintu berkaca rayben itu ada orang yang tengah mengintai.Indera pen
**“Di lounge kelas bisnis itu Bapak punya janji dengan siapa?”“Pak Charles.”“Baik, dengan Pak Charles.”Sang resesionis pun mengalihkan pandangannya sedikit ke samping. Ia mencermati layar komputer di depannya untuk memeriksa sebu
**“Lalu yang kedua, saya sedang gugup.”“Gugup? Gugup kenapa?” Tanya Miss Widya penasaran.Gending tak segera menjawab. Jujur, perintah Miss Widya tadi untuk mengantarkan sebuah dokumen kepada Pak Charles membuat ia tiba-tiba merasa gelisah, dan ya, g







