Share

"Ada Apa Ini Sebenarnya?"

Author: Dark_Pen
last update publish date: 2026-09-14 19:58:04

Dada Beno naik turun menahan amarah yang membakar. Sebagai sahabat yang tahu persis seluruh latar belakang kelam dan penderitaan Jaka di masa lalu, tentu saja ia tidak terima jika Pak Herman—dalang di balik kekacauan itu—datang hanya untuk mengucapkan kata maaf dengan begitu mudahnya.

Arum yang tidak tahu-menahu tentang akar masalah masa lalu itu mengernyit heran. Namun, ia memilih untuk tetap diam dan tidak menyela perkataan siapa pun. Melihat respons Beno yang sedemikian emosional, Arum lang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Sagara Benar-Benar Kuat

    Wush! Brak! Satu hantaman telak tombak kembali mengenai puing kayu hingga berhamburan ke segala arah. Untung saja Jaka cukup sigap sehingga dia sama sekali tidak terkena tebasan mematikan tersebut. “Sial!” pekik Jaka di dalam hati, frustrasi dan mulai gelisah. “Bagaimana cara mengalahkan keparat ini?” Wush! Wush! Namun Sagara benar-benar tidak memberi jeda sedikit pun untuk bernapas. Gerakan dan kekuatannya yang kini berlipat ganda mulai membuat Jaka kewalahan setengah mati. Tangan Jaka bahkan mulai bergetar hebat menahan nyeri saat beberapa kali dia terpaksa menangkis serangan penguasa laut barat tersebut. Trank! Lagi-lagi benturan keras yang memekakkan telinga terjadi. Namun sial, kekuatan bilah pedang biasa di tangan Jaka tentu bukan tandingan bagi kekokohan besi tombak tiga cabang milik Sagara. Krek! Trank! Bilah pedang itu akhirnya patah berpotongan, membuat tombak tiga cabang milik Sagara menyapu lurus tanpa penghalang ke arah dadanya. Srash! “Akkhhhh!” Jaka memekik k

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bisikan Nyai Sekarsari

    Kandita menyapukan pandangannya yang basah oleh air mata ke sekeliling. Angin hangat itu tak sekadar berhembus menyejukkan kulitnya yang gemetar, melainkan membawa serta aroma harum melati laut yang amat dihafalnya—aroma khas yang selalu hadir sebagai peninggalan manis dari sosok Nyai Sekarsari. "I-Ibu...?" cicit Kandita parau, nyaris tak terdengar. Suara tangisnya menyangkut dan tertahan di tenggorokan, sementara matanya yang sembap berusaha menembus pekatnya asap dan gulungan debu alun-alun yang menyesakkan, mencari-cari dari mana asal suara misterius itu. Arya Wisesa yang bersimpuh pasrah di sampingnya mengernyit bingung. Ia memandangi keponakannya itu dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran mendalam. "Kandita? Kau bicara dengan siapa?" Namun, Kandita tidak menjawab. Di balik kebingungan dan kekacauan yang melingkupi tempat itu, bisikan lembut tersebut kembali bergaung di kedalaman sukmanya—begitu jernih, menyejukkan, dan serta-merta menentramkan jiwanya yang semula teromb

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Jelmaan Iblis

    “Singkirkan pedang kotormu itu dari leher anakku, bajingan!” Deg! Jaka membelalak, jantungnya seolah berhenti berdetak. Perlahan ia menoleh ke arah sumber suara. “Apa?!” Betapa terkejutnya Jaka, ternyata suara itu berasal dari kepala Sagara uang terlepas dari badannya. Krek! Krek! “Hah?!” Belum hilang rasa syoknya melihat hal itu, tiba-tiba tubuh Sagara tanpa kepala mulai bergerak. Tulang-tulangnya berbunyi gemeretak, sebelum akhirnya mengangkat tangan. “Eng-enggak, enggak mungkin!” Jaka mundur dua langkah, kakinya sedikit gemetar. “Ba-bagaimana mungkin dia bisa hidup lagi?” Jaka menelan ludah susah payah, keringat dingin langsung mengucur deras di keningnya. “Hahaha!” Kepala yang tergeletak di atas tanah itu tertawa lantang, tawanya melengking memecah keheningan alun-alun yang mendadak membeku. Bersamaan dengan gelak tawa gila itu, tubuh tanpa kepala Sagara bangkit berdiri tegak secara perlahan namun pasti. Urat-urat kehitaman menjalar menembus potongan lehernya,

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Apakah Usai?

    Jaka mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, mengerahkan seluruh sisa tenaga. Garis-garis pusaka di tubuhnya yang kini bergetar hangat seolah sedang memasuk energi yang meluap-luap ke dalam tubuhnya. Jaka langsung mengayunkan pedangnya dalam satu busur melingkar yang sempurna, menebas tepat ke arah leher Sagara. “Mati kau, bajingan!” teriak Jaka, mendedikasikan seluruh kemampuannya dalam tebasan pamungkas ini. Srash! Tebasan itu mendarat dengan presisi yang luar biasa sempurna. Darah segar menyembur, menguar ke udara bagai air mancur merah, bersamaan dengan terpisahnya kepala Sagara Wisesa dari batang tubuhnya yang berlumuran darah. Buk! Kepala itu menggelinding bebas di atas papan kayu yang hangus, membuat Kandita yang melihat pemandangan mengerikan itu langsung menutup mulut dan matanya rapat-rapat. Sekalipun ia membenci Sagara Wisesa atas segala kekejian yang telah diperbuat, penguasa laut barat itu pada akhirnya tetaplah ayah kandung yang membesarkannya. “Yes! Berhasil! Jaka

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Jaka Mengamuk

    Jaka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu bahkan selama sepersekian detik. Tanpa menunggu kepulan asap hitam itu menipis, ia melesat maju menerjang kabut dengan tumpuan kedua kakinya yang begitu kuat hingga papan panggung melengkung patah. "Mati kau, Penguasa Keparat!" bentak Jaka dengan suara parau yang penuh gelora kemarahan. Dengan pengerahan kekuatan fisik murni yang memadat di seluruh serabut otot lengannya, Jaka menghantamkan tinju kanannya telak tanpa ampun ke arah rahang bawah Sagara Wisesa. Bugh! Hantaman mentah itu terdengar begitu mengerikan, menciptakan gaung keras hingga bunyi retakan tulang pipi bergemeretak di udara. Kepala Sagara tersentak mendadak ke atas, tubuh tegapnya terdorong mundur tiga langkah besar dengan muncratan darah segar menyembur dari mulutnya yang menganga. "Bajingan tengik!" raung Sagara murka, buta karena amarah dan rasa sakit. Meski matanya masih terasa sangat perih dan berair akibat serbuk letupan, ia secara membabi buta mengayunkan tombak

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bantuan Wira

    “Sagara… kau akan mati hari ini!” Suara itu menggelegar, membelah angkasa pagi yang masih diselimuti sisa kabut tipis di atas alun-alun utama. Wira Perkasa berdiri dengan postur tegap sempurna di atas rabung atap bangunan batu, menggenggam erat busur kayu hitam yang masih bergetar hebat usai melesatkan anak panah pemutus tali gantung Arya. Belum sempat gema teriakan itu mereda, puluhan prajurit elit Kaum Bulan Hitam berbalut jubah dan topeng kelabu melompat turun secara bersamaan dari bubungan atap dan celah lorong-lorong kota. Mereka membanjiri arena pertempuran dengan sorakan perang yang menggetarkan dada, menciptakan gelombang kejut psikologis bagi kubu musuh. "Tuan Jaka! Maaf hamba terlambat!" teriak Wira seraya melompat turun dari ketinggian, mendarat dengan mulus dan langsung menyapu barisan Prajurit Karang Hitam di bawah panggung bersama gelombang pasukannya. "Beno! Arum! Bertahanlah, bantuan sudah tiba!" seru Wira memberi komando tegas, membuat formasi pasukan Bulan Hitam l

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benda Karet Bu Lilis

    Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Desahan di Dalam Gudang

    “Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Gairah Terpendam

    Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai. “Anu, Bu… saya…” Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggi

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Hasrat Bu Lilis

    Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status