LOGINJaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai.“Anu, Bu… saya…”Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggiurkan, lelaki mana yang mampu menolak ajakan hubungan dengan istri Pak Kades yang bohai ini, lagipula Bu Lilis juga menjanjikan kontrakan Jaka yang menunggak dua bulan akan lunas.“Jaka, lihat saya,” kata Bu Lilis lagi, tangannya yang mulus kini mulai memegang pipi Jaka. “Saya rasa kamu orang yang tepat, Jaka. Saya…” Bu Lilis menggantungkan ucapannya. Tangannya kini mulai memegang tangan Jaka dan menuntunnya ke arah dua aset berharga di bawah lehernya.“Saya tahu, selama ini kamu selalu curi-curi pandang ke sini, kan?” katanya lagi yang membuat jantung Jaka berdebar hebat.“Jaka, saya tidak tahu mengapa, akhir-akhir ini kamu cukup menarik,” katanya lagi sambil memegang tengkuk Jaka.Jaka tidak
Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka jika Bu Susi akan memberikannya uang sebanyak itu. “Emang orang kaya mah beda, ngasih 500 ribuan kayak ngasih dua rebu ke tukang parkir,” gumamnya senang. Jaka memegang uang tersebut dengan mata berbinar. “Bisa buat tunggakan kontrakan ini,” gumamnya sambil menyimpan uang tersebut di bawah bantal. Jaka langsung bersiap-siap untuk mandi karena nanti malam ia akan mengunjungi rumah Bu Lilis untuk menyetor uang kontrakan satu bulan lagi. Jaka begitu antusias kali ini, ia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Sejak semalam orang-orang seolah mulai bersikap baik kepadanya. Setelah mandi, Jaka berdiri di depan cermin kecil di dalam kamarnya, memastikan pakaiannya rapi dan
Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jaka yang lumayan sempit membuat dua aset kembar itu tercetak jelas. “Anu, Bu, kok ibu bisa di sekolah sore-sore begini sendirian?” tanya Jaka membuka obrolan. Bus Susi menunduk, kejadian tadi cukup membuat mentalnya terguncang. “Tadi saya telat pulang, ngerjain laporan murid karena ini hampir ujian,” jawab guru cantik itu dengan suara bergetar. “Tapi… pas saya mau keluar, tiba-tiba orang itu ada di sana dan langsung nyeret saya ke dalam.” Bu Susi menoleh ke arah Jaka. “Untung aja ada kamu, Jaka,” katanya dengan mata berbinar. “Makasih, ya?” Jaka menelan ludah, “i-iya, Bu. Sama-sama.” Bu Susi sendiri adalah seorang guru pindahan dari kota, baru sekitar enam bulan lalu ia tinggal di desa in
Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot lengannya yang terasa lebih kekar, perutnya juga mulai tampak sixpack layaknya orang yang rutin nge-gym di tempat kebugaran. Dan yang lebih membagongkan ukuran kejantanannya yang bertambah besar hampir dua kali lipat dari sebelumnya. “Apa gara-gara gelang ini, ya?” gumamnya sambil memperhatikan gelang di tangan kirinya. “Ah! Mana mungkin,” gumamnya lagi. Jaka yang cukup skeptis pada hal-hal berbau supranatural tentu saja tidak percaya jika sebuah benda seperti gelang ini bisa memberikan perubahan yang signifikan dalam hidupnya. “Ya udahlah ya, yang penting gue enggak kenapa-napa,” gumamnya lagi tidak terlalu peduli dengan perubahan aneh tersebut. Setelah cukup beristirahat di rumah, Jaka
Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” sahut Jaka sambil mengulum senyum. Bu Lilis mengernyit, pipinya masih merona. “Kenapa kamu senyam-senyum?” “Eh, anu… enggak, Bu.” Jaka menunduk, namun pikirannya masih bergerak liar memikirkan benda karet yang ia temukan tadi. “Ya sudah, pulang sana,” kata Bu Lilis lagi. “Baik, Bu.” Jaka langsung berjalan masuk ke dalam mengikuti Bu Lilis untuk keluar dari pintu depan. “Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu,” ujar Jaka sambil sedikit menunduk. Bu Lilis hanya mengangguk, tidak menjawab apa-apa. Namun baru beberapa langkah Jaka berjalan, wanita itu kembali memanggil. “Jaka!” Jaka kembali menoleh. “I-iya, Bu.” “Yang tadi… ka-kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya?” katanya gagap, pipinya ben
Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil bersama ayahnya dulu. Ayahnya meninggal saat Jaka masih berusia delapan tahun, saat Jaka masih duduk di kelas 3 SD. Lalu ia melihat uang 500 ribu peninggalan ibunya. “Terima kasih, Bu,” gumamnya lirih. Setidaknya dengan uang ini, Jaka bisa memberikan panjar terlebih dahulu kepada Bu Lilis, berharap wanita itu mau menerimanya dan membiarkannya tinggal di sini lagi. Biaya sewa kontrakan kecil milik Jaka 400 ribu perbulannya. Dia sudah menunggak selama 3 bulan, berarti Jaka membutuhkan uang 1,2 juta untuk melunasi semuanya. Malam harinya. Bermodalkan uang 500 ribu yang ia kantongi, Jaka pergi ke rumah Pak Kades, ia ingin bertemu dengan Bu Lil







