Share

Bu Susi dan Kelas Kosong

Penulis: Dark_Pen
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 16:20:22

Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran.

Jaka meraba otot lengannya yang terasa lebih kekar, perutnya juga mulai tampak sixpack layaknya orang yang rutin nge-gym di tempat kebugaran. Dan yang lebih membagongkan ukuran kejantanannya yang bertambah besar hampir dua kali lipat dari sebelumnya.

“Apa gara-gara gelang ini, ya?” gumamnya sambil memperhatikan gelang di tangan kirinya.

“Ah! Mana mungkin,” gumamnya lagi. Jaka yang cukup skeptis pada hal-hal berbau supranatural tentu saja tidak percaya jika sebuah benda seperti gelang ini bisa memberikan perubahan yang signifikan dalam hidupnya.

“Ya udahlah ya, yang penting gue enggak kenapa-napa,” gumamnya lagi tidak terlalu peduli dengan perubahan aneh tersebut.

Setelah cukup beristirahat di rumah, Jaka kembali mengambil karungnya. Tidak mungkin baginya bisa bersantai-santai saja di rumah seperti ini. Jaka masih memiliki hutang 800 ribu kepada Bu Lilis untuk melunasi kontrakan dua bulan lagi.

Jaka mulai berjalan mengelilingi desa untuk mengais beberapa barang bekas yang bisa ia jual lagi nanti. Di mana ada tumpukan sampah, di situ ada Jaka. Tidak banyak yang ia temukan hari ini, hanya ada beberapa botol plastik dan kardus bekas yang harganya tidak seberapa.

Jaka berteduh di pinggir jalan, menyeka keringat dengan punggung tangannya. “Hmm, mau cari di mana lagi ya?” gumamnya bingung. “Yang di desa udah pada habis semua.”

Sambil terus melihat-lihat sekeliling, akhirnya Jaka teringat satu tempat yang mungkin bisa ia kunjungi.

“Apa ke sana aja, ya?”

Jaka teringat bangunan sekolah dasar di ujung desanya. Sekolah itu sedang ada pembangunan untuk penambahan kamar mandi baru.

“Iya sih, ke sana aja. Dari pada enggak dapat apa-apa di sini,” gumamnya lagi membulatkan tekad.

Akhirnya menjelang sore, Jaka pergi ke sana. Jaraknya tidak terlalu jauh, karena masih di satu desa hanya saja letaknya tepat di perbatasan.

Bangunan sekolah itu tampak sepi, karena jam segini tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar di sana. Sambil melihat sekeliling, Jaka masuk ke dalam pekarangan sekolah tersebut.

Jaka langsung menuju ke belakang, tempat lokasi pembangunan kamar mandi baru dibuat. Di sana ada tumpukan material dan besi bangunan yang masih utuh. Sempat terlintas ingin mencuri besi tersebut dalam pikirannya, namun segera ia urungkan. Jaka lebih memilih mengambil besi-besi sisa yang tidak terpakai lagi.

Namun saat Jaka sedang asik mengutip beberapa besi sepanjang jari telunjuk di tanah, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara teriakan seorang wanita.

“Ahh! Tolong, jangan!”

“Eh, suara siapa itu?” Jaka bangkit, menajamkan pendengarannya. Suara itu sepertinya berasal dari salah satu bangunan kelas di depannya.

Bermodalkan rasa penasaran dan niat menolong takut terjadi apa-apa, Jaka akhirnya buru-buru ke arah sumber suara.

Ternyata di dalam salah satu kelas di belakang, terlihat seorang guru wanita sedang tersudut ke dinding, di depannya ada seorang lelaki bertubuh tinggi tegap.

“Diam! Atau ku robek mulutmu!” ancam si lelaki sambil mengacungkan pisau.

Wanita itu langsung terdiam bisu, melihat bilah pisau yang mengkilap di depan matanya. “To-tolong, jangan sakiti saya,” lirihnya memohon.

Lelaki itu menyeringai buas, ada kilatan nafsu birahi yang memuncak di matanya.

“Kau pilih kulum pisau ini, atau kulum punyaku?” tanyanya sambil melirik ke arah kejantanannya yang mulai bangun di bawah sana.

“To-tolong jangan…”

Namun lelaki itu tidak menggubris sama sekali, ia langsung merobek seragam guru wanita itu dengan pisau di tangannya, hingga dua bukit kembarnya menyembul keluar.

“Akkhh!”

Wanita itu kembali berteriak, namun si lelaki langsung membekap mulutnya dengan tangannya yang hitam legam.

“Puaskan aku hari ini, Bu Susi,” desisnya dengan penuh nafsu.

Namun tiba-tiba, suara pintu yang didobrak langsung mengejutkan mereka berdua.

Brak!

Itu Jaka, pria itu langsung tersentak hebat melihat pemandangan di dalam.

“Jaka! Tolong!” teriak wanita itu tertahan.

“Eh, Bu Susi?!”

Jaka mengenal guru tersebut, karena mereka satu desa. Dan juga, Jaka mengenal sosok lelaki yang bertubuh tegap di depannya, lelaki itu preman dari desa sebelah.

Jaka menelan ludahnya, nyalinya sedikit menciut saat melihat bilah pisau di tangan lelaki itu.

"Heh, pemulung sampah! Mau jadi pahlawan kau?" bentak si preman sambil meludah ke samping. Ia tidak melepaskan bekapan tangannya pada Bu Susi, justru semakin merapat ke arah guru cantik itu.

Jaka gemetar. Matanya melirik ke arah pisau yang berkilau tajam. Namun, saat melihat air mata Bu Susi dan seragamnya yang robek, rasa panas tiba-tiba menjalar dari tangannya hingga ke ubun-ubun.

"Lepaskan Bu Susi!" teriak Jaka. Suaranya terdengar jauh lebih berat dan berwibawa dari biasanya, bahkan ia sendiri kaget mendengarnya.

Si preman tertawa mengejek. "Cari mati kau rupanya!" Ia melepaskan Bu Susi dan menerjang ke arah Jaka dengan pisau terhunus.

Jaka mengerjap, ia terbelalak melihat pisau yang terhunus ke arahnya. Namun anehnya, tubuh Jaka bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia bisa menghindar dengan mudah, lalu dengan cepat mengepalkan tangan kanannya dan meninju preman itu dengan sangat kuat.

Bugh!

“Akhhh!” Preman itu memekik dan terhuyung menabrak meja.

Bruk!

Lalu jatuh dan pisau terlepas dari tangannya. Jaka dengan sigap mengambil pisau itu untuk berjaga-jaga.

Preman itu bangkit perlahan sambil memegang pipinya yang memar akibat tinju Jaka barusan.

“Akhhh! Bedebah!” dengusnya kesal. Namun nyalinya segera ciut saat melihat Jaka sudah berdiri di depannya dengan pisau di tangan.

Tidak ingin mengambil resiko, preman itu akhirnya memilih melarikan diri sambil memberikan ancaman kepada Jaka. “Awas kau bajingan!”

Jaka menghela napas lega, ia sudah cukup takut sejak tadi. Jaka buru-buru menyimpan pisau itu ke dalam karungnya untuk berjaga-jaga takut si preman kembali. Lalu ia menoleh ke arah Bu Susi yang meringkuk di sudut sambil memeluk dadanya yang kini tanpa penutup sehelaipun.

“Bu Susi, ibu enggak apa-apa?”

Bu Susi tidak menjawab, ia hanya terisak kecil dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Rambutnya berantakan, dan wajahnya pucat pasi. Ia berusaha menutupi dua bukit kembarnya yang putih mulus dengan sisa-sisa kain seragamnya yang sudah compang-camping, namun sia-sia. Bagian dadanya tetap terekspos jelas di depan mata Jaka.

Jaka menelan ludah. Di satu sisi, ia merasa iba. Namun di sisi lain, pemandangan bukit kembar yang putih mulus itu benar-benar membuat sesuatu di bawah perutnya bereaksi.

"Bu... i-ini, pakai baju saya dulu," ujar Jaka sambil buru-buru melepas kaos oblongnya.

Kini giliran Jaka yang bertelanjang dada. Bu Susi yang awalnya menunduk, perlahan mengangkat wajahnya untuk mengambil kaos tersebut. Saat itulah mata Bu Susi terbelalak. Ia tidak menyangka di balik baju lusuh Jaka sang pemulung, terdapat tubuh yang begitu atletis dengan otot-otot yang terpahat sempurna.

Bu Susi melongo sejenak, hingga akhirnya ia melepas dekapannya pada dua aset berharganya untuk mengambil kaos di tangan Jaka. Saat itulah, dua bukit kembar itu terlihat jelas di mata Jaka, dua gundukan kenyal yang putih mulus dengan ujung merah muda yang ranum.

Pikiran Jaka langsung bergerak liar, dua aset itu benar-benar indah. Putih, mulus, masih kencang. Dan yang paling membuat Jaka uring-uringan—ujung merah mudanya tampak mengeras seolah mengundang Jaka untuk segera membelainya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Gairah Terpendam

    Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai.“Anu, Bu… saya…”Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggiurkan, lelaki mana yang mampu menolak ajakan hubungan dengan istri Pak Kades yang bohai ini, lagipula Bu Lilis juga menjanjikan kontrakan Jaka yang menunggak dua bulan akan lunas.“Jaka, lihat saya,” kata Bu Lilis lagi, tangannya yang mulus kini mulai memegang pipi Jaka. “Saya rasa kamu orang yang tepat, Jaka. Saya…” Bu Lilis menggantungkan ucapannya. Tangannya kini mulai memegang tangan Jaka dan menuntunnya ke arah dua aset berharga di bawah lehernya.“Saya tahu, selama ini kamu selalu curi-curi pandang ke sini, kan?” katanya lagi yang membuat jantung Jaka berdebar hebat.“Jaka, saya tidak tahu mengapa, akhir-akhir ini kamu cukup menarik,” katanya lagi sambil memegang tengkuk Jaka.Jaka tidak

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Hasrat Bu Lilis

    Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka jika Bu Susi akan memberikannya uang sebanyak itu. “Emang orang kaya mah beda, ngasih 500 ribuan kayak ngasih dua rebu ke tukang parkir,” gumamnya senang. Jaka memegang uang tersebut dengan mata berbinar. “Bisa buat tunggakan kontrakan ini,” gumamnya sambil menyimpan uang tersebut di bawah bantal. Jaka langsung bersiap-siap untuk mandi karena nanti malam ia akan mengunjungi rumah Bu Lilis untuk menyetor uang kontrakan satu bulan lagi. Jaka begitu antusias kali ini, ia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Sejak semalam orang-orang seolah mulai bersikap baik kepadanya. Setelah mandi, Jaka berdiri di depan cermin kecil di dalam kamarnya, memastikan pakaiannya rapi dan

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Godaan Si Guru Cantik

    Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jaka yang lumayan sempit membuat dua aset kembar itu tercetak jelas. “Anu, Bu, kok ibu bisa di sekolah sore-sore begini sendirian?” tanya Jaka membuka obrolan. Bus Susi menunduk, kejadian tadi cukup membuat mentalnya terguncang. “Tadi saya telat pulang, ngerjain laporan murid karena ini hampir ujian,” jawab guru cantik itu dengan suara bergetar. “Tapi… pas saya mau keluar, tiba-tiba orang itu ada di sana dan langsung nyeret saya ke dalam.” Bu Susi menoleh ke arah Jaka. “Untung aja ada kamu, Jaka,” katanya dengan mata berbinar. “Makasih, ya?” Jaka menelan ludah, “i-iya, Bu. Sama-sama.” Bu Susi sendiri adalah seorang guru pindahan dari kota, baru sekitar enam bulan lalu ia tinggal di desa in

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bu Susi dan Kelas Kosong

    Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot lengannya yang terasa lebih kekar, perutnya juga mulai tampak sixpack layaknya orang yang rutin nge-gym di tempat kebugaran. Dan yang lebih membagongkan ukuran kejantanannya yang bertambah besar hampir dua kali lipat dari sebelumnya. “Apa gara-gara gelang ini, ya?” gumamnya sambil memperhatikan gelang di tangan kirinya. “Ah! Mana mungkin,” gumamnya lagi. Jaka yang cukup skeptis pada hal-hal berbau supranatural tentu saja tidak percaya jika sebuah benda seperti gelang ini bisa memberikan perubahan yang signifikan dalam hidupnya. “Ya udahlah ya, yang penting gue enggak kenapa-napa,” gumamnya lagi tidak terlalu peduli dengan perubahan aneh tersebut. Setelah cukup beristirahat di rumah, Jaka

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bertambah Besar

    Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” sahut Jaka sambil mengulum senyum. Bu Lilis mengernyit, pipinya masih merona. “Kenapa kamu senyam-senyum?” “Eh, anu… enggak, Bu.” Jaka menunduk, namun pikirannya masih bergerak liar memikirkan benda karet yang ia temukan tadi. “Ya sudah, pulang sana,” kata Bu Lilis lagi. “Baik, Bu.” Jaka langsung berjalan masuk ke dalam mengikuti Bu Lilis untuk keluar dari pintu depan. “Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu,” ujar Jaka sambil sedikit menunduk. Bu Lilis hanya mengangguk, tidak menjawab apa-apa. Namun baru beberapa langkah Jaka berjalan, wanita itu kembali memanggil. “Jaka!” Jaka kembali menoleh. “I-iya, Bu.” “Yang tadi… ka-kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya?” katanya gagap, pipinya ben

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benda Karet Bu Lilis

    Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil bersama ayahnya dulu. Ayahnya meninggal saat Jaka masih berusia delapan tahun, saat Jaka masih duduk di kelas 3 SD. Lalu ia melihat uang 500 ribu peninggalan ibunya. “Terima kasih, Bu,” gumamnya lirih. Setidaknya dengan uang ini, Jaka bisa memberikan panjar terlebih dahulu kepada Bu Lilis, berharap wanita itu mau menerimanya dan membiarkannya tinggal di sini lagi. Biaya sewa kontrakan kecil milik Jaka 400 ribu perbulannya. Dia sudah menunggak selama 3 bulan, berarti Jaka membutuhkan uang 1,2 juta untuk melunasi semuanya. Malam harinya. Bermodalkan uang 500 ribu yang ia kantongi, Jaka pergi ke rumah Pak Kades, ia ingin bertemu dengan Bu Lil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status