Share

Godaan Si Guru Cantik

Penulis: Dark_Pen
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 16:21:05

Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya.

Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jaka yang lumayan sempit membuat dua aset kembar itu tercetak jelas.

“Anu, Bu, kok ibu bisa di sekolah sore-sore begini sendirian?” tanya Jaka membuka obrolan.

Bus Susi menunduk, kejadian tadi cukup membuat mentalnya terguncang. “Tadi saya telat pulang, ngerjain laporan murid karena ini hampir ujian,” jawab guru cantik itu dengan suara bergetar. “Tapi… pas saya mau keluar, tiba-tiba orang itu ada di sana dan langsung nyeret saya ke dalam.”

Bu Susi menoleh ke arah Jaka. “Untung aja ada kamu, Jaka,” katanya dengan mata berbinar. “Makasih, ya?”

Jaka menelan ludah, “i-iya, Bu. Sama-sama.”

Bu Susi sendiri adalah seorang guru pindahan dari kota, baru sekitar enam bulan lalu ia tinggal di desa ini. Suaminya bekerja di kilang minyak dan pulang sekitar 2 sampai 3 bulan sekali. Bu Susi tinggal bersama putranya, Rendi, yang masih berusia tiga tahun.

“Kamu enggak kedinginan?” tanya wanita itu lagi sambil melirik otot lengan Jaka yang tampak kekar.

“Enggak, Bu. Enggak apa-apa, kok.” Jaka tersenyum ramah, walau matanya sesekali masih terpaku pada dua bukit kembar yang naik turun di bawah leher Bu Susi.

“Makasih ya Jaka, kamu sampai telanjang dada begitu gara-gara kasih kaos buat saya,” ujar wanita itu lagi sambil meremas ujung kaos Jaka yang ia pakai.

“Enggak apa-apa, Bu. Enggak usah dipikirin,” sahut Jaka santai.

Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Bu Susi yang tampak asri dengan pagar tanaman yang rapi. Suasana sudah mulai remang-remang karena matahari hampir tenggelam sempurna.

"Sudah sampai, Bu," ujar Jaka sambil berhenti di depan pagar.

Bu Susi tidak langsung masuk. Ia berdiri diam, menatap Jaka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jaka... kamu jangan langsung pulang. Tunggu sebentar, saya ganti baju dulu, biar kamu bisa pake lagi baju ini.”

Jaka hendak menolak, namun Bu Susi sudah terlanjur menarik pergelangan tangannya. Akhirnya Jaka mengikut saja dan duduk di teras menunggu Bu Susi yang sedang mengganti baju di dalam.

Tidak lama kemudian, wanita itu kembali. Ia sudah memakai daster rumahan yang lumayan tipis, namun ada sesuatu yang menarik perhatian Jaka. Ujung bukit kembarnya tercetak jelas di balik kain tipis nan halus tersebut.

Jaka menelan ludah, Bu Susi sepertinya tidak mengenakan dalaman.

“Ini Jaka,” kata Bu Susi pelan namun berhasil membuyarkan lamunan Jaka yang mulai liar.

“Loh, apa ini, Bu?” tanya Jaka heran. Bu Susi bukan hanya mengembalikan kosnya, wanita itu juga memberikan sebuah amplop untuknya.

“Ini tanda terima kasih saya Jaka, kamu terima ya?” ujar Bu Susi penuh harap. “Kalau enggak ada kamu tadi, saya enggak tau bakalan gimana.”

“Anu, Bu. Tapi—”

“Udah, Jaka.” Bu Susi langsung memotong sambil meraih tangan Jaka memaksa menerima amplop darinya. “Terima aja, ya?”

Bu Susi memang termasuk salah satu keluarga berada di desa ini, ia yang bekerja sebagai guru dan suaminya yang bekerja di kilang minyak tentu saja mempunyai penghasilan bulanan yang stabil.

Karena Bu Susi memaksa, akhirnya Jaka menerima amplop tersebut. “Ya udah, Bu. Terima kasih banyak,” kata Jaka sambil tersenyum.

Bu Susi membalas senyum tersebut, namun rona merah di pipinya terlihat jelas sedari tadi. Dan wanita itu tampak betah memegang tangan Jaka.

Suasana hening sejenak saat mata mereka berdua bertemu.

“Oh, ya Bu, Rendi mana?” tanya Jaka basa-basi sambil menarik tangannya.

“Oh, itu sama Mbok Minah, kalau saya lagi ngajar, Rendi saya titipin sama Mbok Minah di sebelah,” jawab wanita itu menjelaskan.

Jaka hanya mengangguk pelan, ia menyimpan amplop tersebut ke dalam sakunya. Lalu segera memakai kembali kaosnya untuk menutupi tubuh.

Aroma tubuh Bu Susi langsung menguar dari kaos tersebut memberikan sensasi aneh pada penciuman Jaka.

“Bu, anu… saya—”

“Masuk dulu, yuk! Jangan langsung pulang,” potong Bu Susi cepat. Tanpa menunggu jawaban Jaka wanita itu langsung menarik tangannya ke dalam.

“Duduk dulu biar saya buatin minum,” katanya lagi, lalu ia beranjak ke dapur.

Jaka duduk namun matanya terus mengikuti lekuk pinggul guru cantik itu yang sangat menggoda. Sedikit dasternya tampak menyelip ke dalam belahan pantat menandakan wanita itu memang tidak mengenakan dalaman atas bawah.

“Jaka… kamu mau minum apa?” tanya Bu Susi dari dapur.

“Apa aja, Bu,” jawab Jaka singkat sambil membenarkan posisi kejantanannya yang mulai sesak di dalam celana.

Tidak berselang lama wanita itu kembali membawa segelas sirup yang tampak segar. “Ini Jaka, diminum dulu,” katanya sambil meletakkan minuman di atas meja. Lalu ia segera duduk tepat di sebelah Jaka, hingga aroma tubuh wanita itu menyerang penciuman Jaka begitu hebat.

Jaka langsung meneguk sirup tersebut sampai habis.

“Jaka, kamu haus, ya?” tanya Bu Susi sambil terkekeh.

“Hehe, iya Bu.” Jaka hanya cengengesan sambil mengusap tengkuknya.

“Mau minum lagi?”

“Hah?”

“Mau sirup lagi? Atau kamu mau minum yang lain?” tanya Bu Susi menegaskan.

Jaka mengernyit. “Minum yang lain? Apa, Bu?”

“Hmm… apa ya?” sahut Bu Susi sambil memutar manik matanya dan mengulum senyum. “Kamu mau susu?”

“Susu?”

“Iya, susu saya.”

“Eh?!” Jaka tersentak.

“Eh, bukan! Maksud saya, ada susu di belakang, kamu mau?” Bu Susi langsung menunduk malu.

“Oh, hehe kirain,” sahut Jaka cengengesan.

“Emang kamu mikir susu apaan tadi? hayoo!” goda guru cantik itu.

“Hehe, enggak, Bu.” Jantung Jaka benar-benar berdebar. “Tapi enggak usah, Bu. Udah cukup kok.”

“Jadi, beneran nih enggak mau susu?” tanya Bu Susi lagi, kata-katanya begitu ambigu.

“Hehe, bener, Bu.” Jaka hanya cengengesan, sambil sesekali merapatkan pahanya agar gundukan di celananya tidak terlihat.

“Oh, ya udah kalau begitu,” ujar Bu Susi sambil bersandar di sofa, membuat goncangan pada dua bukit kembarnya terlihat jelas.

“Anu, Bu. Saya mau pulang dulu, udah sore.” Jaka langsung bangkit, namun ia lupa jika gundukan di celananya terlihat jelas kini.

“Loh, Jaka! Itu?” Bu Susi langsung memalingkan wajahnya, pipinya benar-benar merona melihat gundukan di celana Jaka.

“Eh, maaf, Bu.” Jaka reflek menutup selangkangannya dengan tangan.

“Kok itu bangun sih?” tanya Bu Susi sambil melirik pelan.

“Enggak tau, Bu, bangun sendiri dia,” jawab Jaka polos sambil terus menutup selangkangannya.

“Dasar kamu! Bisa bahaya itu kalau bangun tiba-tiba begitu,” goda Bu Lilis sambil bangkit dan mencolek pinggang Jaka.

Jaka hanya cengengesan, pipinya merah menahan malu.

“Ya sudah,” kata Bu Lilis lagi. “Kalau kamu ada waktu nanti, main-main ke sini, di belakang ada beberapa rongsokan yang bisa kamu ambil.”

“Iya, Bu, baik. Nanti kapan-kapan saya mampir ke sini buat ambil rongsokannya,“ jawab Jaka gugup sambil terus memegang selangkangannya. “Ya udah, Bu. Saya pamit, ya?”

“Iya, Jaka. Makasih ya?”

Jaka mengangguk lalu segera beranjak dari sana. Jantungnya berdebar hebat. Namun, ia cukup senang, selain bisa melihat dua bukit kembar Bu Susi tadi, Jaka juga mendapat hadiah amplop. Jaka yakin isinya adalah uang, namun ia tidak tahu berapa jumlahnya karena belum membukanya. Namun setidaknya dengan uang pemberian Bu Susi ini, ia bisa mencicil kontrakan Bu Lilis yang tersisa dua bulan lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Gairah Terpendam

    Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai.“Anu, Bu… saya…”Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggiurkan, lelaki mana yang mampu menolak ajakan hubungan dengan istri Pak Kades yang bohai ini, lagipula Bu Lilis juga menjanjikan kontrakan Jaka yang menunggak dua bulan akan lunas.“Jaka, lihat saya,” kata Bu Lilis lagi, tangannya yang mulus kini mulai memegang pipi Jaka. “Saya rasa kamu orang yang tepat, Jaka. Saya…” Bu Lilis menggantungkan ucapannya. Tangannya kini mulai memegang tangan Jaka dan menuntunnya ke arah dua aset berharga di bawah lehernya.“Saya tahu, selama ini kamu selalu curi-curi pandang ke sini, kan?” katanya lagi yang membuat jantung Jaka berdebar hebat.“Jaka, saya tidak tahu mengapa, akhir-akhir ini kamu cukup menarik,” katanya lagi sambil memegang tengkuk Jaka.Jaka tidak

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Hasrat Bu Lilis

    Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka jika Bu Susi akan memberikannya uang sebanyak itu. “Emang orang kaya mah beda, ngasih 500 ribuan kayak ngasih dua rebu ke tukang parkir,” gumamnya senang. Jaka memegang uang tersebut dengan mata berbinar. “Bisa buat tunggakan kontrakan ini,” gumamnya sambil menyimpan uang tersebut di bawah bantal. Jaka langsung bersiap-siap untuk mandi karena nanti malam ia akan mengunjungi rumah Bu Lilis untuk menyetor uang kontrakan satu bulan lagi. Jaka begitu antusias kali ini, ia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Sejak semalam orang-orang seolah mulai bersikap baik kepadanya. Setelah mandi, Jaka berdiri di depan cermin kecil di dalam kamarnya, memastikan pakaiannya rapi dan

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Godaan Si Guru Cantik

    Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jaka yang lumayan sempit membuat dua aset kembar itu tercetak jelas. “Anu, Bu, kok ibu bisa di sekolah sore-sore begini sendirian?” tanya Jaka membuka obrolan. Bus Susi menunduk, kejadian tadi cukup membuat mentalnya terguncang. “Tadi saya telat pulang, ngerjain laporan murid karena ini hampir ujian,” jawab guru cantik itu dengan suara bergetar. “Tapi… pas saya mau keluar, tiba-tiba orang itu ada di sana dan langsung nyeret saya ke dalam.” Bu Susi menoleh ke arah Jaka. “Untung aja ada kamu, Jaka,” katanya dengan mata berbinar. “Makasih, ya?” Jaka menelan ludah, “i-iya, Bu. Sama-sama.” Bu Susi sendiri adalah seorang guru pindahan dari kota, baru sekitar enam bulan lalu ia tinggal di desa in

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bu Susi dan Kelas Kosong

    Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot lengannya yang terasa lebih kekar, perutnya juga mulai tampak sixpack layaknya orang yang rutin nge-gym di tempat kebugaran. Dan yang lebih membagongkan ukuran kejantanannya yang bertambah besar hampir dua kali lipat dari sebelumnya. “Apa gara-gara gelang ini, ya?” gumamnya sambil memperhatikan gelang di tangan kirinya. “Ah! Mana mungkin,” gumamnya lagi. Jaka yang cukup skeptis pada hal-hal berbau supranatural tentu saja tidak percaya jika sebuah benda seperti gelang ini bisa memberikan perubahan yang signifikan dalam hidupnya. “Ya udahlah ya, yang penting gue enggak kenapa-napa,” gumamnya lagi tidak terlalu peduli dengan perubahan aneh tersebut. Setelah cukup beristirahat di rumah, Jaka

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bertambah Besar

    Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” sahut Jaka sambil mengulum senyum. Bu Lilis mengernyit, pipinya masih merona. “Kenapa kamu senyam-senyum?” “Eh, anu… enggak, Bu.” Jaka menunduk, namun pikirannya masih bergerak liar memikirkan benda karet yang ia temukan tadi. “Ya sudah, pulang sana,” kata Bu Lilis lagi. “Baik, Bu.” Jaka langsung berjalan masuk ke dalam mengikuti Bu Lilis untuk keluar dari pintu depan. “Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu,” ujar Jaka sambil sedikit menunduk. Bu Lilis hanya mengangguk, tidak menjawab apa-apa. Namun baru beberapa langkah Jaka berjalan, wanita itu kembali memanggil. “Jaka!” Jaka kembali menoleh. “I-iya, Bu.” “Yang tadi… ka-kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya?” katanya gagap, pipinya ben

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benda Karet Bu Lilis

    Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil bersama ayahnya dulu. Ayahnya meninggal saat Jaka masih berusia delapan tahun, saat Jaka masih duduk di kelas 3 SD. Lalu ia melihat uang 500 ribu peninggalan ibunya. “Terima kasih, Bu,” gumamnya lirih. Setidaknya dengan uang ini, Jaka bisa memberikan panjar terlebih dahulu kepada Bu Lilis, berharap wanita itu mau menerimanya dan membiarkannya tinggal di sini lagi. Biaya sewa kontrakan kecil milik Jaka 400 ribu perbulannya. Dia sudah menunggak selama 3 bulan, berarti Jaka membutuhkan uang 1,2 juta untuk melunasi semuanya. Malam harinya. Bermodalkan uang 500 ribu yang ia kantongi, Jaka pergi ke rumah Pak Kades, ia ingin bertemu dengan Bu Lil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status