LOGINSetelah menempuh perjalanan beberapa jam dengan Bus antar kota, mereka akhirnya tiba di desa Wanahening—desa terakhir sebelum memasuki hutan mati.Tepat saat jam menunjukkan pukul 12 siang, mereka akhirnya mulai menapaki jalanan desa.“Ahhh…” Beno mendesah lega. “Enggak kerasa ya, Ka. Ternyata udah beberapa bulan kita enggak kesini, lima bulan ada kali ya kayaknya?”Jaka tidak menjawab, pikirannya saat ini benar-benar fokus hanya pada satu hal—pada misteri mimpi yang ia alami malam tadi.“Kita mampir ke rumah Bu Lasmi dulu kali ya? Laper nih gue, hehe,” lanjut Beno sambil mengusap perutnya.Niat ingin mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang, Beno malah mendapat tatapan tajam dari Jaka.“Kalau lo mau mampir ke rumah Pak Surya dulu, silahkan! Tapi gue enggak. Gue langsung lanjut ke hutan mati,” kata Jaka terus terang.Beno terdiam, mendengar jawaban dan melihat raut wajah Jaka, akhirnya dia paham, jika masalah kali ini benar-benar pelik.“Apaan sih, Ka? Gue cuma bercanda doang kok,
Napas Jaka memburu berat, dadanya naik-turun tak beraturan seiring sisa-sisa kengerian mimpi buruk yang masih melekat kuat di kepalanya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, membasahi bantal tempat ia berbaring.Arum yang duduk di sisinya semakin cemas. Wanita itu meraih handuk kecil di dekat nakas, lalu dengan telaten menyeka peluh di kening suaminya."Kamu mimpi apa, Jaka? Wajah kamu pucat pasih begini," tanya Arum lembut namun terselip kepanikan di suaranya.Jaka menoleh, menatap Arum dengan sorot mata yang menyiratkan ketakutan luar biasa. Bayangan Sigrid yang tertusuk tombak dan kobaran api yang melalap Desa Merpati terasa begitu nyata di benaknya, seolah-olah itu adalah sebuah pertanda yang tidak boleh diabaikan."Rum... aku melihatnya," suara Jaka bergetar parah, jemarinya mencengkeram erat seprai kasur. "Desa Merpati... terbakar. Ada orang-orang bersenjata yang menyerang, dan... dan Tuan Sigrid..."Jaka menggantungkan kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan deskripsi
“Kamu enggak kangen sama istri pertama kamu? Enggak lama lagi dia bakalan melahirkan loh!”Kata-kata Arum tersebut terus terngiang di kepala Jaka sepanjang hari. Benar memang, setelah semua yang telah ia lalui, hanya satu yang dia inginkan, hidup bahagia dengan orang-orang yang dia sayang.“Jaka… ini makan dulu!”Suara Arum memecah lamunannya, gadis itu mendekat membawa makan malam untuk Jaka yang sedang lesehan di ruang tengah.Jaka hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.“Kenapa?” tanya Arum setelah meletakkan sepiring nasi di depan Jaka. “Kamu kepikiran Sari sama Sekar?”“Iya, Rum… bener kata kamu. Sari mungkin enggak lama lagi bakalan lahiran.”“Ya udah, kita ke sana aja besok,” jawab Arum enteng sambil tersenyum.Jaka menatap istri keduanya itu. “Emang kamu enggak capek, Rum? Baru aja dua hari lalu kita hampir mati, terus sekarang mau pergi lagi.”“Loh…” Arum mendekat dan memegang bahu Jaka. “Kok kamu ngomong gitu? Kan kita cuma mau ngunjungi Sari sama Sekar di desa merpati. Buk
Sore hari menjelang malam, akhirnya mereka tiba di desa Gunung Jati setelah menempuh perjalanan beberapa jam yang melelahkan.Beno yang baru saja terjaga saat kernet berteriak langsung mengambil ransel dan turun dari Bus Kota tersebut. Jaka dan Arum sudah terlebih dahulu turun setelah membayar ongkos. Sementara Bu Lilis, berdiri di pintu bus sejenak, menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya turun menapaki jalan.“Jaka… kalian mampir dulu di rumah saya, yuk! Ada yang mau saya bicarakan,” kata Bu Lilis sejenak setelah bus melaju meninggalkan mereka.Jaka tidak langsung menjawab, ia melirik ke arah Arum. Istrinya itu hanya mengangguk lembut, tidak masalah dengan ajakan tersebut.“Ya udah, Bu. Ayo!”Bu Lilis kembali mengangguk. Dan akhirnya mereka semua berjalan menuju rumah istri mantan kepala desa tersebut.Namun di persimpangan, Beno berubah pikiran. “Eh, Ka… gue kayaknya langsung pulang aja deh, ya?”Bu Lilis melirik heran. “Kenapa Ben?”“Enggak apa-apa, Bu. Cuma kangen rumah aja.
Setelah berganti pakaian dan istirahat sejenak, mereka berempat langsung berkemas. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, dan Jaka berencana akan langsung meninggalkan desa ini hari ini juga.“Jadi kita langsung balik ini, Ka?” tanya Beno sambil menyampirkan tas di bahunya.“Iya, Ben. Lagian ngapain juga kita masih di sini. Toh Bu Lilis udah selamat,” sahut Jaka santai.Bu Lilis terdiam sejenak, benar-benar tidak menyangka jika hidupnya akan seperti ini. Akibat Pak Herman—suaminya, dia sampai berakhir di sini dan hampir saja mati jika Jaka tidak datang menyelamatkannya.“Makasih banyak ya Jaka,” kata Bu Lilis lirih. Sosok wanita matang nan cantik itu menatap Jaka cukup dalam. “Saya enggak tau apa yang akan terjadi kalau kamu enggak dagang ke sini!”Jaka tersenyum hangat, ada sedikit rasa canggung di dalam dirinya, mengingat semua hal yang telah ia lalui dengan wanita kepala tiga tersebut.“Iya, Bu. Enggak usah dipikirin. Yang penting Bu Lilis selamat sekarang.”Bu Lilis mengangguk pe
Namun, baru beberapa langkah kaki mereka meninggalkan batas bibir pantai, tiba-tiba terdengar sebuah suara nyaring yang memecah kesunyian pagi, membuat mereka berempat terkejut serempak dan menghentikan langkah seketika.“Loh… Kalian?!”Jaka tersentak, ia segera menoleh ke arah sumber suara.“Pak Suji?!” panggil Jaka kaget. Ternyata itu kepala desa Karang Panjang.Lelaki paruh baya itu segera menghampiri mereka. Wajahnya tampak tegang diliputi tanda tanya.“Kalian ke mana aja?”Pak Suji benar-benar tampak bingung sekaligus terkejut melihat Jaka dan yang lainnya.“Udah semingguan kalian hilang,” ujar Pak Suji lagi. “Bapak pikir kalian ke mana, rumah sewa kosong tapi barang-barang kalian masih ada di sana.”“A-anu… hehe. Gimana ya ngomongnya, Pak?” Jaka tampak bingung bagaimana harus menjelaskan ini semua kepada Pak Suji.Pak Suji mengernyit, lalu kembali memperhatikan mereka semua satu persatu. “Terus ini kenapa baju kalian begini?”Deg!Jaka mengerjap, ia segera menoleh ke arah pakaia
Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka
Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jak
Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot l
Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” s







