Share

Bab 4

Author: Soda
Aku tidak melihat Daniel lagi setelah hari itu.

Aku menelponnya untuk memberinya peringatan.

"Proyek itu ilegal. Bersiaplah kalau uangnya hilang."

Dia hanya mengabaikannya.

"Gimana mungkin? Safea lulusan keuangan terbaik. Gimana mungkin dia bisa rugi?"

Tapi lima hari kemudian, proyek kripto itu runtuh.

Nilai pasarnya merosot tajam. Empat triliun aset lenyap, hanya tersisa empat ratus delapan puluh miliar.

Daniel menelpon hanya saat terdesak.

"Apa kamu sudah punya uangnya?"

"Rekening keluarga hanya ada satu triliun sekian. Dari mana aku dapat uangnya?"

Aku pun membuka laporan terbaru yang Martin berikan padaku.

"Sudah kubilang proyek itu bermasalah." Suaraku tenang. "Martin mengirim tiga laporan risiko dan kamu abaikan semuanya."

"Sekarang sudah hancur, itu urusanmu." Aku pun menutup telepon.

Tiga detik kemudian, dia menelpon lagi.

"Kamu harus siapkan uangnya. Stempelmu ada di situ!"

Aku cuma bilang "oh" dan menutup telepon.

Lalu dia menelpon tujuh belas kali lagi.

Aku mematikan ponselku.

Keesokan paginya, aku tengah menangani pembubaran aliansi.

Pintu kantor mendadak didorong terbuka.

Mata Daniel merah menyala.

Safea bersembunyi di belakangnya sambil menangis.

"Emira, aku tahu kamu ada di sini." Daniel melangkah mendekat. "Kamu harus turun tangan."

"Aku?" Aku tidak menatapnya. "Kenapa?"

"Karena aku suamimu!" Daniel memukul dokumenku dengan tangannya. "Utang ini atas namamu. Kamu yang harus bayar!"

"Cadangan Keluarga Miller pasti masih ada dana. Ambil sekarang!"

Aku akhirnya menatapnya.

"Kamu habiskan delapan ratus miliar milikku, lalu ambil pinjaman empat triliun atas nama keluarga dan sekarang kamu ingin aku membayarnya?"

"Aku akan bayar kembali!"

"Dengan apa?" Aku mencibir. "Dengan obat asma Safea? Atau dengan chip yang kalah di Vesas?"

"Emira, aku nggak punya waktu untuk berdebat." Daniel merendahkan suaranya.

"Essobar nggak main-main. Kalau uang itu nggak dibayar sebelum tengah malam, mereka akan menyerang keluarga!"

Aku menatap mereka, tak bergeming. "Jadi? Ketua seharusnya tahu kalau menyelesaikan masalah ini bukan urusanku."

Akhirnya, Daniel pergi.

Setelah dia pergi, Martin berbicara dengan hati-hati, "Essobar nggak main-main. Kalau Ketua Daniel terluka, Keluarga Ryan akan hancur, lalu .…"

"Lalu Keluarga Miller ikut kena imbas juga?" Aku menyelesaikan kalimatnya. "Jadi aku harus mengorbankan diri demi kebaikan bersama, untuk menyelamatkan seorang pria yang mengkhianatiku?"

Martin terdiam.

Malam itu, wakil Essobar, Casper, tiba di rumah.

"Ketua Daniel." Casper melirik jam tangannya. "Pukul sebelas lima puluh delapan. Kamu punya waktu dua menit."

"Di mana uangnya?"

"Dia yang menandatangani pinjamannya!" Safea berteriak, menunjuk ke arahku dengan ketakutan, moncong senjata gelap menyorot ke arah kami. "Dia Nyonya Emira! Serang dia! Dia punya banyak uang!"

Daniel menoleh padaku, mengerutkan dahi.

"Kamu nggak akan mengeluarkan uangnya?"

Aku menyingkir, diam-diam mengamati pria yang dulu bersumpah akan mencintaiku selamanya.

Bahkan sekarang, dia masih berharap aku menutupi kesalahannya.

Tapi kemudian, Casper terdiam beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa.

"Ketua Daniel, mungkin matamu salah lihat?"

"Lihat dengan jelas. Lambang Keluarga Ryan-mu yang tercetak di kontrak!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 9

    Tiga bulan kemudian."Semua berdiri!"Suara hakim memecah keheningan di pengadilan federal.Aku duduk di barisan depan galeri, menatap dua terdakwa yang digiring masuk ke ruang sidang.Daniel mengenakan baju oranye, borgol berkilau di bawah cahaya yang menyilaukan. Rambutnya berantakan, matanya kosong. Dia tampak seperti hantu dari Ketua yang dulu.Essobar telah mematahkan salah satu lengannya hari itu. Untuk menyelamatkan nyawanya, Daniel akhirnya menyerahkan sedikit aset rahasia yang tersisa.Dengan apa yang dibayarkan Keluarga Ryan, itu cukup untuk melunasi utang.Dia pun berhasil menyelamatkan dirinya.Sementara Safea ….Roda besi kursi rodanya mengeluarkan suara nyaring yang menusuk telinga.Kakinya dibalut perban tebal, wajahnya pucat pasi.Anak buah Essobar mengampuni nyawanya, tapi harganya dibayar dengan kakinya."Terdakwa Daniel Ryan." Ketua hakim mengetuk palu. "Anda dituduh melakukan pencucian uang, pemindahan aset ilegal, penggelapan .…"Daftar dakwaan itu memakan waktu li

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 8

    Mata Daniel berwarna merah.Dia tertawa, suaranya kasar dan getir. "Emira, kamu puas sekarang? Kamu menang. Kali ini.""Benarkah?" Aku sedikit memiringkan kepalaku. "Rasanya ini baru permulaan."Begitu aku bicara, dia melompat maju. "Tolong, selamatkan aku."Aku mengangkat alis. "Apa maksudmu?""Orang-orang Essobar masih memburuku." Daniel mengerutkan bibirnya rapat-rapat. "Aset Keluarga Ryan sudah disita, tapi utang empat triliun itu masih menghantuiku. Saat melarikan diri, aku harus sembunyi dari badan intelijen dan dari mereka. Emira, aku rasanya hampir gila.""Kita pernah menikah. Kamu nggak bisa membiarkanku mati begitu saja!"Aku menatap tenang pria yang dulunya begitu berkuasa. Ini pertama kalinya aku melihatnya begitu hancur.Melihatku yang masih diam, dia berkata dengan matanya yang masih memerah, "Apa kamu masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Kamu mengenakan gaun putih dan terlihat seperti malaikat.""Saat itu aku berpikir bahwa aku harus menikahi wanita ini.""Emira,

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 7

    "Kami yang seharusnya berterima kasih padamu." Suara di ujung telepon terdengar terhibur. "Bukti pencucian uang terhadap Keluarga Ryan sudah kuat.""Aku butuh tiga tahun untuk berurusan dengan sampah-sampah itu." Aku menghela napas. "Apa itu sepadan?""Akan ada hadiah lain untukmu, Nona Emira." Agen itu berhenti sejenak. "Sebagai gantinya, badan intelijen akan menghentikan penyelidikan terhadap asetmu di Sixili.""Terima kasih."Aku menutup telepon.Pikiranku kembali beberapa hari lalu.Pria yang memberiku kartu panggilan itu kini menjadi penyidik kriminal di badan intelijen.Jika ayahku tidak menyelamatkan nyawanya saat dia masih agen junior, semua ini tidak akan semudah ini.Setelah mendengar kesulitanku, dia hanya butuh setengah hari untuk menyelesaikan kontrak.Angin dingin menerpa wajahku. Aku baru menyadari kalau secara tak sadar aku membuka jendela mobil.Dulu, Safea tidak suka bau rokok, jadi aku selalu membuka jendela agar udara masuk. Tapi tidak lagi.Martin menatapku lewat k

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 6

    Aku tersenyum dan mengulurkan tangan pada Martin yang berada di sisiku.Dia mengerti dan mengeluarkan sebuah dokumen dari tas file, menyerahkannya padaku."Surat cerai. Diajukan dua minggu lalu dan disetujui kemarin."Aku membalik ke halaman terakhir. "Lihat? Tanda tanganmu ada di sini."Daniel merampas dokumen itu.Itu tanda tangannya dengan goresan ragu-ragu yang sama."Ini nggak mungkin! Aku nggak pernah menandatangani …." Lalu dia ingat. "Kamu memalsukan tanda tanganku?!""Memalsukan?" Aku tertawa. "Daniel, berapa banyak dokumen yang kamu tandatangani setiap hari? Lima puluh? Seratus?""Apa kamu yakin sudah melihat isi masing-masing dengan teliti?"Wajahnya pucat.Wajah Safea menunjukkan kilatan kegembiraan, tapi dia berteriak padaku, "Emira! Kamu kejam! Kamu sengaja mencampur dokumen cerai dengan dokumen lain untuk menipu dia agar mau tanda tangan!""Menipu?" Aku menatapnya. "Aku hanya melakukan apa yang kalian lakukan. Stempelku, bukankah itu juga ‘secara tidak sengaja’ diambil d

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 5

    "Ini nggak mungkin!"Daniel merampas kontrak dari tangan Casper.Di situ tercetak jelas lambang Keluarga Ryan yang berupa duri hitam."Nggak mungkin!" Dia mengerutkan dahi. "Kontrak ini telah dimanipulasi .…Emira! Ini ulahmu, 'kan?"Mendengar itu, Safea menatapku dengan mata berlinang."Emira, aku nggak tahu gimana kamu bisa melakukan ini, kubilang bayar saja. Kamu nggak akan bisa bayangkan apa yang terjadi jika Essobar mengetahuinya."Aku menatap mereka dengan polos."Daniel, bukannya kamu bilang meminjam uang atas nama keluarga? Kenapa sekarang kaget?"Begitu aku selesai bicara, jam menunjukkan tengah malam.Dengan anggukan dari Casper, para pria di belakangnya menyebar, mulai mengambil apa pun yang terlihat.Wajah Daniel murka melihat itu."Ada apa ini?"Casper hanya tersenyum."Kalau kamu nggak bisa membayarnya, kami akan mencarinya sendiri.""Aku baru saja memperingatkanmu. Kalau nggak bisa bayar utang, jangan salahkan kami kalau keadaannya jadi tak terkendali."Daniel seolah meny

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 4

    Aku tidak melihat Daniel lagi setelah hari itu.Aku menelponnya untuk memberinya peringatan."Proyek itu ilegal. Bersiaplah kalau uangnya hilang."Dia hanya mengabaikannya."Gimana mungkin? Safea lulusan keuangan terbaik. Gimana mungkin dia bisa rugi?"Tapi lima hari kemudian, proyek kripto itu runtuh.Nilai pasarnya merosot tajam. Empat triliun aset lenyap, hanya tersisa empat ratus delapan puluh miliar.Daniel menelpon hanya saat terdesak."Apa kamu sudah punya uangnya?""Rekening keluarga hanya ada satu triliun sekian. Dari mana aku dapat uangnya?"Aku pun membuka laporan terbaru yang Martin berikan padaku."Sudah kubilang proyek itu bermasalah." Suaraku tenang. "Martin mengirim tiga laporan risiko dan kamu abaikan semuanya.""Sekarang sudah hancur, itu urusanmu." Aku pun menutup telepon.Tiga detik kemudian, dia menelpon lagi."Kamu harus siapkan uangnya. Stempelmu ada di situ!"Aku cuma bilang "oh" dan menutup telepon.Lalu dia menelpon tujuh belas kali lagi.Aku mematikan ponselk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status