Share

Bab 3

Penulis: Soda
"Delapan ratus miliar."

Martin menggeser berkas tagihan itu ke arahku di atas meja.

"Tujuh belas transfer dalam sebulan terakhir, semuanya masuk ke rekening pribadi Nona Safea."

Saat aku memeriksa aset, aku menemukan rekening pribadiku hanya berisi lima puluh juta.

Bahkan untuk teh Safea saja tidak cukup.

Namun, catatan transfer itu muncul masing-masing dengan tanda tangan digitalku.

Aku mengerutkan dahi dan bertanya, "Aku enggak beri wewenang atas transaksi-transaksi ini."

Martin tampak tidak nyaman. "Tanda tangan itu asli dan stempel pribadimu ada di atasnya. Sepertinya Ketua Daniel yang menandatanganinya sendiri."

Aku terdiam sejenak, lalu teringat bahwa saat kami menikah, aku memberikan stempel pribadiku kepada Daniel sebagai tanda kepercayaan.

"Ada yang lebih parah lagi." Martin membuka berkas lain. "Tiga hari lalu, Ketua Daniel meminjam empat triliun dari kartel Essobar di Kolobia memakai nama keluarga. Uang itu dia investasikan dalam proyek penambangan kripto dengan bunga sepuluh persen per minggu."

Kukuku mencengkeram meja.

"Beritahu semua anggota inti. Rapat darurat dalam satu jam."

Udara di ruang konferensi terasa lebih berat daripada sebelumnya.

Ekspresi Daniel datar.

"Emira, drama apa lagi yang ingin kamu ciptakan sekarang?"

Aku melemparkan berkas tagihan itu di atas meja.

"Delapan ratus miliar. Bagaimana kamu menjelaskannya?"

Daniel melirik buku besar. "Safea ingin membuka perusahaan hiburan di Vesas. Dia butuh modal awal."

"Perusahaan hiburan?" Aku mencibir. "Apa kamu mau bilang kalau 'investasimu' kehilangan 128 miliar dalam semalam di kasino?"

Suara desahan tertahan memenuhi ruangan.

"Itu cuma biaya percobaan .…" Daniel menggosok pelipisnya. "Ini nasib buruk. Hal-hal seperti itu bisa terjadi. Kamu memanggil semua orang hanya untuk ini?"

"Nasib buruk?" Aku mencemooh, "Lalu bagaimana dengan pinjam empat triliun dengan bunga atas nama keluarga? Kamu tahu aturan Essobar, 'kan? Kalau nggak dibayar dalam seminggu, mereka akan melemparkanmu ke hiu di Laut Kolobia!"

"Cukup!" Daniel langsung berdiri. Dia mengira aku belum menyadari stempel itu. "Aku Ketua keluarga ini! Keputusanku nggak butuh persetujuanmu!"

"Ketua?" Suaraku semakin dingin. "Kalau begitu, kenapa rekening keluarga tinggal kurang dari satu triliun? Kenapa badan intelijen sedang menyiapkan dakwaan?"

Wajah Daniel mengeras, tapi segera menghilangkannya.

"Lalu kenapa? Meski hilang, kamu yang menghasilkan uang, 'kan?" Dia menunjukku. "Kamu bisa dapatkan uang kembali!"

"Kamu anggap aku mesin ATM?"

Daniel mencibir. "Selain menghitung uang dan mendapat kesepakatan, apa lagi yang bisa kamu lakukan?"

Dia melangkah mendekat, menatapku dari atas.

"Safea butuh perhatian, butuh perawatan," katanya sarkastik. "Dan kamu, Emira Miller, apa kamu tahu gimana caranya mencintai seseorang? Atau kamu cuma mesin pembukuan?"

Aku menatap wajah yang dulu bersumpah akan mencintaiku selamanya dan tiba-tiba menyadari kalau dia sekarang asing dan menakutkan.

Aku menutup mata. "Aku nggak mau lagi menghadapi kekacauan yang kamu buat. Aku ingin cerai. Pikirkan gimana kamu akan mengembalikan uangku."

Tepat saat aku berbalik, Daniel mencekal pergelangan tanganku.

"Kuperingatkan! Aku nggak mau bercerai, kita punya aliansi ini. Aku masih butuh sumber daya Keluarga Miller dan kamu harus menjaga posisi nyonya ketua-mu tetap kokoh untukku."

Aku mencoba menarik tanganku. "Lepaskan!"

"Lepaskan?" Cekalannya mendadak mengencang. "Kamu pikir siapa dirimu? Apa arti Miller tanpa Keluarga Ryan?"

"Aku bilang, lepaskan!"

Daniel tiba-tiba melepaskan tanganku.

Aku terhuyung ke belakang, pinggulku menabrak sudut tajam meja konferensi.

Rasa sakit menusuk membuatku terengah.

Martin bergegas menghampiri. "Nyonya!"

Aku mengusirnya.

Sekilas kepanikan melintas di wajah Daniel tapi dengan cepat digantikan oleh sikap menantang.

"Kamu melukai dirimu sendiri," katanya dengan nada keras. "Jangan coba-coba menyalahkanku."

"Menyalahkan?" Aku tertawa. "Daniel Ryan, kamu membuatku muak."

"Terserah apa katamu." Dia meraih jaketnya. "Safea menungguku. Kami akan ke pulau pribadi beberapa hari. Kita bisa bicara saat kamu sudah tenang."

"Bicara tentang apa?" Aku berdiri tegak, mengabaikan rasa sakit di sisi tubuhku. "Bicara tentang gimana kamu terus menguras sumber daya keluarga?"

Daniel keluar tanpa menoleh. "Jangan khawatir tentang uang Essobar. Dana proyek akan kembali dalam lima hari. Jangan cemburu nanti!"

Pintu pun tertutup dengan keras.

Di ruang konferensi, Martin ragu.

"Nyonya, apa sebaiknya kita …."

"Rapat ditunda." Suaraku tenang. "Keluar semua."

"Tapi .…"

"Aku bilang, keluar."

Setelah semua pergi, aku berdiri sendiri di ruang konferensi yang kosong.

Di luar jendela raksasa dari lantai ke langit-langit, matahari tenggelam di cakrawala.

Aku berjalan ke mejaku dan membuka laci bawah.

Di dalamnya ada kartu nama.

Ayahku memberikannya sebelum dia meninggal. Dia bilang, "Ini adalah jalan terakhir Keluarga Miller. Jangan gunakan sembarangan. Tapi jika benar-benar sampai pada hari itu .…"

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi aku mengerti.

Setelah ragu sejenak, aku menekan nomor itu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 9

    Tiga bulan kemudian."Semua berdiri!"Suara hakim memecah keheningan di pengadilan federal.Aku duduk di barisan depan galeri, menatap dua terdakwa yang digiring masuk ke ruang sidang.Daniel mengenakan baju oranye, borgol berkilau di bawah cahaya yang menyilaukan. Rambutnya berantakan, matanya kosong. Dia tampak seperti hantu dari Ketua yang dulu.Essobar telah mematahkan salah satu lengannya hari itu. Untuk menyelamatkan nyawanya, Daniel akhirnya menyerahkan sedikit aset rahasia yang tersisa.Dengan apa yang dibayarkan Keluarga Ryan, itu cukup untuk melunasi utang.Dia pun berhasil menyelamatkan dirinya.Sementara Safea ….Roda besi kursi rodanya mengeluarkan suara nyaring yang menusuk telinga.Kakinya dibalut perban tebal, wajahnya pucat pasi.Anak buah Essobar mengampuni nyawanya, tapi harganya dibayar dengan kakinya."Terdakwa Daniel Ryan." Ketua hakim mengetuk palu. "Anda dituduh melakukan pencucian uang, pemindahan aset ilegal, penggelapan .…"Daftar dakwaan itu memakan waktu li

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 8

    Mata Daniel berwarna merah.Dia tertawa, suaranya kasar dan getir. "Emira, kamu puas sekarang? Kamu menang. Kali ini.""Benarkah?" Aku sedikit memiringkan kepalaku. "Rasanya ini baru permulaan."Begitu aku bicara, dia melompat maju. "Tolong, selamatkan aku."Aku mengangkat alis. "Apa maksudmu?""Orang-orang Essobar masih memburuku." Daniel mengerutkan bibirnya rapat-rapat. "Aset Keluarga Ryan sudah disita, tapi utang empat triliun itu masih menghantuiku. Saat melarikan diri, aku harus sembunyi dari badan intelijen dan dari mereka. Emira, aku rasanya hampir gila.""Kita pernah menikah. Kamu nggak bisa membiarkanku mati begitu saja!"Aku menatap tenang pria yang dulunya begitu berkuasa. Ini pertama kalinya aku melihatnya begitu hancur.Melihatku yang masih diam, dia berkata dengan matanya yang masih memerah, "Apa kamu masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Kamu mengenakan gaun putih dan terlihat seperti malaikat.""Saat itu aku berpikir bahwa aku harus menikahi wanita ini.""Emira,

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 7

    "Kami yang seharusnya berterima kasih padamu." Suara di ujung telepon terdengar terhibur. "Bukti pencucian uang terhadap Keluarga Ryan sudah kuat.""Aku butuh tiga tahun untuk berurusan dengan sampah-sampah itu." Aku menghela napas. "Apa itu sepadan?""Akan ada hadiah lain untukmu, Nona Emira." Agen itu berhenti sejenak. "Sebagai gantinya, badan intelijen akan menghentikan penyelidikan terhadap asetmu di Sixili.""Terima kasih."Aku menutup telepon.Pikiranku kembali beberapa hari lalu.Pria yang memberiku kartu panggilan itu kini menjadi penyidik kriminal di badan intelijen.Jika ayahku tidak menyelamatkan nyawanya saat dia masih agen junior, semua ini tidak akan semudah ini.Setelah mendengar kesulitanku, dia hanya butuh setengah hari untuk menyelesaikan kontrak.Angin dingin menerpa wajahku. Aku baru menyadari kalau secara tak sadar aku membuka jendela mobil.Dulu, Safea tidak suka bau rokok, jadi aku selalu membuka jendela agar udara masuk. Tapi tidak lagi.Martin menatapku lewat k

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 6

    Aku tersenyum dan mengulurkan tangan pada Martin yang berada di sisiku.Dia mengerti dan mengeluarkan sebuah dokumen dari tas file, menyerahkannya padaku."Surat cerai. Diajukan dua minggu lalu dan disetujui kemarin."Aku membalik ke halaman terakhir. "Lihat? Tanda tanganmu ada di sini."Daniel merampas dokumen itu.Itu tanda tangannya dengan goresan ragu-ragu yang sama."Ini nggak mungkin! Aku nggak pernah menandatangani …." Lalu dia ingat. "Kamu memalsukan tanda tanganku?!""Memalsukan?" Aku tertawa. "Daniel, berapa banyak dokumen yang kamu tandatangani setiap hari? Lima puluh? Seratus?""Apa kamu yakin sudah melihat isi masing-masing dengan teliti?"Wajahnya pucat.Wajah Safea menunjukkan kilatan kegembiraan, tapi dia berteriak padaku, "Emira! Kamu kejam! Kamu sengaja mencampur dokumen cerai dengan dokumen lain untuk menipu dia agar mau tanda tangan!""Menipu?" Aku menatapnya. "Aku hanya melakukan apa yang kalian lakukan. Stempelku, bukankah itu juga ‘secara tidak sengaja’ diambil d

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 5

    "Ini nggak mungkin!"Daniel merampas kontrak dari tangan Casper.Di situ tercetak jelas lambang Keluarga Ryan yang berupa duri hitam."Nggak mungkin!" Dia mengerutkan dahi. "Kontrak ini telah dimanipulasi .…Emira! Ini ulahmu, 'kan?"Mendengar itu, Safea menatapku dengan mata berlinang."Emira, aku nggak tahu gimana kamu bisa melakukan ini, kubilang bayar saja. Kamu nggak akan bisa bayangkan apa yang terjadi jika Essobar mengetahuinya."Aku menatap mereka dengan polos."Daniel, bukannya kamu bilang meminjam uang atas nama keluarga? Kenapa sekarang kaget?"Begitu aku selesai bicara, jam menunjukkan tengah malam.Dengan anggukan dari Casper, para pria di belakangnya menyebar, mulai mengambil apa pun yang terlihat.Wajah Daniel murka melihat itu."Ada apa ini?"Casper hanya tersenyum."Kalau kamu nggak bisa membayarnya, kami akan mencarinya sendiri.""Aku baru saja memperingatkanmu. Kalau nggak bisa bayar utang, jangan salahkan kami kalau keadaannya jadi tak terkendali."Daniel seolah meny

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 4

    Aku tidak melihat Daniel lagi setelah hari itu.Aku menelponnya untuk memberinya peringatan."Proyek itu ilegal. Bersiaplah kalau uangnya hilang."Dia hanya mengabaikannya."Gimana mungkin? Safea lulusan keuangan terbaik. Gimana mungkin dia bisa rugi?"Tapi lima hari kemudian, proyek kripto itu runtuh.Nilai pasarnya merosot tajam. Empat triliun aset lenyap, hanya tersisa empat ratus delapan puluh miliar.Daniel menelpon hanya saat terdesak."Apa kamu sudah punya uangnya?""Rekening keluarga hanya ada satu triliun sekian. Dari mana aku dapat uangnya?"Aku pun membuka laporan terbaru yang Martin berikan padaku."Sudah kubilang proyek itu bermasalah." Suaraku tenang. "Martin mengirim tiga laporan risiko dan kamu abaikan semuanya.""Sekarang sudah hancur, itu urusanmu." Aku pun menutup telepon.Tiga detik kemudian, dia menelpon lagi."Kamu harus siapkan uangnya. Stempelmu ada di situ!"Aku cuma bilang "oh" dan menutup telepon.Lalu dia menelpon tujuh belas kali lagi.Aku mematikan ponselk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status