共有

Bab 2

作者: Airey
Pernikahan Carol dan Brad adalah hasil perjodohan keluarga.

Sebelum berusia 25 tahun, Carol adalah gadis yang ceria dan penuh pesona. Sejak kecil dia belajar berbagai alat musik dan memenangkan banyak penghargaan. Masa depannya sangat cerah, tetapi pada Festival Musik Internasional, dia jatuh cinta pada Brad pada pandangan pertama.

Saat mengetahui bahwa pasangan perjodohannya adalah Brad, dia menerimanya dengan penuh kebahagiaan.

Setelah menikah, Carol memasak dan mengurus segala kebutuhan Brad. Brad menyukai ketenangan, maka dia menjadi lebih pendiam. Brad tidak suka dia mempermasalahkan segala sesuatu dengan orang lain, maka dia pun menyembunyikan sifatnya yang keras kepala.

Tak disangka, semua pengorbanannya bukan dibalas dengan kasih sayang, melainkan pukulan telak dari Brad.

Di luar ruang operasi, Carol menundukkan kepala sangat rendah. Dia tetap terlambat.

Dokter menggeleng tanpa daya.

"Jaringannya sudah mati. Lengannya sudah nggak bisa disambung lagi."

"Bukankah kami sudah memberi tahu bahwa pasien harus tiba dalam waktu tiga jam? Kamu sudah menghancurkan masa depan anak ini ...."

Mendengar itu, ibu Brad hampir pingsan. Dia menatap Carol dengan penuh kebencian, lalu mengangkat tangan dan menamparnya dengan keras.

"Pesawat mendarat tepat waktu! Waktumu jelas masih sangat cukup. Sekarang sudah jadi begini, kamu puas?"

"Menurutku kamu memang sengaja mengulur waktu supaya Alden menjadi penyandang disabilitas, agar kamu bisa mempertahankan hati Brad! Carol, bahkan hewan pun nggak akan memangsa anaknya sendiri. Kenapa hatimu bisa sekejam ini?"

Tamparan itu begitu keras hingga sudut bibir Carol mengeluarkan darah. Dia mengusapnya dengan punggung tangan, lalu tertawa getir.

"Bu, Brad mengadakan pesta perayaan di dalam pesawat untuk muridnya. Itu belum pernah terjadi sebelumnya." Carol memperlihatkan halaman berita yang sedang menjadi trending kepada ibu Brad.

"Dialah yang menyewa seluruh pesawat dengan harga tiga kali lipat. Dia bilang Prilly takut darah, jadi dia melarang aku dan Alden naik ke pesawat itu. Padahal, tadinya lengan Alden masih bisa disambung."

"Anak Ibu yang telah menghancurkan anakku!"

Ibu Brad tertegun.

"Aku tahu Ibu nggak suka aku. Nggak apa-apa. Aku akan bercerai dengan Brad. Setelah dia menandatangani suratnya dan semua prosedurnya selesai, aku akan membawa Alden pergi."

Empat puluh delapan jam kemudian, Alden akhirnya lolos dari bahaya. Carol tidak memejamkan mata semalaman. Saat fajar mulai menyingsing, dia mengeluarkan surat perjanjian cerai dari dalam tasnya dan bersiap pulang.

Dia tahu, jika terus terang mengatakan bahwa itu adalah surat perjanjian cerai, Brad bukan saja tidak akan menandatanganinya, tetapi juga akan menimbulkan masalah yang tidak perlu.

Karena itu, dia langsung mengganti sampul surat perjanjian cerai tersebut menjadi bertuliskan "Surat Persetujuan Risiko Praoperasi".

Dia membuka ruang obrolannya dengan Brad, lalu mengetik pesan.

[ Alden butuh tanda tangan untuk operasinya. Malam ini aku akan pulang ke rumah. ]

Brad tidak membalas. Carol tanpa sadar membuka aplikasi catatan, lalu menuliskan angka "499".

Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, jika semua kata yang diucapkan Brad kepadanya dijumlahkan, jumlahnya bahkan tidak mencapai 500 kata.

Namun demi penampilan perdana Prilly, Brad menyiapkan pidato ucapan terima kasih sepanjang 2000 kata yang diputar berulang kali di berbagai layar di rumah sakit. Kehadiran Prilly telah membuatnya menjadi lebih banyak bicara.

Dibandingkan dengan itu, Carol akhirnya pasrah. Dia merasa pedih karena masih memiliki kebiasaan mencatat hal seperti itu secara naluriah. Lalu dia menekan tombol hapus.

Saat Carol pulang ke rumah, Prilly juga ada di sana.

Matanya merah karena menangis. Brad sedang menghiburnya dengan suara lembut, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa tidak sabar.

"Tenang saja. Opini publik nggak akan memengaruhi masa depanmu. Aku akan mengembalikan keadilan untukmu."

Carol hanya sempat mendengar kalimat itu. Begitu mereka melihatnya masuk, percakapan langsung terhenti.

Prilly kemudian berdiri. Dengan senyum tipis di bibirnya, dia berkata, "Kak Carol, aku sudah memberi tahu Pak Brad tentang kondisi Alden. Dokter yang mengoperasi Alden adalah paman sepupuku. Kemampuannya nggak perlu diragukan lagi. Alden pasti akan baik-baik saja!"

"Apa Kak Carol marah karena Pak Brad nggak pergi menjenguk Alden? Ini semua salahku. Ada yang merekam video kami di bandara, lalu semua orang memanggilku pelakor. Aku dan Pak Brad diserang habis-habisan di internet. Karena menenangkanku, dia jadi nggak sempat ke rumah sakit."

Jadi, itulah alasan Brad tidak membalas pesannya.

Dia lebih memilih percaya pada omongan Prilly tanpa bukti daripada pergi melihat keadaan Alden di rumah sakit.

Carol tertawa mengejek dirinya sendiri. Untung saja, setelah ini dia tidak akan lagi memiliki hubungan apa pun dengan Brad.

"Operasi penyambungan Alden sangat rumit dan berisiko tinggi. Karena itu, diperlukan tanda tangan kedua orang tuanya."

Brad mengangkat pandangan.

"Carol, sandiwara apa lagi yang sedang kamu mainkan? Sengaja membesar-besarkan kondisi anak demi mencari simpati? Cara seperti itu terlalu murahan."

Tatapannya dipenuhi ketidaksetujuan.

"Hubunganku dengan Prilly bersih dan nggak pernah melewati batas. Pikiranmu saja yang kotor sampai salah paham sama hubungan kami. Sekarang kamu bahkan memanfaatkan anak untuk membohongiku. Begitukah cara kamu mendidik anakmu?"

Prilly yang berdiri di tengah-tengah mereka buru-buru berkata, "Kak Carol, jangan marah sama Pak Brad. Ini semua salahku. Aku seharusnya nggak ikut kompetisi itu, juga nggak pantas mengadakan pesta perayaan."

"Diam." Carol mengernyit kuat, menahan rasa mual yang bergolak di perutnya, lalu menatap Brad.

"Tanda tangani. Nyawa Alden lebih penting."

Setelah dimarahi, Prilly bersembunyi di samping sambil terisak pelan.

"Jangan bertengkar gara-gara aku. Aku nggak penting. Nggak apa-apa meski aku difitnah orang-orang di internet ...."

Melihat itu, tangan Brad yang tergantung di sisi tubuh mengepal erat.

"Kamu ingin aku menandatangani, 'kan?"

"Ya."

"Minta maaf sama Prilly."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 19

    Levi tidak pergi. Dia menemukan rumah keluarga Carol dan berjaga di depan rumah semalaman.Malam itu, London yang biasanya jarang turun salju justru diguyur salju.Pagi-pagi sekali, saat Alden sudah berpakaian rapi dan bersiap bermain salju, dia melihat Brad meringkuk di depan pintu dalam keadaan tertidur lelap."Papa?" panggil Alden pelan.Brad berusaha membuka matanya. Dia mengernyit. "Alden?""Papa kenapa datang ke sini?"Brad baru hendak menjawab, tetapi kemudian melihat lengan Alden yang kini kosong. Alden membawa semua mainannya dengan satu tangan, tampak sedikit kesulitan. Dia meletakkan mainan-mainannya di lantai, lalu kembali menatap Brad.Brad mengulurkan tangan hendak menggandengnya, tetapi Alden mundur dua langkah dan menghindarinya."Alden, lenganmu .... Papa minta maaf padamu ...."Betapa inginnya Brad menampar dirinya yang dulu. Kalau saja saat itu dia memberikan pesawatnya kepada Alden, lengan Alden pasti masih bisa disambung kembali.Alden tahu apa yang membuatnya mera

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 18

    Setelah menempuh perjalanan selama belasan jam dengan transit, Brad akhirnya tiba di London.Sejak melihat berita kemarin hingga sekarang, dia tidak memejamkan mata sedikit pun. Begitu mengetahui teater tempat Carol bekerja, dia langsung menuju ke sana setelah mendarat.Saat ini, London sedang memasuki musim dingin yang menusuk. Karena datang terburu-buru, dia bahkan tidak sempat membawa pakaian untuk musim dingin. Di tubuhnya hanya ada setelan jas hitam yang dikenakannya saat pertunjukan.Dia menunggu tepat lima jam di depan teater hingga tubuhnya kaku karena kedinginan dan ujung hidungnya memerah. Satpam di pintu menyarankannya masuk untuk menunggu, tetapi Brad menggeleng dan menolak.Dia tidak ingin masuk tanpa izin Carol. Dia takut Carol marah.Setelah menunggu dua jam lagi, hari mulai gelap. Akhirnya, dia melihat sosok yang begitu dikenalnya. Hanya saja, di belakang sosok itu kini ada seorang pria yang tubuhnya lebih tinggi dan besar darinya.Pria itu menggenggam tangan kecil Caro

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 17

    Setelah mengetahui bahwa dirinya telah diceraikan sepihak, Brad mengurung diri di rumah dan menghabiskan hari-harinya dengan minum untuk melupakan kesedihan.Dia sering menatap layar ponselnya sambil termenung.Ibu Brad, Isti, beberapa kali datang. Melihat putranya yang dulu penuh semangat kini terpuruk seperti ini, tentu saja hatinya terasa sangat sakit."Brad, kapan kamu akan melupakan Carol? Pertunjukanmu untuk pensiun dari dunia seni sudah ditunda dua kali. Para penggemarmu menunggu penjelasan darimu.""Pada hari lengan Alden putus, aku pergi ke rumah sakit untuk melihatnya. Aku kira Carol sengaja membiarkan lengan Alden putus agar kamu lebih memusatkan perhatian pada keluarga. Aku bahkan memarahinya, mengatakan dia adalah ibu yang kejam ...."Nada suara Isti dipenuhi penyesalan. "Baru setelah itu aku tahu, ternyata kamu yang menahan pesawatnya dan mengadakan pesta perayaan untuk murid kesayanganmu.""Waktu dia bilang ingin menceraikanmu, aku nggak nyangka Carol benar-benar tega. D

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 16

    Setelah keluar dari rumah sakit, Carol tanpa sengaja menerima pesan dari pengacaranya.[ Bu Carol, Pak Brad sudah mengambil akta cerainya. Kondisinya terlihat sangat terpuruk. ]Bagaimana mungkin Brad merasa terpuruk? Dia memiliki Prilly yang bisa memberinya gairah dan pengalaman baru, juga karier yang sangat dicintainya.Carol merasa, ada atau tidak adanya dirinya tidak pernah benar-benar penting bagi Brad. Toh dulu saat menikah dengannya, Brad memang dipaksa.Usia mereka sama-sama sudah cukup untuk menikah dan perjodohan itu hanya membuat hubungan mereka terikat lebih erat.Carol menatap layar ponselnya yang dipenuhi panggilan tak terjawab dan pesan. Dia hanya merasa cinta yang datang terlambat itu tak ubahnya kotoran. Dia menarik napas panjang, lalu memblokir semua nomor dan kontak Brad.Belakangan, Brad berkali-kali menelepon Arya dan Zara, tetapi mereka sama sekali tidak mengangkatnya."Untuk apa baru menyesal sekarang?" Zara menggenggam tangan Carol sambil menghiburnya. "Carol, t

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 15

    Saat semua bukti yang menunjukkan setiap perbuatan yang telah menyakiti Carol terbentang di hadapan Prilly, dia langsung terpaku."Nggak ada penjelasan yang bisa kamu berikan?" kata Brad. Dia merasa dirinya sudah bersikap sebaik mungkin terhadap Prilly. "Aku nggak akan menuntutmu, asal kamu nggak terus menggangguku.""Prilly, kita cuma guru dan murid. Kuharap kamu bisa menjaga diri."Prilly tidak menyangka Brad akan bersikap sedingin ini kepadanya. Kalau begitu, apa arti semua kenangan di antara mereka selama ini?Akal sehatnya perlahan mulai runtuh."Brad! Jadi di hatimu aku cuma seorang murid? Jangan bercanda! Mana ada orang yang pakai foto profil pasangan dengan muridnya? Pakai baju pasangan, bahkan sampai menulis sendiri pidato untuk pertunjukan kecilku yang hanya dihadiri sepuluh orang?""Sekarang Carol menghilang, baru kamu tahu arti menghargainya dan ingin menjauh dariku. Apa nggak terlambat? Semua orang tahu hubungan kita nggak biasa. Walaupun nggak pernah selingkuh secara fisi

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 14

    "Belum, Pak. Semua pengawal dan detektif swasta yang kita kirim, pulang dengan tangan kosong. Keberadaan Nyonya sepertinya sengaja dihapus.""Satu-satunya petunjuk adalah mobil yang ditumpangi Nyonya saat dibawa pergi."Brad mengambil foto dari tangan asistennya dan melihatnya sekilas. "Selidiki. Istriku sudah hilang lebih dari 24 jam. Laporkan ke polisi."Asisten itu mengangguk, tetapi tampak masih ingin mengatakan sesuatu."Ada apa?""Masih ada beberapa berkas lagi. Ini mengenai Nyonya dan putra Bapak."Begitu mendengar itu, Brad segera merebut berkas itu dan membukanya. Dia menunduk. Sorot matanya dipenuhi ketegangan, bahkan kedua tangannya gemetar."Lengan Tuan Alden nggak pernah ditemukan. Hari itu hujan badai melanda Kota Handir dan memang nggak ada penerbangan kedua menuju Kota Handir.""Selain itu, alasan Tuan Alden melompat dari gedung adalah karena dihasut oleh teman Bu Prilly. Temannya bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Setelah klarifikasi dipublikasikan, dia langsung m

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status