Se connecterRaffa Adi Wijaya adalah seorang dosen muda di sebuah universitas ternama di Jogja. Ia tumbuh dan besar di lingkungan pondok pesantren hingga memasuki bangku kuliah. Setelah lulus dan menjadi sarjana, Raffa menerima beasiswa untuk melanjutkan studi ke Mesir selama 4 tahun. Raffa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Raffa remaja memang seorang pemuda yang penuh prestasi, sifatnya pendiam dan lebih senang menyibukkan diri dengan membaca buku. Namun dengan sikapnya itu, ia mampu bergabung dengan sebuah organisasi kemahasiswaan yang membuatnya semakin dikenal berbagai kalangan. Raffa remaja penuh dengan ambisi untuk menyelesaikan pendidikannya. Tidak ada kisah percintaan yang mewarnai sebagian perjalanan hidupnya. Ia terlalu serius belajar dan menata masa depannya sendiri hingga sampai diusiannya yang ke 35, ia masih melajang dan tengah menyelesaikan pendidikan doktornya. Keseriusannya dalam belajar membuatnya menjadi kaku dalam menghadapi persoalan asmara. Raffa sendiri berkali-kali secara tidak sengaja dekat dengan seorang wanita. Kebanyakan ia dekat karena teman-temannya yang usil dan sengaja mengenalkannya dengan wanita-wanita yang tertarik padanya. Dan Raffa tidak pernah benar-benar membawa mereka ke dalam sebuah hubungan romantis. Raffa menolak mereka semua mentah-mentah. Membuat banyak perempuan menangis patah hati. Di sisi lain, sang bapak juga mengeluhkan anak bungsunya yang tak kunjung menikah. Meskipun begitu, ia tak terlalu ikut campur dengan mencarikannya kandidat untuk dijadikannya menantu. Ia hanya ingin Raffa sendiri yang membawa calon istrinya itu ke hadapannya. Dan karena itu, sudah ada beberapa teman lamanya itu datang kepadanya dan menawarkan anaknya untuk berbesanan. Dan lagi, sang bapak tidak menyetujuinya kala sang anak menolaknya. Entah apa yang dicari anaknya sampai Raffa menolak semua perempuan yang datang kepadanya. Sudirman hanya berharap ia masih bisa menyaksikan anak bungsunya menikah sebelum ajal menjemputnya. **** Di sebuah ruangan kampus, Raffa terlihat duduk terdiam menatap mahasiswa yang tengah presentasi. Ia terlihat memperhatikan meskipun pikirannya melayang entah kemana. Para siswa menatap gelagat aneh dosennya yang tak biasa. Sudah dua pertemuan dalam pekan ini dan mereka melihat Raffa yang kurang fokus dalam mengajar. Ia sering terlihat diam dengan pikiran yang tak fokus di tempat. "Demikian penjelasan penafsiran surah Al-insyirah dari ayat satu sampai sebelas yang berkaitan dengan kehidupan modern dan bagaimana kita sebagai pemuda dan pemudi dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sekian dan terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullohi wabarokatuh." Suara riuh tepuk tangan mengakhiri presentasi dari sebuah kelompok tugas. Raffa yang menyadari bahwa tugas penyampaian kelompok itu selesai ikut bertepuk tangan dan mengambil lembar kerja yang diberikan siswanya. "Silahkan duduk kembali." ucap Raffa tenang sembari fokus pada lembaran kertas itu. Diam-diam ia merutuk kesal, pikirannya menjadi buyar karena terlalu memikirkan sosok perempuan cantik di kampung halamannya. Ada rasa resah yang melingkupi hatinya hanya karena seorang perempuan. Raffa tahu ia telah mengambil tindakan yang tepat, memberitahu Layla akan perasaannya, lalu meminta Layla menunggu dirinya hingga waktu yang tiba untuk segera ia pinang. Raffa sempat berpikir, meninggalnya suami pertama Layla mungkin merupakan jalan tuhan untuk dirinya memiliki perempuan itu. Dengan demikian, ia akan berusaha mendapatkan Layla dan menyingkiran laki-laki yang berusaha mendekati janda cantik itu. Pikiran Raffa kembali ke kelasnya saat ini. Ia menatap seluruh siswa yang sedang santai berbincang dan berdiskusi. Kemudian ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum menunjukkan angka 11, sudah waktunya ia membubarkan kelas. "Sudah cukup untuk kegiatan kelas ini. Saya minta dua kelompok kelas lagi mempersiapkan materimya untuk presentasi pekan depan. Sekian, Assalamu'alaikum." Serempak para siswa menjawab salam dari dosennya yang berlalu keluar. Raffa melangkah kecil melihat suasana lorong kampus yang tak terlalu ramai. Sebagian kelas masih terisi oleh mahasiswa dan Raffa bisa berjalan tenang tanpa sapaan dan lirikan dari beberapa mahasiswa. Hingga sebuah sapaan di belakang membuat Raffa menghentikan langkahnya, "Assalamu'alaikum pak Raffa." ucap seorang mahasiswi berhijab peach, terlihat menyilaukan dengan warna kulitnya yang seputih susu. Raffa mengangguk lantas menjawab salam itu. "Wa'alaikum salam, Eva. Ada apa memanggil saya?" tanya Raffa formal, menatap salah satu siswanya di kelas tafsir tadi dengan tanda tanya. "Saya lihat bapak kurang fokus di kelas tadi, apa bapak baik-baik saja?" tanya Eva yang memang sejak di kelas selalu memperhatikan dosen muda itu. Eva sendiri sedikit dekat dengan dosennya itu. Ia adalah sosok yang membimbing dirinya serta mamanya dalam mengenali dan belajar agama islam. Eva sendiri adalah seorang pebisnis muda yang baru saja mualaf bersama ibunya. Namun karena rasa ketertarikannya yang besar terhadap islam, gadis itu memutuskan untuk kembali kuliah dan belajar lebih serius terhadap agama yang dianutnya sekarang. Dan kebetulan, Raffa kini kembali menjadi salah satu dosennya membuat Eva senang karena ia tidak menampik bahwa ia kagum dan menyukai sosok berkharisma itu. "Saya baik, ahlamdulillah." jawab Raffa dengan sedikit senyum. "Alhamdulillah, kalau begitu. Saya pikir bapak sedang sakit." Raffa menggeleng, lalu kembali berpamitan, "Kalau begitu saya permisi dulu." "Ehm, tunggu... Kata mama, kalau bapak punya waktu luang dan berkenan, bisa hadir di acara pengajian di rumah sore nanti." Raffa berpikir sejenak menatap Eva yang tengah menanti jawaban, "Sepertinya saya tidak bisa, keponakan saya akan datang ke rumah. Tolong sampaikan salam dan permintaan maaf saya ke bu Jane." "Baik, terima kasih pak." jawab Eva sedikit lesu akan penolakan Raffa. Raffa kemudian mengucapkan salam lalu kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan, Raffa mendudukkan dirinya di atas kursi kerjanya. Ia mengambil ponselnya di saku celana dan menghubungi keponakannya untuk menanyakan kesiapan Aleea. Keponakannya itu akan menginap di rumahnya saat akhir pekan. Raffa pun keluar dari ruangannya dan berlalu meninggalkan area kampus. Ia mengendarai mobilnya ke sebuah komplek yayasan tahfidz qur'an dimana Aleea tinggal disana. Setelah sampai di halaman depan, Raffa memarkirkan mobilnya bersamaan dengan datangnya sang ponakan dari dalam gedung. Terlihat Aleea yang mengenalan abaya hitam berjalan menghampiri pos penjaga dan menyerahkan surat izinnya sebelum memasuki mobil yang dikendarai Raffa. "Om gak mau ketemu ustadz Hilmi dulu?" tanya Aleea begitu duduk di atas kursi mobil lalu menyalami pamannya itu. Raffa sendiri langsung menstater mobilnya dan melajukan mobil keluar gerbang. "Langsung pulang aja, kalau ketemu dulu pasti ngobrol lama dan kamu jadi bete sama om." Ustadz Hilmi sendiri merupakan teman Raffa semasa kuliah sarjana dulu, dan kini ia merupakan salah satu dewan pondok yayasan tempat Aleea mengajar. "Gimana ngajar kamu semester ini?" tanya Raffa mengenai kegiatan Aleea di asrama, karena selain kuliah, keponakannya itu memiliki kegiatan mengajar santri pondok yayasan itu. "Ya begitulah om, anak-anak sudah lebih giat menghafalnya. Jadi Leea tinggal banyakin muroja'ahnya." Jawab Aleea kurang semangat, seperti sedang menyimpan suatu beban di dalam benaknya. Raffa yang selalu peka akan kondisi keponakannya merasa heran. "Kenapa lesu begitu?" tanya-nya penasaran. Aleea tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan banyak bercerita jika sudah bertemu dengannya. "Leea lagi ngerasa bersalah banget sama Layla, om." Raffa mencerna sejenak ucapan Aleea barusan. Ah, mendengar namanya disebutkan membuat perasaan Raffa berdebar. Ada perasaan rindu yang kuat untuk melihat kembali sosok yang telah lama dinantinya. Diam-diam Raffa menatap Aleea yang muram dengan tatapan tertarik ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Layla. "Memangnya kenapa?" "Tadi kan kita vc-an, terus Leea malah ngomongin si Riko." Raffa berdehem kala nama laki-laki asing disebut oleh keponakannya, siapa dia? Aleea memang sering curhat dengannya, apalagi tentang Layla, namun nama laki-laki itu belum pernah terdengar olehnya, atau ia hanya lupa? "Siapa Riko?" tanya Raffa sedikit was-was. Namun dengan raut wajah yang datar, seolah sosok itu tak menarik perhatiannya. Aleea pun menatap om-nya dan mulai bercerita, dan Raffa sesekali menoleh dari arah jalanan untuk merespon ucapan Aleea. "Temen sekelas dulu. Dulu kan dia naksir berat sama Layla. Saking sukanya itu sampai satu sekolahan pada tahu. Tapi Layla gak suka dan selalu nyuekin dia. Tapi si Riko tetep kekeuh suka sama Layla sampai-sampai pas waktu nikahan Layla, dia bukannya ngasih selamat, malah ngirim pesan "Kutunggu jandamu, Layla. Waktu itu dia gak dateng ke nikahannya Layla, kayaknya patah hati berat." Raffa berdehem gusar, kenapa ia baru tahu ada lelaki lain yang begitu tertarik kepada Layla? Apalagi sejak masa sekolah? "Tapi om jangan kasih tahu siapa-siapa ya, ini rahasia. Layla gak mau orang lain tahu." ucap Aleea dengan tatapan memohon. Raffa hanya mengangguk meng-iya kan. Lagi pula, memangnya dia mau cerita ke siapa semua curhatan keponakannya yang cerewet itu? Dia sendiri baru menyadari belum ada sosok yang selalu menjadi tempat bercerita dan berkeluh kesah selain keponakannya itu. Meskipun perbedaan usia mereka terpaut cukup jauh, namun mereka sudah tinggal dan diasuh bersama sedari kecil. Aleea kecil adalah korban dari retaknya rumah tangga kedua orang tuanya. Keduanya bercerai dan memilih jalan kehidupan masing-masing, meninggalkan anak kecil yang masih menginginkan kasih sayang kedua orang tuanya. Namun, Aleea tidak mendapatkannya. Sejak orang tuanya berpisah, ia diasuh oleh nenek dan kakeknya yang tak lain adalah orang tua Raffa. Sementara mamanya Aleea memilih bekerja di luar kota dan bahkan mempunyai keluarga baru di sana. Oleh karena itu, Raffa selalu merasa kasihan dan selalu ingin menjadi orang terdekat yang Aleea butuhkan kapanpun. Hingga kini mereka begitu dekat dan saling menyayangi melebihi kakak beradik. "Kalau rahasia, kenapa kamu kasih tahu om?" "Om kan bisa jaga rahasia." ujar Aleea terkekeh, menampilkan gigi putihnya. "Terus kenapa harus dirahasiakan?" "Kata Layla itu aib." Raffa terkekeh, entah kenapa ia membayangkan wajah Layla yang cemberut kalau tahu rahasianya itu sudah ia ketahui. Ia jadi teringat, apakah dirinya juga aib karena sudah menyatakan perasaannya waktu itu? Sepertinya Layla tidak menceritakan kejadian itu kepada Aleea. "Jadi, si Riko itu masih naksir Layla sampai sekarang?" Aleea mengangguk ragu, "Kayaknya iya. Soalnya akhir-akhir ini dia sering nge-chat Leea nanyain Layla terus." "Layla tahu itu?" Kembali Aleea mengangguk, membuat Raffa dilanda penasaran. "Leea kasih tahu tadi." "Terus responnya gimana?" "Marah." Raffa terkejut, namun hatinya merasa senang akan hal itu. "Kenapa marah?" "Ya... Salah Leea juga sih malah ngomongin cowok disaat suaminya baru meninggal. Dia marah, kenapa orang-orang suka ngomongin cowok, mentang-mentang dia janda, gitu." "Makanya kamu jangan jodoh-jodohin Layla sama si Riko itu." ujar Raffa dengan tatapan yang lurus ke depan. "Enggak jodohin, om. Lagian Layla juga gak bakalan mau sama si Riko." "Memangnya kenapa?" tanya Raffa dengan rasa penasaran yanh tak bisa disembunyikan. Semakin lama mendengar cerita Aleea, semakin tinggi pula rasa penasaran akan ceritanya, terutama tentang Layla. "Bukan type-nya Layla. Leea juga setuju sih, masa perempuan se-alim dan sekalem dia sama cowok begajulan kayak si Riko, mana dia playboy pula. Emang sih ganteng, tapi dikiiitt. Pokoknya masih gantengan om lah. Menang om kemana-mana." Raffa diam-diam tersenyum senang mendengar penuturan Aleea. Secara fisik dan penampilan, berarti ia menang daripada si Riko itu. Di pertigaan, Raffa membelokkan mobilnya ke sebuah kawasan yang menjadi tempat acara bazar UMKM. Aleea merasa heran sekaligus senang, karena ia belum sempat mengunjungi bazar tersebut. "Eh, kenapa belok ke sini om?" tanya-nya pura-pura terkejut. "Gak mau jajan? Yaudah, putar balik aja." ujar Raffa saat hendak memasuki area parkir. Namun Aleea segera mencegahnya, "Eh... Mau lah om." "Terusin cerita kamu." ujar Raffa sembari mencari tempat parkir yang kosong. Kebetulan tempat itu sudah ramai meskipun hari masih siang mengingat besok adalah akhir pekan. "Gak biasanya... Dipuji dikit langsung ngasih jajan." gumam Aleea mengetahui alasan Raffa yang tiba-tiba ini. Biasanya lelaki itu malas mengajak keponakannya untuk jajan di luar. "Om baru gajian, Leea. Gak boleh traktir?" kilah Raffa dengan wajah datar. Hal itu membuat Aleea mencebik jengah. 'Alasan klise.' "Yasudah, lanjutin dulu cerita kamu." "Lanjutin apa..." tanya Aleea yang langsung disela oleh Raffa, "Tentang Layla." Aleea berpikir sejenak sebelum kembali bercerita, "Ehmm... Layla tuh sukanya cowok yang kalem, otaknya pinter, jago ngaji, tinggi, alim. Makanya pas kak Raihan ngajak ta'arufan dia gak nolak." "Dulu kalian satu pondok?" tanya-nya mengenai Raihan, almarhum suami Layla. "Enggak, dulu kak Raihan suka main ke anak dewan di pondok dan mungkin ngelihat Layla terus terpesona sama dia. Terus pdkt kirim-kirim surat gitu." "Kenapa kamu mesem-mesem gitu sih?" tanya Raffa melihat ekspresi Aleea yang senyum-senyum malu. "Ya seru aja ngingetnya. Leea aja nge-fans sama dia. Pokoknya dia tuh sebelas dua belas sama om, idamannya para santriwati." ucap Aleea sambil terkikik, lalu muram kemudian, "Sayangnya umur kak Raihan gak lama." ujarnya sambil menerawang, mengingat kabar duka yang disampaikan kakeknya melalui sambungan telepon.Setelah sholat subuh berjamaah, Layla pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri yang tertunda akibat bangun kesiangan tadi. Layla keluar beberapa menit kemudian dengan memakai gamis sederhana dengan rambut yang basah sehabis keramas. Sambil menghadap cermin, Layla mengeringkan rambut sepinggangnya menggunakan hair dryer. Suara nyaring dari benda tersebut menyamarkan suara pintu yang terbuka sehingga kala tatapannya bersibobrok dengan Raffa, Layla terjengkit kaget dan hampir saja menjatuhkan hair dryernya. Di belakang sana, tepat di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, Raffa berdiri sembari menatap Layla tanpa berkedip, membuat Layla sedikit lebih gugup. Pasalnya baru kali ini ia dilihat tanpa hijab oleh Raffa karena malam-malam sebelumnya ia selalu memakai hijab meskipun sedang saat tidur. "Kamu yang beresin semua barangnya?" tanya Raffa memecah keheningan.Layla kemudian menoleh, lantas mengangguk membenarkan. "M
Pukul 9 malam, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Raffa setelah berjam-jam lamanya diperjalanan. Perjalanan panjang dan melelahkan yang membuat beberapa kali terhenti hanya untuk sekedar istirahat.Raffa menghentikan mobilnya di pekarangan rumahnya yang terlihat terang. Selama kepergiannya, ada petugas keamanan yang memastikan keamanan serta lampu yang sengaja dinyalakan di malam hari. Raffa membuka tali sabuk pengamannya lalu menoleh ke arah Layla yang masih tertidur. Bibirnya tersungging tipis menyadari bahwa perempuan itu lebih banyak tertidur selama perjalanan.Di belakang, dengan semangat Aleea turun dari mobil bersama Ibra yang sudah terbangun. Bocah itu pun ikut kegirangan melihat tantenya bersorak senang saat keluar dari kendaraan beroda empat itu, mereka langsung berjalan memasuki rumah setelah sebelumnya Raffa yang memberikan sendiri kunci rumahnya kepada Aleea.Sementara di dalam mobil, berkali-kali Raffa membangunkan Layla dengan suara pe
Di dalam ruangan yang gelap, terlihat kilatan petir yang menyambar dari jendela kamar yang terbuka, menghembuskan angin kencang yang menyejukkan ruangan. Rintik basah nampak menciprat lantai kamar dan perlahan menjadi genangan. Namun sosok yang duduk di hadapannya hanya terdiam, memandang rintikan air seolah sengaja membiarkannya.Hingga suara ketukan diiringi teriakan menggema di balik pintu. Namun sosok itu masih terdiam membisu, membiarkan air hujan yang semakin deras masuk dan membasahi tubuhnya. "Ko... Riko!!!" sahut suara perempuan di luar. Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran keras kala sang pemilik kamar tak kunjung menjawab."Ibu kamu nyuruh aku masuk kalau rumah masih pada gelap. Kamu masih tidur, Ko? Bangun napa, masa dari pagi kamu tidur terus!""Kok, masih idup kan?" Terselip nada khawatir dalam pertanyaannya."Aku masuk nih!"Tak lama, suara decit pintu yang macet sedikit terbuka, Fitri yang berkunjung itu memasukkan kepalanya terlebih dahulu guna memastikan keberad
Suasana jalanan nampak lengang di pagi menuju siang setelah kepulangan mereka dari rumah Pak Usman. Keadaan di dalam mobil nampak hening dan hanya terdengar suara serial anak yang ditampilkan di layar tab milik Raffa. Lelaki itu sengaja memberikan perhatian lain kepada Ibra saat kejadian di rumah kakeknya tadi.Kini mereka bergerak kembali menuju kediaman Pak Sudirman untuk membawa barang bawaan sekaligus Aleea yang hendak ikut menemani perjalanan mereka. Perempuan itu akan kembali ke rutinitasnya di asrama setelah beberapa pekan menghabiskan waktunya di rumah sang kakek.Dalam keheningan itu, beberapa kali Raffa menoleh, berusaha memastikan perempuan itu baik-baik saja. "Mengenai laki-laki tadi...""Dia cuma teman, kemarin dia yang nolongin aku." lirih Layla pelan, hampir tak terdengar."Nolongin kenapa?" tanya Raffa ingin tahu."Ada hal lain yang terjadi sebelum kejadian kemarin?" tanya Raffa disaat belum mendapatkan jawaban dari Layla.Raffa kembali menoleh saat Layla masih saja te
Siang hari, Raffa bersama Layla, Ibra, dan Aleea telah bersiap untuk melakukan perjalanan jauh, namun sebelum itu mereka berkunjung kembali ke rumah Pak Usman untuk berpamitan. Layla memeluk ibunya dengan tangisan pilu yang menggetarkan hati. Pak Usman yang memangku Ibra berdiri di samping mereka mengusap punggung Layla menenangkan. "Sudah nangisnya nak, insyaalloh kehidupan kamu akan jauh lebih baik di Jogja nanti."Pelukan terurai, Raffa kemudian berkata, "Bu, pak, saya izin pamit bersama Layla dan Ibra untuk pergi ke Jogja. Bukan maksud saya untuk menjauhkan Layla dan Ibra dari ibu dan bapak, hanya saja, saat ini saya ada tuntutan kerja dan saya merasa Layla lebih baik untuk ikut dan berada di tempat yang jauh dan aman setidaknya untuk menenangkan diri dari kejadian kemarin."Pak Usman mengangguk terharu sembari menahan air mata yang ingin keluar dari kedua sudut matanya. "Bapak dan ibu mengerti, Mas Raffa. Terima kasih sudah mau menjadi penyelamat bagi kami, jika tidak ada Mas Raf
Keesokan paginya, Layla bangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa berat, penglihatannya sedikit buram dan harus menunggu penyesuaian beberapa saat.Sebuah sosok yang tengah duduk bersila di lantai dan membelakanginya nampak khusuk tak menyadari pergerakan di belakangnya.Layla yang mengetahui pria itu adalah Raffa memilih untuk diam dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah pelan. Di dalam kamar mandi, Layla menghembuskan nafas gusar, entah harus bersikap bagaimana nanti di depan Raffa, terutama di hadapan keluarganya. Perasaannya berkecamuk, terlebih saat kembali mengingat perkataan Salma semalam.Layla tahu, Salma kecewa dengan pernikahan adiknya ini, namun Layla juga tak bisa mencegahnya karena desakan dari berbagai sisi dan juga permasalahan yang ia sendiri tak pernah dilakukan.Mencoba melupakan sejenak permasalahannya, Layla memilih beranjak ke kamar mandi dengan perlahan tanpa menimbulkan suara. Di dalam kamar mandi, Layla termenung memikirkan bagaimana cara menghadapi ha







