Share

Isue

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-09-16 23:07:12

Brak! Brak! Brak!

Bening tersentak hebat di atas ranjang. Kepalanya yang masih pening mendadak berdenyut sewaktu gedoran kasar menghantam pintu depan rumahnya. Ia hampir saja melompat dari tempat tidur karena kaget, kalau saja tangan Banyu tidak cepat menahan bahunya.

“Tetap di sini, Ning. Biar Mas yang lihat,” bisik Banyu tegas. Raut wajahnya berubah keruh. Ia merapikan letak selimut Bening sebelum bergegas keluar kamar.

Brak! Brak!

“Bening! Keluar kamu!” Suara teriakan wanita dari luar memeca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Hangat Yang Tertinggal

    Bagas tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bisikan yang terlepas dari bibirnya di kamar Lily terus mengiang, menyatu dengan hening malam yang memendam gejolak. Tiga tahun membiarkan hatinya dingin pasca ditinggal mendiang istrinya, malam ini rasa haus akan kehadiran seorang wanita kembali membakar tanpa permisi.Bagas melangkah keluar dari kamar anaknya, menyusuri koridor rumah yang sepi. Langkahnya terhenti tepat di depan kamar Nawang. Pintunya tertutup rapat, tak ada celah sinar lampu yang keluar. Bagas menatap pintu kayu itu lama, mengepal jemarinya kuat-kuat sebelum akhirnya berbalik kembali ke kamarnya sendiri, sadar ia tak boleh melangkah lebih jauh malam ini.Sementara itu, di balik pintu kamar, Nawang masih mematung. Punggungnya masih menempel pada daun pintu yang dingin. Setiap kali ia mencoba menarik napas dalam, sensasi genggaman jemari Bagas di pinggangnya seolah terulang kembali, mengirim pendar hangat yang merambat hingga ke ceruk lehernya."Nawang... sadar," bisiknya

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Aku Menginginkannya

    Di rumah Bagas, malam merambat semakin larut. Setelah pintu kamar Lily tertutup rapat, Nawang masih berdiri mematung di sisi ranjang. Kata-kata Bagas sebelum pergi tadi terus berputar di kepalanya. Sentuhan hangat di pelipisnya terasa seolah masih tertinggal, meninggalkan sensasi halus yang membuat dadanya tak kunjung tenang.“Nawang….ingat Nawang..ingat…kamu gak boleh memelihara perasaanmu itu buat Mas Bagas!” Nawang mengingatkan dirinya sendiri.Nawang menghela napas pelan. Ia menarik kursi kayu dekat meja belajar Lily, lalu duduk di sana. Tatapannya tertuju pada gadis kecil berusia tiga tahun yang kini tertidur pulas dengan napas teratur. Nawang mengoleskan sedikit minyak telon ke telapak kaki Lily, memastikan anak itu tetap hangat. Ia mendapatkan tips itu dari Tara.Pukul dua dini hari, pintu kamar kembali berdecit pelan.Nawang yang setengah mengantuk langsung tersentak tegak. Di ambang pintu, Bagas berdiri. Pria itu sudah mengganti kemejanya dengan kaus polos hitam longgar dan c

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Isue

    Brak! Brak! Brak!Bening tersentak hebat di atas ranjang. Kepalanya yang masih pening mendadak berdenyut sewaktu gedoran kasar menghantam pintu depan rumahnya. Ia hampir saja melompat dari tempat tidur karena kaget, kalau saja tangan Banyu tidak cepat menahan bahunya.“Tetap di sini, Ning. Biar Mas yang lihat,” bisik Banyu tegas. Raut wajahnya berubah keruh. Ia merapikan letak selimut Bening sebelum bergegas keluar kamar.Brak! Brak!“Bening! Keluar kamu!” Suara teriakan wanita dari luar memecah sepi malam.Banyu menyusuri koridor, memutar kunci dengan cepat, lalu menarik pintu utama.Di ambang pintu, Yuni—janda mendiang Pram—berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada. Mukanya merah padam, napasnya terengah bagai orang yang siap mengajak bertengkar.“Ada apa, Mbak Yuni? Malam-malam menggedor pintu rumah orang seperti ini? Ini jam orang istirahat, lho!” tanya Banyu dingin, berdiri menghadang di depan pintu.Yuni mendengus kencang. “Saya tidak ada urusan sama kamu, meskipun kamu lur

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Kehangatan yang Tertahan

    Perjalanan pulang dari puskesmas berlangsung begitu hati-hati. Banyu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan amat pelan, tak ingin ada guncangan sedikit pun yang membuat perut Bening bergejolak dan mual kembali.Sesampainya di rumah, Banyu tidak membiarkan Bening memijakkan kaki di ubin. Didekapnya tubuh rapuh itu hingga ke dalam kamar utama, lalu dibaringkan di atas ranjang dengan sangat pelan dan hati-hati. Ia menyelimuti Bening sampai sebatas dada, mengusap helai-helai rambut yang menempel di dahi Bening dengan rasa bersalah yang masih tersisa. “Mas buatkan bubur sebentar, ya? Jangan banyak bergerak dulu,” bisik Banyu lembut, mengecup kening Bening hangat.Bening hanya mengangguk tipis. Kepalanya masih agak berat, namun hangatnya sapuan tangan Banyu di pipinya memberikan kedamaian yang sudah dua hari ini hilang.Di dapur, Banyu berdiri di depan kompor, mengaduk panci berisi bubur halus dengan cermat. Tak ada lagi Banyu yang egois dengan amarahnya. Tiap adukan di panci itu dipenuhi

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Maaf ya, Ning....

    “Bening... kamu di mana? Ning...”Suara panggillan Banyu bergema di ruang tengah yang sepi. Ia menyusuri koridor rumah dengan langkah terburu-buru, membawa kecemasan yang membumbung tinggi sejak ia mematikan mesin kendaraan di pelataran.Suasana rumah sangat sepi.Matahari baru saja terbenam. Sepanjang jalan pulang dari kantor desa, perasaannya tidak tenang. Ada firasat buruk saat membayangkan raut pucat dan mata sembab Bening yang ia tinggalkan tadi pagi. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bening?”Selama ini dia yang selalu menerbitkan senyum di bibir Bening, tapi tiba-tiba saja dia menjadi orang yang paling menyakiti.Banyu menghela napas panjang di balik kemudi saat melangkah masuk tadi. Sikap dinginnya selama dua hari ini sebenarnya bukan karena ia membenci Bening, melainkan bentuk defensif atas rasa kecewanya yang sangat besar. Namun, membiarkan istrinya tenggelam dalam ketakutan sendirian juga bukan hal yang benar.Piring berisi lauk pauk di bawah tudung saji di meja makan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Hening itu Sakit

    Kamar utama yang biasanya menjadi tempat paling hangat di rumah itu kini terasa seperti tempat paling dingin dan asing yang pernah ada.Bening berbaring miring di atas kasur, menatap kosong pada bagian tempat tidur Banyu yang kosong dan rapi. Di luar kamar, rumah itu terasa begitu hampa. Tidak ada suara helaan napas Banyu yang biasa terdengar di sampingnya, tidak ada lengan kekar yang merengkuh pinggangnya saat dingin malam merayap.Setiap kali Bening memejamkan mata, tatapan mata Banyu yang tawar di ruang tengah tadi kembali terbayang. Tatapan tanpa amarah, tapi terasa sangat jauh. Bening meremas selimut kuat-kuat di depan dadanya. Ia menangis tanpa suara, membiarkan air mata membasahi bantal hingga basah kuyup.“Bicara apa kamu ini, Bening... Kenapa harus bawa-bawa omongan Mbak Lastri di depan suamimu?” maki Bening pada dirinya sendiri di dalam hati. Rasa bersalah menghantam dada Bening. Banyu sudah mengusahakan segalanya—bahkan rela memasang muka tembok demi membela hatinya—tapi i

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Dengar Apa Kata Orang!

    Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tolong...

    "Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Perut Saya, Mbak!

    "Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Lurah Tampan

    "Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status