LOGIN“Ning...” bisik Banyu parau.Bening menarik napas panjang, mencoba mengurai sesak yang mendadak menghimpit dadanya. Ia memalingkan wajah sejenak, mengibaskan tangannya pelan. “Lupakan, Mas. Enggak usah dibahas sekarang. Yang penting Mas Banyu fokus pulih dulu.”“Aku tidak bisa melihatmu bersama Tara, Ning.”Kalimat itu meluncur tegas dari bibir Banyu. Suaranya memang lemah, tetapi ketetapan hati di dalamnya terdengar begitu nyata dan jujur.Napas Bening langsung tertahan, air mata Bening meleleh, menetes melewati pipinya tanpa bisa dibendung. Pertanyaan, rasa bersalah, serta ingatan akan kepedihan masa lalu seolah berkumpul menjadi satu ledakan emosi.‘Sebenarnya, aku juga begitu, Mas Banyu. Tapi, saat itu aku harus segera ambil keputusan agar Mamamu berhenti menuduhku’ sahut Bening namun hanya dalam hati.Melihat lelehan air mata itu, Banyu menggerakkan tangannya yang terbebas dari infus secara perlahan. Dengan gerakan yang begitu hati-hati dan penuh kehangatan, jemarinya yang dingin
“Mbak Bening... Apa Mbak Bening dan Bang Tara memang serius? Tidak bisakah pertunangan kalian dibatalkan?” tanya Nawang pelan.Pertanyaan itu terdengar sangat egois. Bening tersenyum tipis meresponsnya, menahan gejolak di dadanya. Walau bagaimanapun, Tara adalah pria yang sudah memperlakukannya dengan sangat baik. Cintanya memang untuk Banyum tapi apa itu artinya dia bisa bersikap seenaknya?Dan, tidakkah Nawang memikirkan bagaimana perasaan Tara jika pertunangan itu mendadak dibatalkan? Bening berusaha bersikap adil dan tidak terpancing.“Kasihan Abangku, Mbak... Dia sangat membutuhkan Mbak Bening,” ujar Nawang lagi, menatap Bening dengan pandangan memohon.Bening masih memilih diam. Tanpa diminta oleh siapa pun, Bening sebenarnya tidak akan keberatan menjaga Banyu. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa keadaannya sekarang sudah jauh berbeda. Ada komitmen dan harga diri pria lain yang harus ia jaga.“Aku mengerti” ucap Bening singkat dan padat, dia berbalik sebelum Nawang menarik len
“Mas, sudah... jangan bicara dulu,” potong Bening lembut namun tegas.Ia tidak membalas permohonan maaf itu dengan kata-kata. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Bening menggunakan tangan kirinya untuk menekan tombol panggil perawat di kepala brankar, sementara tangan kanannya tetap menggenggam jemari Banyu yang dingin.“NKondisi Mas Banyu belum stabil. Kita bahas semuanya nanti kalau kamu sudah membaik,” bisik Bening seraya mengusap dahi Banyu dengan kain waslap hangat, menenangkan pria itu hingga matanya yang kuyu perlahan terpejam kembali karena pengaruh sisa obat penenang.Dua hari berlalu tanpa jeda yang berarti. Suasana di kamar rawat VIP itu perlahan menemukan ritme barunya.Bening hampir tidak pernah meninggalkan ruangan. Dari mengusap tubuh Banyu setiap pagi, memastikan posisi selang makanan tidak terganggu, hingga mengoleskan pelembab di bibir Banyu yang pecah-pecah—semua ia kerjakan sendiri dengan ketelatenan.Bu Retno yang duduk di sofa sudut ruangan memperhatikan bagaim
Sepeninggal Tara, keheningan koridor perlahan berganti dengan kesibukan malam rumah sakit. Bening duduk termenung di sudut bangku koridor, menatap pintu kamar rawat yang tertutup rapat. Tak lama kemudian, seorang perawat melangkah mendekati mereka sambil mendorong meja kecil berisi baskom air hangat dan selembar waslap bersih.“Keluarga Pak Banyu... Ada yang mau menemani saya membersihkan tubuh pasien?” tanya perawat itu ramah.Saat ini Bu Retno sudah pulang ke rumah untuk beristirahat karena kondisinya yang drop, menyisakan Nawang yang duduk di sebelah Bening. Bening refleks menoleh ke arah Nawang. Mengerti kebingungan Mbaknya, Nawang tersenyum tipis lalu mengangguk pelan—memberikan dorongan dan izin penuh untuk Bening.Bening menarik napas panjang, lalu berdiri dan mengikuti langkah perawat masuk ke dalam kamar rawat Banyu.Begitu pintu tertutup, ruangan itu menyambut mereka dengan aroma khas antiseptik dan irama beep... beep... beep... dari monitor medis. Tatapan Bening langsung t
“Bening, mundur! Biar dokter yang tangani!”Suara Tara memotong histeris Bening. Pria berkacamata yang memang belum melangkah jauh itu langsung melesat masuk, disusul Bu Retno yang berlari panik dengan wajah pucat pasi.“Banyu! Banyu! Ya, ampun..!” jerit Bu Retno saat matanya menangkap garis lurus hijau di layar monitor dan suara nada panjang yang memekakkan telinga.Tanpa membuang waktu, Tara melangkah cepat menekan tombol call button darurat di samping brankar, seraya langsung memeriksa denyut nadi di leher Banyu serta memastikan jalur pernapasannya. Tak sampai satu menit, pintu kamar kembali terdorong kasar. Tim medis darurat dan dokter spesialis anestesi berhamburan masuk membawa peralatan penanganan kritis.“Keluarga tolong keluar dulu! Mohon tunggu di luar!” tegas salah seorang perawat sambil mengarahkan semua orang yang ada di sana untuk meninggalkan ruangan.Pintu kembali tertutup rapat. Lampu indikator tindakan di luar kamar rawat menyala.Waktu di luar koridor rumah sakit ter
“Terima kasih, Bening... Apa yang kamu lakukan barusan membuatku semakin menyayangimu. Aku semakin yakin kamu perempuan yang tepat untukku,” ungkap Tara begitu pintu kamar rawat inap itu tertutup rapat, menyisakan mereka di dalam ruangan yang seketika berubah hening. Bening menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca menatap pria berkacamata di hadapannya.“Dokter Tara... Aku tidak sebaik itu. Tolong jangan mengatakan itu karena itu membuatku merasa sangat bersalah,” bisik Bening dengan suara bergetar.Tara tertegun sejenak. Dia menatap Bening yang kini menunduk dalam, menyembunyikan raut penyesalan yang begitu besar di wajahnya. Tara tahu betul apa yang ada di dalam pikiran Bening saat ini. Bening sedang bertarung hebat dengan hatinya sendiri. Cintanya masih tertambat utuh pada Banyu, namun rasa bersalahnya kepada Tara yang begitu tulus dan baik padanya seakan terus mencekik. Pujian dari Tara barusan justru terasa seperti beban berat yang semakin menyiksa.Tara menghela napas lembut. Dia
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te







