تسجيل الدخولDi siang harinya, Maya duduk sendirian di bawah naungan payung pantai besar, mengenakan gaun pantai tipis berpotongan santai.Dari tempatnya duduk, pandangannya tak pernah lepas dari sosok tegap di tengah laut.Anton berada di sana, di atas papan selancar, membelah ombak besar dengan kelincahan yang mengejutkan.Tubuh tegapnya yang bertelanjang dada bergerak begitu terlatih, menaklukkan gulungan air Pasifik dengan gaya yang dominan.Namun yang membuat dahi Maya berkerut adalah fakta bahwa Anton tidak sendirian.Pria itu tampak berselancar berdampingan dengan beberapa orang yang sedang tertawa lepas, dan sesekali bertukar seruan akrab yang terdengar sampai ke bibir pantai. Mereka terlihat seperti teman lama yang sudah sangat mengenal satu sama lain."Sejak kapan Om Anton punya kenalan di sini?" gumam Maya pelan pada dirinya sendiri, jemarinya memutar-mutar sedotan di dalam gelas jus mangganya."Kira-kira mereka siapa, ya? Kok kelihatannya akrab banget.""Boleh aku duduk di sini?"Sebua
Setelah pergumulan panjang yang menguras tenaga dan menyisakan rasa penat yang luar biasa di sekujur tubuh, Maya akhirnya diperbolehkan bangkit dari tempat tidur.Dengan langkah gontai dan kaki yang terasa lemas, Maya berjalan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.Ia mengenakan sundress putih longgar berbahan katun tipis yang membalut tubuhnya dengan nyaman, menyembunyikan sementara jejak-jejak kemerahan yang ditinggalkan oleh Anton di sekujur kulitnya.Begitu ia melangkah ke area teras terbuka resort, pemandangan luar biasa langsung menyambut indranya.Sebuah meja makan kecil berbalut taplak linen putih bersih telah tertata rapi tepat di atas hamparan pasir putih pantai privat.Deburan ombak yang tenang berkejaran membasahi bibir pantai, menghasilkan suara gemercik air yang menenangkan jiwa, berpadu sempurna dengan semilir angin tropis yang membelai lembut helaian rambut hitam Maya yang dibiarkan tergerai.Anton sudah duduk lebih dulu di salah satu kursi kayu jati.Pria
Cahaya matahari pagi menembus celah gorden tebal kamar suite mewah, memantulkan kehangatan tropis yang keemasan di atas seprai putih acak-acakan.Jam dinding antik bergaya klasik di sudut ruangan menunjukkan tepat pukul tujuh pagi.Anton perlahan membuka kelopak matanya yang tajam. Ia tidak langsung bangkit meninggalkan tempat tidur seperti hari-hari biasa di Jakarta.Sebaliknya, pria tegap itu memiringkan tubuhnya, menyangga kepalanya dengan satu tangan yang kokoh, lalu menatap lekat ke arah wanita yang terlelap telungkup di sampingnya dalam kelelahan yang luar biasa.Rambut panjang Maya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang bersih.Napas wanita muda itu teratur namun terdengar lelah, menjadi saksi bisu atas amukan gairah brutal yang baru reda beberapa jam lalu.Dengan senyum tipis yang jarang sekali terukir di bibirnya, Anton mulai bergerak.Pria itu menundukkan wajahnya, mengecupi kelopak mata Maya yang tertutup rapat, turun menyapu pipinya yang masih menyisakan rona keme
Deru napas berat yang saling berkejaran di dalam kamar suite mewah itu kian memekakkan telinga, berpadu harmonis dengan suara desiran pendingin ruangan dan deburan ombak yang menghantam karang di luar sana.Jeritan nikmat Maya yang sempat melengking tertahan akhirnya tuntas diredam oleh ciuman kasar, rakus, dan tanpa ampun dari Anton.Pria tegap itu sama sekali tidak memberi waktu bagi kesadaran wanita di bawahnya untuk pulih.Dengan gerakan satu tangan yang kekar, Anton mengangkat tubuh ramping Maya dalam sekali sentakan, lalu menghempaskannya kembali ke atas permukaan ranjang king-size berseprai putih bersih yang kini telah kusut masai.Tanpa membuang sedetik pun, Anton menindih tubuh Maya dengan bobot tubuhnya yang kokoh dan berotot, mengunci kedua pergelangan tangan wanita itu erat-erat di atas bantal di sisi kepalanya.Posisi tersebut menciptakan kungkungan mutlak yang membuat Maya tak memiliki celah sedikit pun untuk melarikan diri, selain menyerahkan diri sepenuhnya pada badai
Pintu kamar suite mewah tertutup rapat dengan bunyi klik otomatis yang menandakan dunia luar kini benar-benar terisolasi dari mereka berdua.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kulit, berpadu sempurna dengan aroma essential oil berteknologi tinggi yang awalnya diciptakan untuk menenangkan saraf.Namun, ketenangan semu itu seketika hancur berkeping-keping oleh hantaman gelombang gairah yang membara liar di antara dinding-dinding kayu jati.Anton langsung merengkuh pinggang ramping Maya begitu langkah mereka melewati ambang pintu.Dengan gerakan penuh otoritas yang tak memberikan ruang bagi wanita itu untuk menghindar, Anton mendorong tubuh Maya perlahan hingga punggungnya membentur dinding kamar yang empuk berlapis panel kayu jati mewah.Tanpa basa-basi sedikit pun, Anton melumat bibir Maya dalam sebuah ciuman yang luar biasa brutal, menuntut, dan mendominasi kesadaran.Maya sempat terkesiap, bibirnya terbuka karena terkejut, namun celah itu langsung dimanfaatkan ole
Angin laut malam berembus lembut, membawa serta kesejukan Samudra Pasifik yang berpadu sempurna dengan aroma panggangan wagyu dan mentega lemon yang menggugah selera.Di bawah naungan langit Hawaii yang bertabur bintang gemintang, meja makan pualam putih itu menjadi satu-satunya sumber cahaya hangat yang menerangi teras terbuka vila privat mereka.Maya kembali menyuapkan sepotong kecil daging wagyu yang lembut ke dalam mulutnya.Sensasi gurih bercampur juicy yang meleleh seketika di lidahnya membuat wanita muda itu tanpa sadar memejamkan mata sejenak, menikmati kelezatan kuliner mewah yang seumur hidup baru pertama kali ia rasakan.Melihat ekspresi polos dan kepuasan yang terpancar di wajah Maya, Anton menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.Pria tegap itu meletakkan serbet kain di atas pangkuannya, lalu menegakkan tubuhnya yang terbalut kemeja linen gelap."Kamu menghabiskannya seperti anak kecil yang kelaparan, Maya," ucap Anton datar, namun ada nada geli yang terselip dala







