Share

Bab 6

Author: Itsmoore
last update Last Updated: 2026-01-15 18:20:13

"Ma-maksud Bapak, seputar masalah kelainan itu, Bapak minta saya buat... buat..."

Lidahku kelu setengah mati untuk menyelesaikan kalimat itu karena otakku sudah terlanjur membayangkan adegan liar yang biasa aku tulis di novel.

"Ma-maksud Bapak... bantuan seperti apa? Bapak jangan aneh-aneh ya, atau saya teriak nih kalau Bapak mau macem-macem sama saya!"

"Jangan berpikir terlalu jauh dulu, Nara." Argan menyilangkan kakinya dengan santai, seolah dia sedang berada di ruang kerjanya yang mewah, bukan di kamar kos sempit yang bau obat nyamuk bakar ini.

"Dengar baik-baik penawaran saya karena saya tidak suka mengulang kalimat yang sama dua kali. Saya membutuhkan seseorang untuk membantu meredakan gejala fisik yang timbul akibat kondisi hiperseksualitas saya. Seperti yang kamu tulis di analisis sok tahu kamu itu, obat medis tidak mempan, dan pelampiasan dengan wanita sembarangan justru membuat saya semakin kosong."

Aku memberanikan diri untuk duduk bersila di atas kasur sambil memeluk bantal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 6

    "Ma-maksud Bapak, seputar masalah kelainan itu, Bapak minta saya buat... buat..."Lidahku kelu setengah mati untuk menyelesaikan kalimat itu karena otakku sudah terlanjur membayangkan adegan liar yang biasa aku tulis di novel."Ma-maksud Bapak... bantuan seperti apa? Bapak jangan aneh-aneh ya, atau saya teriak nih kalau Bapak mau macem-macem sama saya!""Jangan berpikir terlalu jauh dulu, Nara." Argan menyilangkan kakinya dengan santai, seolah dia sedang berada di ruang kerjanya yang mewah, bukan di kamar kos sempit yang bau obat nyamuk bakar ini."Dengar baik-baik penawaran saya karena saya tidak suka mengulang kalimat yang sama dua kali. Saya membutuhkan seseorang untuk membantu meredakan gejala fisik yang timbul akibat kondisi hiperseksualitas saya. Seperti yang kamu tulis di analisis sok tahu kamu itu, obat medis tidak mempan, dan pelampiasan dengan wanita sembarangan justru membuat saya semakin kosong."Aku memberanikan diri untuk duduk bersila di atas kasur sambil memeluk bantal

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 5

    Pak Argan kembali meliihat bagian yang mendeskripsikan rasa sakit di kepala, tertulis juga kekosongan yang tidak bisa diisi meski sudah berhubungan badan berkali-kali, lalu ada selipan kata hiperseksualitas yang membuatnya melepas cengkeraman di leherku."Kamu nggak tahu apa yang ada di pikiranku, Nara, tapi jujur, saya ini heran. Kamu hanya melihat saya berhubungan badan, tapi kenapa tulisan kamu ini, dari bab 1 sampai bab 2, lalu di kerangka kamu, kamu bisa menggambarkan dengan tepat apa yang saya rasakan semalam?"Aku menelan ludah susah payah. Insting penulisku memang kadang suka kelewat tajam kalau soal mendramatisir keadaan, tapi aku tidak menyangka kalau tebakanku soal perasaan Pak Argan ternyata akurat seratus persen."S-saya... saya cuma menebak, da-dari muka Bapak yang... yang kayak orang kesakitan, bukan kayak orang yang lagi keenakan."Jawaban polosku itu membuat pertahanan diri Pak Argan seolah runtuh sedetik. Bahunya turun sedikit, dia menghela napas panjang dan kasar, l

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 4

    PRAANG!Di seberang sana, Pak Argan yang tadinya sedang menunduk kesakitan, tiba-tiba langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar bunyi di ujung kamarnya. Dia menoleh pelan, sangat pelan, ke arah dinding pembatas, tepat ke arah di mana aku sedang mengintip.Jantungku rasanya berhenti berdetak."Jangan lihat ke sini, jangan, kumohon jangan lihat ke sini... "Tapi doa orang maksiat sepertinya memang susah dikabulkan.Pak Argan bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati dinding itu. Matanya yang tajam menyipit, mencari sumber suara yang tadi mengganggu pendengarannya.Aku ingin lari, ingin menarik kepalaku menjauh, tapi tubuhku kaku seolah dipaku di tempat karena rasa takut membuatku lumpuh total.Pak Argan berhenti tepat di depan lubang kecil itu. Jarak kami sekarang mungkin hanya terpisah beberapa sentimeter dinding beton. Dia mendekatkan wajahnya, meneliti permukaan dinding kamarnya yang tertutup dipenuhi foto, sampai akhirnya matanya menangkap sebuah titik kecil yang tida

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 3

    Pak Argan membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Jangan bikin saya kecewa lagi. Saya paling benci sama orang yang kerjanya setengah-setengah. Kalau mau main-main sama saya, jangan setengah-setangah. Paham?"Ah, kenapa, sih, kalimat Pak Argan ambigu banget!Otak polosku langsung menerjemahkannya ke mana-mana. Apa maksudnya main? Main skripsi? Atau main yang lain?"P-paham, Pak, malam ini saya siapkan kerangkanya," jawabku panik sambil berdiri tegak, hampir saja menabrak dagunya saking dekatnya posisi kami.Begitu sampai di lorong yang sepi, aku bersandar di dinding sambil memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Bukan cuma karena dia galak dan sadis soal nilai, tapi karena aura dominannya yang terlalu kuat. Tadi, saat dia berbisik di dekat telingaku, bukannya takut, ada bagian kecil dari diriku yang… justru sedikit basah?Bayangan bibir Pak Argan saat berbisik tadi, sorot matanya, kemejanya yang ketat sehingga otot bisepnya terlihat menonjol. Aduh, kenapa malah piktor g

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 2

    Aku membekap mulutku sendiri saking kagetnya saat mengenali wajah pria yang sedang berada di posisi atas itu adalah dosen pembimbingku yang super galak.Pak Argan yang aku kenal di kampus selalu rapi, dingin, dan menjaga jarak, tapi pria yang aku lihat sekarang sedang bermain dengan kekasihnya.Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana otot-otot punggung Pak Argan menegang saat dia bergerak dengan tempo yang gila, sementara wanita itu terus mendesah dan memanggil namanya tanpa henti."Wah, ini beneran? Sumpah, ini jauh lebih panas daripada film biru yang pernah dikirim sama Fika di grup WA sirkel dia!"Bukannya takut atau merasa bersalah karena sudah mengintip privasi orang lain, otak penulisku justru mendadak bekerja sangat cepat.Ini adalah referensi nyata yang selama ini aku cari-cari untuk novelku, sebuah adegan live action yang benar-benar natural dan tanpa rekayasa sama sekali!Dengan tangan gemetar karena campuran rasa gugup dan semangat yang menggebu, aku segera mengambil notebo

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 1

    "Aduh!"Baru saja aku melangkah terburu-buru di lobi fakultas sambil memeluk erat tumpukan draf skripsi, tubuhku tiba-tiba terdorong mundur dengan keras sehingga draft skripsi yang aku bawa jatuh di lantai.Rasanya ingin sekali aku marah-marah. Maksudku, siapa sih orang yang jalan di tempat umum tapi matanya terpaku ke layar ponsel? Apa dia pikir lobi kampus ini milik nenek moyangnya?"Kalau jalan tolong lihat depan dong, jangan..."Protesku terhenti saat aku melihat sosok yang tinggi, tegap, dan wajahnya... astaga, tampan sekali!Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan tatapan matanya tajam di balik kacamata berbingkai tipis itu. Dia mengenakan kemeja biru navy yang digulung sampai siku, terlihat rapi dan berkelas, sangat kontras dengan penampilanku yang kucel karena kurang tidur.Pria itu tiba-tiba berjongkok dan memunguti kertas-kertasku yang berserakan. Dia berdiri, menyodorkan tumpukan kertas itu ke tanganku dengan wajah datar."Siapa namamu?""Na-Nara, Pak, Nara Anindya.""Oke,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status