Share

Bab 5

Author: Itsmoore
last update Last Updated: 2026-01-14 11:40:23

Pak Argan kembali meliihat bagian yang mendeskripsikan rasa sakit di kepala, tertulis juga kekosongan yang tidak bisa diisi meski sudah berhubungan badan berkali-kali, lalu ada selipan kata hiperseksualitas yang membuatnya melepas cengkeraman di leherku.

"Kamu nggak tahu apa yang ada di pikiranku, Nara, tapi jujur, saya ini heran. Kamu hanya melihat saya berhubungan badan, tapi kenapa tulisan kamu ini, dari bab 1 sampai bab 2, lalu di kerangka kamu, kamu bisa menggambarkan dengan tepat apa yang saya rasakan semalam?"

Aku menelan ludah susah payah. Insting penulisku memang kadang suka kelewat tajam kalau soal mendramatisir keadaan, tapi aku tidak menyangka kalau tebakanku soal perasaan Pak Argan ternyata akurat seratus persen.

"S-saya... saya cuma menebak, da-dari muka Bapak yang... yang kayak orang kesakitan, bukan kayak orang yang lagi keenakan."

Jawaban polosku itu membuat pertahanan diri Pak Argan seolah runtuh sedetik. Bahunya turun sedikit, dia menghela napas panjang dan kasar, lalu duduk di kursi plastik kecilku yang berdecit protes menahan berat badannya.

"Kamu tahu apa itu hiperseksualitas, Nara?" tanyanya tiba-tiba.

"Tahu, Pak. Kan Bapak yang nyuruh saya cari jurnalnya kemarin. Itu kelainan di mana seseorang punya dorongan seksual berlebih yang sulit dikontrol."

Pak Argan tertawa kecil, tawa yang terdengar miris dan hambar. "Itu definisi buku teks. Tapi kenyataannya jauh lebih menyiksa daripada sekadar dorongan berlebih. Rasanya seperti ada api di dalam kepala kamu yang nggak akan pernah padam kalau nggak disalurkan. Dan sialnya, bagi saya, sekadar berhubungan badan saja nggak cukup. Ahh, saya susah jelasinnya"

Pak Argan menatapku seperti pria biasa yang sedang putus asa.

"Saya sudah coba segala cara, Nara, mulai obat penenang, terapi, gonta-ganti pasangan, tapi hasilnya nol. Felicia, jujur ya, dia cuma korban dari ego saya. Dan semalam, saat kamu mengintip itu, kamu melihat sendiri betapa menyedihkannya saya, kan?"

Aku terdiam, bingung harus merespons apa.

Dosen paling sempurna di kampus ternyata menyimpan rahasia segelap ini. Pantas saja dia selalu terlihat uring-uringan dan galak, ternyata dia sangat tersiksa setiap harinya.

"Sekarang, saya punya dua pilihan buat kamu, Nara Anindya."

Pak Argan menegakkan punggungnya, kembali ke mode intimidasi seperti biasanya.

"Pilihan pertama, saya panggil polisi sekarang juga. Saya punya bukti laptop kamu, lubang di dinding, dan saksi mata. Ini resikonya dua. Satu, kamu bakal dipenjara dengan pasal berlapis. Dari pelanggaran privasi, UU ITE karena menyebarkan cerita vulgar berdasarkan kisah nyata tanpa izin, dan perbuatan tidak menyenangkan. Dua, skripsi kamu batal, kamu di-DO, dan masa depan kamu hancur."

Aku langsung pucat pasi. "Jangan, Pak, saya mohon jangan lapor polisi! Saya tulang punggung keluarga, terus gimana Ibu saya sakit, hutang-hutang belum dilunasin juga! Kalau saya dipenjara, siapa yang bayar utang orang tua saya, Pak?"

"Kalau begitu, dengarkan pilihan kedua," potongnya cepat.

Dia bangkit dari kursi, berjalan mendekatiku sampai lutut kami hampir bersentuhan. Dia mencondongkan tubuhnya sembari menatapku lekat-lekat.

"Kamu harus bertanggung jawab karena sudah lancang masuk ke dalam privasi saya. Kamu bilang di tulisan kamu ini, tokoh wanitanya bisa menjadi obat bagi si pria, kan? Kamu menulis seolah-olah kamu paham betul tentang penyakit yang saya alami."

"I-itu kan cuma fiksi, Pak!"

Aku ingin memotong, tapi Pak Argan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku, sampai aku terbaring di kasur.

Posisi ini…

Aku benar-benar ingat betul.

Ini posisi di mana Pak Argan melakukan foreplay dengan Felicia, mereka saling bertatap muka terlebih dahulu, sebelum akhirnya tenggelam dalam adu lidah yang sangat dalam hingga bunyi cpak, cpik, cpuk.

Arghh!

Di saat momen genting ini, kenapa pikiranku malah ingat momen panas Pak Argan terus, sih?!

Sumpah!

Sumpah aku tidak berharap Pak Argan melakukan apa yang dia lakukan terhadap Felicia tadi waktu foreplay. Dalam hatiku, semua lantunan doa aku ucapkan, bahkan doa dari tiga keyakinan berbeda aku baca satu per satu, berharap aku bisa terbantu oleh tiga kekuatan berbeda.

Tapi nyatanya, Pak Argan malah memojokkanku dengan satu argumen yang aku sendiri tidak bisa memprediksinya.

"Betul, itu cuma fiksi. Lagipula, inspirasi fiksi semacam ini, jika menyangkut hal berbau kesehatan, pastilah ada riset di situ."

"Ma-maksudnya, Pak?" Aku pura-pura bodoh, sampai akhirnya Pak Argan berbicara terang-terangan kepadaku.

"Kamu bilang, udah baca jurnal hiperseksualitas. Kamu juga bilang, skripsimu udah selesai sampai bab tiga, waktu di kampus tadi siang. Berarti, kalau kamu udah ngerjain bab dua, kamu udah paham teori hiperseksualitas itu kayak gimana. Toh, tawaran ini juga win-win solution!"

Hah?

Sama-sama untung kata dia?

Apa yang diuntungkan dari aku yang mau menuruti permintaan Pak Argan? Apa aku mengharap tubuh kekarnya, desahnya, erangnya, atau bagaimana?

Aku tidak ingin munafik. Ketika aku butuh uang itu, adanya Pak Argan seperti takdir yang memang menjadi awal pertemuan kita.

Aku butuh untuk kelangsungan hidup, UKT, biaya kos, dan obat ibuku.

Sedangkan, satu-satunya sumber penghasilanku adalah menulis novel dewasa yang terinspirasi oleh Pak Argan.

Aku juga harus lulus tepat waktu, lalu kebetulan juga, dosen pembimbingku Pak Argan.

Skripsiku tentang hiperseksualitas, sehingga studi kasus yang paling layak di angkat adalah tentang gairah Pak Argan.

Kebetulan macam apa yang terjadi tiga kali dalam satu waktu?

"Saya nggak minta aneh-aneh, Nara, cukup mulai besok kamu jadi asisten pribadi saya. Tenang, saya nggak buat kamu ngajar di kelas. Saya cuma mau kamu jadi asisten untuk membantu saya menyelesaikan…" Dia menggantung kalimatnya, matanya turun menatap bibirku sekilas, lalu kembali ke mataku. "...masalah kelainan saya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 143

    Tanpa menunggu jawaban dariku lagi, Argan langsung menarik tuas pembuka pintu pengemudi. Pria tinggi berotot itu keluar dari dalam mobil dan berdiri tegak di jalanan. Dia langsung menutup pintu logam mobilnya dengan bantingan dorongan yang sangat keras.Aku melihat pria tampan itu berdiri gagah menghadapi dua orang berbadan besar. Argan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada otot wajahnya siang ini. Padahal, dua pria di depannya sedang memegang erat tongkat kayu pemukul kasti."Kamu sangat berani, melawan kami berdua, tanpa menggunakan senjata." Preman berjaket hitam itu tersenyum mengejek lurus ke arah wajah Argan."Aku hanya butuh kedua tanganku, untuk menghancurkan susunan tulang rahang kalian." Argan membalas ejekan lisan pria itu dengan nada suara sangat merendahkan.Sebab amarahnya terpancing ejekan, preman itu langsung mengayunkan tongkat kayunya tinggi-tinggi. Pria berbadan besar tersebut memukul lurus ke arah kepala dosen pembimbingku. Nam

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 142

    Argan langsung menginjak pedal rem dengan sangat kuat dan juga mendadak. Ban mobil kami bergesekan keras dengan permukaan aspal jalanan pada siang hari ini. Suara decitan ban terdengar sangat nyaring memekakkan telingaku sesaat sebelum mobil ini berhenti."Sialan, mereka sudah merencanakan pencegatan ini, dengan sangat matang." Argan memukul setir kemudi menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan.Jarak antara bagian depan mobil kami dan mobil van itu sangatlah dekat. Kami benar-benar terjebak karena jalanan ini cukup sempit untuk memutar balik badan mobil. Aku menoleh ke arah belakang untuk mencari celah jalan keluar dari sana."Mobil suruhan Felicia yang lain, juga sudah menutup jalan, dari arah belakang." Aku melaporkan kondisi jalan di belakang kami dengan suara yang bergetar hebat."Mereka sengaja menjebak kita berdua, tepat di tengah jalan sempit ini, Nara."Kondisi kami berdua saat ini benar-benar terkepung dari arah depan maupun b

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 141

    Argan membuka selot pintu besi itu menggunakan gerakan tangan yang cekatan. Pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan susunan anak tangga berkarat di luarnya. Udara panas siang hari kembali menyentuh kulit wajahku seketika.Tiba-tiba, dobrakan sangat keras menghancurkan pintu kayu kamarku sepenuhnya. Daun pintu itu jatuh menabrak lantai keramik dengan suara yang sangat bising. Aku menoleh sedikit dan melihat beberapa pria berbadan besar masuk ke kamarku."Itu mereka berdua, sedang mencoba kabur, lewat pintu belakang!" teriak Dokter Hadi sambil menunjuk lurus ke arah kami berdua."Tangkap mahasiswi miskin itu, dan seret dia, ke hadapanku sekarang!"Felicia memberikan perintah langsung dari arah lorong luar kamar kosku. Mendengar teriakan wanita itu, rasa takutku kembali membesar memenuhi dadaku. Argan langsung mendorong punggungku keluar menuju tangga besi dengan cepat."Turun lewat tangga ini, dan jangan melihat ke belakang lagi, Nara." Pria

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 140

    "Iya, wanita itu datang, dan memberikan ancaman langsung."Aku menjawab pertanyaannya sambil berjalan pelan mendekati letak kasur."Bagaimana Bapak bisa tahu, kejadian di dalam perpustakaan itu?" tanyaku meminta penjelasan darinya."Aku menyuruh penjaga perpustakaan, untuk terus memantau pergerakanmu," jelas Argan sambil berdiri dari atas kursi kayunya.Argan melangkah mendekati posisiku berdiri di tengah ruangan sempit ini. Pria itu menatap wajahku dengan tatapan mata yang sangat serius. Rahang bawahnya kembali mengeras untuk menahan emosi yang sangat besar."Felicia sudah bertindak terlalu jauh, dari batas kesabaranku." Argan mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat kuat."Wanita itu menunjukkan foto kita, saat berada di lorong kampus." Aku melaporkan bukti yang Felicia bawa kepadanya siang ini."Foto gelang perak itu, bisa menjadi masalah besar, bagi kita berdua.""Aku sudah melihat, rekaman kamera keamanan, tentang

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 139

    Fika berjalan pergi meninggalkanku sendirian di depan ruang kelas. Aku langsung melangkah menuju gedung perpustakaan pusat yang ada di sebelah fakultas. Suasana perpustakaan selalu sepi sehingga sangat cocok untuk berkonsentrasi menulis.Aku masuk ke perpustakaan dan mencari tempat duduk kosong di sudut ruangan. Setelah menemukan meja yang pas, aku segera mengeluarkan laptopku. Tanganku menekan tombol daya untuk menyalakan perangkat elektronik tersebut.Layar laptopku menyala dan menampilkan dokumen skripsi yang belum selesai. Aku mulai mengetik lanjutan bab dua yang sempat tertunda tadi malam. Jari-jariku bergerak menekan tombol papan ketik dengan ritme yang stabil."Aku harus menyelesaikan, lima halaman skripsi ini, siang ini juga." Aku memberikan target kerja pada diriku sendiri.Sekitar satu jam berlalu, aku berhasil mengetik tiga halaman penuh berisi teori. Penjelasan Argan tentang kondisi medisnya sangat membantuku menyusun analisis ini. Aku bisa me

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 138

    Saat terbangun, tanganku langsung meraba bagian samping bantal tidur. Aku mencari keberadaan ponsel pintar milikku di atas kasur tipis ini. Jari-jariku berhasil menyentuh benda elektronik tersebut dengan cepat.Aku menghidupkan layar ponsel untuk melihat penunjuk waktu. Angka di layar menunjukkan pukul tujuh pagi lewat tiga puluh menit. Lalu, mataku melihat sebuah pemberitahuan dari aplikasi bank di layar utama."Uang royaltiku sudah masuk, ke dalam rekening bank, pagi ini." Aku berbicara sendiri sambil tersenyum sangat lebar."Jumlah uang ini sangat cukup, untuk melunasi biaya kuliahku, semester ini."Perasaan lega langsung memenuhi seluruh bagian dadaku seketika. Ancaman putus kuliah akhirnya benar-benar hilang dari hidupku. Aku segera beranjak bangun dari atas kasur untuk bersiap pergi ke kampus.Kemudian, aku mandi dan memakai pakaian rapi untuk pergi kuliah. Kemeja putih dan celana kain hitam menjadi pilihanku pagi ini. Aku juga memasukkan lap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status