INICIAR SESIÓNPak Argan kembali meliihat bagian yang mendeskripsikan rasa sakit di kepala, tertulis juga kekosongan yang tidak bisa diisi meski sudah berhubungan badan berkali-kali, lalu ada selipan kata hiperseksualitas yang membuatnya melepas cengkeraman di leherku.
"Kamu nggak tahu apa yang ada di pikiranku, Nara, tapi jujur, saya ini heran. Kamu hanya melihat saya berhubungan badan, tapi kenapa tulisan kamu ini, dari bab 1 sampai bab 2, lalu di kerangka kamu, kamu bisa menggambarkan dengan tepat apa yang saya rasakan semalam?"
Aku menelan ludah susah payah. Insting penulisku memang kadang suka kelewat tajam kalau soal mendramatisir keadaan, tapi aku tidak menyangka kalau tebakanku soal perasaan Pak Argan ternyata akurat seratus persen.
"S-saya... saya cuma menebak, da-dari muka Bapak yang... yang kayak orang kesakitan, bukan kayak orang yang lagi keenakan."
Jawaban polosku itu membuat pertahanan diri Pak Argan seolah runtuh sedetik. Bahunya turun sedikit, dia menghela napas panjang dan kasar, lalu duduk di kursi plastik kecilku yang berdecit protes menahan berat badannya.
"Kamu tahu apa itu hiperseksualitas, Nara?" tanyanya tiba-tiba.
"Tahu, Pak. Kan Bapak yang nyuruh saya cari jurnalnya kemarin. Itu kelainan di mana seseorang punya dorongan seksual berlebih yang sulit dikontrol."
Pak Argan tertawa kecil, tawa yang terdengar miris dan hambar. "Itu definisi buku teks. Tapi kenyataannya jauh lebih menyiksa daripada sekadar dorongan berlebih. Rasanya seperti ada api di dalam kepala kamu yang nggak akan pernah padam kalau nggak disalurkan. Dan sialnya, bagi saya, sekadar berhubungan badan saja nggak cukup. Ahh, saya susah jelasinnya"
Pak Argan menatapku seperti pria biasa yang sedang putus asa.
"Saya sudah coba segala cara, Nara, mulai obat penenang, terapi, gonta-ganti pasangan, tapi hasilnya nol. Felicia, jujur ya, dia cuma korban dari ego saya. Dan semalam, saat kamu mengintip itu, kamu melihat sendiri betapa menyedihkannya saya, kan?"
Aku terdiam, bingung harus merespons apa.
Dosen paling sempurna di kampus ternyata menyimpan rahasia segelap ini. Pantas saja dia selalu terlihat uring-uringan dan galak, ternyata dia sangat tersiksa setiap harinya.
"Sekarang, saya punya dua pilihan buat kamu, Nara Anindya."
Pak Argan menegakkan punggungnya, kembali ke mode intimidasi seperti biasanya.
"Pilihan pertama, saya panggil polisi sekarang juga. Saya punya bukti laptop kamu, lubang di dinding, dan saksi mata. Ini resikonya dua. Satu, kamu bakal dipenjara dengan pasal berlapis. Dari pelanggaran privasi, UU ITE karena menyebarkan cerita vulgar berdasarkan kisah nyata tanpa izin, dan perbuatan tidak menyenangkan. Dua, skripsi kamu batal, kamu di-DO, dan masa depan kamu hancur."
Aku langsung pucat pasi. "Jangan, Pak, saya mohon jangan lapor polisi! Saya tulang punggung keluarga, terus gimana Ibu saya sakit, hutang-hutang belum dilunasin juga! Kalau saya dipenjara, siapa yang bayar utang orang tua saya, Pak?"
"Kalau begitu, dengarkan pilihan kedua," potongnya cepat.
Dia bangkit dari kursi, berjalan mendekatiku sampai lutut kami hampir bersentuhan. Dia mencondongkan tubuhnya sembari menatapku lekat-lekat.
"Kamu harus bertanggung jawab karena sudah lancang masuk ke dalam privasi saya. Kamu bilang di tulisan kamu ini, tokoh wanitanya bisa menjadi obat bagi si pria, kan? Kamu menulis seolah-olah kamu paham betul tentang penyakit yang saya alami."
"I-itu kan cuma fiksi, Pak!"
Aku ingin memotong, tapi Pak Argan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku, sampai aku terbaring di kasur.
Posisi ini…
Aku benar-benar ingat betul.
Ini posisi di mana Pak Argan melakukan foreplay dengan Felicia, mereka saling bertatap muka terlebih dahulu, sebelum akhirnya tenggelam dalam adu lidah yang sangat dalam hingga bunyi cpak, cpik, cpuk.
Arghh!
Di saat momen genting ini, kenapa pikiranku malah ingat momen panas Pak Argan terus, sih?!
Sumpah!
Sumpah aku tidak berharap Pak Argan melakukan apa yang dia lakukan terhadap Felicia tadi waktu foreplay. Dalam hatiku, semua lantunan doa aku ucapkan, bahkan doa dari tiga keyakinan berbeda aku baca satu per satu, berharap aku bisa terbantu oleh tiga kekuatan berbeda.
Tapi nyatanya, Pak Argan malah memojokkanku dengan satu argumen yang aku sendiri tidak bisa memprediksinya.
"Betul, itu cuma fiksi. Lagipula, inspirasi fiksi semacam ini, jika menyangkut hal berbau kesehatan, pastilah ada riset di situ."
"Ma-maksudnya, Pak?" Aku pura-pura bodoh, sampai akhirnya Pak Argan berbicara terang-terangan kepadaku.
"Kamu bilang, udah baca jurnal hiperseksualitas. Kamu juga bilang, skripsimu udah selesai sampai bab tiga, waktu di kampus tadi siang. Berarti, kalau kamu udah ngerjain bab dua, kamu udah paham teori hiperseksualitas itu kayak gimana. Toh, tawaran ini juga win-win solution!"
Hah?
Sama-sama untung kata dia?
Apa yang diuntungkan dari aku yang mau menuruti permintaan Pak Argan? Apa aku mengharap tubuh kekarnya, desahnya, erangnya, atau bagaimana?
Aku tidak ingin munafik. Ketika aku butuh uang itu, adanya Pak Argan seperti takdir yang memang menjadi awal pertemuan kita.
Aku butuh untuk kelangsungan hidup, UKT, biaya kos, dan obat ibuku.
Sedangkan, satu-satunya sumber penghasilanku adalah menulis novel dewasa yang terinspirasi oleh Pak Argan.
Aku juga harus lulus tepat waktu, lalu kebetulan juga, dosen pembimbingku Pak Argan.
Skripsiku tentang hiperseksualitas, sehingga studi kasus yang paling layak di angkat adalah tentang gairah Pak Argan.
Kebetulan macam apa yang terjadi tiga kali dalam satu waktu?
"Saya nggak minta aneh-aneh, Nara, cukup mulai besok kamu jadi asisten pribadi saya. Tenang, saya nggak buat kamu ngajar di kelas. Saya cuma mau kamu jadi asisten untuk membantu saya menyelesaikan…" Dia menggantung kalimatnya, matanya turun menatap bibirku sekilas, lalu kembali ke mataku. "...masalah kelainan saya."
"Ma-maksud Bapak, seputar masalah kelainan itu, Bapak minta saya buat... buat..."Lidahku kelu setengah mati untuk menyelesaikan kalimat itu karena otakku sudah terlanjur membayangkan adegan liar yang biasa aku tulis di novel."Ma-maksud Bapak... bantuan seperti apa? Bapak jangan aneh-aneh ya, atau saya teriak nih kalau Bapak mau macem-macem sama saya!""Jangan berpikir terlalu jauh dulu, Nara." Argan menyilangkan kakinya dengan santai, seolah dia sedang berada di ruang kerjanya yang mewah, bukan di kamar kos sempit yang bau obat nyamuk bakar ini."Dengar baik-baik penawaran saya karena saya tidak suka mengulang kalimat yang sama dua kali. Saya membutuhkan seseorang untuk membantu meredakan gejala fisik yang timbul akibat kondisi hiperseksualitas saya. Seperti yang kamu tulis di analisis sok tahu kamu itu, obat medis tidak mempan, dan pelampiasan dengan wanita sembarangan justru membuat saya semakin kosong."Aku memberanikan diri untuk duduk bersila di atas kasur sambil memeluk bantal
Pak Argan kembali meliihat bagian yang mendeskripsikan rasa sakit di kepala, tertulis juga kekosongan yang tidak bisa diisi meski sudah berhubungan badan berkali-kali, lalu ada selipan kata hiperseksualitas yang membuatnya melepas cengkeraman di leherku."Kamu nggak tahu apa yang ada di pikiranku, Nara, tapi jujur, saya ini heran. Kamu hanya melihat saya berhubungan badan, tapi kenapa tulisan kamu ini, dari bab 1 sampai bab 2, lalu di kerangka kamu, kamu bisa menggambarkan dengan tepat apa yang saya rasakan semalam?"Aku menelan ludah susah payah. Insting penulisku memang kadang suka kelewat tajam kalau soal mendramatisir keadaan, tapi aku tidak menyangka kalau tebakanku soal perasaan Pak Argan ternyata akurat seratus persen."S-saya... saya cuma menebak, da-dari muka Bapak yang... yang kayak orang kesakitan, bukan kayak orang yang lagi keenakan."Jawaban polosku itu membuat pertahanan diri Pak Argan seolah runtuh sedetik. Bahunya turun sedikit, dia menghela napas panjang dan kasar, l
PRAANG!Di seberang sana, Pak Argan yang tadinya sedang menunduk kesakitan, tiba-tiba langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar bunyi di ujung kamarnya. Dia menoleh pelan, sangat pelan, ke arah dinding pembatas, tepat ke arah di mana aku sedang mengintip.Jantungku rasanya berhenti berdetak."Jangan lihat ke sini, jangan, kumohon jangan lihat ke sini... "Tapi doa orang maksiat sepertinya memang susah dikabulkan.Pak Argan bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati dinding itu. Matanya yang tajam menyipit, mencari sumber suara yang tadi mengganggu pendengarannya.Aku ingin lari, ingin menarik kepalaku menjauh, tapi tubuhku kaku seolah dipaku di tempat karena rasa takut membuatku lumpuh total.Pak Argan berhenti tepat di depan lubang kecil itu. Jarak kami sekarang mungkin hanya terpisah beberapa sentimeter dinding beton. Dia mendekatkan wajahnya, meneliti permukaan dinding kamarnya yang tertutup dipenuhi foto, sampai akhirnya matanya menangkap sebuah titik kecil yang tida
Pak Argan membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Jangan bikin saya kecewa lagi. Saya paling benci sama orang yang kerjanya setengah-setengah. Kalau mau main-main sama saya, jangan setengah-setangah. Paham?"Ah, kenapa, sih, kalimat Pak Argan ambigu banget!Otak polosku langsung menerjemahkannya ke mana-mana. Apa maksudnya main? Main skripsi? Atau main yang lain?"P-paham, Pak, malam ini saya siapkan kerangkanya," jawabku panik sambil berdiri tegak, hampir saja menabrak dagunya saking dekatnya posisi kami.Begitu sampai di lorong yang sepi, aku bersandar di dinding sambil memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Bukan cuma karena dia galak dan sadis soal nilai, tapi karena aura dominannya yang terlalu kuat. Tadi, saat dia berbisik di dekat telingaku, bukannya takut, ada bagian kecil dari diriku yang… justru sedikit basah?Bayangan bibir Pak Argan saat berbisik tadi, sorot matanya, kemejanya yang ketat sehingga otot bisepnya terlihat menonjol. Aduh, kenapa malah piktor g
Aku membekap mulutku sendiri saking kagetnya saat mengenali wajah pria yang sedang berada di posisi atas itu adalah dosen pembimbingku yang super galak.Pak Argan yang aku kenal di kampus selalu rapi, dingin, dan menjaga jarak, tapi pria yang aku lihat sekarang sedang bermain dengan kekasihnya.Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana otot-otot punggung Pak Argan menegang saat dia bergerak dengan tempo yang gila, sementara wanita itu terus mendesah dan memanggil namanya tanpa henti."Wah, ini beneran? Sumpah, ini jauh lebih panas daripada film biru yang pernah dikirim sama Fika di grup WA sirkel dia!"Bukannya takut atau merasa bersalah karena sudah mengintip privasi orang lain, otak penulisku justru mendadak bekerja sangat cepat.Ini adalah referensi nyata yang selama ini aku cari-cari untuk novelku, sebuah adegan live action yang benar-benar natural dan tanpa rekayasa sama sekali!Dengan tangan gemetar karena campuran rasa gugup dan semangat yang menggebu, aku segera mengambil notebo
"Aduh!"Baru saja aku melangkah terburu-buru di lobi fakultas sambil memeluk erat tumpukan draf skripsi, tubuhku tiba-tiba terdorong mundur dengan keras sehingga draft skripsi yang aku bawa jatuh di lantai.Rasanya ingin sekali aku marah-marah. Maksudku, siapa sih orang yang jalan di tempat umum tapi matanya terpaku ke layar ponsel? Apa dia pikir lobi kampus ini milik nenek moyangnya?"Kalau jalan tolong lihat depan dong, jangan..."Protesku terhenti saat aku melihat sosok yang tinggi, tegap, dan wajahnya... astaga, tampan sekali!Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan tatapan matanya tajam di balik kacamata berbingkai tipis itu. Dia mengenakan kemeja biru navy yang digulung sampai siku, terlihat rapi dan berkelas, sangat kontras dengan penampilanku yang kucel karena kurang tidur.Pria itu tiba-tiba berjongkok dan memunguti kertas-kertasku yang berserakan. Dia berdiri, menyodorkan tumpukan kertas itu ke tanganku dengan wajah datar."Siapa namamu?""Na-Nara, Pak, Nara Anindya.""Oke,







