Mag-log in“Aku mau pulang.”Naufal mengucapkan kalimat itu begitu Adrian selesai memeriksa hasil pemeriksaan awalnya. Dokter spesialis jantung tersebut langsung mengernyit, sementara Reza yang berdiri di dekat ranjang hanya mengembuskan napas panjang.“Pulang ke mana? Kamu masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan, Fal,” tegas Adrian.“Aku sudah merasa lebih baik. Kepalaku juga nggak pusing lagi. Jadi, buat apa aku terus berada di rumah sakit?” Naufal angkat bahunya.“Karena kamu tadi pingsan, Naufal!” Adrian menatapnya tajam. “Kamu pikir kejadian seperti itu bisa dianggap sepele hanya karena sekarang kamu merasa baik-baik saja?”Naufal menyandarkan punggungnya ke ranjang. “Aku nggak bilang kejadian tadi sepele. Aku cuma bilang ingin pulang.”“Dan aku bilang kamu belum boleh pulang.”“Adrian.”“Naufal.”Keduanya saling menatap dengan ekspresi tidak mau mengalah. Reza yang menyaksikan perdebatan itu akhirnya mengusap wajahnya sendiri. Dia sudah mengenal Naufal selama bertahun-tahun. Kalau sahab
Nayla masih memeluk Naufal ketika seorang perawat datang menghampiri mereka.“Bu Nayla, Dokter Lusi sudah datang. Beliau bisa memeriksa kandungan Ibu sekarang.”Nayla segera mengangkat kepala. “Benarkah?" Dia sempat melirik Naufal, lalu mengusap pipinya yang masih basah oleh air mata.“Oh, iya. Aku harus periksa kandungan lagi ke dokter Lusi, Na. Tadi kamu keburu pingsan sebelum selesai memeriksaku.”Naufal mengangguk dan tersenyum kecil. “Iya, Sayang. Sana, periksa dulu. Pastikan anak kita baik-baik saja ya." “Kamu sendiri juga harus diperiksa sampai benar-benar sembuh. Jangan malah menyuruh aku terus.” Nayla memasang wajah cemberut.“Iya, Bu Dokter.”“Jangan bercanda terus!” Nayla mencubit pelan lengan suaminya. Naufal tertawa kecil. “Iya, iya. Aku serius, kok.”Nayla kembali tersenyum saat menatap sang suami. Sepertinya masalah kecil mereka beberapa saat lalu, sudah mulai memudar karena kejadian Naufal yang barusan pingsan.Wanita itu beranjak hendak keluar ruangan. Namun sebelu
“Ke ... kenapa harus panggil dokter jantung? Apa yang terjadi sama Naufal?” tanya Nayla cemas. Pikirannya sudah kemana-mana.Dokter yang menangani Naufal belum sempat menjawab ketika dari arah lorong IGD terdengar suara seseorang.“Naufal?”Nayla spontan menoleh. Seorang pria dengan jas dokter berjalan mendekat. Begitu melihat kondisi di dalam ruangan, langkahnya terhenti.“Dokter Reza?” panggil Nayla lirih.Reza langsung mendekati ranjang tempat Naufal berbaring saat ini. Wajahnya berubah serius saat melihat Naufal terbaring tidak sadarkan diri dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.“Apa yang terjadi pada Naufal?” tanyanya, suaranya tegas dan tinggi penuh rasa khawatir.“Dokter Naufal tiba-tiba pingsan saat sedang memeriksa Bu Nayla, Dok,” jawab salah satu perawat.Reza terdiam, lalu segera memeriksa kondisi sahabatnya sebelum dokter spesialis jantung datang ke ruangan.Sebagai dokter spesialis penyakit dalam, dia terbiasa menangani berbagai kondisi akut dan tahu pemeriksaan apa
Naufal masih menatap Nayla dengan wajah tidak percaya. Ide menggabungkan dua pernikahan sekaligus menurutnya terlalu berlebihan, apalagi Nayla sedang hamil.“Sayang, kamu serius mau ngurus dua pernikahan sekaligus?” tanya Naufal."Iya." Nayla mengangguk mantap. “Kenapa? Kan lebih praktis. Satu tempat, satu dekorasi, satu katering. Bisa sekalian.”“Praktis dari mana?” Naufal menghela napas. “Kamu itu sedang hamil, bukan sedang punya tenaga ekstra. Mengurus satu pernikahan saja bisa bikin capek. Ini malah dua.”“Aku cuma mau bantu.”“Aku tahu. Tapi kamu nggak perlu ikut mengurus semuanya.”Nayla langsung cemberut. “Huft! Ya sudah.”Dia menarik selimut, lalu membaringkan tubuhnya dan sengaja memunggungi Naufal. Naufal terdiam sesaat.“Nayla Sayang?”Tidak ada jawaban.“Sayang? Aku bukan melarang kamu membantu. Aku cuma nggak mau kamu kecapekan.”Masih tidak ada respons dari sang istri.Naufal menghela napas pelan. Dia tahu istrinya sedang hamil dan emosinya belakangan memang jauh lebih s
Dimas masih menatap foto-foto di dalam kotak itu dengan ekspresi tidak percaya. Satu per satu foto tersebut ia lihat kembali. Ada foto ketika dirinya duduk menggunakan kursi roda, foto saat berjalan dengan tongkat, bahkan ada foto ketika ia sedang berbicara dengan Naufal di depan rumah sakit.“Jadi selama ini kamu mengambil semua foto ini?” tanya Dimas seraya mengangkat wajah menatap Shella.“Iya.” Shella mengangguk malu dan memainkan ujung bajunya. “Karena aku suka melihat kamu.”Naufal yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung tertawa. “Gila. Ternyata bukan cuma Dimas yang nekat. Shella juga diam-diam.”“Naufal,” tegur Dimas.“Apa? Aku cuma bilang fakta.”Nayla ikut tertawa. “Aku malah baru tahu kalau Shella ternyata sudah suka sama Kak Dimas sejak lama.”Shella tersenyum kecil. “Aku juga nggak pernah berpikir bakal sampai seperti ini. Awalnya aku cuma kagum. Dimas kelihatan dingin, cuek, keras kepala, dan susah didekati. Tapi setelah aku mengenalnya lebih dekat, aku tahu kalau d
Dimas masih berdiri di hadapan Shella setelah memasangkan cincin itu ke jarinya. Tatapannya beberapa kali jatuh pada cincin tersebut, seolah masih sulit percaya bahwa perempuan yang beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya kini benar-benar menerima lamarannya. Shella juga terus memandangi cincin di jarinya. Air matanya memang belum sepenuhnya kering, tetapi senyum bahagia tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.“Aku masih nggak percaya,” bisik Shella.“Aku juga.” Dimas menatapnya lekat.Shella tertawa kecil. “Kamu yang melamar, tapi malah kamu yang nggak percaya.”“Aku takut kamu berubah pikiran.”“Nggak akan.”Dimas menggenggam tangannya. “Aku serius, Shella.”“Aku juga, Dimas.”Keduanya tersenyum hangat tanpa menyadari bahwa dari balik pintu kaca, Naufal dan Nayla masih berdiri sambil memperhatikan mereka. Naufal bahkan masih belum bisa mencerna keputusan kakaknya yang menurutnya terlalu cepat.“Gila,” gumam Naufal pelan.Nayla menahan tawa. “Jangan bilang gila.”“Dimas itu benar-
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk







