Home / Romansa / Jangan Dikeluarin Dulu, Dok! / 139. Maaf, Rasaku Salah!

Share

139. Maaf, Rasaku Salah!

Author: Mas Author
last update publish date: 2026-06-03 22:05:12

Nayla menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Tangannya terus saling meremas sejak tadi. Beberapa kali ia mencoba duduk, tetapi hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali berdiri dan mondar-mandir di depan ruang IGD.

Perasaannya benar-benar kacau.

"Naufal, jangan tinggalin aku," lirihnya sambil menghapus air mata yang terus mengalir.

Ia kembali menatap pintu ruang penanganan darurat yang masih tertutup rapat. Tidak ada informasi dari sana, dan itu justru membuatnya semakin gelisah.

"Nay." Suara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   177. Seorang Dokter?

    “Nayla dimana, Ma?" Naufal mengulangi pertanyaannya.Rianti mengusap air matanya dan tersenyum tipis."Tadi keluar sebentar."Jawaban itu membuat dada Naufal sedikit tidak tenang. "Huh, syukurlah kalau begitu.”Entah kenapa, sejak keluar dari tahanan, orang pertama yang ingin ia lihat adalah Nayla. Ia ingin memastikan istrinya baik-baik saja. Ia ingin memeluk wanita itu dan mengatakan bahwa semuanya akan segera membaik.Dan tepat saat itu terdengar suara deru motor yang berhenti di depan rumah. Naufal pun segera menoleh cepat.Sebuah motor memasuki halaman. Begitu mesin dimatikan, Nayla turun. Wanita itu masih mengenakan tas di bahunya, ketika matanya bertemu dengan sosok Naufal yang berdiri di depan rumah.Tubuh wanita itu rasanya langsung membeku. Tas yang berada di bahunya bahkan hampir terlepas."Naufal?" Suara wanita itu serak penuh haru. Matanya seketika dipenuhi air mata.Dan di detik berikutnya, Nayla segera berlari tanpa memedulikan apa pun."Naufal!" serunya lagi, dengan air

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   176. Akhirnya Pulang

    Jessica masih duduk di kursinya dengan kedua tangan terborgol. Wajahnya terlihat berantakan, tetapi senyum sinis itu masih belum hilang dari bibirnya.Naufal berdiri tepat di depannya. Tatapannya dingin dan tajam. Ia menatap Jessica penuh amarah dan kebencian."Katakan siapa yang sudah membantumu!" bentaknya.Jessica tertawa pelan. "Aku sudah bilang, kan? Aku nggak bekerja sendirian.""Siapa orang itu?" desak Naufal lagi."Kenapa? Kamu penasaran?" balas Jessica yang hanya tersenyum. “Atau kamu takut?" ejeknya.Rahang Naufal mengeras. Kesabarannya sekarang sudah hampir habis. Ingin rasanya ia layangkan kepalan tangannya ke wajah Jessica. Namun, sebisa mungkin ia tahan."Kau sudah menghancurkan hidup banyak orang,” geram Naufal dengan suara rendah."Aku cuma membalas apa yang pernah kau lakukan padaku."Naufal menggeleng pelan. "Aku nggak pernah menghancurkan hidupmu."Jessica seketika tertawa keras, tawa yang pahit dan menyakitkan."Nggak menghancurkan?" Matanya memerah. "Kau memutuska

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   175. Jessica Ditangkap, Tapi ....

    Setelah keluar dari ruang tahanan, Naufal masih berjalan dengan langkah yang masih sedikit limbung. Wajahnya penuh lebam akibat pukulan para narapidana tadi.Namun begitu tiba di ruang pemeriksaan, matanya seketika berbinar saat melihat Bara dan Andra yang sudah berdiri di sana. Untuk sesaat, Naufal hanya menatap mereka berdua dengan bingung."Bara? Andra? Kalian di sini?" tanyanya setengah tak percaya.“Iya, Fal." Andra tersenyum tipis. "Akhirnya kau bebas.""Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa bebas?” Naufal masih mengernyit kebingungan menatap mereka berdua.Bara maju selangkah lalu menyerahkan sebuah map tebal. "Kami menemukan cukup bukti untuk membuktikan kalau kau hanya dijebak," ujar pria itu."Bukti?" Pandangan Naufal segera tertuju pada map tersebut."Ya, Kami menyerahkan rekaman pengakuan Laras." Andra mengangguk.Mendengar itu, mata Naufal pun sontak membelalak lebar, nyaris tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Andra."Apa? Jadi Laras sudah ingat semuanya?"

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   174.

    Hari-hari di dalam tahanan ternyata jauh lebih berat daripada yang dibayangkan Naufal sebelumnya.Awalnya dirinya mengira jika yang paling menyakitkan adalah fitnah yang menghancurkan nama baiknya.Ternyata bukan.Yang paling menyakitkan adalah bagaimana orang-orang langsung menghakiminya bahkan sebelum kebenaran terungkap.Kabar tentang kasus yang dituduhkan kepadanya sudah menyebar ke seluruh blok tahanan. Banyak narapidana yang memandangnya dengan tatapan penuh kebencian.Pemerkosa.Itu label yang kini melekat padanya.Dan di dalam penjara, pelaku kejahatan seperti itu adalah salah satu yang paling dibenci.Tiga hari berada di tempat itu terasa jauh lebih lama dibanding tiga bulan di dunia luar. Naufal hampir tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Setiap kali memejamkan mata, bayangan wajah Nayla, Rianti, dan rumah sakitnya selalu muncul silih berganti di dalam kepalanya.Ia membayangkan bagaimana keadaan rumah sakit sekarang.Apakah para pasien masih datang?Apakah para dokter mas

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   173.

    Andra membeku selama beberapa detik setelah mendengar nama itu.Jessica.Nama yang selama beberapa hari terakhir terus muncul dalam setiap petunjuk yang mereka temukan. Anehnya, ia tidak terlalu terkejut. Justru jauh di dalam hatinya, Andra memang sudah menduga bahwa semua jalan pada akhirnya akan mengarah kepada wanita itu.Ia menghela napas pelan lalu menatap Laras dengan lebih lembut."Laras, aku butuh bantuanmu."Gadis itu masih terlihat gemetar. Air mata membasahi pipinya, sementara kedua tangannya mencengkeram selimut erat-erat."Aku tahu ini sulit. Tapi coba ingat semuanya pelan-pelan. Nggak usah terburu-buru."Laras terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk."Aku kenal Jessica sejak lama, Dok."Andra langsung memusatkan perhatiannya."Sejak kapan?""Sejak sekolah. Kami sahabatan."Laras menarik napas panjang seolah sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk membuka kembali luka lama yang selama ini terkubur."Jessica dulu biasa saja. Hidupnya biasa, keluarganya juga bi

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   172.

    Jessica masih berdiri di depan ruang tahanan sambil tersenyum tipis. Namun Naufal sudah tidak lagi memperhatikan wajahnya. Tatapannya justru tertuju pada jemari wanita itu.Nail art dan pola emas kecil di kuku wanita itu, sama persis dengan nail art yang ditemukan Nayla beberapa hari lalu.Jantung Naufal langsung berdetak lebih cepat. Dalam sekejap, potongan-potongan kejadian yang selama ini berserakan di kepalanya seolah mulai tersusun. Jessica yang tiba-tiba muncul kembali setelah bertahun-tahun. Jessica yang berada di florist yang sama dengan Nayla. High heelsnya yang sangat mirip dengan wanita misterius itu. Dan sekarang nail art itu.Semua kemungkinan hanya mengarah pada satu orang, yakni Jessica."Sampai jumpa lagi, Naufal," ucap Jessica sambil mengulurkan tangan sekali lagi. Namun Naufal tidak menyambutnya. Tatapannya justru semakin dingin."Aku nggak mau."Jessica terlihat sedikit terkejut mendengar penolakan itu. "Nggak mau berjabat tangan?""Tidak."Untuk sesaat senyum di w

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status