登入“Apa?” Nayla dan Reza saling pandang, tetapi dengan cepat keduanya segera membuang muka. Terlihat jelas bahwa mereka sama-sama canggung dan tak nyaman.“Ma, jangan bercanda soal itu,” kata Reza akhirnya. Nada suaranya terdengar lebih serius dari sebelumnya. “Nayla sudah menikah.”Yuli masih tersenyum, seolah tidak melihat perubahan ekspresi putranya. “Mama tahu. Mama cuma teringat masa lalu aja kok.”Nayla sendiri masih terdiam. Ia tidak menyangka percakapan santai tentang Arunika tiba-tiba berubah menjadi pembicaraan tentang dirinya dan Reza. Apalagi setelah mengetahui bahwa dulu kedua ibu mereka pernah bercanda untuk menjodohkan mereka.“Jadi ....” Reza mengusap tengkuknya dengan canggung. “Aku sama Nayla dulu pernah mau dijodohkan ya?”“Iya,” jawab Yuli santai.“Aku benar-benar nggak tahu.” Reza tertawa hambar.Nayla menatapnya sekilas. “Aku juga nggak tahu.”Ada keheningan singkat di antara mereka. Tatapan Reza dan Nayla sempat bertemu, tetapi keduanya sama-sama segera mengalihka
“Marina?” suara Yuli tertahan.Melihat wanita yang datang bersama Nayla, Marina pun turut menoleh. Ia pun sama terkejutnya ketika mengenali wanita yang berdiri di dekat pintu.“Yuli?”Keduanya saling menatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Marina bangkit dari sofa.“Ya Tuhan, Yuli! Ini benar-benar kamu?”Marina bergegas menghampiri sahabat lamanya itu dan refleks memeluk Yuli. Mereka berpelukan cukup lama, seolah sedang mengulang kembali kenangan yang sudah bertahun-tahun berlalu.“Aku juga nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini,” ujar Yuli setelah melepaskan pelukan. “Maaf, tidak sempat datang ke acara pemakaman Arunika ya. Karena waktu itu aku dan Sarah sedang ke luar negeri. Shella melanjutkan studinya di sana." "Tidak apa-apa, doakan saja yang terbaik untuk Arunika ya. Sarah juga sudah kesini waktu itu.” Marina perlahan melepaskan pelukannya, ia seka air mata yang tiba-tiba menggenang di pelupuk.Mendengar nama kakaknya itu, senyum Nayla pun perlahan memudar. Ia menatap
“Apa? Aku lumpuh?” Dimas membelalak. Wajahnya yang masih pucat seketika berubah tegang.Dokter mengangguk pelan, tetapi buru-buru memberikan penjelasan sebelum Dimas semakin panik. “Untuk sementara, dari pemeriksaan neurologis yang kami lakukan, fungsi motorik pada kedua tungkai Anda memang tidak menunjukkan respons. Namun kami belum bisa menyimpulkan apakah kondisi tersebut permanen hanya berdasarkan pemeriksaan awal.”Dimas menatap kedua kakinya yang masih tertutup selimut. Sebagai seorang dokter, ia memahami betul arti dari penjelasan tersebut. Ia juga tahu bahwa cedera pada sistem saraf tidak bisa dinilai hanya dari kemampuan menggerakkan anggota tubuh sesaat setelah pasien sadar dari koma.“Jadi kita harus melihat lokasi dan tingkat kerusakan sarafnya,” gumam Dimas lebih kepada dirinya sendiri.“Betul, Dokter. Karena itu, hari ini juga kami akan melakukan pemeriksaan pencitraan, seperti CT scan atau MRI, untuk melihat kondisi tulang belakang, jaringan di sekitarnya, dan kemungki
“Iya, benar sekali. Kami memang orang tua kandung Nayla,” angguk Wiratmadja.Suasana menjadi semakin canggung. Rianti masih diam, pikirannya berkecamuk. Naufal pun segera melangkah ke tengah mereka. “Sudahlah, Ma. Aku minta maaf karena tidak datang ke rumah sakit dan tidak menghubungi Mama. Aku akan ikut Mama sekarang untuk melihat Dimas. Tapi tolong jangan membuat keributan di rumah ini, apalagi dengan Papa dan Mama Nayla.” Rianti mendengus pelan. Ia masih kesal, tetapi tidak ingin memperpanjang pertengkaran di depan orang lain. “Terserah kamu.” Wanita itu berbalik dan berjalan menuju pintu.Naufal menoleh kepada Nayla sebelum menyusul ibunya. “Sayang, aku pergi sebentar. Jaga diri baik-baik, ya.”“Iya. Kamu juga hati-hati." Nayla mengangguk meski wajahnya masih dipenuhi kecemasan. Sebenarnya ia ingin ikut menemui Dimas, tetapi melihat Rianti masih begitu marah kepadanya, ia tahu kehadirannya hanya akan memperburuk keadaan. “Pasti, Sayang." Naufal tersenyum tipis, kemudian meny
Aldo yang baru saja membuka pintu pun sontak membelalak. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ada Rianti yang berdiri di hadapannya dengan wajah merah dan mata sembap. Wanita itu bahkan belum sempat menyapa, tetapi dari sorot matanya saja Aldo sudah bisa menebak bahwa kedatangannya bukan untuk berbasa-basi.“Nyonya Rianti?”“Di mana Naufal?” tanya Rianti dengan suara tegas.Aldo sempat terdiam. “Dokter Naufal ada di dalam, Bu. Tapi ….”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Rianti sudah melangkah masuk. “Panggil dia. Saya mau bicara sama Naufal sekarang.”“Nyonya, tunggu dulu …!”Namun, Rianti tidak menghiraukannya. Langkahnya semakin cepat menuju ruang keluarga. Suaranya bahkan terdengar sebelum ia sampai di sana.“Naufal!”Suara keras sang mama membuat Naufal dan yang lainnya pun terkejut bukan main. Mereka refleks menoleh bersamaan ke asal suara.Rianti tampak berdiri di ruang keluarga dengan wajah penuh kemarahan. Tatapannya tidak lepas dari Naufal seolah semua kekecewaan yang
Sejak hari itu, hidup Nayla pun mulai berubah, setelah mengetahui dirinya adalah putri kandung Wiratmadja dan Marina. Perubahan itu terasa semakin nyata karena hampir setiap hari Marina datang membawa sesuatu untuknya. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, kosmetik, hingga berbagai kebutuhan kecil yang sebenarnya tidak pernah Nayla minta.“Ma, ini kebanyakan banget,” keluh Nayla ketika Marina kembali datang membawa beberapa paper bag.Marina justru tersenyum lebar. “Kebanyakan dari mana? Mama malah merasa masih kurang.”Nayla menghela napas sambil membuka salah satu kantong. Isinya sebuah tas bermerek yang harganya bahkan membuatnya enggan membayangkan nominalnya.“Aku nggak butuh barang semahal ini.”“Kamu nggak butuh, tapi Mama yang ingin memberikannya.”“Tapi ….”“Selama bertahun-tahun Mama kehilangan kesempatan untuk membelikan sesuatu untuk kamu.” Marina memegang tangan Nayla dengan lembut. “Mama nggak bisa melihat kamu tumbuh, nggak bisa mengantarmu sekolah, nggak bisa membelikan pa
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny







