Teilen

153. Benang Merah

last update Veröffentlichungsdatum: 07.06.2026 23:20:36

Nayla refleks menyentuh dahinya yang terluka. Wajahnya langsung berubah serius.

"Itu yang sebenarnya mau aku ceritakan."

Kening Naufal semakin berkerut.

"Ceritakan dari awal."

Nayla mengangguk pelan lalu duduk lebih tegak. Ia mulai menceritakan semua yang terjadi di florist tepi danau siang tadi.

Mulai dari perasaannya yang merasa sedang diawasi. Sampai sosok misterius yang bersembunyi di balik bangunan.

"Aku pura-pura nggak tahu kalau dia ngintip. Aku masuk ke dalam florist, terus keluar lewat
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   426. Rencana Pernikahan

    Dimas masih menatap foto-foto di dalam kotak itu dengan ekspresi tidak percaya. Satu per satu foto tersebut ia lihat kembali. Ada foto ketika dirinya duduk menggunakan kursi roda, foto saat berjalan dengan tongkat, bahkan ada foto ketika ia sedang berbicara dengan Naufal di depan rumah sakit.“Jadi selama ini kamu mengambil semua foto ini?” tanya Dimas seraya mengangkat wajah menatap Shella.“Iya.” Shella mengangguk malu dan memainkan ujung bajunya. “Karena aku suka melihat kamu.”Naufal yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung tertawa. “Gila. Ternyata bukan cuma Dimas yang nekat. Shella juga diam-diam.”“Naufal,” tegur Dimas.“Apa? Aku cuma bilang fakta.”Nayla ikut tertawa. “Aku malah baru tahu kalau Shella ternyata sudah suka sama Kak Dimas sejak lama.”Shella tersenyum kecil. “Aku juga nggak pernah berpikir bakal sampai seperti ini. Awalnya aku cuma kagum. Dimas kelihatan dingin, cuek, keras kepala, dan susah didekati. Tapi setelah aku mengenalnya lebih dekat, aku tahu kalau d

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   425. Ternyata Oh Ternyata

    Dimas masih berdiri di hadapan Shella setelah memasangkan cincin itu ke jarinya. Tatapannya beberapa kali jatuh pada cincin tersebut, seolah masih sulit percaya bahwa perempuan yang beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya kini benar-benar menerima lamarannya. Shella juga terus memandangi cincin di jarinya. Air matanya memang belum sepenuhnya kering, tetapi senyum bahagia tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.“Aku masih nggak percaya,” bisik Shella.“Aku juga.” Dimas menatapnya lekat.Shella tertawa kecil. “Kamu yang melamar, tapi malah kamu yang nggak percaya.”“Aku takut kamu berubah pikiran.”“Nggak akan.”Dimas menggenggam tangannya. “Aku serius, Shella.”“Aku juga, Dimas.”Keduanya tersenyum hangat tanpa menyadari bahwa dari balik pintu kaca, Naufal dan Nayla masih berdiri sambil memperhatikan mereka. Naufal bahkan masih belum bisa mencerna keputusan kakaknya yang menurutnya terlalu cepat.“Gila,” gumam Naufal pelan.Nayla menahan tawa. “Jangan bilang gila.”“Dimas itu benar-

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   424. Mau Jadi Istriku?

    Setelah mendapatkan informasi dari Aldo, Naufal pun bergegas menyusul Dimas ke rumah Shella tanpa menunggu lebih lama. Nayla ikut bersamanya karena ingin memastikan sendiri bahwa kakak iparnya itu benar-benar baik-baik saja. Akhirnya mobil Naufal pun berhenti di depan rumah Shella beberapa saat kemudian. Sepanjang perjalanan, Naufal masih mengomel karena Dimas bisa-bisanya menghilang tanpa kabar dan membuat semua orang panik.“Kalau nanti Dimas bilang cuma mau jalan-jalan, aku benar-benar nggak tahu harus ngomong apa. Akan aku kasih pelajaran dia,” gerutu Naufal sambil turun dari mobil.Nayla menahan senyum. “Yang penting Kak Dimas aman.”“Iya. Tapi tetap aja. Semua orang sudah bingung dan keliling mencarinya.”Aldo yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum kecil. “Kakakmu itu memang begitu, Fal. Sangat keras kepala sama sepertimu.”Naufal menatapnya tajam. “Jangan samakan aku dengan dia!”Aldo hanya terkekeh.Mereka bertiga berjalan menuju pintu rumah. Belum sempat mengetuk

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   423. Hanya Ingin Menemui Kamu

    Ruang tengah rumah Rianti sudah berubah seperti pusat pencarian. Naufal mondar-mandir sambil terus memegang ponselnya, sementara Rianti duduk dengan wajah pucat dan Nayla berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sejak tadi tidak ada satu pun kabar mengenai Dimas. Ponselnya tidak bisa dihubungi, mobilnya tidak terlihat di sekitar rumah, dan tempat-tempat yang biasa didatangi Dimas juga tidak memberikan jawaban.Naufal akhirnya berhenti berjalan. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum membuka daftar kontak di ponselnya.“Udah. Aku nggak bisa cuma nunggu.”Nayla menatap suaminya. “Kamu mau ngapain?”“Aku akan hubungi semua orang yang mungkin tahu keberadaan Dimas.”Naufal mulai menelepon satu per satu. Bukan hanya teman sesama dokter, tetapi juga anak buah Dimas, orang-orang yang biasa bekerja dengannya, relasi bisnis keluarga, kenalan di rumah sakit, bahkan beberapa orang yang pernah berhubungan dengan Dimas dalam urusan pekerjaan.“Coba kamu cek apakah Dokter Dimas datang ke sana.”“Belum ad

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   422. Kemana Dimas?

    Perjalanan dari desa menuju kota berlangsung cukup tenang. Nayla masih beberapa kali terdiam sambil memandang keluar jendela. Pikirannya masih tertuju pada Laras dan Hendra yang harus kehilangan ibu tepat setelah pernikahan mereka.“Masih kepikiran Laras?” tanya Naufal.Nayla mengangguk. “Iya. Kasihan Laras. Kemarin dia menikah, hari ini harus kehilangan ibunya.”Naufal menggenggam tangan istrinya. “Setidaknya ibunya sempat melihat Laras menikah. Itu yang paling dia inginkan.”“Aku juga merasa sedikit lega karena itu.” Nayla menarik napas panjang sebelum menyandarkan kepalanya di bahu Naufal. “Semoga mereka benar-benar bisa bahagia.”“Mereka akan baik-baik saja. Laras punya Hendra.”Nayla tersenyum kecil. “Benar juga.”Beberapa saat kemudian, mobil mulai memasuki kawasan kota. Pemandangan pedesaan perlahan berganti menjadi jalan yang lebih ramai. Toko, kendaraan, dan gedung-gedung mulai memenuhi pandangan. Begitu sampai di rumah, Nayla langsung meletakkan tasnya di sofa dan menghela n

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   421. Kami Pamit

    Beberapa detik berlalu, tetapi ibu Laras tetap tidak memberikan respons.“Bu...?” Suara Laras bergetar. Tangannya menggenggam tangan ibunya semakin erat.Naufal kembali memeriksa denyut nadi dan pernapasan wanita itu. Wajahnya yang semula serius kini terlihat semakin muram.“Laras, tenang dulu.”“Dok...” Laras menatap Naufal dengan mata penuh air mata. “Ibu kenapa?”Naufal tidak segera menjawab. Ia kembali melakukan pemeriksaan, memastikan kondisi wanita tua itu.Namun, beberapa saat kemudian, Naufal hanya bisa menggeleng pelan.“Laras... Ibu kamu sudah pergi.”Kalimat itu seolah menghentikan seluruh suara di sekitar mereka.Laras terdiam. Matanya menatap wajah ibunya yang kini terlihat begitu tenang.“Enggak...” bisiknya.Hendra segera merangkul tubuh istrinya.“Laras...”“Enggak mungkin, Mas.” Air mata Laras jatuh semakin deras.“Tadi Ibu masih bicara sama aku. Tadi Ibu masih senyum.”Ia mengguncang tangan ibunya perlahan.“Bu... bangun, Bu.”Tidak ada jawaban.“Bu, aku sudah menika

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   4. Hamili Menantuku!

    What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   1. Ah, Sakit, Dok!

    "Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status