ANMELDENKabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group.
"Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk, Adrian langsung membuka laptop dan memeriksa berkas rapat. Sebaliknya, Kirana malah memandangi wajah pria itu sejak tadi. "Pak." Kirana membuka obrolan lebih dulu. "Hm," jawab Adrian tanpa minat. "Bapak tahu nggak?" Hening, mata pria itu fokus pada layar laptopnya. "Kalau Bapak terus ganteng begini, aku susah fokus kerja." Lanjut Kirana antusias sendiri. Adrian memilih diam, malas menanggapi Kirana yang banyak tanya dan begitu cerewet. Beberapa menit kemudian... "Pak." "Apa lagi?" Adrian menatap ke arah Kirana dengan jengah "Aku mau jujur, kalau aku makin suka sama Bapak." Rahang Adrian langsung mengeras, fokusnya pada pekerjaan menguap begitu saja. Harusnya ia mengajak Kirana dinas di luar kota bukan untuk hal seperti ini, melainkan untuk mengetahui seberapa bagus kinerja gadis itu untuk perusahaannya. "Saya harap perjalanan ini dipakai untuk bekerja." Tegurnya. "Bisa, kok. Tapi mulut saya gatel kalau gak goda bapak." sontak saja ucapan Kirana membuat supir di depan sampai menahan tawa. Adrian akhirnya menutup laptopnya. Ia menoleh kepada Kirana dengan tatapan datar. "Dengar baik-baik. Saya atasan kamu." Kirana malah tersenyum lebar. "Itu menurut Bapak. Kalau menurut aku, bapak calon pacar." Adrian benar-benar menyerah. Ia kembali menatap ke luar jendela, berharap sisa perjalanan berlangsung tenang. Sayangnya, harapan itu tidak bertahan lama. Brak! Mobil mendadak berguncang sebelum akhirnya berhenti di pinggir jalan. Supir segera turun memeriksa mesin. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil menggaruk kepala. "Maaf, Pak." "Mobilnya mogok." Belum sempat Adrian menjawab, hujan turun semakin deras. Jalanan mulai sepi. Supir kembali berkata, "Hotel terdekat sekitar lima menit dari sini. Kalau dipaksakan lanjut malam ini cukup berbahaya." Adrian mengangguk singkat. "Kita menginap." Kirana justru tersenyum sendiri. "Gak apa-apa deh mobilnya rusak, yang penting rusaknya sama Pak Adrian." Setelah mendapatkan kamar, mereka bertemu kembali di restoran hotel untuk makan malam. Adrian berharap suasana akan lebih tenang. Ternyata harapan itu kembali salah. Kirana duduk tepat di hadapannya. Senyumnya tidak pernah hilang. "Pak Kalau aku masak buat Bapak setiap hari, kira-kira Bapak luluh nggak?" Adrian menatap wajah Kirana beberapa detik, tidak mengatakan hal apapun, tetapi ekspresinya meminta wanita itu untuk diam. Kirana malah tersenyum menampilkan deretan giginya tanpa rasa salah. "Jangan marah-marah dong pak, makin ganteng ih!" Adrian kembali memijat pelipisnya. Perempuan ini benar-benar memiliki bakat mengubah semua perkataan orang menjadi kemenangan untuk dirinya sendiri. Selesai makan malam, mereka berjalan menuju lift. Kirana tiba-tiba berlari kecil menuju meja lobi. Beberapa saat kemudian, ia kembali sambil membawa dua gelas kopi. "Pak! Aku beliin kopi." "Biar Bapak semangat jatuh cinta sama aku." lanjutnya Adrian menatap dua gelas itu. "Apa kamu tidak pernah malu?" Kirana menggeleng mantap. "Kalau sama calon pacar sendiri, ngapain malu?" Adrian benar-benar kehilangan kata-kata. Kirana terkikik sendiri. "Oke deh, aku simpan kopinya dulu." Baru dua langkah ia berjalan, kakinya menginjak lantai yang masih basah. "Eh?" Bruk! Tubuhnya langsung terduduk di lantai. Dua gelas kopi terlepas dari tangannya. Untung saja gelas itu jatuh ke samping dan tidak mengenai siapa pun. "Aduh..." Kirana meringis sambil mengusap pinggangnya. Suasana mendadak hening. Adrian yang sejak tadi menahan ekspresi akhirnya tidak sanggup lagi. Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Hahaha..." Tawanya terdengar pelan. Namun, itu benar-benar sebuah tawa. Kirana langsung mendongak. Matanya membulat lebar. "Ya ampun, Pak Adrian! Bapak ketawa?" Adrian buru-buru kembali memasang wajah datar. Sayangnya semuanya sudah terlambat. Kirana sudah melihatnya. Tanpa peduli pinggangnya masih sedikit sakit, ia buru-buru mengambil ponsel dari saku blazer. Ia membuka aplikasi catatan. Misi Menaklukkan Pak Adrian: Pak Adrian kenal aku. Pak Adrian ngomong panjang sama aku. Pak Adrian senyum. Pak Adrian ngajak ngobrol duluan. Jadi pacar Pak Adrian. Kirana tersenyum puas, ia segera menceklis misi nomor tiga. "Yes! Kalau jatuh sekali aja bisa bikin Bapak ketawa, berarti aku harus sering-sering jatuh dong?" Adrian menggeleng pelan sambil menatap perempuan itu. Entah kenapa, sejak mengenal Kirana. Perempuan itu tidak hanya membuatnya pusing. Tetapi juga berhasil membuatnya tertawa. Tapi, bagi Kirana bukan karena tawa Adrian lagi. Karena detik berikutnya, pria itu mengulurkan tangannya dan berkata. "Sini saya bantu." Jantung Kirana seakan berhenti berdetak, semua masalah masalalunya seakan hilang begitu saja. Meski masih dengan wajah datar, tapi untuk pertama kalinya Adrian nampak peduli padanya. "Bapak khawatir sama aku, ya?" Adrian menghembuskan napas pelan. "Saya hanya tidak mau sekretaris saya tidur di lantai hotel." Kirana terkikik kecil. Tanpa berpikir panjang, ia meraih tangan Adrian. Namun, lantai marmer yang masih basah ternyata belum benar-benar kering. Saat Kirana mencoba berdiri, kakinya kembali terpeleset. "Eh?!" Refleks Adrian menarik tangan Kirana agar tidak jatuh lagi. Sayangnya, tarikan itu justru membuat keseimbangannya ikut hilang. Bruk! Dalam sekejap. Tubuh Adrian ikut terjatuh. Tangannya spontan menahan tubuh agar tidak menimpa Kirana sepenuhnya. Kini, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Tatapan dingin Adrian bertemu dengan mata Kirana yang membulat kaget. Bahkan napas keduanya terdengar begitu jelas di tengah lobi hotel yang mendadak sunyi. Jantung Kirana berdegup semakin cepat. Di sisi lain, Adrian merasa aneh. Sebab Ada seorang perempuan yang berada sedekat ini dengannya.Kabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,
"Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk
Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua
“Apa aku pelet aja Pak Adrian?” celetuk Kirana dengan pikiran konyolnya. Namun, detik berikutnya ia langsung menggeleng kuat-kuat. Ide itu bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri. Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga tubuhnya memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit dengan wajah lesu. “Ah, baru aja mulai udah ada penghalang!” Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan aplikasi catatan yang berisi daftar misi menaklukkan Adrian. Kirana menghela napas. Akan tetapi, belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, bayangan wajah Adrian yang begitu dekat dengannya siang tadi kembali terlintas di benaknya. Seketika wajah lesunya berubah. Senyumnya mengembang, bahkan pipinya sedikit memerah mengingat kejadian tersebut. “Gak salah sih aku punya target cowok ganteng dan kaya.” Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, seolah tidak bisa diam karena pikir
Namun, kata-kata Kirana justru membuat Adrian semakin terkejut. “Pak, bapak nyaman ya?” Seketika Adrian bangkit dari posisinya. Tangannya menepuk-nepuk pelan kemejanya yang terkena debu, lalu berdehem untuk mengembalikan ketenangannya. Wajahnya kembali dingin, meskipun jelas sekali ia masih terganggu dengan kejadian barusan. “Keluar! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!” Kirana berdiri tak jauh darinya. Bukannya merasa malu atau mundur, perempuan itu malah memperhatikan Adrian dengan tatapan penuh rasa penasaran. Seolah teguran pria itu tidak cukup untuk menghentikan keberaniannya. Dan kali ini tanpa meminta izin, Kirana tiba-tiba meraih tangan Adrian dan menariknya ke arah dadanya sendiri. “Coba rasakan pak, degub jantung saya kuat banget kan?” Mata Adrian langsung melotot. Ia segera menarik tangannya tanpa berpikir panjang, bahkan mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak. “Kirana! Sedang apa kamu! Keluar, keterlaluan!” Kali ini Adrian benar-benar tidak peduli bagaim
“Kenapa kamu ada di ruangan saya?” Suara Adrian yang dingin membuat Kirana yang sedang duduk santai di sofa langsung menoleh. Bukannya terkejut, gadis itu justru tersenyum lebar. Kirana bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski baru saja ketahuan memasuki ruangan CEO tanpa izin. “Bapak gimana sih? Ya kerja dong, Pak.” Ia bangkit dari sofa, merapikan pakaian nyentriknya, lalu berjalan menghampiri Adrian seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama. CEO itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut. Sejak pagi, perempuan ini sudah berhasil membuat kepalanya pening. Dan sekarang, di hari pertamanya kerja, Kirana sudah berani masuk ke ruangannya sendiri. “Ini jam makan siang,” ujar Adrian datar. “Dan saya sudah bilang, jangan masuk ke ruangan saya tanpa izin.” Kirana mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri semakin dekat. Adrian langsung mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membuat Kirana memperhatikan satu hal. Pria ini benar-benar menjaga jarak darinya. Bukannya ters







