تسجيل الدخول“Kenapa kamu ada di ruangan saya?” Suara Adrian yang dingin membuat Kirana yang sedang duduk santai di sofa langsung menoleh.
Bukannya terkejut, gadis itu justru tersenyum lebar. Kirana bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski baru saja ketahuan memasuki ruangan CEO tanpa izin. “Bapak gimana sih? Ya kerja dong, Pak.” Ia bangkit dari sofa, merapikan pakaian nyentriknya, lalu berjalan menghampiri Adrian seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama. CEO itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut. Sejak pagi, perempuan ini sudah berhasil membuat kepalanya pening. Dan sekarang, di hari pertamanya kerja, Kirana sudah berani masuk ke ruangannya sendiri. “Ini jam makan siang,” ujar Adrian datar. “Dan saya sudah bilang, jangan masuk ke ruangan saya tanpa izin.” Kirana mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri semakin dekat. Adrian langsung mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membuat Kirana memperhatikan satu hal. Pria ini benar-benar menjaga jarak darinya. Bukannya tersinggung, hal itu malah semakin membuatnya tertarik. Baginya, semakin sulit mendapatkan seseorang, semakin seru pula permainannya. “Jangan kaku-kaku begitu dong, Pak.” Tangannya terangkat, hendak menyentuh lengan Adrian dengan santai. Tapi, belum sempat menyentuh, Adrian langsung menepis tangannya. Gerakannya cukup keras hingga Kirana terdiam sesaat. Rahang Bosnya mengeras. “Ingat batasan, Kirana. Saya tidak mengizinkan kamu menyentuh saya!” Tatapan pria itu tegas, dan Kirana melihat bahwa Adrian benar-benar tidak nyaman dengan sikapnya. Anehnya, bukannya mundur, senyum di wajah Kirana justru semakin lebar. Ia memang sudah menduga Adrian bukan tipe pria yang mudah didekati. Dan justru itu yang membuatnya semakin ingin mencoba. “Maaf, Pak,” ucapnya ringan. “Saya cuma pengen kenal lebih dekat.” Hening, Adrian tidak menjawab. Kakinya berjalan melewati Kirana dan menuju meja kerjanya. Sayangnya gadis itu mengikuti dari belakang. Matanya memperhatikan setiap gerakan pria tersebut. Cara Adrian meletakkan berkas, membuka laptop, bahkan cara ia menarik kursi pun terasa menarik bagi gadis yang sejak melayangkan lamaran kerja sudah menetapkannya sebagai target. Kirana menahan senyum. Pak Adrian ini kalau marah malah makin ganteng. Adrian baru saja membuka laptop ketika menyadari Kirana masih berdiri di dekat mejanya. “Kenapa masih di sini?” “Bapak sendirian," jawabnya enteng. Adrian memejamkan mata sebentar. Kesabarannya benar-benar diuji. “Saya tidak membutuhkan kamu sekarang, nanti saya akan panggil kamu kalau saya butuh." “Tapi saya yang membutuhkan Bapak.” Jari Adrian yang semula hendak mengetik langsung berhenti, kepalanya mendongak menatap Kirana yang hanya tersenyum polos. “Buat target," celetuknya Adrian menatapnya lama. “Target?” alisnya bertaut Kirana buru-buru menggeleng, hampir saja ia keceplosan. “Maksudnya target kerja," Jelas sekali ia berbohong. Adrian memilih tidak menanggapi. Ia kembali bekerja, berharap perempuan itu akhirnya bosan. Namun harapan itu sia-sia. Kirana tetap berada di sana. Sesekali memperhatikan wajah Adrian, kemudian rambutnya, lalu dasinya. “Pak.” Pria itu tetap memilih diam, mengabaikan Kirana. “Bapak ganteng banget kalau lagi serius.” Tapi sayangnya, rasanya kali ini Kirana sudah berlebihan, jemarinya kembali berhenti. Justru karena itu Kirana tersenyum puas. Karena berhasil membuat Adrian bereaksi. “Keluar!” Kali ini suaranya lebih tegas. Kirana masih tersenyum, justru tak bergeming sedikitpun. Adrian menatapnya tajam untuk sekali lagi. “Keluar, atau saya akan memecat kamu di hari pertama kamu kerja!" Senyum yang awalnya terbit di bibirnya memudar begitu saja, akhirnya Kirana berbalik menuju pintu. Namun karena terlalu terburu-buru, ujung sepatunya menyerempet kaki meja. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan. “Eh—” Seketika tubuh Kirana miring ke depan. Adrian yang melihatnya refleks bangkit dari kursinya. Tangannya bergerak cepat menangkap lengan Kirana sebelum gadis itu jatuh. Namun tarikan itu justru membuat posisi mereka kehilangan keseimbangan. Adrian ikut terdorong. Dalam hitungan detik, tubuh Kirana jatuh ke lantai. Dan Adrian ikut terjatuh bersamanya. Tangannya spontan menahan tubuh agar tidak menimpa Kirana sepenuhnya. Seketika semuanya diam, keduanya membeku. Jarak wajah mereka begitu dekat. Kirana bisa melihat jelas sorot mata pria itu yang biasanya dingin kini terlihat sedikit terkejut. Sementara Adrian mendapati wajah Kirana tepat berada di bawahnya. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Kirana bahkan lupa dengan rencana menggoda Adrian. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Tatapan mereka bertemu. Meskipun begitu, tidak ada satu pun kalimat nakal yang keluar dari mulut gadis itu yang ada jantungnya berdegup begitu kencang. Merasakan hembusan napas hangat Adrian di kulit wajahnya.Kabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,
"Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk
Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua
“Apa aku pelet aja Pak Adrian?” celetuk Kirana dengan pikiran konyolnya. Namun, detik berikutnya ia langsung menggeleng kuat-kuat. Ide itu bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri. Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga tubuhnya memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit dengan wajah lesu. “Ah, baru aja mulai udah ada penghalang!” Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan aplikasi catatan yang berisi daftar misi menaklukkan Adrian. Kirana menghela napas. Akan tetapi, belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, bayangan wajah Adrian yang begitu dekat dengannya siang tadi kembali terlintas di benaknya. Seketika wajah lesunya berubah. Senyumnya mengembang, bahkan pipinya sedikit memerah mengingat kejadian tersebut. “Gak salah sih aku punya target cowok ganteng dan kaya.” Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, seolah tidak bisa diam karena pikir
Namun, kata-kata Kirana justru membuat Adrian semakin terkejut. “Pak, bapak nyaman ya?” Seketika Adrian bangkit dari posisinya. Tangannya menepuk-nepuk pelan kemejanya yang terkena debu, lalu berdehem untuk mengembalikan ketenangannya. Wajahnya kembali dingin, meskipun jelas sekali ia masih terganggu dengan kejadian barusan. “Keluar! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!” Kirana berdiri tak jauh darinya. Bukannya merasa malu atau mundur, perempuan itu malah memperhatikan Adrian dengan tatapan penuh rasa penasaran. Seolah teguran pria itu tidak cukup untuk menghentikan keberaniannya. Dan kali ini tanpa meminta izin, Kirana tiba-tiba meraih tangan Adrian dan menariknya ke arah dadanya sendiri. “Coba rasakan pak, degub jantung saya kuat banget kan?” Mata Adrian langsung melotot. Ia segera menarik tangannya tanpa berpikir panjang, bahkan mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak. “Kirana! Sedang apa kamu! Keluar, keterlaluan!” Kali ini Adrian benar-benar tidak peduli bagaim
“Kenapa kamu ada di ruangan saya?” Suara Adrian yang dingin membuat Kirana yang sedang duduk santai di sofa langsung menoleh. Bukannya terkejut, gadis itu justru tersenyum lebar. Kirana bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski baru saja ketahuan memasuki ruangan CEO tanpa izin. “Bapak gimana sih? Ya kerja dong, Pak.” Ia bangkit dari sofa, merapikan pakaian nyentriknya, lalu berjalan menghampiri Adrian seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama. CEO itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut. Sejak pagi, perempuan ini sudah berhasil membuat kepalanya pening. Dan sekarang, di hari pertamanya kerja, Kirana sudah berani masuk ke ruangannya sendiri. “Ini jam makan siang,” ujar Adrian datar. “Dan saya sudah bilang, jangan masuk ke ruangan saya tanpa izin.” Kirana mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri semakin dekat. Adrian langsung mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membuat Kirana memperhatikan satu hal. Pria ini benar-benar menjaga jarak darinya. Bukannya ters







