Beranda / Romansa / Jangan Ditahan-tahan Pak! / 4. Balas dendam dimulai

Share

4. Balas dendam dimulai

Penulis: Kirrun kiyyun
last update Tanggal publikasi: 2026-07-20 11:13:45

“Apa aku pelet aja Pak Adrian?” celetuk Kirana dengan pikiran konyolnya.

Namun, detik berikutnya ia langsung menggeleng kuat-kuat. Ide itu bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri. Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga tubuhnya memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit dengan wajah lesu.

“Ah, baru aja mulai udah ada penghalang!” Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan aplikasi catatan yang berisi daftar misi menaklukkan Adrian.

Kirana menghela napas. Akan tetapi, belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, bayangan wajah Adrian yang begitu dekat dengannya siang tadi kembali terlintas di benaknya. Seketika wajah lesunya berubah.

Senyumnya mengembang, bahkan pipinya sedikit memerah mengingat kejadian tersebut.

“Gak salah sih aku punya target cowok ganteng dan kaya.” Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, seolah tidak bisa diam karena pikirannya sendiri.

“Tapi masalahnya aku harus cari tahu dulu siapa Bu Clara itu!”

Kirana akhirnya duduk tegak di atas kasur. Tatapannya berubah penuh tekad. “Pokoknya aku harus cari tahu!” Tangannya mengepal.

“Kalau aku keduluan, gimana mau pamer ke Gerry? Dia harus lihat kalau aku bisa dapat cowok yang jauh lebih keren dari dia!” Semangatnya kembali membara.

Karena merasa bosan sekaligus ingin mencari udara luar, Kirana akhirnya memutuskan pergi ke kafe terdekat. Sayangnya, bukannya mendapatkan ketenangan, langkahnya justru berhenti ketika melihat seseorang yang sangat ia kenal. Mantan kekasihnya ada di sana, pria itu sedang berjalan sambil menggandeng seorang perempuan cantik, manis, dan berpakaian anggun. Penampilannya begitu berbeda dari Kirana yang malam itu masih terlihat nyentrik seperti biasanya.

“Kamu di sini juga?” tanya Gerry, sekadar basa-basi, saat mereka melihatnya berada di tempat yang sama.

Kirana hanya menatapnya datar. Di luar ia terlihat biasa saja. Tapi, jauh di dalam hatinya, ada rasa panas yang perlahan muncul. Ternyata Gerry sudah mendapatkan pengganti dirinya.

Bahkan lebih cepat dari yang ia bayangkan.

“Kenalin, ini Ferica, pacar aku.”

Perempuan bernama Ferica itu mengulurkan tangan. Kirana sempat ragu sebelum akhirnya menyambutnya.

“Sayang, ini mantan aku,” jelas Gerry. Tatapan Ferica langsung berubah. Matanya bergerak dari wajah Kirana hingga pakaiannya, seolah sedang menilai penampilan perempuan di hadapannya.

Kirana menahan napas, entah mengapa gadis itu bisa merasakan Ferica yang menatapnya dengan tatapan mengejek.

Lalu Gerry kembali membuka mulut.

“Aneh, ya? Maklum, dulu aku pacaran sama Kirana karena cinta monyet. Iya, kan, Kir?”

Mata Kirana membelalak sesaat, tak menyangka Gerry akan berkata seperti itu, bahkan sekarang kedua tangan Kirana mengepal, wajahnya memerah menahan amarah. Niat awalnya datang ke kafe untuk minum kopi dan menenangkan pikiran seketika lenyap. Yang ada, pikirannya justru semakin penuh.

Tapi, tenang saja Kirana tidak ingin membalas.

Tidak ingin memberi Gerry kepuasan melihat dirinya marah. Tanpa mengatakan apa pun, Kirana berbalik dan pergi.

“Kirana!” Suara Gerry terdengar dari belakang.

Alih-alih berbalik, kakinya terus melangkah. Bahkan ketika suara tawa Gerry menyusul, Kirana terus berjalan semakin jauh dari kafe, langkahnya terasa semakin berat dan tentu saja dadanya terasa sesak. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, membasahi pipinya.

Tanganya segera mengusapnya kasar. Kirana berhenti sejenak di pinggir jalan, menundukkan kepala sambil menarik napas panjang.

Pertemuan itu tentu menyakitkan dan membuat harga dirinya terinjak-injak, Kirana tak terima karena Gerry mempermalukannya begitu saja, padahal harusnya pria itu tidak berlaku demikian. Seolah-olah hubungan yang mereka jalani selama hampir beberapa tahun tak berarti apapun.

Meskipun begitu, kali ini Kirana tidak ingin hanya diam dan menangis. Ia mengangkat wajahnya.

Tatapannya berubah, senyuman tergambar jelas di wajahnya yang sedikit basah karena air mata.

"Gak! menangis? ngapain aku nangis! tugas ku sekarang harus bisa buat Pak Adrian jadi pacarku dan pamer ke Gerry!" suaranya tegas, terdengar menyemangati dirinya sendiri bahkan, sekarang tekad itu terasa jauh lebih kuat.

Kirana mengepalkan tangannya. Ia akan membuktikan kepada Gerry bahwa dirinya tidak seperti yang ia katakan. Kirana akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik.

Dan kali ini, ia benar-benar bertekad untuk membalas semua yang Gerry lakukan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   7. Pak Adrian tersenyum

    Kabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   6. Dinas di luar kota

    "Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   5. Menyingkirkan hama

    Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   4. Balas dendam dimulai

    “Apa aku pelet aja Pak Adrian?” celetuk Kirana dengan pikiran konyolnya. Namun, detik berikutnya ia langsung menggeleng kuat-kuat. Ide itu bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri. Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga tubuhnya memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit dengan wajah lesu. “Ah, baru aja mulai udah ada penghalang!” Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan aplikasi catatan yang berisi daftar misi menaklukkan Adrian. Kirana menghela napas. Akan tetapi, belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, bayangan wajah Adrian yang begitu dekat dengannya siang tadi kembali terlintas di benaknya. Seketika wajah lesunya berubah. Senyumnya mengembang, bahkan pipinya sedikit memerah mengingat kejadian tersebut. “Gak salah sih aku punya target cowok ganteng dan kaya.” Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, seolah tidak bisa diam karena pikir

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   3. Lihat saja siapa yang lebih pantas

    Namun, kata-kata Kirana justru membuat Adrian semakin terkejut. “Pak, bapak nyaman ya?” Seketika Adrian bangkit dari posisinya. Tangannya menepuk-nepuk pelan kemejanya yang terkena debu, lalu berdehem untuk mengembalikan ketenangannya. Wajahnya kembali dingin, meskipun jelas sekali ia masih terganggu dengan kejadian barusan. “Keluar! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!” Kirana berdiri tak jauh darinya. Bukannya merasa malu atau mundur, perempuan itu malah memperhatikan Adrian dengan tatapan penuh rasa penasaran. Seolah teguran pria itu tidak cukup untuk menghentikan keberaniannya. Dan kali ini tanpa meminta izin, Kirana tiba-tiba meraih tangan Adrian dan menariknya ke arah dadanya sendiri. “Coba rasakan pak, degub jantung saya kuat banget kan?” Mata Adrian langsung melotot. Ia segera menarik tangannya tanpa berpikir panjang, bahkan mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak. “Kirana! Sedang apa kamu! Keluar, keterlaluan!” Kali ini Adrian benar-benar tidak peduli bagaim

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   2. Bapak mau cium saya?

    “Kenapa kamu ada di ruangan saya?” Suara Adrian yang dingin membuat Kirana yang sedang duduk santai di sofa langsung menoleh. Bukannya terkejut, gadis itu justru tersenyum lebar. Kirana bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski baru saja ketahuan memasuki ruangan CEO tanpa izin. “Bapak gimana sih? Ya kerja dong, Pak.” Ia bangkit dari sofa, merapikan pakaian nyentriknya, lalu berjalan menghampiri Adrian seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama. CEO itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut. Sejak pagi, perempuan ini sudah berhasil membuat kepalanya pening. Dan sekarang, di hari pertamanya kerja, Kirana sudah berani masuk ke ruangannya sendiri. “Ini jam makan siang,” ujar Adrian datar. “Dan saya sudah bilang, jangan masuk ke ruangan saya tanpa izin.” Kirana mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri semakin dekat. Adrian langsung mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membuat Kirana memperhatikan satu hal. Pria ini benar-benar menjaga jarak darinya. Bukannya ters

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status