Accueil / Romansa / Jangan Ditahan-tahan Pak! / 5. Menyingkirkan hama

Partager

5. Menyingkirkan hama

last update Date de publication: 2026-07-20 12:47:30

Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras.

"Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan.

Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO.

Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri.

"Nggak! Belum tentu!"

Beberapa staf yang melintas langsung menoleh.

Kirana mengepalkan tangan dengan semangat.

"Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!"

Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri.

"Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!"

Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempuan merasa di cabik-cabik.

"Oke, misi di lanjutkan!" teriaknya, sangat bersemangat dan melangkah pergi.

---

Pagi itu Adrian baru saja keluar dari ruang meeting ketika aroma kopi memenuhi lorong.

Kirana datang dengan dua gelas di tangannya.

"Pak!"

Adrian berhenti, menunggu Kirana akan berbicara.

"Aku beliin kopi."

Belum sempat Adrian menjawab, Clarissa muncul dari arah berlawanan.

"Adrian, aku juga bawakan kopi favoritmu."

Kirana berkedip. Lalu melihat gelas di tangan Clarissa.

"Oh, dobel."

Clarissa tersenyum ramah, seolah tak ada masalah.

"Nggak apa-apa, nanti Adrian pilih saja."

Kirana langsung menggeleng, tak ingin ada penolakan.

"Nggak bisa!"

Clarissa terlihat bingung.

"Kenapa?"

"Soalnya yang datang duluan, itu yang menang!"

"Hah? Ada aturannya?" Clarissa baru sadar.

"Aturan siapa?" tanyanya pelan

"Aturan aku."

Beberapa staf yang mendengar percakapan itu langsung menahan tawa.

Adrian memandang dua gelas kopi itu bergantian. Kemudian berkata datar,

"Saya tidak minum kopi sebelum jam sepuluh."

Ia berjalan pergi. Meninggalkan dua perempuan yang sama-sama memegang gelas.

Kirana tersenyum puas.

"Nah, berarti belum ada yang menang."

Clarissa hanya tersenyum kecil.

"Lucu juga ya."

****

Menjelang makan siang. Clarissa berjalan menuju pantry membawa kotak bekal.

"Kata Tante, Adrian sering lupa makan. Aku mau antar sekalian."

Belum sempat melangkah, sebuah tangan lebih dulu mengambil kotak makan itu.

"Biar aku aja!"

Clarissa menoleh.

"Kirana?"

"Kan aku sekretaris Pak Adrian."

Clarissa tertawa kecil.

"Oh, iya juga."

"Tapi aku—"

"Nggak apa-apa."

"Biar aku."

Kirana langsung melesat menuju ruang CEO sambil membawa kotak makan.

Clarissa hanya berdiri mematung.

"Aku salah apa, ya?"

Gadis itu kemudian berjalan meninggalkan Clarissa, lalu Kirana membuka pintu dengan senyum lebar.

"Pak, aku bawain makan siang."

Adrian mengangkat kepala dari laptopnya.

"Siapa yang menyuruh?" suaranya begitu dingin, tanpa rasa minat.

"Nggak ada."

"Terus?" alisnya bertaut, meski Adrian paham arahnya akan kemana.

"Aku peduli."

Adrian menghembuskan napas kesal.

"Kirana," panggil Adrian datar dan dingin.

Kirana mengangguk dan berkedip.

"Saya ingatkan kamu untuk gak usah aneh-aneh, kamu ini lagi kerja, bukan lagi PDKT!" hardik Ardian, mulai merasa kesal.

Kirana malah terkekeh.

"Berarti Bapak sadar aku lagi pendekatan?"

Hening, hanya ada suara pendingin ruangan dan hembusan napas pria itu yang semakin berat. Adrian kemudian menutup laptop perlahan.

"Kamu sengaja?"

"Sengaja apa ya pak?"

"Membuat saya pusing."

Kirana menggeleng cepat.

"Nggak."

"Aku maunya bikin Bapak jatuh cinta."

Sontak saja, mata Adrian melotot dengan sempurna, rahangnya mengeras.

"KIRANA!"

Kirana justru semakin tersenyum lebar.

"KELUAR." pria itu menunjuk ke arah pintu dengan gerakan penuh amarah.

"Oke, Pak. Tapi makannya jangan lupa."

Ia berjalan keluar sambil tersenyum puas, seakan-akan amarah yang baru saja di keluarkan oleh Adrian tak ada artinya.

"Progress hari ini lumayan."

Tak peduli, bosnya padahal kembali memijat pelipisnya.

Lalu sore harinya.

Clarissa membawa beberapa map menuju ruang Adrian. Belum sempat mengetuk pintu, Kirana kembali muncul.

"Sini, Bu. Biar aku saja."

"Kamu lagi?" Clarissa terkejut.

"Kan aku sekretaris."

Clarissa akhirnya menyerahkan map itu.

"Terima kasih."

"Nggak usah sungkan."

Adrian yang melihat semua kejadian itu akhirnya tidak tahan.

"Masuk." titah Adrian.

Karina mengikuti arahan pria tersebut. Begitu pintu tertutup, Adrian langsung menatapnya.

"Sejak pagi, kamu mengikuti Clarissa?"

Kirana langsung menggeleng.

"Nggak kok."

"Lalu kenapa setiap dia muncul, kamu juga muncul?"

Kirana berpikir beberapa detik.

"Hmm..."

"Kebetulan?"

"Kebetulan tiga kali?"

Kirana justru terkekeh, tanpa merasa bersalah.

Adrian menghembuskan napas panjang.

"Tolong fokus bekerja. Jangan membuat suasana kantor seperti taman kanak-kanak."

Kirana mengangguk patuh.

Adrian mulai merasa pembicaraan selesai.

Namun, tidak bagi Kirana.

"Pak."

"Apa lagi?"

"Bapak marah karena perhatian sama aku, kan?"

"KELUAR!" bentaknya lebih kencang dari kejadian siang tadi

Kirana kicep, ia kemudian berlari kecil untuk menghindari Adrian yang wajahnya sudah memerah menahan amarah, selama menunggu jam pulang, ia terus mencari cara agar Clarissa tak berdekatan dengan Adrian. Dan tentu saja, berahkir dengan amarah dan umpatan dari bossnya. Tapi, Kirana tak peduli, karena baginya yang terpenting Clarissa tak usah dekat-dekat dengan calon pacarnya.

Dan sekarang, menjelang jam pulang. Kirana berdiri sendirian di dekat lobi. Hari ini rasanya melelahkan. Belum sempat ia menghela napas, Clarissa menghampirinya dengan senyum hangat.

"Terima kasih ya, seharian ini kamu udah bantu aku." Clarissa tersenyum hangat.

Karina mengangguk, andai saja wanita itu tahu, bahwa semua yang ia lakukan adalah untuk menjauhkan Clarissa dari Adrian.

"Santai aja, wajar kan aku calon pacarnya Pak Adrian, jadi harus lebih peduli." ucapnya bangga

Wanita berpenampilan elegant itu tersenyum tipis.

"Oh ya, tapi Kirana sepertinya kamu ketinggalan satu informasi."

Kirana terdiam, nampak kebingungan.

"Informasi apa?"

"Aku, calon istri Pak Adrian." tutur Clarissa, senyuman tidak lepas dari bibir merah mudanya.

Senyum Kirana perlahan menghilang. Jantung Kirana seperti berhenti sesaat. Ia hanya mampu menatap Clarissa yang kemudian berjalan pergi.

Setelah sosok itu menghilang, Kirana menelan ludah pelan.

"Ya ampun, dugaan ku benar kan? Tapi, gak boleh nyerah! Tugasku nyingkirin Clarissa sekarang!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   7. Pak Adrian tersenyum

    Kabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   6. Dinas di luar kota

    "Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   5. Menyingkirkan hama

    Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   4. Balas dendam dimulai

    “Apa aku pelet aja Pak Adrian?” celetuk Kirana dengan pikiran konyolnya. Namun, detik berikutnya ia langsung menggeleng kuat-kuat. Ide itu bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri. Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga tubuhnya memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit dengan wajah lesu. “Ah, baru aja mulai udah ada penghalang!” Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala, menampilkan aplikasi catatan yang berisi daftar misi menaklukkan Adrian. Kirana menghela napas. Akan tetapi, belum sempat ia memikirkan langkah berikutnya, bayangan wajah Adrian yang begitu dekat dengannya siang tadi kembali terlintas di benaknya. Seketika wajah lesunya berubah. Senyumnya mengembang, bahkan pipinya sedikit memerah mengingat kejadian tersebut. “Gak salah sih aku punya target cowok ganteng dan kaya.” Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, seolah tidak bisa diam karena pikir

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   3. Lihat saja siapa yang lebih pantas

    Namun, kata-kata Kirana justru membuat Adrian semakin terkejut. “Pak, bapak nyaman ya?” Seketika Adrian bangkit dari posisinya. Tangannya menepuk-nepuk pelan kemejanya yang terkena debu, lalu berdehem untuk mengembalikan ketenangannya. Wajahnya kembali dingin, meskipun jelas sekali ia masih terganggu dengan kejadian barusan. “Keluar! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!” Kirana berdiri tak jauh darinya. Bukannya merasa malu atau mundur, perempuan itu malah memperhatikan Adrian dengan tatapan penuh rasa penasaran. Seolah teguran pria itu tidak cukup untuk menghentikan keberaniannya. Dan kali ini tanpa meminta izin, Kirana tiba-tiba meraih tangan Adrian dan menariknya ke arah dadanya sendiri. “Coba rasakan pak, degub jantung saya kuat banget kan?” Mata Adrian langsung melotot. Ia segera menarik tangannya tanpa berpikir panjang, bahkan mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak. “Kirana! Sedang apa kamu! Keluar, keterlaluan!” Kali ini Adrian benar-benar tidak peduli bagaim

  • Jangan Ditahan-tahan Pak!   2. Bapak mau cium saya?

    “Kenapa kamu ada di ruangan saya?” Suara Adrian yang dingin membuat Kirana yang sedang duduk santai di sofa langsung menoleh. Bukannya terkejut, gadis itu justru tersenyum lebar. Kirana bahkan tidak terlihat merasa bersalah meski baru saja ketahuan memasuki ruangan CEO tanpa izin. “Bapak gimana sih? Ya kerja dong, Pak.” Ia bangkit dari sofa, merapikan pakaian nyentriknya, lalu berjalan menghampiri Adrian seolah mereka sudah saling mengenal cukup lama. CEO itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut. Sejak pagi, perempuan ini sudah berhasil membuat kepalanya pening. Dan sekarang, di hari pertamanya kerja, Kirana sudah berani masuk ke ruangannya sendiri. “Ini jam makan siang,” ujar Adrian datar. “Dan saya sudah bilang, jangan masuk ke ruangan saya tanpa izin.” Kirana mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri semakin dekat. Adrian langsung mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membuat Kirana memperhatikan satu hal. Pria ini benar-benar menjaga jarak darinya. Bukannya ters

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status