ログインNingrum terus memijat dengan gerakan lembut, matanya sesekali menatap wajah Roni yang mulai rileks. Namun semakin lama ia memijat, semakin besar rasa penasarannya.
Gadis itu menatap batang Roni yang terus berdenyut di bawah jari-jarinya, lalu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. “Ron...” suara Ningrum pelan, sedikit ragu. “Aku pernah melihat sesuatu... waktu aku masih kecil.” Roni membuka matanya, menatap NingruPak Anwar yang dari tadi mengamati dengan senyum, ikut menimpali. "Roni benar, kau memang terlihat cantik. Aku kira kau masih muda." Ia menatap Bi Tutik dengan tatapan hangat. "Dek Tutik sudah berkeluarga?" Bi Tutik tersenyum kecut, matanya sedikit menunduk. "Dulu, Pak. Tapi sekarang saya sudah sendiri." Ia menghela napas pelan. "Sudah sepuluh tahun saya bercerai dengan suami." Pak Anwar mengerjapkan mata, ekspresinya berubah dari hangat menjadi penuh perhatian. "Oh... maaf, Dek Tutik. Aku tidak bermaksud menyinggung." "Tidak apa-apa," Bi Tutik menggeleng, tersenyum tipis. "Sudah lama sekali. Kami bercerai karena... saya tidak bisa memberikan anak untuknya." Suaranya sedikit bergetar, tapi ia berusaha tetap tegar. "Suami saya ingin punya keturunan, dan saya tidak bisa memenuhinya. Jadi dia mencampakkanku." Suasana menjadi hening sejenak. Roni merasa iba mendengar cerita itu, tapi
"Ron, istirahat dulu," kata Pak Anwar sambil menghela napas. "Kita makan siang sebentar. Aku sudah capek juga mengecat bagian belakang." Roni menurunkan kuas, menggelengkan bahunya yang pegal. "Baik, Pak. Sebentar lagi saya selesai untuk satu sisi." Ia merapikan kuas dan menutup kaleng cat, lalu berjalan ke arah Pak Anwar. Mereka berdua keluar kamar menuju ruang tamu, di mana Mina sudah menyiapkan nampan berisi nasi kotak dan air minum. "Makan siang, Mas, Pak!" sapa Mina ceria. "Nyonya menyuruh saya siapkan untuk kalian." Roni dan Pak Anwar duduk di kursi ruang tamu, mengambil nasi kotak yang masih hangat. Roni membuka bungkusnya—nasi putih dengan lauk ayam goreng, sambal, dan lalapan. "Makan dulu biar tenaganya pulih," kata Pak Anwar sambil menyuap nasi. "Nanti kita lanjut lagi." Roni mengangguk, ma
Roni mulai membuka kaleng cat dengan hati-hati, menggunakan obeng untuk mencongkel tutupnya. Saat tutup kaleng mulai terbuka, Bu Lidya yang dari tadi mengamati, mendekat dengan langkah pelan. "Hati-hati, Nak," kata Bu Lidya dengan nada lembut. "Jangan sampai catnya tumpah ke mana-mana. Lantai kamar ini terbuat dari keramik yang mahal." Roni mengangguk, berusaha fokus. "Iya, Bu. Saya hati-hati." Ia mulai menuangkan cat ke dalam wadah plastik yang lebih kecil, gerakannya perlahan agar tidak tumpah. Bu Lidya berdiri di sampingnya, cukup dekat sehingga Roni bisa mencium aroma parfumnya yang lembut. "Di mana kamu mengenal Dokter Bram?" tanya Bu Lidya tiba-tiba. "Apa kamu tetangga Dokter Bram di desa?" Roni mengangkat kepalanya, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Iya, Bu. Saya tetangga sebelah Dokter Bram.." Bu Lidya tersenyum, matanya menatap Roni dengan ras
Bram menyambut tangannya dengan hormat. "Bu Lidya, ini Pak Anwar dan Roni, teman saya yang akan membantu pekerjaan." Bu Lidya mengamati Pak Anwar dan Roni bergantian, lalu tersenyum puas. "Mereka kelihatan kuat dan pekerja keras. Saya yakin pekerjaan ini akan selesai dengan baik." Matanya berhenti pada Roni sedikit lebih lama, lalu ia mengalihkan pandangan. "Mina, bawakan minuman untuk mereka," perintah Bu Lidya. "Kita bicarakan detail pekerjaan di teras belakang." Mina mengangguk cepat dan berlari ke dapur dengan langkah kecil. Rok pendeknya bergoyang setiap kali melangkah, dan Roni tanpa sengaja memperhatikan betapa lincahnya gadis kecil itu bergerak. Mereka berjalan ke teras belakang yang menghadap taman kecil. Bu Lidya mulai menjelaskan bagian mana yang perlu direnovasi—kamar mandi, dapur, dan beberapa plafon yang perlu diperbaiki. Bram mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat di buku kecil
Saat Pagi menjelang, Roni bangun dengan mata berat dan tubuh yangterasa lemas seperti baru saja menjalani mimpi buruk. Tapi kenyataan semalam masih segar di ingatannya—Bu Sri, Pak Kades, dan ancaman yang menggantung di kepalanya. Roni duduk perlahan, menatap sekeliling rumahnya yang sunyi. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir bayangan-bayangan itu dari pikirannya. Ia berdiri, mengganti celananya dengan yang lebih rapi, dan mencuci muka dengan air dari ember di belakang rumah. Air dingin sedikit menyegarkan, tapi tidak cukup untuk menenangkan kegelisahannya. Dari luar, terdengar suara langkah kaki dan sapaan yang ramah. Roni menoleh, dan melihat Bram sudah berdiri di depan teras rumahnya dengan senyum cerah. "Ron! Apa kamu sudah siap berangkat ke kota?" seru Bram dengan semangat. Roni memaksakan senyum, berusaha terlihat normal. "Iya, Mas. Saya siap." "Bagus! Pak Anwar juga sudah bersiap.
Bu Sri tersenyum tipis, tanpa rasa malu atau takut. Matanya menatap tepat ke arah Roni, seperti sudah tahu dari awal bahwa ia ada di sana. "Aku tahu kau melihat," kata Bu Sri dengan suara tenang. "Aku sudah melihat bayanganmu dari tadi." Roni tidak bisa bergerak maupun berbicara. Ia hanya berdiri terpaku di balik pohon pisang karena ketahuan. Bu Sri berdiri, merapikan dasternya, lalu melangkah perlahan mendekati pohon pisang. "Jangan takut, Ron. Aku tidak akan marah." Suaranya lembut, bahkan sedikit menggoda. "Tapi kau harus berjanji... tidak akan memberi tahu siapa pun tentang apa yang kau lihat malam ini." Roni menelan ludah, akhirnya menemukan suaranya. "Bu... saya tidak bermaksud—" "Aku tahu," potong Bu Sri dengan senyum tipis. "Kau hanya penasaran." Lanjut Bu Sri saat berhenti di hadapan Roni, menatapnya dengan mata yang menyelidik. "Tapi sebelum k







