Share

bab 5

Penulis: Anggun_sari
last update Tanggal publikasi: 2025-11-26 16:03:01

“Bagaimana dengan acaranya tadi?” tanya Arsi terlihat penasaran.

Hari ini Arsi tidak bisa menemani Nara untuk melihat pameran pernikahan karena toko kue miliknya sedang menerima pesanan kue dalam jumlah besar, jadi dia harus standbay di toko.

“Bagus,” jawab Nara singkat. Ia mengaduk-aduk minuman di depannya. Saat ini dia dan mamanya sedang makan malam di restoran favorit mereka.

Arsi tersnyum senang. Ia menggenggam tangan putrinya. “Mama senang kalau semuanya berjalan lancar.”

“Andai papamu tahu, dia pasti senang,” imbuhnya. Matanya sudah berair hampir menangis. Namun, ditahannya.

Mendengar apa yang dikatakan mamanya, Nara membisu. Pikirannya kalut, antara ingin berhenti atau melanjutkan pernikahan ini.

Bukan apa-apa, pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Dia hanya ingin menikah dengan orang yang tepat. Dia tidak ingin bercerai dan menjadi janda. Bukan berarti Giorgio bukan orang yang tepat, hanya saja mereka tidak memiliki ketertarikan. Lagipula Giorgio juga sudah memiliki kekasih yang dicintainya.

Menghela napas panjang, hati Nara terenyuh saat melihat senyum dan mata sang mama yang terlihat berbinar terang. Ini adalah impiannya sejak dulu: melihat anaknya menikah dengan orang yang diinginkannya.

Nara kembali menimang mungkinkah dia harus menerima semua ini. Dia adalah satu-satunya anak yang dimiliki mamanya. Kebahagian mamanya ada di dirinya, apalagi papanya sudah meninggal. Mungkin memang dia harus menerima semua ini, perjodohan yang telah dirancang sejak dulu.

“Kenapa, apa kamu tidak senang menikah dengan Gio?” tanya Arsi saat melihat wajah datar Nara.

Nara mengulum senyum. “Apa mama senang kalau aku menikah dengan Gio?” Bukan menjawab pertanyaan mamanya, Nara justru bertanya balik pada sang mama.

“Tentu saja. Gio adalah orang baik, siapa yang tidak mau menikah dengannya,” jawab Arsi tanpa ragu.

“Apa kamu tidak ingin menikah dengannya?” tanya Arsi lagi.

“Tidak. Aku senang kok menikah dengannya. Kemarin kami juga sudah memilih konsep pernikahan,” jawab Nara berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan yang sejujurya.

Ya, kemarin mereka akhirnya memilih tema princes. Sebenarnya ia juga cukup terkejut dengan kehadiran Giorgio. Pria itu baru saja melihat-lihat pameran dengan kekasihnya, tapi beberapa saat kemudian sudah ada di belakangnya seolah tak terjadi apa-apa.

“Jadi kalian sudah menentukan tema pernikahannya?” tanya Arsi bersemangat. “Lalu bagaimana dengan cincinnya? Apa kalian sudah membelinya?”

Nara memutar bola matanya. Kepalanya menggeleng pelan melihat kehebohan yang ada pada wajah mamanya. “Satu-satu bisa? Aku pusing menjelaskannya jika mama bertanya seperti kereta api,” sahut Nara.

Arsi tertawa renyah. “Maaf, Mama terlalu bersemangat,” jawabnya.

“Jadi kalian sudah membeli cincin apa belum?” tanya Arsi kembali.

“Belum. Mungkin itu akan kami lakukan jika hampir tanggalnya. Kami terlalu sibuk. Tadi saja aku harus ijin dari kantor,” jawab Nara.

“Haist…tidak bisa seperti itu. Besok kan minggu jadi kamu bisa langsung pergi melihat-lihat cincin. Lebih cepat lebih baik,” kata Arsi menyarakan.

Nara hanya tersenyum. Mulutnya tak menjawab apa-apa. Namun, tangannya mengetikkan pesan pada Giorgio, meminta bertemu untuk memilih cincin esok pagi.

***

Seperti yang telah dijanjikan kemarin, pagi ini Giorgio datang ke rumah Nara untuk menjemput wanita itu. Rencananya mereka akan pergi melihat-lihat cincin pernikahan.

“Masuklah, Nara masih dandan,” ucap Arsi saat Giorgio baru sampai di depan teras.

“Di sini saja Ma. udaranya lebih segar di depan,” jawab Giorgio.

“Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya.”

Arsi menghilang beberapa menit lalu kembali dengan nampan berisi teh dan juga cemilan.

“Dimakan,” ucap Arsi yang kini duduk di samping Giorgio.

“Terima kasih, Ma,” balas Giorgio. Ia meminum teh yang dibuatkan oleh Arsi untuk menghargainnya.

“Nara bilang kalian sudah memilih tema ya. Mama ikut senang, semoga semuanya berjalan dengan lancar ya sampai hari H,” ucap Arsi.

Giorgio tersenyum lembut. “Iya Ma.”

Setelah hampir menunggu lima belas menit dan mengobrol banyak hal dengan Arsi, Nara akhirnya keluar. Wanita itu tidak memoles wajahnya. Bahkan tidak ada gincu yang menempel di bibirnya.

Memilih untuk diam dan tidak protes, Giorgio berdiri dari duduknya. Ia segera berpamitan dengan Arsi.

“Ma, kami berangkat dulu ya,” ucap Giorgio.

“Ma, aku pergi dulu ya,” pamit Nara.

Usai berpamitan keduanya langsung masuk ke dalam mobil. Giorgio menyalakan mesin dan menginjak gas. Mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah Nara, berhambur bersama mobil-mobil lainnya membelah jalanan ibukota siang ini.

“Apa yang kamu lakukan di dalam? Lama sekali! Mana kamu keluar-keluar tidak mengenakan make-up sama sekali pula,” omel Giorgio.

“Kamu tahu, kamu seperti mayat hidup kalau tidak memakai apapun,” tambahnya.

Nara mendesis kesal, matanya melirik tak suka pada Giorgio. “Aku tidak dandan untuk pria yang tidak aku sukai,” ucapnya malas “Lagipula kamu juga sudah punya pacar, jadi jangan berharap lebih dariku!”

Giorgio seketika diam. Mulutnya tak lagi bersuara menggoda Nara dan memilih fokus ke jalanan. Melihat itu, Nara tersenyum puas. Kali ini dia berhasil menang melawan Giorgio.

Tidak lama, Giorgio hanya membutuhkan waktu tiga puluh lima menit untuk sampai ke pusat perbelanjaan yang mereka inginkan. Keduanya segera turun dan berjalan masuk ke dalam.

Tujuan Giorgio dan Nara adalah lantai tiga. Disana banyak toko perhiasan, mereka bisa memilih tanpa harus lelah naik turun.

Nara memilih melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko perhiasan dengan lambang angsa. Di sana ia melihat-lihat dan mencari cincin yang menarik baginya. Satu cincin dengan motif sederhana dipilih oleh Nara—--. cincin dengan hiasan berlian kecil di tengahnya.

“Mbak tolong ambilkan yang itu ya,” pinta Nara.

“Baik,” jawab si penjaga toko dengan ramah.

“Bagaimana?”

Nara memakai cincin yang dipilihnya, menunjukkan pada Giorgio, meminta pendapatnya. Namun, di saat bersamaan Saras tiba-tiba muncul dengan temannya. Wajah wanita itu terlihat tak suka.

“Sayang, apa yang kamu lakukan di sini dengan wanita itu?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 51

    Nara membuka matanya yang masih terasa berat. Tubuhnya remuk redam akibat ulah Giorgio semalam. Pria itu terus menginginkannya dan tak ingin berhenti. Jika tidak memiliki pekerjaan yang menumpuk tentu dia lebih memilih tidur ketimbang bangun.“Apa dia sudah berangkat?” gumam Nara saat mendapati kasur sebelahnya kosong.“Hist…dasar pria menyebalkan. Habis manis sepah dibuang!” omel Nara.“Akhh….” Nara merintih bagian sensitifnya terasa perih dan sakit bersamaan. Kakinya bahkan terasa lemas seolah tak memiliki tulang.Nara yang terduduk di lantai hanya bisa menghela napas berat, tidak ada yang bisa menolongnya. Suaminya bahkan meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan, entah kemana perginya. “Kenapa nasibku begitu menyedihkan sekali,” gerutu Nara.Tepat saat Nara berusaha bangkit, pintu kamar terbuka. Giorgio berdiri di sana dengan wajah terkejut. “Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa ada di bawah?” cecar Giorgio khawatir.“Aku ingin ke kamar mandi, tapi aku justru terjatuh,” jawab

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 50

    Nara menelan ludahnya susah payah. Kakinya mundur beberapa langkah ke belakang mencoba menghindari Giorgio yang tampak serius dengan ucapannya.“Gio, bagaimana kalau kita bicara tentang ini,” kata Nara mencoba mengalihkan keinginan Giorgio.Giorgio tersenyum tipis. Langkah kakinya terus maju mendekati Nara. Matanya mengunci pergerakan sang istri. Dia tahu jika Nara gelisah dan takut, namun nafsunya mengalahkan segalanya.“Aku sudah menunggu lama untuk ini Nara, dan malam ini aku tidak akan menundanya,” balas Giorgio.Nyali Nara semakin mengkerut, kakinya tak lagi bisa melangkah ke belakang. “Gi–Gio…aku….”“Aku apa Nara?” potong Giorgio.Giorgio menarik pinggang Nara, membawa wanita itu ke dalam dekapannya. “Kamu terlalu menggoda Nara,” kata Giorgio dengan suara seraknya.Nara menggigit bibirnya. Jantungnya berdetak semakin cepat hanya karena hembusan napas Giorgio yang menerpa kulit wajahnya. “Gio, ingatlah, ada Saras yang menunggumu,” ucap Nara yang masih berusaha untuk menggagalkan

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 49

    Giorgio tersenyum miring. “Menurutmu apa yang bisa aku lakukan Nara?”“Gi–gio, berhenti sampai di situ Gio,” perintah Nara tergagap. Langkahnya semakin sempit, punggungnya hampir membentur tembok.“Kenapa Nara, bukankah kita ini suami istri?” sahut GIorgio. Langkahnya semakin mendekat. Matanya menatap lurus Nara, seolah mengunci wanita itu.Nara menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya meremang, takut jika GIorgio melakukan hal yang aneh-aneh. “Gi–Gio, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh.” Nara masih mencoba membujuk Giorgio agar pria itu tidak berbuat hal di luar keinginannya.Giorgio tersenyum miring. “Aneh-aneh?” Giorgio semakin mendekat. Kedua tangannya ia gunakan untuk mengunci tubuh Nara agar wanita itu tidak bisa pergi kemanapun. Senyum miring tercetak jelas di wajah Giorgio, membuat Nara semakin bergidik ngeri.“Gio ingat, ada kekasihmu yang menunggumu untuk menikahinya,” kata Nara. Ia tak tahu lagi harus berkata apa untuk menghentikan aksi Gio

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 48

    “Pak Gio….” Moana menatap tak berkedip Giorgio yang baru saja keluar dari ruangannya. Aura pria itu terlihat dingin dan mematikan.“Nara akan lembur bersamaku membahas kerja sama dengan klien baru . jadi batalkan janji yang sudah kalian sepakati.”“Bukan begitu Nara,” tambah Giorgio memberikan tekanan pada setiap kalimat yang diucapkannya.Nara hanya bisa menghela napas beratnya. Meski tidak suka dengan keputusan sepihak Gio, ia tak bisa berbuat apa-apa. Komentarnya ataupun pendapatnya tidak akan berarti jika sudah disangkutkan dengan pekerjaan.“Be–benar,” jawab Nara.Wajah Revan tampak murung. Namun pria itu tetap berusaha untuk tersenyum di depan Nara. “baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama,” kata Revan tetap tidak ingin menyerah.Revan dan Moana langsung pergi usai Giorgio datang. Di meja kerja Nara hanya tinggal dirinya dan Giorgio, Nara menatap malas pria yang masih betah berdiri di depannya dengan wajah tanpa dosanya itu.“Apa?” ucap Giorgio saat Nara

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 47.

    Nara mengucek matanya. Tidurnya terasa nyenyak tak sama seperti biasanya. Nyawanya yang belum sepenuhnya sadar masih tidak menyadari jika ia tidur dengan posisi memeluk erat tubuh Giorgio. Baru beberapa detik kemudian wanita itu tersadar bahwa ia tengah tertidur dengan posisi memeluk tubuh Giorgio.Merasa malu dengan apa yang dilakukannya, Nara memilih menarik tangannya perlahan. Bibirnya bergumam pelan. “Kamu sungguh memalukan Nara.”Belum benar-benar memindahkan tangannya, Giorgio terbangun dengan suara serak khas orang bangun tidur. Bibirnya tersenyum tipis, menggoda Nara yang tampak malu-malu.“Selamat pagi istriku. Kemarin pasti tidurmu sangat nyenyak,” ucap Giorgio.Nara berdehem. Tangannya langsung ia tarik begitu saja. Tubuhnya juga bergeser beberapa centi dari tubuh GIorgio. “Aku mandi dulu. Kamu bisa mandi setelah aku selesai,” balas Nara mengalihkan pembicaraan.Nara langsung turun dari tempat tidur. Ia begitu malu sampai tak berani menatap Giorgio. Langkahnya yang terburu

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 46

    “Ce–cemburu, siapa bilang?! Aku tidak cemburu ya. Hanya melihatmu keluar dari cafe tidak berpengaruh apapun untukku,” balas Nara sedikit tergagap.Giorgio mengulum senyumnya. Kakinya melangkah dua langkah lebih mendekat kepada Nara, matanya menatap intens istrinya yang tampak kikuk di depannya.“Jadi hari ini kamu melihatku keluar dari cafe bersama Saras dan kamu merajuk. Benar seperti itu?” tanya Giorgio dengan nada sedikit menggoda.Nara memalingkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan Giorgio yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar kencang.“Ti–tidak! Jangan samakan aku denganmu. Aku sama sekali tidak merajuk. Aku hanya ingin lebih menikmati hidupku mulai sekarang. Jika kamu bisa berbuat sesukamu tanpa melaporkan apapun kepadaku, maka aku akan melakukan hal yang sama!” jawab Nara, nadanya kembali terdengar berapi-api.Giorgio mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya semakin merekah melihat sikap Nara yang terlihat mengemaskan. Wanita itu tampak cemburu namun tidak mau menga

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 41

    "Ka–kamu…kenapa kamu ada disini?”Nara terlihat cukup terkejut saat melihat Revan duduk di samping Daniel. Sungguh dunia ini serasa begitu sempit. Akhirnya setelah hidup hampir dua puluh sembilan tahun, dia benar-benar mempercayai istilah dunia tak selebar daun kelor. Revan tersenyum tulus. “Aku m

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 39

    Giorgio mengetuk pintu kamar Nara. Sejak pertengkaran kecil mereka tadi Nara mengunci dirinya di dalam kamar. Wanita itu juga tidak makan apapun sejak pagi. Menu makanan yang disiapkan oleh Bi Asih tak tersentuh sedikit pun. Tak lagi tahan dengan apa yang dilakukan oleh Nara, Giorgio mendatangi ka

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 40

    Kaki Nara terus bergerak gelisah. Kata-kata yang diucapkan oleh Giorgio terus berputar seperti kaset kusut di otaknya. Pria itu ingin menuntut haknya sebagai seorang suami.“Dor…! Ngelamun apa sih, Neng?” tanya Moana.Nara menatap tampian Moana, sahabatnya itu terlihat lebih cantik. “Kamu berdandan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 38

    “Bangun Gio, pindah ke kamar mu sana!” Nara terus menggoyang-goyangkan tubuh Giorgio, bukan bangun pria itu justru tersenyum lebar dan meletakkan kepalanya di paha Nara.“Kamu tahu, kamu sangat lucu kalau marah-marah seperti ini Nara,” gumam Giorgio.Nara mengehela nap

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status