LOGIN“Si sekretaris Arlan nggak buat ulah lagi kan?”Suara Mama Arlan terdengar pelan namun penuh kehati-hatian. Tangannya masih sibuk merapikan salah satu bingkisan terakhir, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya ada di sana.Sevi yang duduk di sampingnya tersenyum tipis.“Aman, Ma. Akhir-akhir ini balik kayak dulu.”Mama Arlan mengangguk pelan, meski keraguan masih tersisa di wajahnya.“Bagus deh…” gumamnya. “Waktu kamu cerita kemarin, Mama agak khawatir… sama was-was juga sama dia. Padahal Mama juga nggak tahu orangnya yang mana. Tapi kayak…”Kalimat itu menggantung.Seolah ada firasat yang sulit dijelaskan.Tiba-tiba, dari belakang, Arlan datang dan langsung memeluk pundak mamanya dengan manja.“Tenang, Ma,” ucapnya lembut. “Percayain semua ke Arlan sama Sevi.”Mama sedikit terkejut, namun tangannya refleks mengelus lengan Arlan.“Arlan juga jaga jarak. Apapun kegiatan di luar kantor, pasti Arlan libatin Sevi,” lanjutnya.Mama menoleh, menatap anaknya lebih dalam.“Iya… Mama paham,”
Hari berganti hari tanpa terasa. Waktu yang sempat terasa lambat kini justru berjalan cepat, seolah semua hal sedang bergerak menuju satu titik yang sama. Hingga akhirnya, hari yang dinanti itu benar-benar tiba.Sore itu, setelah pulang kerja, Sevi dan Arlan tidak banyak membuang waktu. Keduanya langsung bersiap menuju rumah utama Arlan. Beberapa tas sudah disiapkan, berisi pakaian dan perlengkapan yang akan mereka bawa ke Lembang keesokan harinya.Suasana kontrakan Sevi terasa sedikit berbeda. Ada kesibukan kecil, namun di balik itu terselip rasa antusias yang sulit disembunyikan.“Mandinya nanti aja di rumah Mama, sayang,” ucap Arlan sambil memasukkan barang ke dalam tas.Sevi yang sedang berdiri di depan cermin hanya mengangguk.“Iya, ini cuma cuci muka aja.”Ia lalu menoleh sedikit.“Itu tas yang di atas meja rias aku kamu bawa nggak?”Arlan berhenti sebentar, berpikir.“Iya, satu kan?”“Iya... Udah di mobil kok.”Sevi mengangguk puas.“Terus tas baju udah di bagasi kan?”“Udah, a
Sepulang dari kantor, suasana di kontrakan Sevi terasa jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada beban pikiran yang menggantung, tidak ada rasa was-was yang mengganggu. Hari itu berjalan begitu mulus hingga Sevi sendiri merasa ingin menikmati momen kecil yang sering terlewat.Tanpa banyak kata, ia sudah duduk di pangkuan Arlan di sofa ruang tengah. Televisi menyala, namun tidak benar-benar mereka tonton. Fokus mereka sepenuhnya ada satu sama lain.Sevi bersandar, tubuhnya rileks. Tangannya melingkar di leher Arlan, sementara wajahnya perlahan mendekat. Ia mengusap pelan leher Arlan, menikmati kehangatan yang terasa familiar.Arlan tidak menolak. Justru tangannya refleks memeluk pinggang Sevi, menahan tubuh itu agar tidak menjauh.Beberapa detik terasa tenang.Namun Sevi, dengan sifat jahilnya, tidak berhenti sampai di situ. Ia mencium leher Arlan pelan, lalu dengan sengaja mengusik lebih jauh.Sevi menjilat pelan hingga tubuh Arlan menegang seketika, lalu wajahnya be
Di sisi lain, Arlan masih tidak menyadari apa pun. Ia berdiri di depan mejanya, merapikan beberapa dokumen yang tadi sempat ia tinggalkan. Tangannya bergerak cepat, teratur, tanpa beban. Sesekali ia menghela napas ringan, seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang melelahkan dan akhirnya menemukan jeda. Hari ini… terasa berbeda.Bukan karena ada sesuatu yang terjadi. Justru karena tidak ada apa-apa.Ia melirik layar komputernya sekali lagi, memastikan tidak ada pekerjaan yang tertinggal. Setelah itu, ia berdiri, merapikan kemeja di bagian lengan, lalu berjalan keluar dari ruangannya.Langkahnya ringan.Lebih ringan dari beberapa hari terakhir.“Pagi,” sapa Arlan kepada salah satu staf yang berpapasan.“Pagi, Pak,” jawab staf itu sambil sedikit menunduk.Arlan mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Semua terlihat biasa.Normal.Seperti hari-hari sebelum semua kekacauan itu muncul. Namun ketika ia melewati meja Sonya, langkahnya sempat terhenti. “Dokumen tadi su
Pagi itu dimulai lebih cepat dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul lima lewat sedikit, suasana rumah masih sunyi, bahkan udara terasa lebih dingin dari biasanya.Arlan dan Sevi sudah duduk di meja makan bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Mama Arlan sudah berdiri di dapur sejak tadi.“Aduh, Mama nggak sempat masak yang berat,” gumamnya sambil meletakkan dua piring roti panggang di meja. “Yang biasa masak belum datang jam segini.”Sevi langsung menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Ma. Ini juga udah cukup banget.”Arlan menarik kursi dan duduk. “Iya, Ma. Kita juga cuma butuh ganjel perut.”Mama tersenyum kecil, lalu menuangkan susu ke dalam gelas.“Yang penting jangan sampai berangkat kosong.”Sevi mengangguk. “Iya, Ma.”Mereka bertiga makan dalam suasana yang tenang. Tidak banyak percakapan, hanya suara kecil sendok dan gelas yang sesekali terdengar.Papa Arlan belum bangun. Rumah masih terasa seperti setengah terjaga.Setelah selesai, Sevi segera membereskan sedikit piringnya.
“Itu sekretarisnya Arlan… suka centil ke Arlan. Males banget.”Hening.Satu detik.Dua detik.Lalu..Tatapan tajam langsung mengarah ke Arlan.Mata mama mendelik. Papa ikut menoleh perlahan.Arlan yang awalnya santai langsung terdiam. Gelas air di tangannya menggantung di udara, belum sempat ia teguk.“Bukan..” ia mencoba membuka suara.Namun mama sudah lebih dulu memotong. “Arlan.” Nada suaranya berubah menjadi dingin. “Ini maksudnya apa?”Sevi hanya melipat tangan, bersandar kembali ke sofa. Wajahnya tenang, tapi matanya jelas menunggu jawaban. Arlan menelan ludah. Situasi yang tadi hangat, seketika berubah.Ia menarik napas.“Ma… Pa… ini nggak seperti yang kedengarannya kok,” ucapnya pelan.Papa menyandarkan tubuhnya ke depan, mengubah posisi duduk. Kedua tangannya bertumpu di paha, dagunya ditopang jemari.“Ya terus seperti apa?” tanyanya datar.Arlan mengusap tengkuknya.“Itu… Sonya, sekretaris aku… dia memang akhir-akhir ini agak..”“Agak apa?” potong mama.Arlan diam sejenak, m
Miko masih berdiri di tempat yang sama.Langkahnya tak bergerak, seolah kakinya menolak diajak pergi. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek, seperti ada tangan tak kasatmata yang menekan dari dalam. Pemandangan barusan terus berputar di kepalanya, Sevi, tersenyum, berada dalam pelukan pria l
Suara erangan manis bersahutan dengan bunyi kulit mereke yang bersentuhan, Miko yang sudah kehilangan akal tak memikirkan apapun kecuali Mila yang berada diatas nya. Gerakan tubuh yang membuat kejantanannya puas, serta dua dada nya beradu satu sama lain.“Nggak kuat, Ko. Mau.. mauu..” Tepat di hen
Lampu tidur menyala redup, tirainya tertutup rapat, hanya menyisakan cahaya kota yang samar dari celah kecil jendela. Sevi dan Arlan sudah berada di ranjang, berbagi satu selimut yang sama. Udara malam dingin, tapi tubuh mereka hangat.Sevi meringkuk setengah menghadap Arlan. Rambutnya tergerai di
Sevi melangkah menjauh. Langkahnya pelan, tidak tergesa, seolah setiap pijakan adalah keputusan yang sudah ia pertimbangkan matang-matang. Ia tidak menoleh lagi.Apa yang ia katakan barusan, semuanya datang dari sudut pandangnya, dari luka yang ia simpan lama, dari kelelahan yang tak pernah benar-b







