공유

Hamil?

작가: Olivia
last update 게시일: 2026-02-09 22:40:56

Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjanya sudah rapi, tas sudah tersampir di kursi, hanya satu hal yang membuatnya menggerutu sejak lima menit lalu.

“Arlan,” katanya sambil menghela napas, “dasi kamu masih miring.”

Arlan yang sedang mengan
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Rahma Dani
uda lama gk app.. skali app cuma sebab doank.. lama2 mls baca trailernya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Bos, Jangan di Sini!   Membujuk Arlan

    Acara berjalan dengan khidmat. Semua orang tampak larut dalam suasana hangat yang tercipta. Percakapan berlangsung dengan sopan, diselingi senyum dan anggukan dari masing-masing pihak keluarga. Namun di balik itu, ada dua orang yang tidak sepenuhnya menikmati momen tersebut.Arlan masih terlihat sedikit cemberut. Wajahnya tenang, tetapi jelas ada rasa tidak puas yang ia sembunyikan. Baginya, keputusan menunda hingga pertengahan bulan keenam terasa terlalu lama.Sementara itu, Sevi duduk di sampingnya dengan pikiran yang justru tidak kalah sibuk. Ucapan tentang “balak” tadi terus terngiang di kepalanya. Ia berusaha fokus, namun bayangan-bayangan kecil tetap muncul tanpa diminta.Di luar mereka berdua, suasana justru terasa lega.Orang tua, keluarga, bahkan para saudara yang hadir terlihat bahagia. Obrolan tentang rencana ke depan mulai mengalir, disambung dengan tawa ringan dan candaan khas keluarga.Setelah sesi utama selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan sederhan

  • Bos, Jangan di Sini!   Hari yang Ditetapkan

    “Si sekretaris Arlan nggak buat ulah lagi kan?”Suara Mama Arlan terdengar pelan namun penuh kehati-hatian. Tangannya masih sibuk merapikan salah satu bingkisan terakhir, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya ada di sana.Sevi yang duduk di sampingnya tersenyum tipis.“Aman, Ma. Akhir-akhir ini balik kayak dulu.”Mama Arlan mengangguk pelan, meski keraguan masih tersisa di wajahnya.“Bagus deh…” gumamnya. “Waktu kamu cerita kemarin, Mama agak khawatir… sama was-was juga sama dia. Padahal Mama juga nggak tahu orangnya yang mana. Tapi kayak…”Kalimat itu menggantung.Seolah ada firasat yang sulit dijelaskan.Tiba-tiba, dari belakang, Arlan datang dan langsung memeluk pundak mamanya dengan manja.“Tenang, Ma,” ucapnya lembut. “Percayain semua ke Arlan sama Sevi.”Mama sedikit terkejut, namun tangannya refleks mengelus lengan Arlan.“Arlan juga jaga jarak. Apapun kegiatan di luar kantor, pasti Arlan libatin Sevi,” lanjutnya.Mama menoleh, menatap anaknya lebih dalam.“Iya… Mama paham,”

  • Bos, Jangan di Sini!   Hari yang Ditunggu

    Hari berganti hari tanpa terasa. Waktu yang sempat terasa lambat kini justru berjalan cepat, seolah semua hal sedang bergerak menuju satu titik yang sama. Hingga akhirnya, hari yang dinanti itu benar-benar tiba.Sore itu, setelah pulang kerja, Sevi dan Arlan tidak banyak membuang waktu. Keduanya langsung bersiap menuju rumah utama Arlan. Beberapa tas sudah disiapkan, berisi pakaian dan perlengkapan yang akan mereka bawa ke Lembang keesokan harinya.Suasana kontrakan Sevi terasa sedikit berbeda. Ada kesibukan kecil, namun di balik itu terselip rasa antusias yang sulit disembunyikan.“Mandinya nanti aja di rumah Mama, sayang,” ucap Arlan sambil memasukkan barang ke dalam tas.Sevi yang sedang berdiri di depan cermin hanya mengangguk.“Iya, ini cuma cuci muka aja.”Ia lalu menoleh sedikit.“Itu tas yang di atas meja rias aku kamu bawa nggak?”Arlan berhenti sebentar, berpikir.“Iya, satu kan?”“Iya... Udah di mobil kok.”Sevi mengangguk puas.“Terus tas baju udah di bagasi kan?”“Udah, a

  • Bos, Jangan di Sini!   Hangat

    Sepulang dari kantor, suasana di kontrakan Sevi terasa jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada beban pikiran yang menggantung, tidak ada rasa was-was yang mengganggu. Hari itu berjalan begitu mulus hingga Sevi sendiri merasa ingin menikmati momen kecil yang sering terlewat.Tanpa banyak kata, ia sudah duduk di pangkuan Arlan di sofa ruang tengah. Televisi menyala, namun tidak benar-benar mereka tonton. Fokus mereka sepenuhnya ada satu sama lain.Sevi bersandar, tubuhnya rileks. Tangannya melingkar di leher Arlan, sementara wajahnya perlahan mendekat. Ia mengusap pelan leher Arlan, menikmati kehangatan yang terasa familiar.Arlan tidak menolak. Justru tangannya refleks memeluk pinggang Sevi, menahan tubuh itu agar tidak menjauh.Beberapa detik terasa tenang.Namun Sevi, dengan sifat jahilnya, tidak berhenti sampai di situ. Ia mencium leher Arlan pelan, lalu dengan sengaja mengusik lebih jauh.Sevi menjilat pelan hingga tubuh Arlan menegang seketika, lalu wajahnya be

  • Bos, Jangan di Sini!   Main Rapi

    Di sisi lain, Arlan masih tidak menyadari apa pun. Ia berdiri di depan mejanya, merapikan beberapa dokumen yang tadi sempat ia tinggalkan. Tangannya bergerak cepat, teratur, tanpa beban. Sesekali ia menghela napas ringan, seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang melelahkan dan akhirnya menemukan jeda. Hari ini… terasa berbeda.Bukan karena ada sesuatu yang terjadi. Justru karena tidak ada apa-apa.Ia melirik layar komputernya sekali lagi, memastikan tidak ada pekerjaan yang tertinggal. Setelah itu, ia berdiri, merapikan kemeja di bagian lengan, lalu berjalan keluar dari ruangannya.Langkahnya ringan.Lebih ringan dari beberapa hari terakhir.“Pagi,” sapa Arlan kepada salah satu staf yang berpapasan.“Pagi, Pak,” jawab staf itu sambil sedikit menunduk.Arlan mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Semua terlihat biasa.Normal.Seperti hari-hari sebelum semua kekacauan itu muncul. Namun ketika ia melewati meja Sonya, langkahnya sempat terhenti. “Dokumen tadi su

  • Bos, Jangan di Sini!   Jujur Janggal

    Pagi itu dimulai lebih cepat dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul lima lewat sedikit, suasana rumah masih sunyi, bahkan udara terasa lebih dingin dari biasanya.Arlan dan Sevi sudah duduk di meja makan bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Mama Arlan sudah berdiri di dapur sejak tadi.“Aduh, Mama nggak sempat masak yang berat,” gumamnya sambil meletakkan dua piring roti panggang di meja. “Yang biasa masak belum datang jam segini.”Sevi langsung menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Ma. Ini juga udah cukup banget.”Arlan menarik kursi dan duduk. “Iya, Ma. Kita juga cuma butuh ganjel perut.”Mama tersenyum kecil, lalu menuangkan susu ke dalam gelas.“Yang penting jangan sampai berangkat kosong.”Sevi mengangguk. “Iya, Ma.”Mereka bertiga makan dalam suasana yang tenang. Tidak banyak percakapan, hanya suara kecil sendok dan gelas yang sesekali terdengar.Papa Arlan belum bangun. Rumah masih terasa seperti setengah terjaga.Setelah selesai, Sevi segera membereskan sedikit piringnya.

  • Bos, Jangan di Sini!   Menagih Janji

    Mobil Arlan berhenti tepat di depan rumah orang tuanya. Mesin dimatikan, pintu dibuka, dan angin sore langsung menyergap masuk ke dalam kabin. Sevi yang duduk di kursi penumpang depan menoleh, memperhatikan kedua orang tua Arlan yang sudah bersiap turun.“Hati-hati di jalan,” kata mama Arlan sambil

    last update최신 업데이트 : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Bikin Anak Juga?

    Miko masih terpaku beberapa detik setelah melihat dua garis merah itu. Tangannya yang memegang alat tes kehamilan terasa dingin, sementara kepalanya justru panas oleh campuran syok dan kesadaran yang datang terlalu cepat.“Mila…” suaranya berat. “Ini… ini bener?”Mila berdiri di depannya dengan mat

    last update최신 업데이트 : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Dinner

    Jam istirahat hari itu terasa berbeda. Biasanya Sevi dan Mila makan cepat lalu kembali ke meja masing-masing, tapi kali ini Sevi sengaja menarik kursinya lebih dekat.“Kamu nggak boleh telat makan sekarang,” ujar Sevi sambil membuka bekalnya. “Dokter bilang apa? Jangan sampai telat.”Mila menganggu

    last update최신 업데이트 : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Keputusan

    Siang itu seharusnya menjadi jeda yang tenang.Sevi duduk berhadapan dengan Arlan di ruangannya, makan siang sederhana yang Arlan bawa dari luar. Tidak ada obrolan berat, hanya cerita ringan tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh gejolak, Sevi m

    last update최신 업데이트 : 2026-04-01
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status