Masuk“Nanti aku mau gym di tempat Bima ya..” celetuk Sevi sambil masih menatap handphone nya dengan senyum sumringah.“Nggak ada tempat gym lain kah? Aku sewain deh atau dimanapun asal jangan di...”“Telat, mama sama aku udah mau booking member di sana.” Arlan hanya bisa berdecak pelan, matanya tak fokus untuk menatap kedepan. Bayangan bagaimana di tempat gym nanti sudah memenuhi kepalanya.“Sayang..” ucapnya sedikit memelas, bibirnya pun sudah mengerucut. Sevi tak menghiraukannya barang sedetikpun, ia masih sibuk dengan apa yang ada di handphone nya. Mau tak mau,“Iyadeh nggak apa-apa. Asal jaga batas loh ya.”“Ada Mama juga loh, pastinya beliau juga tau gimana di sana” Dengan lembut Sevi memberi pengertian, elusan jemarinya di bahu Arlan membuat sang empunya tak berdaya. Terasa bahu Arlan sedikit mengendur, dahi yang sedari tadi dikerutkan juga sudah kembali seperti semula.“Aku percaya kamu, yaudah nanti biar biaya aku yang cover. Kabari kalau udah booking ya, cantik.”Tangan Sevi di
Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya. Suasana rumah sudah ramai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Tidak ada lagi santai seperti hari sebelumnya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.Tas-tas sudah mulai disusun.Bingkisan yang sempat dibawa kini dirapikan kembali.Beberapa barang dipastikan tidak tertinggal.Keputusan pulang hari itu memang mendadak. Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, membuat mereka harus kembali lebih cepat dari rencana awal.Meski begitu, suasana tidak sepenuhnya berat.Justru terasa… ringan.Terutama bagi Sevi.Ia berdiri di tengah ruang tamu, memperhatikan ibunya yang sedang melipat beberapa kain dengan rapi. Sesekali ia ikut membantu, tapi lebih sering memperhatikan dengan senyum kecil yang tidak lepas dari wajahnya.“Kok senyum-senyum sendiri?” tanya ibunya tanpa menoleh.Sevi terkekeh.“Enggak apa-apa.”Namun dalam hatinya, Ia tahu.Kali ini berbeda.Biasanya, setiap kali harus meninggalkan Lembang, ada rasa berat yang mengganjal
Sevi menatapnya lama. Lalu perlahan Ia mendekat sedikit. Tangannya menyentuh lengan Arlan. “Cemburu itu wajar, Lan,” ucapnya lembut. Arlan menatapnya. “Apalagi kalau kamu sayang.” Sevi tersenyum tipis. “Tapi kamu tahu nggak bedanya?” Arlan menggeleng pelan. Sevi melanjutkan. “Cemburu yang sehat itu… diomongin. Bukan dipendam.” Hening sebentar. Lalu Sevi menghela napas kecil. “Aku sama Bima emang deket dulu,” jelasnya. “Tapi ya cuma teman. Bahkan lebih ke kayak saudara.” Ia menatap Arlan lurus. “Aku nggak punya perasaan apa-apa ke dia.” Nada suaranya tegas. terdengar tidak ada keraguan. “Dan sekarang,” lanjutnya pelan, “aku punya kamu.” Kalimat itu sederhana. Namun cukup. Arlan terdiam. Dada yang sejak tadi terasa berat, perlahan mengendur. Sevi menepuk pelan tangannya di setir.“Kalau kamu nggak nyaman, bilang,” katanya. “Jangan dipendam terus mikir sendiri.” Arlan mengangguk pelan. “Iya…”Sevi tersenyum kecil. “Lagipula,” tambahnya santai, “kalau aku mau sa
Langit mulai berubah warna. Jingga perlahan memudar, digantikan oleh semburat gelap yang merayap pelan di ufuk barat. Udara Lembang semakin dingin, membawa suasana sore menuju malam.Dirasa sudah cukup lama berkunjung, Bima akhirnya berdiri dari tempat duduknya.“Bima pamit ya, Pak, Bu… Sev, Lan,” ucapnya sambil tersenyum. “Maaf datangnya dadakan gini.”Ibu Sevi langsung berdiri dan mendekat.“Kayak siapa aja kamu ini,” ucapnya sambil memeluk Bima hangat.Pelukan itu dibalas dengan santai oleh Bima.Tak lama, Mama Arlan ikut mendekat dan memeluknya juga.“Hati-hati di jalan ya.”“Iya, Bu,” jawab Bima sopan.Yang lain hanya berdiri di belakang, memperhatikan dengan senyum kecil.Sebelum benar-benar pergi, Bima menoleh ke arah Sevi.“Mampir nanti ke gym Bima ya,” ucapnya sambil menaikkan alis, memberi kode. “Dikasih diskon aman aja.”Sevi tertawa kecil.Namun belum sempat ia menjawab Arlan sudah lebih dulu mendelik ke arah Bima. Tatapan tajam, meski hanya sekilas.Bima seperti menangkap
Arlan duduk di kursi kayu itu dengan tubuh sedikit condong ke depan. Kedua tangannya saling bertaut, jemarinya bergerak pelan, seolah menahan sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan.Papa dan ayah Sevi bergantian menasihatinya.“Perasaan itu wajar,” ucap Papa pelan. “Tapi jangan sampai jadi asumsi.”Ayah Sevi ikut menimpali.“Iya, Nak. Kamu lihat dari jauh, belum tentu yang kamu pikir itu benar.”Arlan hanya diam. Tatapannya kosong ke depan. Bukan tidak mendengar, tapi juga tidak benar-benar memahami. Semua kata-kata itu seperti masuk… lalu menghilang begitu saja.Ia menghela napas panjang. Matanya terpejam sebentar.Berusaha menenangkan diri.Namun bayangan tadi soal tangan Bima di pipi Sevi, cara mereka bercanda masih terputar jelas di kepalanya.“Arlan!”Suara Sevi dari dalam rumah memecah lamunannya.“Papa! Ayah! Masuk, yuk!”Arlan membuka mata.Papa menepuk pundaknya pelan.“Udah, jangan terlalu dipikirin. Santai aja.”Ayah Sevi mengangguk setuju.“Yang penting kamu percaya sama pas
“Bima! Katanya siangan?”Sevi berlari kecil menghampiri, wajahnya terlihat cerah. Bima yang baru saja mematikan mesin motornya hanya tersenyum santai, seolah kehadirannya yang lebih cepat itu bukan masalah besar.“Gapapa,” jawabnya ringan. “Takutnya kamu pulang cepat. Di rumah juga lagi sepi, jadi main sini deh.”Tanpa canggung, ia mengangkat tangan dan menarik pelan pipi Sevi.“Mbul mbul… masih aja ya,” godanya.Sevi refleks meringis.“Ih, apaan sih kamu,” balasnya sambil menepis tangan Bima, namun tetap tertawa.Di kejauhan, Arlan yang menyaksikan interaksi itu langsung merengut. Rahangnya sedikit mengeras. Ia berdiri, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tidak terburu-buru, tapi jelas menunjukkan kehadirannya.Bima yang baru saja memarkirkan motor, akhirnya menyadari sosok Arlan.“Siapa, Sev?” tanyanya sambil menoleh.Sevi langsung mengisyaratkan.“Oh, Arlan… sini, Lan,” ucapnya memanggil. “Arlan ini Bima, teman SD-ku dulu.”Ia lalu menoleh ke arah Bima.“Bima, ini Arlan. Tun
Pagi itu, bahkan matahari pun terasa enggan naik.Awan menggantung berat, sama seperti perasaan Arlan sejak beberapa minggu terakhir. Ruang kerjanya sunyi, hanya ada tumpukan berkas, laptop yang masih menyala sejak subuh, dan kopi dingin yang bahkan tak sempat ia minum.Arlan menatap layar di depan
Bau mie instan yang pekat masih memenuhi udara kontrakan itu, bercampur dengan aroma bawang goreng dan uap panas yang belum sempat menguap. Namun perhatian Sevi teralih seluruhnya ketika wajah Arlan muncul di ambang pintu dengan wajah emosi yang masih menempel kuat… dan lebam ungu besar di pipi kir
Arlan memulai presentasinya dengan napas yang tertata. Suaranya terdengar stabil, walau di dadanya banyak hal berdesakan kenangan, penyesalan, dan secercah keteguhan yang baru ia temukan beberapa waktu terakhir.“Produk ini… sebenarnya sudah kami rancang jauh sebelum semua masalah terjadi. Ini adal
Suatu malam, saat kantor sudah sepi, hanya beberapa komputer yang masih menyala, dan hujan turun deras di luar, Sevi berjalan ke pantry untuk mengambil air hangat. Tubuhnya sedikit lelah, tapi bukan karena stres, lebih karena banyak pekerjaan menumpuk setelah ia lama menghilang saat masa investigas







